Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Kota Sungai


__ADS_3

Terlihat sebuah bangunan yang banyak terbuat dari balok batu, tersusun cukup tinggi. Permukaan di sana terdiri dari bukit-bukit kecil. Tanahnya dominan pasir, namun pepohonan dan rerumpunan masih jelas terlihat. Kincir angin berbaris rapi di pinggir sungai terpanjang seantero benua.


“Kita sampai di kota sungai!” lontar Leora.


Melewati jembatan, terlihat jantung kota yang penuh dengan kendaraan utama kota ini, Patorani, sebuah perahu layar dengan berbagai ukuran. Kapal itu melintasi sungai yang amat lebar dengan bangunan berjajar di pinggirnya. Sebuah kota yang baru kulihat seumur hidupku, di mana masyarakatnya banyak bergantung pada transportasi air.


“Kau sudah tahu tentang kota ini?” tanya Lukas.


“Aku tahu dari buku. Mereka menyebutnya sebagai salah satu kota terindah di planet ini. Aku tidak menyangkan akan benar-benar ke kota ini,” jawabnya.


“Memang indah. Seperti dunia dongeng saja…” sahut Alya.


Kereta yang kami naiki banyak melewati jembatan. Sesuai nama kota ini, ternyata ada banyak sekali sungai yang terbentang di sini. Aku sampai tergoda untuk mengelilingi kota ini. Dibanding penumpang lain, sepertinya kami menjadi penumpang yang sangat antusias hingga menempel di jendela gerbong.


“Sayang sekali kalau kita benar-benar meledakkannya…” gumamku.


Tampak menara menjulang tinggi pada sebuah pulai di tengah sungai. Terlihat cukup kontras melihat bangunan logam di tengah bangunan-bangunan batu.


“Sepertinya kau sudah mulai suka dengan kota ini,” sahut Sara.


“Jangan terlalu naif. Tetap ingat tujuan kita ke sini,” lanjut Zilei.


“Apa kita tidak bisa melakukan cara lain agar misi kita tercapai?” tanya Leora.


“Aku akan pikirkan cara yang terbaik untuk kota ini,” jawab Alya.


Kereta memperlambat jalannya dan pemberitahuan sudah terdengar. Suasana menjadi ramai penuh suara orang-orang bicara. Sampai akhirnya bunyi jeritan roda hingga kereta benar-benar terhenti. Sesaat kami turun, Leora sudah sangat semangat.


“Kita harus mencari penginapan dulu,” ujar Zilei.


Pilihan kami tertuju pada sebuah tempat yang terlihat seperti kedai minuman. Tempat itu sepertinya ketat dengan penjagaan di bagian luar. Kami mendapat informasi tentang tempat ini setelah sekitar satu jam mengobrol dengan anak buah perahu. Kami diberi tahu sebuah sandi untuk dapat melintas masuk.


“Kucing hitam mencari makan pukul dua puluh satu malam,” ucap Zilei. Penjaga itu tampak sangat dan membuat Leora ketakutan.


Ternyata ia memperbolehkan kami masuk. Melihat seperti ini membuatku berpikir seperti tempat gelap yang tak semua orang memiliki akses masuk.


Memasuki tempat itu. Benar saja, terlihat orang-orang dengan pakaian yang cukup berbeda dari masyarakat biasa. Terlihat seperti bos dan orang penting. Mereka duduk di meja makan sambil menikmati minuman dan santapan. Terdengar beberapa percakapan melintas di telingaku.


“Hahaha! Satu juta Sira tidak berarti bagiku!”


“Kudengar kau baru tanda tangan dengan bupati?”


“Kita dapat untung banyak dari penjualan kopi di daerah selatan.”


Beberapa dari mereka memperhatikan kami melangkah menuju meja lobi. Aku merasa tidak nyaman karenanya. Berbeda dengan Zilei yang tetap dingin dalam situasi apa pun. Saat bicara dengan pelayan, Zilei yang bicara padanya.

__ADS_1


“Apa yang kau inginkan?” tanya pelayan itu, terdengar tidak ramah pada kami.


“Kunci kamar untuk kami menginap,” jawab Zilei yang menjawabnya serius.


Pelayan itu mengambil dua kunci tapi tetap di genggamannya. Lalu Zilei memberikan sejumlah uang padanya.


“Cih, hanya segini…” balasnya tetap mengambil uang itu.


“Apa kau memberikan kunci itu pada mereka?” lanjut Zilei. Wajahnya tampak seram. Mereka seperti berdebat. Kami hanya bisa menyimaknya.


“Kamar itu memang untuk orang rendahan seperti kalian,” jawabnya sambil memberikan dua kunci itu. Zilei mengambilnya dengan sedikit gertakan. Lalu kami berjalan menuju kamar yang berada di lantai bawah.


“Untung saja ada kau,” ucap Alya.


