
“Tik…”
Derai air memburai lubuk tirta nan dangkal. Bawah kaki mataku basah terendam olehnya. Kilauan kaca membentang penuh bias langit. Seakan tiada garis cakrawala yang memisahkannya. Tegak tubuh seorang diri bersama rasa heran yang menemani.
“Di mana aku…?”
Kalimat pertama yang langsung terlintas di kepalaku. Memutar pandangan tak kian temu jawabnya. Memaksa diri melangkah, mencari kabar untuk disimpulkan.
“Halo! Apa ada seseorang di sini?”
Seakan tidak menerima kenyataan melalui pandangan, diriku tergerak mengulang pertanyaan yang sama. Bodoh, tidak mungkin sahutan terdengar tanpa insan sejauh mata memandang. Perlahan, rasa takut muncul dari antah-berantah.
“Kenapa aku bisa ada di sini?”
Tiada harapan, selain mencoba lari dari mimpi. Namun semuanya sirna tatkala sebuah cahaya biru yang datang dari langit. Terasa tak asing, tapi ingatan seolah tak membenarkannya. Melayang-layang sebelum akhirnya berada tepat di hadapanku.
“Siapa dirimu…?”
Sosok rupa manusia menatap mataku. Suasana sungkawa terhembus bersama angin yang berkesiur lembut. Tuturan dara dengan wajahnya penuh harap.
“Selamatkan kami…”
“Selamatkan kami dari iblis itu…”
“Avadananthe Risidious.”
Telapak tanganku terasa dingin saat ia menggenggamku. Diriku hanya terdiam seraya menatap kepadanya. Sinar perlahan sirna beriringan dengan gumpalan kapas gelap menyelimuti langit. Aku masih belum ingin dia pergi.
“Tik…”
Tetesan air pertama sebelum gemericik air hujan menyimbahi diri. Hati sungguh yakin tetesan pertama itu bukanlah air hujan. Air yang sejuk seakan membujukku untuk terlelap. Semula kelabu, kini hitam di dalam pandanganku.
Saat membuka kedua mata, langit-langit putih dan lampu menjadi pandangan pertamaku. Terdengar suara seseorang memanggil-manggil namaku.
“Malka.”
Sosok serupa yang kulihat sebelumnya. Terasa tak asing, aku ingat betul dengan wajah cantiknya itu. Namun seketika sirna saat wajahnya penuh khawatir seperti itu.
“Malka? Apa kau bisa mendengarku?”
“Alya…”
Lisan pertamaku saat mendengar suaranya. Suasana sungkawa tersurat bersama suara detak mesin tepat di sebelahku.
“Hah!”
Aku sudah meninggalkan mimpi itu. Tak ada lagi hamparan kosong, tak ada lagi langit cerah terbias tirta, kakiku juga sudah tak basah. Pada saat itu pula rasa sakit terasa di sekujur tubuhku.
“Berbaringlah... Kau belum pulih sepenuhnya…”
“Apa yang sebelumnya terjadi?”
“Kami menemukan kalian di reruntuhan. Aku sangat tak menyangka dengan kondisi kalian saat itu…”
__ADS_1
Tubuhku terasa hangat saat ia memelukku. Diriku hanya terdiam memandang bahunya di hadapanku.
“Syukurlah aku bisa melihatmu sampai sekarang, Malka… Pikiranku sudah suram melihatmu waktu itu…”
Aku seperti mendengar suara tetesan air. Kali ini benar-benar bukan air hujan. Sebagian pakaianku basah olehnya. Mataku turut membalas perasaannya.
“Aku di sini… Alya…”
Terucap diriku berusaha menenangkannya, namun lantunan haru juga terdengar dari mulutku. Rasa sedih tak kunjung hilang hingga akhirnya kedua mataku tak dapat lagi memberi tuturan. Kini raga sudah penat. Terbaringlah diriku ditelan kehampaan. Tiada pandangan selain kegelapan yang sangat singkat.
Aku bisa menggerakkan tubuhku, tak lama setelahnya padanganku terbuka. Lantas sadar kalau aku masih berada di ruangan yang sama. Menoleh ke samping, Alya sedang tertidur duduk dan kepalanya tepat di sebelah tanganku. Senyum tak luput dariku, seraya mengusap kepalanya.
Beranjak duduk, tubuhku sudah tak sesakit tadi. Rasanya seperti ada yang menyelimuti diriku dengan sangat ketat, namun bukan baju pasien yang kugunakan. Aku pun melihat ke dalam pakaianku.
“Perban semua…”
Terkejut diriku melihatnya. Seketika pergerakanku sedikit terkekang oleh sugesti yang takut jika perban itu terbuka. Aku tidak tahu sudah berapa lama di sini. Bosan menggerakkan tubuhku untuk pergi keluar.
Berjalan tak teratur, tumpuan besarku ada pada kaki kanan. Bersama tiang infus digenggamanku, kubuka pintu ruang perawatan. Suasana sungkawa terlelap semakin ke dalam lubuk. Niat hati mengaitkan harapan pada padangan, namun yang kulihat malah sebaliknya.
