
“Kau selalu saja mengejutkanku, ya, Rose,” ucapku tersenyum.
“Kuanggap itu sebagai pujian, Panda,” balasnya sambil meneguk minuman.
Acara pun dimulai. Lampu ruangan langsung meredup dan lampu sorot sontak menembak ke arah panggung. Suasana meriah dengan tepuk tangan dan tiupan terompet.
Ternyata acara yang tengah kuhadiri sekarang ialah acara festival konglomerat dan nominasi penghargaan. Aku sama sekali tak menyangka akan begini. Kukira hanya sebuah acara semacam perayaan perusahaan baru. Beberapa konglomerat itu dipanggil lalu diberikan piala penghargaan.
“Selanjutnya, konglomerat paling akrab adalah… Panda dan Rose!” seru pembawa acara seketika mengejutkanku. Rose langsung berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku. Ia tersenyum dengan rias nan elegan dan cantik. Aku sedikit terperangah padanya. Aku meraih tangannya lalu melangkah ke atas panggung bersama-sama.
Kami diberi piala, lalu aku dan Rose mengangkat piala itu. Aku menjadi heran kenapa orang-orang tidak menyadari kalau aku bukanlah Panda yang mereka kenal. Saat itu juga Rose berbisik, “Penampilanmu benar-benar mirip dengan Panda yang asli.”
“Rayakan!” lontar seseorang dari meja makan.
Kami berdua langsung melihat ke arahnya. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang ia maksud. Rose yang ada di sebelahku langsung memegang daguku lalu mengarahkannya tepat berhadapan. Tiba-tiba saja Rose mendekatkan wajahnya dan menghisap mulutku.
Aku syok…
“Woooo…!” teriak orang-orang dan tepuk tangan.
Akhirnya Rose melepaskanku, aku masih tergemap dengan pandangan kosong.
“Mmm… Nikmat sekali…” goda Rose.
“Tepuk tangan untuk mereka berdua!” seru pembawa acara.
Rose langsung menggandengku sambil menghadap ke arah penonton.
“Cepatlah sadar!” bisiknya.
Kepalaku masih penuh memikirkan kejadian tadi. Senyumku tertahan, lalu kami berdua membungkuk hormat sebelum akhirnya kembali ke tempat duduk kami.
Acara berlanjut bersamaan dengan jamuan makan yang diantarkan langsung ke meja makan. Kali pertama aku melihat semua hindangan itu. Aku melihat Rose, ia menyantapnya dengan etika makan. Seperti sudah terbiasa dengan semua ini.
Selanjutnya, acara dimeriahkan dengan pesta dansa. Rose mengajakku untuk dansa bersama. Aku hampir tidak pernah dansa sebelumnya.
“Kau masih saja kaku seperti biasanya,” ucap Rose.
Kami berdansa pelan dan Rose sesekali memberi tahu apa yang harus dilakukan. Setelahnya acara berlanjut dengan minum-minum dan bercakap ria. Aku hanya bersama Rose, tidak seperti mereka yang berkumpul satu sama lain bertukar gelak tawa.
“Oh iya, sebelumnya aku telah memberi tahu kalau aku bukan Panda yang kau cara. Lalu, apa kau Rose yang beliau cari juga?” tanyaku.
“Hahaha. Sepertinya kau tidak diberi tahu apa pun olehnya, ya? Aku Rose yang beliau kenal. Senang bertemu denganmu,” tuturnya.
Aku sangat terkejut mendengarnya. Sikapnya benar-benar berbanding terbalik dengan Sara yang sering kulihat. Tampak seperti nona konglomerat yang elegan.
“Apa aku mengejutkanmu?” lanjut Rose tertawa kecil.
“Ekhem, sedikit. Senang juga bisa bertemu denganmu,” balasku berusaha untuk serius. Ada banyak yang ingin kutanyakan, tapi aku takut kalau tingkahku berbeda dengan Panda yang asli. Jadi aku menunggu Rose memulai percakapan.
“Enak ya sedang punya banyak pesanan akhir-akhir ini…” ucap Rose. Aku sama sekali tidak tahu apa yang diucapkannya.
“Eh? Eee… Iya…” jawabku ragu. Ia tertawa kecil melihat wajahku yang kebingungan. Sepertinya ia memang ingin menjahiliku.
Tiba-tiba saja dua orang datang menghampiri kami. Sosok mereka seperti tak asing bagiku, namun aku belum bisa memastikannya karena tertutup oleh topeng.
__ADS_1
“Selamat siang, Panda, Rose,” sapa salah seorang dari mereka.
Suaranya juga tak terasa asing di telingaku. Seperti sering mendengarnya. Namun orang tersebut tidak kunjung terlintas di kepalaku.
“Siang, Knox, Harry. Sudah lama kita tak bertemu,” balas Rose.
Sudah kuduga. Ternyata mereka adalah Knox dan Harry—
E—Eh? Knox dan Harry? Berarti… Musuh kami berada tepat di hadapan kami? Aku sangat terkejut mendengarnya. Sebuah kebetulan yang membuatku keringat dingin dan tegang bersamaan. Rasanya ingin menghindar saja dari mereka. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana melakukannya.
“Aku akan mengundangmu ke perayaan penemuan terbesar kami nanti. Sekarang aku sedang sibuk dengan Panda. Bukankah begitu, Panda?” ujar Knox.
“Tentu saja. Pesanan yang menumpuk itu salah satunya dari Knox,” jawabku mencoba untuk tidak gugup.
