
Langkah pertama kami mulai terpijak untuk menuju tempat suci itu. Beberapa saat kami melangkah, Jack menghentikan kami, seraya berkata, “Maaf, sepertinya kami tidak bisa bersama kalian. Kami harus kembali ke Knox agar dia tidak mencurigai kami.” Aku terkejut mendengarnya, “Tiba-tiba seperti itu? Apa dia yang meminta kalian kembali?”
Seketika Zilei menyeletuk, “Kalau kau bisa langsung pergi ke sana, kami juga bisa langsung ikut.” Langsung terlintas di benakku dan tersadar. “Benar juga, aku baru kepikiran,” sahut Leora. Jack juga penasaran untuk mencobanya. Ia pun mengeluarkan sebuah alat yang belum pernah kulihat. “Apa itu?” tanyaku singkat kepada Jack.
“Semacam alat teleportasi. Sebentar— aku akan mencobanya dulu.”
Jack menggunakan alat itu dan asap hitam kembali menyelimutinya. Tiba-tiba saja pedangku bereaksi dengan mengeluarkan cahaya lalu menepis semua kepulan asap itu. Semua orang terkejut termasuk diriku. “Apa yang kau lakukan, Malka?” tanya Lydia sedikit kesal. “Aku tidak tahu, aku tidak melakukan apa pun.”
Pedang yang kupegang kini menyala terang dan redup berulang-ulang. Aku tidak tahu apa yang terjadi sekarang. “Pedang itu memberi suatu petunjuk,” ucap Yeil. Aku tidak bisa melepas pedang itu dari genggamanku. Tidak lama kemudian sebuah cahaya ringan melayang menuju sebuah dinding asap itu, lalu membukanya seperti sebuah gerbang.
“Kami datang,” sahut Ethan.
“Maaf kami terlambat,” lanjut Ellie.
Tertarik seringai dari wajahku yang terkejut senang melihat kedatangan mereka. “Gras, Kellos, Lena, Ellie, dan Ethan… Apa semua sudah baik-baik saja?” gumamku terkesan. “Tentu saja, justru kami yang seharusnya bertanya pada kalian. Kalian sendiri bagaimana?” jawab Ethan.
“Seperti yang kau lihat sekarang,” balasku tersenyum.
“Oh iya, kami juga ada kejutan untuk kalian,” sahut Gras.
Terdengar suara keramaian yang semakin jelas. Ternyata kepala desa bersama orang-orang yang juga hadir bersama perlengkapan mereka. Perbincangan singkat terjadi antara kepala desa bersama Jack dan kawan-kawannya. “Salam kenal, kawan baru,” balas kepala desa tersenyum.
“Kita harus cepat,” ucap Alya.
“Apa alat yang Jack punya benar-benar tidak bisa digunakan?” tanya Stella.
Terpikir di benakku sebuah cara. Aku memenjamkan mataku dan membayangkan sesuatu. Aku arahkan pedangku ke alat yang Jack pegang. Pedangku kembali bercahaya kemudian menghisap seluruh asap hitam yang keluar dari alat itu. “Apa yang kau lakukan?” tanya Ryne. Lydia mendekat untuk menghentikanku, namun Alya menahannya.
Sesaat asap hitam itu hilang, alat itu menghisap cahaya putih dari pedangku. Alat itu tampak bercahaya seperti pedangku. Semua orang terdiam tak berkutik melihat yang terjadi di depan mata mereka. Aku kembali membuka mataku, “Sekarang, kita bisa ke sana dengan cepat.” Leora heran lantas bertanya, “Apa yang baru saja kau lakukan?”
“Membuat alat itu berfungsi lagi dengan cahaya ini,” jawabku.
“Masalahnya sekarang aku tidak bisa membawa semua orang sekaligus,” balas Jack.
“Apa hanya Jack yang punya alat itu?” lanjut Leora.
“Masing-masing kami punya, tapi itu tidak akan sanggup untuk orang-orang sebanyak ini,” jawab Cathy. Terdapat sedikit cekcok antara kawan-kawanku dan Jack dengan kolega-koleganya. Aku pun meleraikannya, “Tenanglah kalian semua, ada satu cara yang bisa kita lakukan.” Aku kembali memejamkan mataku.
“Lagi?” sahut Lydia tak habis pikir. Cahaya mengelilingi kami semua. Orang-orang melihat sekeliling dengan penuh takjub. Aku bisa mendengar suara gumam mereka.
“Kau membuat apa?” tanya Jack penasaran.
“Aku mengumpulkan kita semua ke dalam satu ruang tak kasat mata.”
“Bukankah kau seperti tidak terkalahkan?” lanjut Jack.
“Selama ini kita ada di fantasi Malka?” heran Leora.
__ADS_1
“Kalau kalian meyakini itu, maka itulah kebenarannya,” balas Yeil.
“Senang mendengar itu langsung darimu,” sahutku.
Jack memberikan alat itu kepadaku, lalu aku menggunakannya seraya cahaya terang melayang-layang di antara kami semua. Pandanganku hanya putih selama beberapa saat. Terasa ringan, aku merasakan pijakan kakiku saat ini sudah berbeda.
Aku belum bisa melihat semuanya dengan jelas.
“Kau datang menjemput ajalmu?”
Tepat di depan wajahku yang dekat, Knox tersenyum lebar. Betapa kagetnya aku dan langsung menghunuskan pedang ke arahnya. Ia melangkah mundur dengan tatapan tajam ke arahku sambil berucap.
“Tidak perlu buru-buru, Anak Muda. Tidakkah kau ingin melihat sekeliling dulu?”
Aku memutar pandanganku dan rupanya sekeliling kami sudah bersiap banyak prajurit Knox yang siap menyerang kami kapan saja.