“Semua ini yang ikut malam itu…?”
Sejauh mata memandang hanyalah lautan manusia tergeletak dan jajaran tiang infus di sepanjang lorong. Banyak mereka yang tampak lemas dan tertidur. Merasa bersalahnya diriku merasakan ruangan sejuk dan kasur empuk seorang diri.
“Kau bukan satu-satunya di atas kasur. Semua ruangan sudah penuh.”
“Zilei?”
“Nakal. Tidak seharusnya kau keluar sendirian.”
“Banyak yang terjadi malam itu, dan kalianlah yang paling parah.”
“Di mana yang lain?”
“Athar dan Sara ada di lobi. Sisanya menemani kalian satu-satu.”
Kemudian Zilei melangkah pergi meninggalkanku menuju lobi. Diriku tertarik untuk ikut bersamanya melihat ke depan. Ia terhenti lalu menatapku serius.
“Alya akan panik saat melihat kasur kosong.”
Ia langsung melangkah lagi, namun ragaku memberontak dan tetap ingin mengikutinya. Terhenti lagi, ia menarik napas pasrah dengah wajah dinginnya.
“Kau tetaplah di sini,” ujar Zilei seraya berjalan menuju ruanganku.
“Tapi dia sedang tertidur.”
Pada akhirnya bersama Zilei, aku melangkah perlahan mengikutinya menuju lobi. Pandangan tidak berubah sama sekali. Saat sudah sampai di lobi, lautan manusia masih saja memenuhi setiap sudut. Terlihat Athar dan Sara duduk di sebuah bangku seraya menonton berita di televisi.
“Cetar!”
Gelegar petir tepat menyambar halaman rumah sakit. Semua orang terkejut termasuk diriku. Betapa gelapnya langit di luar sana.
“Sudah tiga hari tak kunjung cerah…” gumam Sara.
__ADS_1
“B—Benarkah? Selama itu?”
“Lihatlah itu. Sejak kemarin isinya hanya insiden malam itu dan banjir,” ucap Athar sambil menunjuk ke televisi.
“Apa yang terjadi setelah malam itu…?” gumamku.
“Centra dikelilingi pasukan militer. Pasukan kita juga banyak memakan korban…” jawab Sara murung. Baru kali ini aku melihatnya begitu. Seketika saja Zilei mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kartu nama. Aku mengambilnya, terheran diriku melihat tulisan “Cast Bestanda”.
“Cast? Ada apa dengannya?”
“Hubungi dia. Gunakan milikku saja,” jawab Zilei sembari memberikan telepon pintar miliknya. Tak mengerti, tapi kuikuti saja permintaannya.
“Wah, kau dapat nomor teleponnya?” tanya Sara.
“Tunggu, di mana kau mendapatkan ini?” lanjutku heran pada Zilei.
“Di barang bawaanmu.”
Akhirnya panggilanku terhubung oleh Cast.
“Halo? Siapa ini?”
“Ini aku, Malka.”
“Malka! Bagaimana keadaanmu sekarang? Kulihat berita tidak ada kabar baik sama sekali." Bicaranya tidak berubah, sepertinya ia baik-baik saja. Aku menjelaskan apa yang sudah terjadi. Kini bicaranya pun berubah.
“Aku turut berduka dengan semua yang terjadi pada kalian…”
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Apa ada sesuatu yang bisa kubantu?”
“Eee… Tunggu sebentar.”
Zilei berbisik padaku untuk disampaikan pada Cast. Dengan telepon yang masih tersambung itu, aku menyampaikan pada Cast.
“Kami membutuhkan bantuanmu untuk menjatuhkan perusahaan Knox. Kau tahu aktivis langit, kan? Kami ingin kau membuat sebuah propaganda.”
“Propaganda?”
“Pasti kau sangat memikirkan reputasimu… Tak apa jika kau—”
Ucapanku terpotong oleh berita terkini yang menarik perhatian semua orang, sementara teleponku masih terhubung dengan Cast.
“Knox memulai sebuah program penelitian baru. Kita akan simak bersama-sama keterangan yang langsung disampaikan olehnya sesaat lagi…”
Sekarang Knox tampil pada layar kaca di seluruh penjuru benua.
“Selamat siang semuanya. Singkat saja, kami sudah memulai penelitian tentang langit lebih lanjut sejak tiga hari lalu, tepatnya sehari setelah insiden malam itu. Penelitian lanjutan dari eksperimen tertutup untuk mendekatkan pada jawaban, jawaban dari pertanyaan yang belum pernah terjawab…
Sekarang tinggal beberapa langkah lagi menuju ‘langit’. Harry Knox, anakku, adalah orang pertama yang akan mengeksplorasi ‘langit’ itu. Demi kemajuan peradaban kita semua, manusia, kunamakan eksplorasi ini dengan sebuah nama yang menggambarkan sosok pejuang dan pemimpin…”
“Avadananthe Risidious…”
__ADS_1
Bersambung~