Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Kami bukan musuhmu!


__ADS_3

“Kau dari tadi sendiri saja?” tanya Alya.


“Yah, habisnya tadi kalian masih tidur.”


Aku sedikit berbincang pagi dengan Alya dan Leora. Perlahan sinar mentari itu mulai terasa hangat. Aku berniat untuk beranjak lebih dulu, niat hati ingin berjalan-jalan. “Aku ingin jalan-jalan dulu, ya.”


“Kami juga ingin ikut,” sahut Leora.


Melangkah memotong luasnya padang hijau dan coklat berbukit-bukit. Pandanganku langsung teralihkan pada bunga-bunga yang bermekaran di sebuah tempat. Tak kusangka ada bunga-bunga tersisa di tengah lapang kebinasaan ini. Aku langsung berlari menghampiri bunga-bunga itu, “Wah, indah sekali! Aku belum pernah melihatnya.”


“Aku juga belum pernah melihatnya…” gumam Alya terkesiap.


“Memang tidak ada… di bumi…” sambung Leora.


“Kau tahu semua bunga? Maksudku semua bunga yang ada di dunia kita…?”


“Aku tidak yakin, tapi aku sangat suka menanam banyak jenis bunga dan membaca buku tentangnya.”


Mataku tertuju pada sebuah bunga selama beberapa waktu. Parasnya yang cantik seolah menarik perhatianku untuk menggapainya. “Apa kita boleh memetiknya…?” gumamku pelan.


“Aku tidak berani melakukannya di tempat asing seperti ini,” jawab Alya. Lantas aku memalingkan pandanganku bermaksud menunggu jawaban dari Leora—


“E—Eh? M—Maaf, aku tergoda untuk memetiknya… hehe…” tuturnya bersama sekuntum bunga di tangannya. Ia mendekatkan bunga itu ke hidung, “Ah… Harum sekali…”


Aku yang melihatnya, langsung ikut tergoda untuk melakukannya juga. Aku memetik bunga yang memikat diriku. Sesaat sebelum kupetik, bunga itu mengeluarkan cahaya keemasan dari kelopaknya. Sontak aku menarik tanganku, cahaya pun memudar. Saat aku mendekatkan tangaku lagi, ia langsung bereaksi.


“Bunga ini bisa mengeluarkan cahaya…”


“Benarkah?” sahut Leora kemudian menjulurkan tangan ke bunga itu. “Tidak terjadi apa-apa,” lanjutnya.


“Tadi bunga itu benar-benar menyala. Lihatlah,” ucapku mengulurkan tangan, bunga itu kembali bercahaya. “B—Bagaimana bisa?” gumam Leora. Alya mencoba hal serupa pada bunga itu namun bereaksi sama seperti Leora.


“Sepertinya bunga itu hanya memilihmu, Malka,” ucap Alya.


“Apakah akan baik-baik saja kalau kupetik?” tanyaku.


“Bunga itu sudah memilihmu, Malka. Kurasa ia memang ingin kau memetiknya.”


Pada akhirnya aku menuruti perkataan Alya. Aku memetik bunga itu dari pangkal tangkainya. Rupanya bunga itu tetap mengeluarkan cahaya. Kelopaknya yang tertiup angin sontak mengeluarkan serbuk-serbuk yang bersinar, lalu padam sebelum menyentuh tanah.


“Benar… Bunganya tetap menyala…”


Aku menempelkan bunga yang baru saja kupetik itu ke bagian kerah jubah. Hembusan angin semula lembut tiba-tiba saja berubah menjadi cukup kencang, membuat mataku sulit melihat. Untung saja hanya senjenak. Entah kenapa tubuhku menjadi ringan sampai-sampai rasanya ingin ikut terbawa angin.

__ADS_1


“Jubahmu menyala!” lontar Leora. Aku langsung terkejut melihatnya.


“A—Apa yang terjadi?”


“Apa kau melakukan sesuatu? Merapalkan mantra atau apa pun itu?” lanjut Leora penuh penasaran.


“Tidak, aku tidak melakukan apa-apa. Hanya saja aku memasang bunga—”


“Oh bunga!” sambungku lantas tersadar.


Perlahan cahaya di jubahku memudar dan hanya tersisa cahaya kecil. Terasa sangat ringan, jubahku langsung terkebas sesaat aku menggerakkan tubuhku. Aku berputar-putar bersama jubah yang terbentang.


“Jadi terlihat lebih bagus,” ucap Alya.


“Kalau begitu, ayo kita cari bunga yang cocok dengan kalian!” lontar Leora bersemangat. Kami kembali melanjutkan perjalanan kami.


