Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Bersua Reuni


__ADS_3

Aku berlari menghampiri mereka. Sebuah memori yang terpenjara di dalam rindu, kini terbebas. Aku berpelukan dengan mereka. Tapi… Alya terlihat aneh dan seperti tidak menyambutku. Apa ia marah denganku? Tapi, kenapa dia marah?


“Lama tak berjumpa denganmu!” lontar Ellie.


“Aku sudah menanti-nantikan waktu seperti ini,” sahut Gras.


“Selamat datang kembali, Malka,” lanjut Ethan.


Alya hanya duduk di bangku dan berpaling dariku. Aku ingin menyapa dan bertanya padanya tentang apa yang terjadi.


“Kau ke sini juga bersama orang tuamu, bukan?” tanya Ellie.


“Mereka sudah pergi mendahuluiku…”


“Maksudmu? Apa mereka sedang bepergian jauh?” tanya Gras polos.


“Sshh! Perhatikan ucapanmu, Gras!” bisik Ethan. Aku tersenyum mendengarnya.


“Jauh. Jauh sekali…”


“Maaf aku bertanya itu padamu. Kami turut berduka cita,” ucap Ellie.


Akhirnya aku bisa mendekati Alya yang sudah sangat ingin kutemui. Baru saja aku ingin menyapanya, tiba-tiba ia beranjak dan menghadap kepadaku dengan wajah kesal.


“Aku tahu kau bekerja di perusahaan serakah itu!”


Sontak aku terkejut dan tidak tahu harus membalas apa. Aku tidak menduga ini sama sekali. Sementara semuanya terdiam dan tak dapat berkata-kata.


“E—Eh? Eee… Baiklah. Itu benar…”


“Lalu mengapa kau ke sini kembali? Lanjutkan saja pekerjaanmu itu!” lontarnya.


“Tenanglah. Aku hanya—” balasku.


“Merampas segalanya dari kami? Teganya kau!” Lalu ia berpaling dariku. “Kau bukan Malka yang ku kenal…”


Aku sangat merasa bersalah padanya… dan diriku sendiri. Amat menyesal saat menyadarinya sekarang. Seakan air mata ingin keluar dari air mataku. Namun setidaknya, aku ingin ia mendengar penjelasanku dahulu.


“Aku belum bicara…”


“Kau telah berubah…”


Kepalanya tertunduk dan mengangkankan tangannya ke wajahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya sekarang.


“Mengapa kau tidak mengubahnya kembali?” ucapku.


Seketika terdengar suara tersedu-sedu di depanku. Tiada lain selain Alya…


Astaga! Apa ia benar-benar menangis? Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa dia ingin mendengarku. Sebaiknya kucoba saja. Penuh rasa bersalah kuucapkan.


“Baik. Dengar. Aku berada di kota itu karena kontrak pekerjaan ayahku. Kemudian ayahku mendaftarkanku untuk bekerja di perusahaan itu agar waktuku tak sia-sia…


Aku tidak berubah. Inilah aku. Semua perbuatan yang kau lihat adalah perbuatan Knox. Aku tidak berwenang melakukannya.”


“Bohong! Kau yang menyarankan tempat ini untuk dibangun menara itu, kan?


Suaranya pelan, tangannya bergerak seperti sedang mengelap pipinya, baru kali ini aku mengalami hal seperti ini dengannya.


“Baik, baik. Aku jujur. Iya. Aku mengusulkan desa ini. Aku minta maaf…”

__ADS_1


“Kau tak ada bedanya dengan pria brengsek lainnya!”


Alya langsung pergi meninggalkanku.


“Dengarkanku dulu! Ada hal yang kau tak ketahui!” lontarku.


“Maksudmu?”


Ia kembali menghadap padaku, namun kepalanya tertunduk. Ia tidak melihat wajahku sama sekali.


“Kau ingin kita melawan keserakahan itu dan menyelamatkan langit, bukan?” ucapku.


“Iya, lalu?”


“Kau memiliki segalanya tentang itu,” balasku.


“Aku tidak mengerti yang kau ucapkan.”


Kau punya aku. M—Maksudku orang dalam! Aku memiliki segala akses dengan perusahaan itu.” Aku menjadi sangat gugup mengatakannya. “Kau bisa mengubahnya, Alya. Setiap orang terkadang tidak pada tempatnya. Namun bukan berarti mereka tidak bisa kembali ke tempat sebenarnya, bukan?”


“Baiklah, kawan lama. Ternyata kau masih cerdas seperti yang kukenal. Maaf sudah berburuk sangka dan membentakmu.”


Kami berpelukan.


Syukurlah semua kesalahpahaman bisa teratasi. Aku tidak tahu bagaimana diriku ke depannya jika bermusuhan dengannya.


Ia menangis sejadi-jadinya, begitu pula dengan diriku yang sudah tak bisa menahannya.


“M—Maaf… Aku memperburuk situasimu sekarang. Aku turut berduka cita…” sesalnya. “Tidak apa-apa. Maaf juga sudah membuatmu khawatir…” balasku.


