
Keesokan harinya cuaca sedang tidak mendukung. Ketika kubangun dari tidurku, kubuka jendela dan tak ada sinar matahari masuk. Semuanya tertutup awan tebal di atas sana. Tak lama kemudian hujan turun. Aku yang sudah bersemangat untuk mengawali hari pertamaku di kota ini tiba-tiba kubatalkan semua rencanaku untuk berkeliling sekitar rumahku hari ini.
Aku yang sudah mengurungkan niatku untuk berkeliling namun tidak memutus harapan bahwa cuaca tak lama lagi akan cerah. Aku hanya bisa menunggu dari dalam rumah, menyaksikan televisi dan sesekali membaca buku tentang langit itu.
Waktu demi waktu terus berjalan. Aku yang bosan ini sudah tidak tahan untuk keluar rumah. Namun cuaca masih gelap mendung dan hujan masih turun. Entah akan berhenti sampai kapan. Sepertinya aku benar-benar diam di rumah malam ini.
Dan benar saja, hari sudah mulai gelap sedangkan hujan belum juga berhenti. Aku yang tidak bersemangat ini kembali ke tempat tidur dan menyimpan semua tenaga dan semangatku untuk besok. Sepertinya langit akan sangat cerah besok pagi. Aku yang baru saja terlentang di kasur tak lama kemudian terlelap ke pulau kapuk.
Burung berkicauan dan suasana perkotaan yang ramai membangunkanku dari tidur. Sekarang tepat matahari akan terbit, namun kulihat dari jendela sudah banyak orang lalu lalang kasana kemari. Kota yang tidak pernah tidur. Aku keluar dari kamarku dan langsung bersih-bersih untuk melihat-lihat sekitaran rumahku.
Setelah itu aku meminta izin kepada orang tuaku bahwa aku akan pergi melihat-lihat kota ini. Mereka membolehkannya dan aku langsung keluar dari rumah dengan membawa sedikit uang untuk jaga-jaga. Kemudian aku berjalan-jalan di sekitar daerah tempatku tinggal. Aku juga melihat ke kanan dan ke kiri ke sekelilingku agar aku mengenal tempat ini.
Aku berjalan santai dan melihat orang-orang yang saling berinteraksi satu sama lain. Tak sedikit juga ada dari mereka yang menatapku sinis dan heran mungkin karena aku orang baru di sini. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku lanjutkan dengan tetap berjalan sambil mengenal tempat-tempat ini.
Di sebuah simpang di depan sana, kulihat ada seorang bapak-bapak yang sedang menyandarkan badannya pada sebuah tembok bangunan. Terlihat ia sedang berjualan dan hanya mengibas-ngibaskan dagangannya dan berharap ada yang membelinya. Aku pun menghampirinya sekaligus penasaran apa yang dijual olehnya. Sangat miris ketika orang-orang hanya melewati pria itu dan masuk ke toko untuk berbelanja.
Saat aku mendekatinya, ia melihatku dan langung menawarkan dagangannya padaku.
“Hey, Nak! Kau ingin membelinya?” ucap pria tersebut sambil menawarkannya kepadaku.
“Ini apa?” tanyaku.
Tak lama ada seorang anak yang ingin kemari dengan menarik seorang ibunya. Aku yang sedang bertanya langsung menoleh kepada mereka. Begitu pula dengan pria yang berjualan itu. Sepertinya anak tersebut tertarik dengan makanan yang dijual oleh pria tersebut.
“Ibu, Ibu! Ayo lihat ke sana!” cakap anak kecil tersebut kepada ibunya.
“Pelan-pelan, Nak,” ujar ibunya yang tangannya ditarik-tarik oleh anak kecil itu.
Saat mereka sudah mendekat kemari anak kecil itu berteriak menginginkannya. Wajar saja anak-anak tertarik karena suka dengan permen lolipop.
__ADS_1
“Aku mau ini, Bu!” teriak anak tersebut.
“Nak…” Ibunya mendekatkan mulutnya kepada anak itu.
“Bagaimana kalau kita cari di toko saja. Di sana lebih banyak pilihannya dan lebih enak,” ucap pelan ibunya namun kami semua tetap masih bisa mendengarnya.
“Tidak mau! Aku mau yang ini!” teriak anak tersebut rewel dan membuat orang-orang terpanah kepadanya.
“Ayolah, Nak. Di sini tidak higenis!” ujar ibunya dengan menaikkan nadanya.
Kemudian ia menarik anaknya pergi dan menghiraukan aku dan pria yang berjualan itu. Pria tersebut hanya bisa tersenyum kemudian menundukkan kepalanya dan sedikit bersedih hati. Aku yang melihatnya kasian dan kesal dengan wanita tersebut. Tidak sopan berbicara lantang terlebih kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain.