Kami menapak sebuah puncak yang semakin jauh dari khalayak. Terpandang luasnya hutan yang membentang. Penuh rindang, bias mentari menembus sela-sela rerantingan dan dedaunan. Dari atas puncak, kami terkesima memandangnya.


“Wah… indah sekali…” gumamku.


“Ayo kita ke sana!” Lagi-lagi Leora tergoda dan terus membara.


“Bukankah kita sudah terlalu jauh?” balas Alya khawatir.


“Bagaimana caranya?” tanyaku.


“Lihat saja dari letak matahari berada.”


Leora terus merayuku dan Alya untuk pergi ke hutan di bawah sana. Aku merasa ragu untuk menurutinya. “Baiklah, tapi jangan terlalu jauh, ya?” ujar Alya. Aku pun mengikuti mereka berdua. Melintasi hamparan yang memisahkan kehancuran dan kehidupan. Hutan ini tampak tak terjamah oleh siapa pun.


“Lihat! Lihat! Jamur-jamur itu warna-warni!” teriak Leora di samping jamur-jamur itu. Ia berpaling kemudian tertarik pada yang lain.


“Wah! Di ada banyak kunang-kunang di sini… Warna-warni juga…”


“Seperti di dunia fantasi…” gumamku.


Kala daun pada biasanya berwarna hijau, aku melihat warna lain di hutan ini. Ungu, merah muda, kuning, merah, mereka mengisi pandanganku dengan sangat indah. Seperti pelangi, aku bisa melihatnya mengeluarkan cahaya tipis.


Kami berlarian sambil merentangkan tangan. Udara yang sejuk, dan hewan-hewan kecil beterbangan seolah mengikuti dari kanan dan kiri kami. Beratapkan rindang dedaunan, di depan sana tampak terbuka. Leora langsung bergegas ke sana.


“Malka! Alya! Sini!”


Rupanya sebuah sungai melintang, memantulkan sinar mentari, serta hewan-hewan yang melayang di permukaannya. Biru muda, airnya sangat jernih, aku bisa melihat bebatuan di dasarnya. Tanpa pikir panjang aku melangkah untuk berdiri di atasnya. Airnya membasahi hingga betis kakiku.

__ADS_1


“Sejuk sekali…” gumam Alya. Leora berjalan menuju sumber aliran itu berasal, kemudian menadahkan air dengan tangannya.


“Mmm…! Enak!”


Aku pun ikut mencobanya. Terasa segar, dan ringan untuk ditelan. Aku belum pernah merasakan air seperti ini sebelumnya. Aku masih ragu kalau semua ini benar-benar ada.


“Seperti di surga sungguhan!” lontar Leora.


“Rasanya aku ingin langsung berendam di sini,” sahut Alya.


“Andai jubah besar ini bisa di lepas,” ucapku.


Setelah merendamkan kaki dalam waktu yang cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk kembali berpetualang di tengah rimba ini.


“Sudah berapa lama kita berjalan? Tapi kakiku masih terasa sejuk oleh air tadi,” tanya Leora. “Entah, aku juga merasakannya. Sayangnya kita tak punya jam,” balasku.


“Krrsrsrsskk!”


Suara bising terdengar dari sebuah tempat. Kami langsung bersembunyi di dalam semak-semak. Aku mengintip ke arah seberang, ternyata ada hewan yang tergeletak dengan anak panah tertancap di tubuhnya.


“Hewan apa itu? Rusa? Zebra? Kuda?” bisik Leora heran.


Tiba-tiba muncul sesosok cahaya biru berpakaian jubah sama seperti kami. Ia berlari menghampiri hewan itu, bersama busur yang ia bawa.


“Anak langit—” teriak Leora, aku yang terkejut langsung menutup mulutnya.


“Siapa di sana!”


Kami bersembunyi di dalam semak-semak nan gelap, namun Leora tak bisa diam. “Jangan bergerak!” bisikku padanya. Aku mengintip di celah-celah daun. Sosok itu perlahan menghampiri kami sambil mengarahkan busurnya. Aku hanya bisa diam ketakutan. Sementara Alya menahan tubuh dan mulutnya Leora.


Ia semakin dekat…


Semakin dekat…


Tali busurnya sudah tertarik dengan sangat kuat dan bisa menembak—


“Kami bukan musuhmu!” lontarku memunculkan diri dari dalam semak. Alya dan Leora perlahan muncul dengan wajah terkejut dan heran.


Sosok itu langsung melompat jauh ke belakang dan tetap mengarahkan busurnya ke kami.


“Siapa kalian?”


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2