Kami pun merasa lebih baik, sedangkan mereka semua masih menyaksikan kami.


“Kau memakai gelang?” tanya Alya.


“Maaf mengganggu, apa kalian sudah merasa lebih baik?” tanya Leora.


“Ya. Maaf sudah memperburuk suasana tadi,” balasku.


“Bukan masalah. Kuharap dengan begini kalian semakin saling mengenal satu sama lain,” lanjutnya.


“Semoga kalian selalu bersama selamanya?” celetuk Ellie.


“E—Eh? Apa maksudmu?” tanya Alya gelagapan. Ellie hanya tertawa.


“Baiklah, saatnya kami memperkenalkan diri,” ucap Leora.


Leora dan kawan-kawannya memperkenalkan diri pada Alya dan yang lainnya. Jika saja kita semua bisa bergabung jadi satu, pastinya akan sangat lengkap… lengkap dengan semua jenis tingkah laku.


“Salam kenal semua!” lontar Gras tersenyum.


“Andai saja teman-temanku seperti kalian…” gumam Stella.


“Apa kau tidak suka denganku?” celetuk Zilei.


Tunggu apa maksudnya itu? Memang terlihat spontan, tapi cukup ambigu bagiku. Apa yang ia maksud tidak suka dengan ‘sifat’nya? Atau tidak suka dalam arti lain?


“Tentu saja aku suka padamu! M—Maksudku… Ah! Anggap saja seperti itu, tapi aku tidak suka dengan sifatmu yang selalu marah itu!”


Hah? Berarti selama ini dugaanku benar? Aku benar-benar pusing padahal hanya mendengar percakapan mereka berdua.

__ADS_1


“Maaf kalau mereka berdua selalu bertingkah,” ucap Leora.


“Tidak apa-apa. Dalam pertemanan memang sering seperti itu, haha…” balas Alya.


“Yah… pertemanan pun seharusnya tidak sesering ini…” benakku.


“Aku sangat setuju denganmu. Itulah yang membuat kita selalu akrab. Bukankah begitu, Lena?” sahut Kellos sambil menjailinya.


“I—Iya! B—B—Berhenti usil padaku!”


“Kalian terlihat sangat akrab, ya…” gumam Ethan.


Matahari mulai terbenam, sudah saatnya kami untuk pulang. Tapi Leora dan lainnya berniat untuk menginap. Aku juga berpikir kalau aku hanya akan sendirian di rumah.


“Aku punya ide! Bagaimana kalau kalian semua menginap di penginapanku? Gratis!” seru Alya bersemangat.


“Wah, kau punya penginapan? Tapi, apa kau yakin?” tanya Leora.


“Tentu! Sebagai tanda kembalinya Synn— maksudku reuni kami semua!” jawab Alya. Aku sempat panik saat ia hampir keceplosan.


Kami pergi menuju penginapannya Alya. Baru saja bertemu hari ini, tapi semuanya sudah sangat akrab. Aku sangat beruntung dipertemukan dengan mereka semua. Alya dan Leora asyik mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak terlalu mendengarnya.


“Oh iya, kudengar di desa ini ada perkumpulan aktivis tentang langit, apa kalian mengetahuinya?” tanya Leora.


“Eee… Bagaimana aku bilangnya, ya…” gumam Alya.


“Betul, di desa ini ada aktivis seperti yang kau tanyakan. Dan kami salah satunya,” sahut Ellie. Aku, Alya, Gras, dan Ethan terkejut mendengarnya.


“Kalian juga aktivis seperti itu? Wah, kami juga sedang mencari aktivis lainnya,” balas Leora. Aku saling bertatapan dengan Alya, ia memberiku kode.


“Huft… Baiklah. Sebenarnya kami, termasuk aku juga salah satu perkumpulan aktivis itu. Sejak lima tahun lalu lebih tepatnya,” jelasku.


“Benarkah? Apa kami boleh bergabung?” tanya Stella.


“Asal sekali kau langsung bertanya itu tanpa persetujuan kami,” sindir Zilei.


“Memang dari awal tujuan kita ke sini untuk itu, bukan?” lanjut Stella.


“Aku setuju dengan Stella. Terlebih di sini ada Malka yang sudah kita kenal. Kita bisa memperbesar perkumpulan kita,” balas Leora. Zilei hanya terdiam dan berpaling kesal dari Stella.


“Jadi, apa kami boleh bergabung?” ucap Leora.


“Aku bersedia. Bagaimana dengan yang lain?” balasku.


Alya, Gras, Ethan, dan Ellie juga bersedia menerima mereka.


“Yey! Akhirnya kita semua satu perkumpulan,” lontar Leora senang.


“Apa namanya perkumpulan kita?” tanya Kellos.


Alya memberi kode padaku, Gras, Ethan, dan Ellie.


“Synnefá!” seru kami bersama-sama.


“Wah, nama yang bagus! Ayo ulang sekali lagi!” balas Leora.


Alya kembali memberi aba-aba.


“Baik, setelah tiga. Satu, dua, tiga!”

__ADS_1


“Synnefá!”


Bersambung~


__ADS_2