Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Jack Bermain Peran


__ADS_3

Aku berlari menuju tempat penginapan. Aku melihat jam. Tersisa waktu tiga puluh menit sebelum rapat. Aku merasa tidak lebih dari anak kecil yang sedang berlarian. Tanpa wibawa. Jas dan seragam yang berantakan, penuh kotoran. Untung saja aku membawa jas cadangan. Tapi aku takut kejadian serupa terulang, sepertinya lebih baik aku langsung mencucinya.


“Tunggu, penginapan benar ke arah sini, kan?” Aku baru sadar kalau aku belum tahu tempat penginapanku berada. Aku hanya tahu namanya saja. Ingin bertanya, tapi tak ada manusia yang aku lihat selain diriku. Terpikirkan satu cara yang cukup “gila”.


“Tidak mungkin aku mengelilingi desa ini, kan?” Yah, sebenarnya desa kecil ini cukup cepat untuk dikelilingi. Tapi dengan keadaanku sekarang pasti akan membuatku terlambat. Meski sudah sangat lama di desa ini, namun aku baru dengar nama penginapan itu.


“Tunggu, sejak kapan di desa ini ada penginapan?” Bukan destinasi wisata, hanya sebuah desa kecil tempat untuk hidup dan tinggal. Tidak ada kepentingan khusus untuk membuka penginapan. Apa untungnya membuka penginapan di sini?


“Habis dari mana saja?” celetuk seseorang dari belakangku.


“Astaga!” Ku tengok ke belakang, ternyata Jack. “Bikin kaget saja!” lontarku kesal.


“Maaf, maaf. Kau kemana saja? Sebentar lagi akan ada rapat, kau tahu itu.”


“Ada sesuatu terjadi. Ngomong-ngomong, tumben sekali bicaramu seperti ini.”


“Tidak ada siapa-siapa, kita ini teman, kan?”


“Benar juga, sih. Tapi kenapa saat di kantor kau tidak seperti ini juga?” tanyaku heran.


“Agak bahaya kalau di sana. Aku tidak ingin kita terlihat terlalu akrab.”


“Oh ternyata itu alasan sebenarnya kau begitu.”


“Ketahuan, deh…” balasnya cengar-cengir.


“Tampaknya ada anak tersesat di sini. Sini ikut aku!” ajaknya dan sempat-sempatnya menyindirku. “Begitu sikapmu ke atasan, ya,” lanjutku bercanda.


Ia memimpin langkah kami. Setelah berbincang penuh canda selama berjalan, akhirnya kami tiba di sebuah rumah. Ada yang aneh. Sepertinya aku tidak asing dengan rumah yang ada di sebelahnya. Terlihat bunga-bunga cantik di depan rumah itu. Namun tidak terlintas di kepalaku akan jawabannya.


“Cepatlah bersih-bersih dan makan malam. Waktumu tidak banyak,” ucap Jack berlagak seperti atasan.

__ADS_1


“Baik, Pak!” sahutku memainkan peran. Aku bergegas membuka pintu, tapi tiba-tiba tertahan saat aku kepikiran sesuatu. “Apa ada pintu belakang?” tanyaku.


“Sini.” Jack memberi tahu jalan menuju pintu belakang. Lalu aku memintanya untuk masuk terlebih dulu sambil melihat sekitar. Kemudian ia kembali memainkan peran. Kali ini sebagai mata-mata yang sedang mengendap-endap. Aku mengikutinya dari belakang. Perlahan-lahan kami melewati lorong sembari melihat ke kanan-kiri. Beberapa kali ia menahanku untuk diam sejenak.


“Tunggu sebentar,” bisiknya yang sedang mengintip. Setelah beberapa saat kami melanjutkan langka kami. Sembunyi, jalan, sembunyi, jalan, terus berulang-ulang. Hingga suatu ketika aku tidak sadar kalau lantai di depan lebih tinggi. Aku tersandung dan terjatuh.


“Gubrak!” Suara dentuman keras dari kayu. Jack melompat kaget. Kami kalang kabut kepanikan. Untung saja tidak ada yang cedera, dan lantai kayu itu juga baik-baik saja.


“Apa yang terjadi?” Orang-orang datang menghampiri Jack. Ia bertingkah seperti kesakitan akibat jatuh tadi. “Aku tidak apa-apa.” Kemudian ia kembali merasa baik.


“Bersiap-siaplah. Akan lebih baik kalau kau sudah ada di ruang rapat,” ujar Jack.


“Baik!” balas mereka. Aku kembali saat Jack sudah menyatakan aman. “Huft… hampir saja,” hembusku. “Kau ini bagaimana? Perhatikan langkahmu!” bisiknya kesal.


“Maafkan aku…”


“Untung saja ada lemari di sini.”


