
Aku berpelukan dengan Jack. Tidak ada rasa lain selain rindu setelah sekian tahun tak berjumpa. Kini terpisah oleh karir masing-masing.
Percakapan tidak jauh dari saling bertanya kabar, dan keadaan saat ini. Hanya Jack yang seperti kukenal sejak lama. Berharap tidak akan berubah.
Kemudian ia bersapa dengan Alya dan ibunya. Tentu ibunya Alya juga sudah mengenalnya, sejak inspeksi terakhir. Percakapan tidak berlangsung lama, barang-barang bawaanku sudah siap.
“Kalau boleh tahu, berapa lama Malka akan ada di sana?” tanya Alya.
“Aku belum tahu pasti. Mungkin bisa dua minggu atau lebih, kau juga ingin jalan-jalan kan, Malka?” balas Jack.
“Tentu, aku ingin melihat perubahan kota setelah hampir lima tahun. Tidak apa-apa?” lanjutku bertanya pada Alya.
“Tidak masalah. Sesekali berwisata tidak ada salahnya,” balas Alya.
“Kalian sungguh tidak tertarik untuk ikut bersama kami?” tawar Jack.
“Kami sedang ada urusan di sini. Sepertinya tidak lama lagi aku akan menyusul Malka,” jawab Alya.
“Wah, sepertinya akan seru nanti. Akan kutunggu kedatanganmu nanti!” balas Jack. “Bagaimana denganmu, Tante?” tambahnya.
“Berat rasanya meninggalkan desa ini walau cuma jalan-jalan. Ada banyak yang ingin kukerjakan di sini,” jawab ibunya Alya.
“Yah… Sayang sekali. Kuharap kau berubah pikiran nanti, hehe…”
Sudah saatnya bagiku, Jack, dan beberapa kawannya untuk berangkat. Barang bawaanku dibawa oleh kawannya Jack. Kami pun berjalan pergi.
“Kami berangkat!” lontarku.
“Semoga selamat sampai tujuan! Kabari aku kalau sudah sampai!” sahut Alya.
Berjalan melangkah menyusuri jalan di desa kecil ini. Aku banyak bicara pada Jack. Aku penasaran di mana mereka mendaratkan helikopter itu. Jack menjawab kalau itu bertanah di sebuah lapangan dekat menara. Terpintas di benakku tentang menara yang sekarang sedang ramai diperbincangkan.
“Tidak ada laporan masalah dengan menara itu. Beroperasi seperti biasa,” jawabnya.
Menara menjulang tinggi tepat di hadapanku sekarang. Baling-baling helikopter berputar mengipas sekitar dengan cukup kuat. Masih saja aku terkesima dengan menara dengan cahaya biru yang keluar di puncaknya. Seketika cahaya itu mengingatkanku pada cahaya yang pernah kulihat di pesawat kala itu.
Cahaya biru berbentuk bak bidadari, itu yang terus berputar di pikiranku sekarang. Apa ada hubungannya dengan puncak menara itu? Sepintas pertanyaan itu lewat begitu saja dari pikiran. Entah, aku jadi bingung sendiri memikirkan semua keanehan yang terjadi padaku. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku bisa masih hidup pada kecelakaan itu.
__ADS_1
“Malka! Cepat naiklah!” lontar Jack bersama suara baling-baling yang amat keras.
Aku menaiki helikopter itu, duduk, lalu diberikan sebuah penyuara telinga, sepertinya alat itu dipakai untuk memudahkan komunikasi saat berada di atas, terlebih suara saat ini penuh bising suara baling-baling. Pintu pun ditutup.
“Eh? Jadi tidak terlalu bising. Kita harus tetap pakai ini?” tanyaku.
“Tidak harus, sih. Mungkin kau tidak ingin berteriak saat bicara,” jawabnya.
Helikopter lepas landas. Terlihat seluruh bagian desa dari ketinggian. Tampak damai, dengan orang-orang yang beraktivitas, seperti semut. Tidak ada keributan yang terlihat, tidak seperti di berita-berita. Aku sangat beruntung tinggal di desa yang tetap tenteram.
Ketinggian terus bertambah, kini aku bisa melihat samar desa-desa di sekitarnya. Menara itu tampak sangat besar dan tinggi jika dilihat dari sini. Tidak banyak basa-basi yang terjadi di sini. Padanganku banyak tertuju ke balik jendela. Berbeda dengan pesawat yang berada di atas lautan awan, helikopter tidak menembus awan itu, jadi semuanya terlihat cukup jelas.
“Kita akan segera tiba di Lumiatia,” ucap Jack.
“Secepat itu?” balasku terkejut.