“Hahaha. Kau membuatnya semakin sibuk, Knox. Sampai-sampai aku sulit sekali menghubunginya,” balas Rose terhibur.
“Aku sendiri lebih senang melayani pesanan daripada harus berurusan denganmu,” lanjutku menyindirnya.
“Kalian benar-benar akrab, ya,” ujar Knox.
“Lalu, kau membawa si Tampan itu?” tanya Rose menggoda.
“Pastinya. Ini saja sulit sekali mengatur jadwal untuknya,” jawab Knox.
“Apa karena ia kunci utama dari penelitian yang sedang kau kerjakan sekarang?” tanya Rose pada Knox sambil menggoda wajah Harry. Seketika saja Harry langsung menarik Rose dan melakukan hal serupa denganku saat di panggung tadi. Lagi-lagi aku terkejut melihat mereka.
“Kau memang cerdik, Rose…” ucap Knox melihat tingkah mereka berdua. Aku tak habis pikir seorang Ayah bisa melihat anaknya seperti itu dengan rasa biasa saja.
“Orang-orang elite memang beda…” gumamku dalam hati.
“Kau tidak senikmat Panda,” tutur Rose.
“Apa aku harus mencobanya juga?” celoteh Harry.
“Maaf, seleraku bukan sesama jenis,” balasku.
“Hahaha. Aku hanya bercanda saja,” ujar Harry.
Setelah beberapa waktu mengobrol, pembawa acara kembali naik ke atas panggung dan meminta semua orang untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing. Acara dilanjutkan dengan beberapa pentas lalu ditutup oleh Knox yang ternyata pemimpin organisasi konglomerat ini.
“Atas kehadiran kalian semua, kami banyak mengucapkan terima kasih.”
Aku dan Rose keluar dari ruangan. Di sana sudah ada asistenku dan asistennya.
“Bagaimana dengan pestanya?” tanya asisten Rose padanya.
“Benar-benar berbeda dari ekspetasiku. Aku merasa sangat terhibur dengan perwakilanmu, Biv,” jawab Rose lalu berucap pada Biv.
“Kau cukup berani memberikan bibirmu pada seorang perwakilan,” sindir Biv.
“Justru terasa lebih segar dan nikmat, tidak seperti om-om itu,” balas Rose.
“Aku sudah harus pergi. Sampai bertemu lagi,” ucapku pada Rose dan asistennya.
“Semoga saja om-om itu mengangkatmu sebagai perwakilan tetapnya,” tutur Rose kemudian mengecup pipiku. “Salam perpisahan,” ucapnya.
__ADS_1
Aku pun kembali ke kantor perusahaan bersama Biv dengan kereta kuda. Pandanganku masih termanjakan dengan pemandangan yang indah ini. Saat kami tiba, Pinctada sudah berada di sana.
“Tuan sudah lebih dulu tiba?” tanya Biv.
“Urusan pekerjaan tidak selama pesta. Bagaimana denganmu, Chamnion?”
“Aku bertemu dengan Rose, Knox, dan Harry. Banyak kejutan yang diberikan oleh Rose. Aku tidak menyangkanya,” jawabku.
“Selamat datang di dunia konglomerat dan orang-orang elite. Aku bisa menyadarinya dari aroma di bibir dan pipimu itu,” balas Pinctada.
Aku yang mendengarnya sontak mengelap pipi dan bibirku.
“Hahaha. Kau memang masih polos, ya,” ujar Pinctada.
“Maaf kalau aku kurang berpengalaman. Tapi aku banyak belajar hal baru dari pesta tadi, sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu secara kebetulan tadi,” ucapku.
“Aku juga merasa terbantu olehmu. Aku bisa ditanya banyak orang kalau tidak hadir sama sekali di pesta itu,” balasnya.
Kemudian datang beberapa pelayan membawa pakaian dan beberapa tas besar. Terlihat cukup berat.
“Seperti yang kunjanjikan, aku akan memenuhi permintaanmu. Aku juga memberi hadiah pakaian untukmu bertugas nanti,” ujarnya.
Aku diminta untuk langsung mengenakannya. Lantas aku diantarkan ke ruang ganti pakaian. Setelahnya aku kembali mendatangi mereka.
“Cocok sekali,” ucap Biv.
Pakaian yang kukenakan terlihat seperti jubah pembunuh dengan tudung kepala.
“Kau bisa membuka jubah itu untuk memudahkanmu bergerak,” ujar Pinctada.
Aku pun melepas jubah itu. Tudung kepala tersambung dengan kaos tanpa lengan.
“Entah kenapa kau malah terlihat seperti model dibanding pembunuh…” gumam Biv.
Pada akhirnya aku diantar oleh Biv menggunakan kendaraan pabrik menuju tempat penginapanku. Sesampainya di penginapan, beberapa temanku sedang berada di lobi.
“Kau dari mana saja, Malka?” tanya Lukas.
“Berkeliling,” jawabku singkat.
“Lalu, siapa orang bertopeng di sebelahmu?” tanya Ellie.
“Kenalanku. Ia memberikan semua tas itu kepada kita,” jawabku.
Biv pun pergi meninggalkan kami tanpa kata-kata, hanya memberi isyarat salam padaku. Aku membawa tas-tas itu masuk ke dalam, sementara Ellie dan Lukas masih memperhatikanku. Ellie pun berkata padaku.
“Ngomong-ngomong, pakaian itu sangat cocok denganmu.”
Tiba-tiba saja Sara datang lalu langsung memelukku.
“Tadi benar-benar kejutan yang sangat baik, Malka.”
“L—Lepaskan aku!”
Bersambung~
__ADS_1