
Sebulan telah berlalu. Sekarang aku sedang berada di rumah sakit, menunggu di ruang tunggu. Sementara Leora sedang masuk ke dalam ruang konsultasi dengan Kachia, sang Dokter. Sebelumnya aku juga berada di ruangan itu. Aku banyak ditanya oleh Kachia. Kebanyakan tentang pikiranku dan perasaanku saat ini.
Terdengar suara kenop pintu, ternyata mereka berdua keluar dari ruangan.
“Apa sudah selesai?” tanyaku.
“Sudah,” balas Leora tersenyum.
“Kalian membicarakan apa? Bukannya aku yang sedang dalam masa pemulihan?” Aku heran dengan mereka. Mereka tersenyum mendengarku.
“Kami hanya mengobrol,” jawab Leora.
“Sekarang kau sudah membaik. Meskipun ada masa-masa sulit, tapi kau sudah melewatinya. Sekarang tugasku mendampingimu sudah selesai. Kau sudah pulih,” jelasnya.
“Syukurlah, terima kasih banyak, Dok,” balasku.
“Hahaha, tidak perlu seperti itu juga. Kita sudah berteman, bukan?”
Tergelitik diriku mendengarnya, begitu pula mereka.
“Ada satu pesan terakhir dariku, dan itu penting untukmu,” lanjut Kachia.
“Apa itu? Aku akan mendengarnya.”
“Kau akan menghadapi hal yang akan lebih sulit. Tapi itu semua…”
“Semua rintangan akan sesuai porsinya masing-masing,” sahutku.
“Dan, jika kau sedang dalam masalah, jangan kau pendam sendiri. Setidaknya kau bicarakan pada orang yang kau percaya. Ingatlah, kau tidak sendiri di dunia ini,” tambahnya.
“Wah, sebenarnya kau sudah kuat dan paham untuk sabar dan bangkit sejak awal,” ucap Leora. Aku hanya cengar-cengir mendengarnya.
“Baiklah, aku masih banyak urusan. Kalian bisa menghubungiku, terlebih kau, Malka,” ujar Kachia. “Terima kasih, Kachia.”
Aku dan Leora keluar dari rumah sakit. Terpikir di benakku untuk kembali ke Mennora. “Kau sudah ingin pergi ke Mennora, ya?” tanya Leora.
“Iya,” jawabku. “Sudah lama aku ingin bertemu teman-temanku.”
“Baiklah, aku akan ikut juga denganmu. Tidak apa-apa, kan?” Tentu saja aku mengizinkannya. Aku juga belum pernah melintasi jalur antara desa ini dan Mennora.
“Tapi sebelum itu, kau ingin bertemu dengan orang tuamu dulu, bukan?”
“Oh tentu. Ayo kita pergi ke sana,” balasku.
__ADS_1
Sesampainya di pemakaman, aku segera menemui Ayah dan Ibu. Mereka dimakamkan di desa ini, bukan di tempat kami tinggal. Sepertinya seluruh korban kejadian itu yang tidak diketahui keluarganya, dimakamkan di sini. Saat ini aku satu-satunya anggota keluarga. Kala itu, saat aku sadar, seminggu telah berlalu, tentu mereka sudah dimakamkan.
“Ayah, Ibu, aku akan pulang ke rumah kita. Rumah tempat kita menghabiskan waktu bersama. Tempat Ayah berangkat kerja dan banyak mengobrol denganku. Tempat Ibu memasak makanan lezat dan banyak menemaniku. Tempat kita semua kembali. Kita akan jalani hari-hari seperti biasa lagi. Itu yang selalu kurasakan mulai sekarang…”
“Aku akan selalu menemui kalian, walau terpisah jarak dan dimensi… Sampai bertemu lagi, Ayah, Ibu. Aku sayang kalian. Aku cinta kalian.”
Aku beranjak. Leora selalu berada di sampingku sejak awal. Ada yang membuatku heran. Apa Leora tidak menemui orang tuanya? Aku belum pernah melihatnya melakukan itu. Sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan itu.
“Maaf kalau lancang, aku tidak pernah melihatmu bertemu dengan orang tuamu.”
“Oh, tidak lancang, kok. Sebenarnya aku juga melakukannya sama sepertimu.”
“Eh? Kapan? Aku tidak melihatmu pergi,” lanjutku.
“Orang tuaku ada di belakangmu,” balasnya dan seketika mengejutkanku. Terlihat nisan yang tertulis, tentu aku tidak mengenalnya.
“Jadi selama ini makam orang tua kita berseberangan?” Ia tertawa kecil melihat wajahku yang kebingungan.
“Maaf, aku tidak memberitahumu, hehe…”
Aku pun memberi sapa pada kedua orang tuanya. Walau pembicaraan kami searah, setidaknya aku yakin, mereka mendengarkanku.
