Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Kelam


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, pandangan kami kini sebuah perbatasan yang tampak jauh di sana. Sementara kami menepi untuk melihat keadaan. Kendaraan mengantre untuk pemeriksaan. Sepertinya pemeriksaan di sana sangat ketat, karena seluruh sudut kendaraan di periksa. Kami semua memperhatikan dengan lebih saksama.


“Kita tidak bisa melewatinya,” ucap Alya.


“Apa tidak ada jalan lain?” tanya Kellos padaku.


“Aku hanya pernah sekali datang ke sini, itupun tidak lama. Jadi aku cuma tahu gerbang ini saja,” jawabku.


“Tadi kita melewati persimpangan, mungkin ada gerbang dari sisi lain,” ucap Athar.


“Kalau begitu bukannya sama saja?” tanya Stella.


“Kita lihat sekitar dulu saja. Aku yakin ada jalur yang bisa kita lewati,” sahut Zilei.


“Kenapa kau begitu yakin?” tanyaku.


“Apa kau tidak tahu pepatah, Malka? Banyak jalan menuju—” lanjut Ellie namun pembicaraan kami teralihkan oleh Gras.


“Wah, kau mengambil foto banyak sekali. Bagus-bagus semua!” lontarnya.


“Tentu saja, aku  sudah mempersiapkan untuk kota negeri dongeng ini,” balas Leora.


“Kau tahu banyak kota-kota di benua, ya,” ujarku padanya.


“Ya begitulah… Kalau orang-orang bepergian langsung, sementara aku berkeliling menggunakan buku.” Leora dan Gras tampak sangat senang dengan panorama yang terbentang pegunungan mengelilingi kota ini.


“Baiklah, kau sudah puas memotretnya, kan? Saatnya kita lanjut mencari jalan,” ucap Athar. Kami pun kembali ke dalam bak truk.


Berada di dalam bak truk ini tidak seburuk sebelum-sebelumnya. Hawa di sini sejuk, terasa lembut memasuki hidung. Sepanjang jalan itu pula kami melihat benteng besar membentang mengelilingi kota itu.


“Hah… Inilah kenapa aku lebih suka pergi ke gunung…” hembus Lukas.


Kami berada di persimpangan yang sama lagi. Di seberang sana terdapat sebuah truk juga. Ternyata arahnya sama dengan kami. Kami tepat berada di belakangnya. Namun truk itu tampak mencurigakan. Roda terus berputar dan truk itu masih berada di depan kami, sementara tidak ada jalur apa pun yang terlihat.


“Kenapa truk ini menyalakan lampu sein?” tanya Alya.


“Entah, sepertinya ia pergi ke suatu tempat,” jawab Athar.


“Kita mengelilingi kota itu, dan kota itu ada di sebelah timur, sama dengan arah truk itu,” lanjut Ethan. “Sebuah kebetulan kalau tujuan kami benar-benar sama,” ujar Athar memutar kemudi ke arah yang sama dengan truk itu.


Kami sempat terhenti melihat jalur yang sama sekali tak terawat, hanya beralaskan tanah dan padatan kerikil.


“Apa ada jalan masuk ke kota sungguhan?” gumam Alya tak yakin.


“Kita coba saja dulu, nanti kita bisa kembali lagi,” balas Ethan.


Sementara aku dan teman-teman yang berada di bak truk tidak tahu kalau mereka bertiga memutuskan mengambil jalur itu. Rasa heran muncul saat truk yang kami naiki bergoyang-goyang karena jalan yang tak rata.


“Perasaanku jalan yang kita lewati baik-baik saja? Kenapa jadi seperti ini?” tanyaku.

__ADS_1


“Di kanan-kiri juga banyak pepohonan tinggi. Seperti masuk hutan…” gumam Leora.


Truk yang berada di depan kami tiba-tiba berhenti. Kemudian muncul beberapa orang dari sana datang menghampiri kami. Aku juga berpikir kalau kita seperti penguntit yang jelas sekali terlihat.


“Apa maksudmu mengikuti kami?” tanya mereka.


“Kami ingin ke Pharlouse,” jawab Athar.


“Apa kau tahu artinya kalau menginjak daerah ini?” lanjut mereka.


“Tidak, kami pendatang yang sedang melaksakan misi,” jawab Alya santai.


Tiba-tiba saja Zilei pergi keluar dari bak truk. Kami semua yang berada di dalam terkejut melihatnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Ellie pelan.


“Mempercepat perkara,” jawab Zilei lalu melompat dari bak.


Aku dan lainnya hanya mengintip dari sela-sela. Kami tidak mendengar pembicaraan mereka. Tak lama kemudian orang-orang itu kembali ke truknya. Saat Zilei masuk ke dalam, kami sudah sesak dengan rasa penasaran.


“Apa yang kau bicarakan padanya?” tanya Stella.


“Hanya memberi penjelasan,” jawabnya.


Truk kembali berjalan dengan jalan penuh lubang. Kemudian truk kembali berhenti. Kami tidak tahu ada apa di depan kecuali mereka bertiga.