Aku yang melihatnya sedang tertunduk sambil mengelap keringatnya yang bercucuran sejak tadi. Memang hari ini sangat cerah dan cukup hangat. Aku pun berusaha menenangkannya. Aku juga menghiburnya dan aku yang juga sedih melihatnya ingin membeli permen tersebut.
“Tenang, Pak. Mungkin wanita tersebut memang tidak memiliki adab,” ucapku kepadanya dengan nada sedikit kesal kepada wanita yang sudah pergi itu.
“Iya, Nak. Sudah sekian kalinya. Aku sudah terbiasa dengan ini,” balas pria tersebut dan seketika mengagetkanku.
Kemudian aku membeli beberapa permen lollipop yang dijualnya dan tak lama kemudian ia merapihkan semuanya. Aku bingung mengapa ia sudah mengemas kembali dagangannya secepat ini karena saat ini pagi.
“Terima kasih, Nak,” cakap pria tersebut dan tersenyum kepadaku.
Aku yang masih kebingungan hanya bisa melihatnya merapihkan semuanya. Sesekali aku juga membantunya. Ia sangat berterima kasih kepadaku. Namun ia sendiri juga bingung kepadaku karena sangat jarang ada orang sepertiku di sini.
“Kau baru di sini, ya?” tanyanya dengan penuh penasaran.
“Iya. Kau mengetahuinya?” balasku dan kami sama-sama bingung.
“Tentu saja. Orang kota tidak ada yang sepertimu, Nak. Sekalipun ada, sangat jarang aku melihatnya. Kau pasti orang desa,” cakapnya dan menjelaskan.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tersenyum dan memperhatikan pembicaraannya.
“Berkatmu aku bisa pulang lebih awal. Aku sangat berterima kasih padamu, Nak,” ucap pria tersebut tersenyum.
“Malka, salam kenal!” balasku memperkenalkan diri kepadanya.
“Pow, orang-orang menyebutnya begitu,” ujarnya.
Setelah semuanya telah rapih. Aku mengikutinya kembali ke rumahnya. Kami berjalanan bersama dan mengobrol ringan. Pow membawa barang-barangnya dalam sebuah tas yang dipikulnya. Pow juga mengenalkanku tentang kota ini sedikit-sedikit. Namun pembicaraan lebih banyak diisi dengan pertanyaan Pow kepadaku tentang ceritaku tinggal di desa.
Kami asyik mengobrol bersama sambil melangkahkan kaki ke rumahnya Pow. Sampai-sampai semua kejadian tadi sudah larut dengan pembicaraan yang menyenangkan ini. Kami saling berbagi cerita dan keseruan di tempat kami masing-masing.
Pow menceritakan bahwa ia sudah lama tinggal di kota. Sebelumnya ia tinggal di sebuah kota kecil seperti Lumiatia. Namun saat ia sudah beranjak besar, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Centra untuk menaikkan taraf hidupnya. Tetapi semua berbanding terbalik dari harapan.
Ia juga bercerita tentang pekerjaannya yang hanya menjadi penjual permen lolipop. Sebelumnya ia telah melamar banyak sekali jenis pekerjaan, namun semua ditolak mentah-mentah. Terlebih lagi ia bukan orang yang cukup pintar. Jadi terpikir olehnya untuk menjual permen kepada anak-anak.
Dahulu penjualan permen semacam ini sangat diminati orang-orang. Apalagi saat itu yang masih memiliki taman di tempat ini. Tetapi taman tersebut telah tergusur dan diganti dibangun dengan gedung-gedung tinggi dan pertokoan. Sehingga Pow tidak memiliki tempat untuk menjual permen dagangannya. Hal ini diperburuk dengan bukanya toko-toko permen yang kini memilki lebih banyak pilihan rasa dan lebih terkemas rapih. Berbeda dengan permen buatan Pow yang masih tradisional buatan tangannya sendiri.
“Oh iya,” ucap Pow yang tiba-tiba teringat sesuatu.
“Ada apa?” tanyaku heran kepadanya.
“Apa kau sudah tahu kalau sudah dibuka berbagai macam lowongan pekerjaan di kota ini?” tanya Pow padaku.
“Iya aku sudah mengetahuinya,” jawabku kepadanya.
“Jangan sampai terlewatkan ya. Sayang sekali kalau kau menyia-nyiakannya,” jelas Pow kepadaku.
“Baiklah,” balasku kepadanya.
__ADS_1
Bersambung~