Setelah dari pemakaman, kami kembali pulang ke rumah Leora. Hari sudah siang, sepertinya sudah tidak cukup waktu untuk berangkat hari ini. Jadi kami mempersiapkan segalanya untuk besok. Tidak banyak yang dipersiapkan sebenarnya, apalagi aku. Aku tidak memiliki apa-apa sekarang.
“Apa besok kau ingin bertemu dengan teman-teman dulu?” tanya Leora.
“Baiklah, berarti kita akan ke taman dahulu.”
Keesokan harinya, kami bersiap pergi keluar rumah. Betapa terkejutnya aku saat melihat semuanya sudah berada di depan.
“Wah, kalian sudah tahu?” ucap Leora.
“Pastinya, kami tahu semua berita di desa ini,” jawab Kellos.
“Sebenarnya aku tidak ingin ke sini sepagi ini, tapi apa boleh buat,” ujar Zilei.
“Siapa juga yang ingin kau ikut ke sini,” celetuk Stella.
Aduh, tidak habis pikir. Mereka berdua masih saja begini. Kukira dengan kejadian waktu itu membuat mereka sadar. Sepertinya sifat seseorang akan terus menempel pada orang itu. Yah… Setidaknya kali ini lebih baik. Mereka hanya berdebat kesal, dan tidak memasukkannya ke dalam hati… itu yang aku pikirkan.
“Ayo kita berangkat ke sana bareng-bareng,” ucap Stella.
“Eh? Kalian juga ikut?” tanyaku terkejut.
__ADS_1
“Aku ingin jalan-jalan,” sahut Kellos.
“Kudengar di sana juga ada perkumpulan aktivis seperti kita,” lanjut Stella.
Apa yang ia maksud adalah Synnefá? Aku tidak tahu kemajuan terbaru tentang perkumpulan itu. Terakhir yang kutahu ialah mengampanyekan peduli langit dan lingkungan di berbagai media, walaupun masih diam-diam dan tidak frontal. Aku tahu itu saat… masih di Centra. Sekarang aku merasa komunikasiku terputus dengan mereka.
“Sepertinya itu ide bagus. Aku juga ingin menemui mereka,” sahut Leora.
“A—Aku juga mau… ikut…” tutur Lena gugup.
“Hahaha! Kau selalu ingin di dekatku terus, ya?” canda Kellos.
Aku tergelitik dan merasa jijik pada saat yang sama. Kellos sangat percaya diri… mungkin sepertinya berlebihan. Lena hanya tertunduk malu. Semoga saja Lena tidak merasa terganggu dengan tingkah Kellos. Aku ingin menasehatinya, tapi tak tahu harus berkata apa. Mungkin pada saatnya ia akan mengerti sendiri.
“Ha! Gede rasa sekali kau,” sindir Zilei.
Pas! Inilah waktu yang kumaksud. Memang dunia ini membutuhkan orang seperti Zilei. Aku merasa kalau perkumpulan Leora ini cukup lengkap, dengan berbagai sifat dan tingkah “aneh” mereka.
“Kalian tidak membawa apa-apa?” tanyaku.
“Kau pikir kami ingin pindahan?” balas Zilei.
Ya… Walaupun orang sepertinya cukup mengesalkan…
“Lebih baik kita berangkat sekarang supaya bisa tiba lebih awal,” ucap Leora.
Tidak banyak terjadi selama perjalanan. Hanya melangkahkan kaki dan mewarnai suasana dengan obrolan dan canda tawa… Segala obrolan yang membuatku tertawa dan kesal. Berbeda dengan teman-temanku di Mennora. Tidak terbanyang di kepalaku saat mereka semua saling bertemu nanti.
Jalur yang kami lewati sudah bersih dari longsoran. Tidak ada perampok tentunya. Sesekali kami bertemu dengan pedagang kecil dan orang-orang yang lewat.
“Kalau kita lewat jalur memutar, bisa saja kita baru sampai tiga hari kemudian,” gumam Leora. Aku sangat sependapat dengannya.
Mentari kian berpaling haluan. Langit mulai teduh kala petang tiba. Pada akhirnya kami sampai di Mennora.
Setelah empat tahun lebih, akhirnya aku bisa menghirup udara di tempat kelahiranku. Tidak ada yang berubah, itu yang kulihat saat ini.
“Apa teman-temanmu masih beraktivias sekarang?” tanya Leora.
“Ayo kita lihat sama-sama di taman,” balasku.
Sampailah kami di taman. Alya, Gras, Ethan, dan Ellie berada di sana. Rasa rinduku meluap-luap.
“Teman-teman!” seruku pada mereka.
__ADS_1
“Malka!”
Bersambung~