“Ada terowongan,” ucap Alya. Mereka melihat ada sejumlah orang yang menjaga pintu terowongan itu. Truk di depan kami berhasil melewatinya. Sekarang saatnya giliran truk yang kami naiki.


“Tanda pengenal?” tanya orang itu.


“Sip, terima kasih atas informasinya,” balas Athar.


Kami mulai memasuki terowongan yang sangat minim dengan penerangan. Ellie menyatalakan lampu darurat itu.


“Mereka benar-benar mempercayainya…” gumam Alya.


Beberapa saat kami berada di tengah kegelapan. Untungnya, jalan yang sekarang jauh lebih baik, terasa halus. Hingga akhirnya kami keluar dari terowongan.


“Gelap juga di sini. Apakah sedang mendung?” tanya Alya.


“Mendung? Padahal sebelumnya sangat cerah,” balas Ethan heran juga.


“Sepertinya ini bukan karena mendung,” ucap Athar, kemudian mereka bertiga melihat ke arah atas. Ternyata terdapat cerobong-cerobong tinggi dengan asap yang mengepul. Mereka pun sadar kalau sedang berada di daerah industri, namun tidak dengan kami yang tak dapat melihat dengan jelas.


“Tampaknya tidak seindah yang dibicarakan,” ucap Ellie.


“Seharusnya indah. Mungkin ini sisi lain dari Pharlouse,” sahut Leora yang tidak ingin menurunkan ekspetasinya.


Truk yang berada di depan kami berbelok menuju suatu tempat, kami sudah tak mengikutinya lagi.


“Sekarang kita ke mana?” tanya Athar.

__ADS_1


“Pastinya mencari penginapan dulu,” jawab Alya.


Kami terhenti pada sebuah penginapan di tengah tempat yang sepi dan lebih gelap dari tempat tadi. Hanya ada bayangan bangunan yang jaraknya berdekatan.


“Apa tidak bahaya kita berada di sini?” ujar Alya.


“Tapi kita tidak punya pilihan lain untuk menghindar penjagaan,” jawab Athar.


“Kalau begitu untuk sementara kita menginap dulu saja di sini,” lanjut Ethan.


Memasuki penginapan, ruang lobinya sangat sepi. Hanya terlihat seorang pelayan meja yang sedang berjaga. Lampu-lampu di sini juga redup. Ethan dan Alya mengurus pemesanan kamar, sementara aku melihat-lihat sekitar. Terlihat seperti bangunan reot dan penuh dengan sarang laba-laba di sudut ruangan.


“Sepi sekali… Apa tidak ada yang menginap di sini selain kita…?” gumam Leora.


“Tentu saja tidak kalian saja. Memang tempat ini tidak untuk semua orang,” sahut pelayan yang ternyata mendengarnya.


“Maksudmu tidak untuk semua orang?” tanya Gras.


“Selamat datang di dunia gelap. Kalian pasti punya tujuan ‘gelap’ sampai bisa menemukan tempat ini,” ujar pelayan menyambut kami.


“Berarti orang-orang yang menginap di sini…” lanjut Ellie.


“Mungkin yang kau pikirkan benar adanya,” balas pelayan.


“Bilang saja penginapanmu memang sepi,” celetuk Zilei.


“Aku tidak bisa menyangkalnya. Sepertinya kalian tidak akan percaya hingga melihatnya langsung,” ucap pelayan.


Terdengar suara pintu terbuka, seseorang datang sambil membawa sesuatu menggantung-gantung di tangannya.


“Panjang umur…” gumam pelayan.


“Aaaaa!”


Kami semua teriak kaget melihat benda yang dibawa oleh orang itu. Tapi sepertinya Zilei benar-benar berada di dunia yang berbeda dengan kami. Lena langsung tak sadarkan diri, Leora muntah di tempat, Alya berlari mencari kamar mandi, Ellie bergegas menjauh. Sementara tubuhku langsung terasa lemas.


Terlihat benda itu banyak dikerubungi oleh lalat. Cairan darinya menetes ke lantai. Bau amis tercium dengan sangat kuat, sampai ingin membuatku muntah.


“Aku berhasil mendapat mangsa baru!” lontar orang itu sambil mengangkatnya. Aku langsung berpaling dari orang itu.


“Wah, kita kedatangan kawan baru! Salam kenal!” tambahnya mengulurkan tangan mengajak untuk bersalaman, namun tangannya penuh bercak merah dan bau.


“Apa kau benar-benar manusia?” tanya Athar.


“Tentu saja. Aku hanya bersenang-senang dengan ini. Bukan apa-apa, kok!” Ia terlihat sangat ceria seperti sudah terbiasa dengan ini.


Aku langsung pergi menuju kamar mandi. Saat melihat cermin, wajahku sudah benar-benar pucat. Tak habis pikir dengan apa yang kulihat barusan. Napasku berantakan dan terengah-engah.


“Psikopat…”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2