Kami pun menempati kamar yang memisahkan laki-laki dan perempuan seperti biasanya. Ruangan itu tampak minimalis dan sangat sederhana. Lebih tepatnya hanya sebuah meja dan dua kasur, sementara kami ada tiga orang di kamar ini.


“Tempati kasur itu sesuka kalian,” ujar Zilei.


“Bagaimana denganmu?” tanyaku.


“Aku bisa tidur di mana saja. Tidak pilih-pilih seperti kalian,” balasnya.


“Mulutmu memang tajam, ya…” gumamku sebal.


Aku meletakkan barang-barangku di sudur kamar. Kalau diperhatikan lagi, cahaya hanya berasal dari lampu saja, itupun juga redup-redup.


Saatnya makan malam pun tiba. Kami pergi ke ruang depan di lantai atas. Di sana penuh dengan orang-orang kalangan atas. Sebenarnya tempat ini tidak terlalu mewah, namun sepertinya tempat ini lebih dipilih untuk urusan “gelap” mereka.


Meja makan kami terpisah dari mereka. Berada di paling pojok ruangan. Hidangan yang kulihat di menu tidak ada yang serupa dengan makanan mereka.


“Jangan harap makanan kalian sama dengan mereka,” ujar pelayan.


Kami bersantap malam. Sembari mengisi perut, kami menyempatkan mengobrol kecuali Zilei yang menikmati waktunya sendiri. Rasa penasaranku memuncak kemudian bertanya pada Leora yang duduk di sebelahku.


“Apa Zilei sudah seperti itu sejak kecil?” tanyaku pelan.


“Awal aku mengenalnya tidak seperti ini,” jawab Leora.


“Berarti dia seperti orang-orang biasanya?”


“Benar. Dulu dia hanya berteman denganku. Kami belum mengenal Stella dan yang lain waktu itu. Satu atau… dua tahun kalau tidak salah, akhirnya dia berubah seperti sekarang saat berbicara dengan orang lain,” jelasnya.


Tiba-tiba terdengar suara bentakan meja dan piring yang mengiringinya. Ternyata berasal dari Zilei. Kami sampai terkejut mendengarnya.


“Aku tidak betah di sini,” ujarnya lalu beranjak pergi sebelum kami sempat menanyakan tujuannya.

__ADS_1


“Sejak saat itu dia seperti ini?” lanjutku pada Leora.


“Entahlah… Aku baru melihatnya seperti ini,” jawabnya.


“Tapi dia seperti berbeda saat bicara denganmu,” balasku.


“Yah, mungkin dia menganggapku seperti teman pertamanya…?” Leora ragu dengan jawabannya. “Sebenarnya banyak yang tidak kuketahui tentangnya…” tambahnya.


“Benar-benar misterius…” gumamku.


“Setiap orang punya sesuatu yang tidak ingin orang ketahui, kan?”


“Benar…” balasku.


Tanpa sadar piringku sudah habis. Aku mengambil minumku lalu meneguknya. Padanganku teralihkan dari Leora. Seperti ada sesuatu yang janggal.


“Apa saat makan kita hanya berempat?” tanyaku heran.


“Tadi Zilei sudah lebih dulu pergi,” jawab Leora.


“Oh, Sara tadi bilang ingin pergi ke toilet. Tapi sampai sekarang belum kembali,” lanjut Lukas.


“Maksudmu orang yang di sana?” sindir Alya menunjuk ke tengah ruangan. Ternyata Sara sedang bersama dengan orang-orang itu. Aku terkejut melihatnya.


“Apa yang ia lakukan di sana?”


“Sepertinya dia sudah mulai kumat,” jawab Lukas geleng-geleng kepala. Leora beranjak dengan maksud untuk menghampirinya, namun ditahan oleh Alya.


“Kenapa kau menghentikanku?” ucap Leora.


“Biarkan saja, mungkin itu juga berguna untuk kita,” jawab Alya.


“Tapi, bagaimana kalau dia kenapa-napa?” lanjutku.


“Kalau dilihat-lihat, dia sudah terbiasa dengan semua itu. Bukankah begitu, Lukas?” balas Alya. “Dia memang sering begitu sejak dulu…” gumam Lukas.


Tiba-tiba Sara melihatku dari kejauhan. Aku terheran-heran dengannya. Ia berkedip sebelah mata seolah memberi isyarat padaku. Ia menepuk alat komunikasi yang ada di sakunya. “Oh, sepertinya dia akan baik-baik saja,” ucap Lukas.


Waktu semakin larut. Kami memutuskan kembali ke kamar masing-masing kemudian tidur. Sementara kulihat Zilei sedang sibuk sendiri. Lukas cepat sekali terlelap. Kini aku tidak bisa tidur. Aku ingin ke toilet yang terpisah dengan kamar.


Pada saat itulah aku bertemu dengan Sara di lorong. Ia baru kembali. Sontak aku langsung bertanya padanya.


“Apa yang kau lakukan dengan mere—”


“Rahasia.”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2