Tidak kusangka akan secepat ini. Menaiki kereta saja bisa menghabiskan lima jam perjalanan, sedangkan ini hanya kurang dari dua jam.
Amat berbeda dengan perjalanan serupa menuju Centra. Sebelumnya aku menginap dahulu, sekarang kami sudah dijemput oleh kendaraan bandara. Ternyata aku sudah benar-benar di bandara, tepatnya di landasan helikopter. Tampak banyak pesawat lalu-lalang.
Kendaraan yang kami naiki berhenti di dekat sebuah pesawat. Tak kusangka sebuah pesawat jet pribadi dengan logo Knox Corp di sana. Langkahku langsung terhenti.
“Akhir-akhir ini prosedur operasi standar baru diubah. Aku juga tak menyangka akan bisa menaiki pesawat ini,” jawab Jack.
“Dulunya pesawat seperti ini hanya untuk Knox dan Harry, kan?” lanjutku.
“Benar. Tapi mulai saat ini sepertinya pegawai juga bisa menggunakannya saat berdinas,” jawabnya.
“Wah… Seperti penumpang VIP saja…” gumamku.
Menaiki pesawat, tak lama berselang kami sudah mengudara. Lagi-lagi aku dikejutkan dengan dua pesawat jet pengawal di kanan dan kiri. Aku benar-benar tak habis pikir.
“Sepenting itukah diriku?” tanyaku heran.
“Bisa dibilang begitu. Pengawalan ini juga untuk kita semua, terlebih banyak ‘teroris’ seperti yang disebut Knox,” jawab Jack.
Aku seperti orang norak yang terkagum-kagum sendiri melihat interior pesawat ini. Aku juga disuguhkan makanan-makanan mewah oleh pramugari.
__ADS_1
Sesampainya di Centra, sebuah kendaraan pribadi sudah menunggu untuk kami naiki. Pelayanan seperti ini aku baru mengalaminya. Aku dan Jack berada di kendaraan yang sama. Dibawalah aku ke sebuah hotel bintang tujuh. Tujuh? Hotel bintang lima waktu itu saja sudah sangat mewah.
“Aku akan menunggu di sini,” ucap Jack.
Aku diantar oleh beberapa pelayan, satu memanduku, lainnya membawa barang-barangku. Dibukalah pintu kamar itu. Sesak napas aku melihat sudut-sudut kamar itu. Terlalu banyak hal yang mengejutkanku hari ini. Aku tidak bisa berkata-kata.
Cukup dengan kejutan, aku langsung mempersiapkan diri, lalu turun menemui Jack kembali. Aku mengenakan kemeja dan jas persis seperti saat aku masih menjadi pegawai.
“Penampilanmu seperti kepala divisi saja!” lontar Jack bercanda.
“Bisa saja kau, Jack. Rasanya bikin kangen,” balasku.
Ketika kami berada di kantor perusahaan, aku bertemu dengan beberapa pegawai yang masih mengenalku. Tapi aku tidak bertemu dengan Lydia, Cathy, dan yang lainnya. Aku langsung diantarkan oleh Jack ke ruangannya.
Memasuki ruangan, tidak jauh berbeda dengan terakhir kali aku melihatnya. Meja kepala divisi tampak kosong. Aku heran siapa yang menempati kepala divisi menggantikanku.
“Berasa nostalgia, bukan?” tanya Jack.
“Iya…” balasku sambil melihat sekeliling. Aku melihat-lihat rak yang penuh dengan dokumen-dokumen. Mengambil salah satu, sampul itu tertulis namaku sebagai kepala divisi.
“Oh iya, aku tidak melihat Cathy dan yang lainnya,” ucapku.
“Kebanyakan dari mereka sedang dinas keluar kota,” jawabnya.
“Kepala divisi selain ini masih dipegang oleh mereka, kan?” tanyaku.
“Tentu, sepertinya hanya dirimu saja yang memutuskan kontrak lanjutan.”
Sudah beberapa menit kami berada di ruangan ini, tapi kepala divisi masih belum datang juga. Aku pergi ke meja asisten, ada beberapa dokumen yang bertuliskan nama Jack.
“Apakah kepala divisimu sedang sibuk sekarang?” tanyaku heran sambil melihat meja itu.
“Yang aku tahu ia sedang ada tugas untuk menjemput seseorang untuk penyelidikan,” jawabnya.
“Eh? Ada orang lain yang dipanggil selain diriku?” lanjutku lalu menoleh ke arahnya. Tampak Jack duduk di atas kursi kepala divisi.
“Tidak. Hanya satu orang, namanya Malka Syanivir.”
__ADS_1
Bersambung~