
“Aku benar-benar tidak percaya melihat dirimu ada di panggung tadi,” ucap Leora berbunga-bunga. Aku juga berpikir demikan.
“Berarti kau bertemu dengan banyak pemeran terkenal di sana?” tanya Lukas.
“Mungkin begitu, tapi mereka tidak menyebutnya ‘terkenal’,” jawabku.
“Wajar saja, sih. Soalnya orang merasa tidak enak saat dilebih-lebihkan,” sahut Alya.
Kami berjalan di sepanjang jalan dengan berbagai kios di tepian. Aku masih tidak tahu ke mana Zilei dan Sara pergi. “Ke mana mereka?”
“Entah. Kami tidak tahu dua-duanya,” jawab Alya.
“Yah, aku menganggapnya sebagai orang yang sudah dewasa. Jadi kupikir mereka sudah bisa menjaga diri sendiri,” sahut Lukas.
“Sudahi obrolan tentang mereka. Sekarang, saatnya kita menikmati malam yang seru ini!” lontar Leora. Ia seakan memimpin tamasya kami malam ini.
“Kapten!”
Tiba-tiba saja banyak orang yang memanggil ke arah kami. Sontak langkah kami terhenti dan dikerubungi oleh keramaian. “Aku ingin foto denganmu!” Kira-kira itu yang paling banyak mereka katakan. Seketika teman-temanku menjadi penjagaku.
“Maaf,
mohon jaga jarak. Jangan saling dorong,” ucap Alya.
Aku
sama sekali tidak menyangka ini, lebih tepatnya kami semua. Aku berpikir
tentang diriku yang dari antah-berantah memerankan tokoh utama di pentas itu
saja.
Kami langsung berusaha untuk bergegas menghindari kerumunan, lalu bersembunyi di tempat sepi.
“Huft… Huft… Banyak sekali mereka,” hembus Leora terengah-engah. Kami semua menjadi lelah karenanya. “Akan sangat bahaya kalau identitas kita terungkap ke publik,” lanjut Lukas. “Hmm… Bagaiamana cara menyembunyikanmu?” lanjut Alya.
“Sepertinya kita bisa membahasnya di toko baju. Biasanya, pelayan toko di sana lebih pandai dalam urusan ini,” ucap Lukas.
Tibalah kami di toko baju. Untung saja tempat ini tidak terlalu ramai. Mereka berjajar menutupi keberadaanku di depan orang-orang. Cepat-cepat kami mencari pelayan toko.
“Ah! Bukankah kau yang tadi tampil di panggung?” tanya pelayan itu bersemangat.
“Maaf, tolong jangan berisik. Kami butuh bantuanmu,” balas Alya pelan.
“Apa yang bisa kubantu?”
“Dia tiba-tiba jadi populer. Apa kau bisa menyembunyikan hal itu?” pinta Leora.
“Oh, itu gampang saja. Aku akan merubahmu menjadi orang lain yang belum pernah dilihat oleh kalian,” balas pelayan. Kami berjalan megikuti pelayan itu, namun seketika ia berhenti lalu membalikkan badan.
“Hanya orang ini saja yang kuperlukan, sedangkan kalian bisa menunggu dulu.”
Aku masuk ke dalam sebuah ruangan bersama pelayan itu, sementara mereka menunggu di luar. Aku terkejut melihat pelayan itu membawa pakaian yang tidak pernah kupakai sebelumnya. “Tidak! Aku tidak ingin pakai ini!” Tentu aku berteriak menolaknya. Tapi dirinya yang memaksa membuatku pasrah.
__ADS_1
“Psst… Psst… Kalian boleh masuk sekarang,” ucap pelayan.
Aku hanya berdiri menghadap arah mereka masuk. Rasa malu sudah tak terbendung lagi, seolah ingin pingsan saja. Napasku seperti tertahan dan aku tidak ingin melihat mereka. Dengan sangat semangat pelayan itu mempertunjukkanku di depan mereka.
“Tadaa! Ini dia!”
“Pfft! Hahaha!”
Mereka tertawa terbahak-bahak. Aku semakin… aku tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Terdiam kaku bagai patung. Entah aku akan menaruh wajahku di mana…
“Apa kau Malka sungguhan?” tanya Alya terkikik.
“Entah kenapa malah terlihat sangat cocok, Malka!” lontar Leora.
“Wajahmu merah sekali,” sahut Lukas.
“H—Hentikan…” ucapku pelan dan merasa sebal.
“Aaaa! Kau benar-benar seorang perempuan!” lontar Leora.
“Sedikit naikkan suaramu. Aku jadi tidak mengenalmu,” lanjut Alya.
“Aku memberinya gaun sederhana sesuai dengan pakaian kalian juga. Apa menurut kalian ada yang kurang?” ucap pelayan toko.
“Sempurna. Ini sudah tak perlu diubah-ubah lagi,” jawab Alya.
Leora langsung mengeluarkan telepon pintar miliknya, lalu memotret-motret diriku. Aku berusaha berpaling dan menutup-nutupi wajahku dengan tangan.