Akhirnya kami sampai di depan kamar. Jack sedikit mengenalkan tempat di lantai dua ini. “Kita satu kamar?” tanyaku. “Tentu saja, aku kan asistenmu.” Aku merasa sedikit sungkan mendengarnya.


“Masih jauh lebih baik daripada yang lain. Mereka menumpuk di setiap kamar.” Kalau dilihat-lihat, memang tidak ada banyak kamar. Namanya saja rumah, pasti hanya untuk tempat tinggal keluarga, bukan satu tim yang bejibun ini.


Setelah mandi dan rapih-rapih, aku menyempatkan makan malam di kamar. Jack membawakannya dari ruang tengah di lantai bawah. Lima menit sebelum mulai rapat, aku melangkah menuju ruang rapat. Jack telah ada di sana bersama anggota lainnya. Setibanya di sana, seketika teringat ruang rapat di kantor. Jauh berbeda dengan rumah kayu ini.


Semua orang langsung duduk sempurna saat melihatku hadir. Aku duduk di kursi, Jack meletakkan seluruh dokumen penting di depanku. Jam belum menunjukkan waktunya, tapi terasa canggung saat semuanya diam dan memperhatikanku. Sementara aku masih melihat-lihat dokumen itu.


Tidak tahan dengan situasi ini, aku pun memulai rapat.


“Baiklah, selamat malam. Terima kasih sudah hadir pada agenda kita malam ini.” Membuka rapat, melakukan pembahasan dan diskusi. Dua jam pun berlalu. Aku memberi arahan terakhir sebelum menutup rapat.


“Sekian.” Semua orang membubarkan diri dari orang rapat, ada beberapa dari mereka yang masih duduk, membicarakan rapat barusan. Aku sudah mengantuk lalu bergegas ke kamar. Jack merapihkan dokumen-dokumen itu. Saat rapat tadi, aku tidak memberitahu apapun tentang alat itu.

__ADS_1


Bersiap-siap tidur, menyempatkan sedikit waktu untuk membaca buku langit. Aku masih penasaran dengan yang dikatakan Ellie. Tapi rasa suntuk sudah menyerangku bertubi-tubi. Jack datang lalu mengganti pakaian. Ia melihat diriku yang sudah meletakkan kepala di atas buku itu, tapi aku masih tersadar.


“Oh, jadi ini buku tentang langit itu?” tanya Jack penasaran.


“Iya…” jawabku terseret-seret sambil beranjak duduk untuk meletakkan buku itu.


“Aku sedikit penasaran. Boleh kupinjam? Sambil kubacakan supaya kau bisa tidur nyenyak,” pintanya.


“Baiklah…”


Ia membacakan buku itu dari halaman pertama. Lantunan bacanya membuatku teringat dengan Ibu. Saat kecil aku biasa dibacakan dongeng oleh ibuku. Terasa nyaman dan membuatku semakin terlarut. Dengan bantal guling dipelukan, aku tertidur pulas. Jack yang melihatnya lantas ikut bersiap untuk tidur.


Namun tak langsung tidur, Jack berkeliling rumah sebentar untuk melihat-lihat. Orang-orang sudah tertidur di atas kasur matras di atas lantai. Ia tegelitik tawa saat melihat mereka yang tidur berantakan. Tak sedikit dari mereka yang mendengkur, bahkan sangat keras. “Untung aku tidak sekamar dengan mereka. Aku tidak bisa tidur dibuatnya.”


Terdengar suara sedikit bising dari rumah sebelah, tempat tinggal pemilik penginapan ini. Ibu tersebut keluar dan berniat untuk mengecek penginapan, lalu bertemu dengan Jack.


“Kau belum tidur?”


“Hanya ingin melihat-lihat sebentar. Ibu terlihat sibuk sepertinya.”


“Hahaha… Tidak, tidak, biasa saja. Aku ingin mengecek sebelah, tapi sepertinya tidak perlu setelah melihatmu.”


“Silakan saja, Bu. Maaf sudah membuatmu sungkan.” Jack merasa bersalah.


“Bukan, aku tidak bermaksud begitu. Kukira di sana masih ramai, tapi dilihat dari sini aku sudah tahu jawabannya,” balas Ibu itu. “Besok masih ada pekerjaan, kan? Sebaiknya kau  cepat-cepat istirahat.” Jack beranjak kembali menuju penginapan.


“Selamat malam,” balas Jack.


Melihat kamar mereka lagi, membuatnya kembali tertawa. Posisi-posisi mereka sudah berubah. Tidak habis pikir bagaimana mereka bisa pindah posisi, bahkan cukup jauh saat sedang tidur. Terlihat diriku yang masih merangkup bantal guling itu dan menggunakan baju tidur dengan motif bintang-bintang.


“Dilihat-lihat, seperti anak kecil saja,” gumam Jack.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2