“Selamat datang di tempat yang indah ini. Konon katanya setiap orang bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan. Singkatnya semesta memanggilnya “dewa”, sepertinya dongeng itu bukan tipu belaka.”
“Aku datang ke sini bukan untuk mendengar ocehanmu!” lontarku.
“Singgasananya!” teriak Eil.
Pandangan kami teralihkan ke belakang Knox di mana singgasana berada. Sudah ada Harry yang berdiri di depannya. “Menjauhlah dari sana!” teriakku.
“Hahaha! Kau memintaku pergi dari singgasana ini? Bukankah kau terlalu egois, Malka? Atau… Selama ini kau juga mengincar kursi sakti ini?” balas Harry.
“Tidak! Aku tidak—” Sontak aku melihat tangan Alya yang memintaku untuk diam.
“Kenapa kau diam? Kau menuruti gadis di sebelahmu? Kau lebih memilih gadis cantik mempengaruhi dirimu sendiri, Orang Munafik?” lanjut Knox.
Aku menjadi sangat kesal mendengar semua omong kosong yang terus keluar dari mulutnya itu. “Tenanglah, bukan saatnya memikirkan ocehannya,” bisik Alya.
“Masih diam? Baiklah, itu akan mempercepat semua ini,” ucap Knox. “Mari kita mulai rangkaian prosesi yang menakjubkan ini.”
Aku langsung berlari sambil mengarahkan pedangku ke—
“Bumm!”
“Lebih dari itu, kau akan tahu akibatnya,” lontar Knox mengeluarkan serangan tepat di hadapanku. Asap hitam itu langsung membuat tanah mengering dan tumbuhan melayu mati. “Tunggu sampai kita menyelesaikan semua ini,” lanjutnya.
“Apakah kita hanya akan diam seperti ini?” teriak Leora kepadaku.
“Oh iya, lupa satu hal. Apa kabar kalian semua, petinggi Knox? Rupanya kalian tidak ada bedanya dengan orang munafik lainnya.”
“Diamlah! Selama ini, semua ini hanyalah tipu dayamu!” teriak Jack.
“Tipu daya? Hahah! Padahal aku akan menawarkan suatu yang menakjubkan kalau kalian terus bersamaku. Kita akan bisa mengatur seluruh semesta! Tapi sayangnya akal kalian tidak sampai ke sana.”
__ADS_1
“Teruslah berkhayal, Biada—”
“Jack tenanglah…” gumamku.
“Apa kalian yakin, Lydia, Ryne, Pappous, Cathy? Tidak perlu sungkan kalau kau tidak nyaman berada di sana.”
“Pappous? Aku tahu kau tidak ingin seperti itu, kan? Aku bisa membuatmu menjadi lebih baik.”
“Hah! Kau merasa tidak percaya diri setelah melihat bawahanmu kini sudah menjadi musuh—” lontarku namun tiba-tiba saja terdengar sesuatu.
“Aaargghh!”
“Alya!” teriak Leora.
Sebuah pisau bersimbah darah terlihat di genggaman Pappous. Aku sangat terkejut melihatnya. Leora yang berada dekat dengan Pappous sontak ingin menyerangnya, tapi Knox langsung menghadangnya dengan asap hitam itu. Pappous kini berada di sisi Knox.
“Pappous! Yang benar saja!” lontar Cathy.
“Kenapa, Cathy? Kenapa kau tidak ikut seperti Pappous? Kau bisa awet muda seperti bidadari cantik. Bukankah itu yang kau impikan selama ini?”
“Ryne, kau masih muda seperti anak munafik itu. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau dengan kekuatan barumu nanti. Kau ingin menyia-nyiakannya begitu saja?”
“Lydia, aku akui kau sangat hebat untuk menciptakan senjata-senjata yang tidak tertandingi di belahan dunia mana pun. Apa kau tidak penasaran apa yang bisa melebihi itu semua dengan kekuatan hebat ini?”
“Telan saja ludahmu itu! Aku tidak butuh itu semua seperti kakek tua di sebelahmu!” teriak Cathy.
“Baiklah kalau itu mau kalian. Aku sudah memberi kalian tawaran. Kalau begitu sekarang saatnya kita mulai hal menakjubkan yang tadi sempat terpotong,” lanjut Knox.
Beberapa prajurit Knox menyiapkan beberapa hal untuk sesembahan di hadapan Harry. Saat semuanya siap, Knox mengambil aba-aba dan semua prajurit berlutut.
“Wahai semesta yang agung! Kami, makhluk bumi atas tekad kami yang ingin menyatukan apa-apa yang sudah terpisah, menciptakan apa-apa yang sudah tiada, dan memulai apa-apa yang sudah berakhir. Dengan segala restumu, dengan singgasanamu, kami akan melanjutkan apa-apa yang terhenti.”
Knox menarik napas, lalu tersenyum ke arahku, “Kami, makhluk bumi akan mempersembahkan apa-apa yang telah hilang. Dan kami mengutus salah satu dari kami sebagai penghubung antara bumi dan langit.”
Seketika asap hitam mengepul di tempat persembahan. Selang beberapa detik, asap hitam itu menghilang dan Athar muncul dari sana. Terikat pada sebuah tiang dengan tubuh lemas, memanggil namaku.
“Malka… T—Tolong…”
Knox masih melanjutkan, “Inilah saat terpentingnya.”
Asap hitam keluar dari masing-masing sesembahan, termasuk tubuh Athar. Ia berteriak merintih kesakitan.
“Aaaa! Ampun! Ampun! Aaaa!”
Tanpa sadar pipiku basah dan mataku berlinang. Seruan kawan-kawanku memanggil namanya, termasuk aku seraya berteriak.
“Athar!”
__ADS_1
Bersambung~