“Wah, bagus sekali!” seru Leora sambil melihat-lihat potret diriku yang tanpa sadar aku berpose seperti perempuan pemalu.
“Ayo, Mal— umm… Kita akan memanggilmu apa?” ucap Leora.
“Malika?” sahut Lukas spontan.
“Malika? Ah! Malika! Nama yang bagus!” lontar Leora.
“Ayo kita keluar, Malika. Tak ada yang perlu kau takutkan,” ucap Alya tersenyum.
Setelah beberapa rayuan dan paksaan, akhirnya aku terpaksa melangkah keluar dari toko. Terlihat orang-orang berjalan di hadapanku. Beberapa dari mereka menatapku. Aku langsung masuk lagi ke dalam dan menutup pintu dengan keras.
“Aku tidak bisa!”
“Ayolah. Ke mana sosok Mal yang pentas di panggung tadi? Kau sangat pandai dengan kostum kapten itu. Sekarang, anggap saja kau sedang berada di posisi yang sama dengan itu,” balas Alya menyemangatiku.
“Kau pasti bisa, Malk— maksudku Malika!” lontar Leora bersemangat.
“A—Apa kalian yakin? Aku takut menjadi seperti orang aneh,” tanyaku.
“Kau seorang perempuan sungguhan di pandanganku,” jawab Alya. Aku menatap Lukas dengan rasa ragu. “Kau sangat cantik, Malika,” ujarnya tersenyum. Aku malah tersipu mendengarnya.
“K—Kalian tidak mempermainkanku, kan?”
Pada akhirnya aku bisa mengendalikan rasa malu itu meskipun masih saja bergejolak. Keluar dari toko, kami melanjutkan tamasya mengelilingi kota. Sekarang aku tidak berbeda dengan perempuan yang melintas di sini. Aku tidak banyak bicara, terlebih di depan penjual dan orang-orang. Untung saja mereka bisa mengerti perasaanku.
__ADS_1
“Kau ingin memesan apa, Gadis Cantik?” tanya seorang penjual permen apel. Aku hanya terdiam menahan rasa malu. Alya membantuku untuk memesannya.
“Maaf aku membuatnya merasa tidak nyaman,” ucap penjual.
“Tidak apa-apa. Dia memang tidak pandai bicara pada orang lain,” balas Alya.
Kami melanjutkan langkah kaki menuju tempat yang belum dikunjungi. Akan tetapi, seorang anak kecil menabrakku dari belakang dan membuatku reflek.
“Ah!”
Aku sangat terkejut mendengarnya seperti suara perempuan asli. Alya, Leora, dan Lukas hanya ternganga melihat tingkahku barusan.
“Maafkan aku, Kakak!” lontar anak kecil itu.
“Iya, tidak masalah,” balasku.
Aku berpaling melihat mereka dan ternyata mereka masih terperangah.
“A—Apa ada yang salah?” tanyaku.
“M—M—Malika…” gumam Leora berapi-api.
Setelah berkeliling, kami memutuskan untuk menikmati pemandangan kota dari jembatan yang terkenal itu. Kami duduk di bangku yang menghadap ke sungai. Terlihat sangat indah, penuh dengan lampu-lampu dan perahu yang elok. Tanpa sadar aku terkesiap melihatnya.
“Cekrek!”
Aku langsung melongok ke samping, ternyata ulah Leora lagi. Ia menunjukkan foto itu kepadaku. Terlihat sangat menawan.
“Cantik…” gumamku.
“Eh? Kau suka dengan dirimu sendiri?” tanya Lukas.
“Tentu saja, tapi tidak seperti yang kau pikirkan. Kita tidak boleh membenci diri sendiri, bukan?” jawabku.
“Halo, kalian!”
Tiba-tiba Sara datang menyapa kami. Terlihat pula Zilei di sebelahnya. Aku langsung berpaling menyembunyikan wajahku.
“Cantiknya… Apa dia teman baru kita? Perkenalkan, aku Sara! Aku temannya mereka! Salam kenal!”
Alya dan yang lainnya hanya tersenyum menahan tawa. Aku masih tidak ingin melihat mereka semua. “Apa kau malu? Tidak perlu malu,” lanjut Sara.
“Perkenalkan, dia Malika,” sahut Leora.
Tiba-tiba saja Zilei langsung menyambarku. Tangannya menggenggam erat tanganku. Ia membuatku langsung berhadapan dengannya. Wajahnya semakin dekat… Aku bisa merasakan hembusan napasnya tepat diwajahku. Bibirku diusap oleh jemarinya dengan lembut. Seketika kepalaku rasanya ingin meledak.
“Sudah kuduga… Dirimu yang rupawan, sudah menarikku. Aku mencintaimu,” ucap Zilei lembut. Aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Orang-orang di sekitar turut menyaksikan kami.
“H—H—Hentikan…”
Seketika air mata menetes. “E—Eh? A—Apa ini…?” lirihku.
Semua orang tercengang melihat diriku yang tampak menangis.
__ADS_1
“M—Malika…?”
Bersambung~