Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Posisi dan Tembak


__ADS_3

Beberapa kala setelah misi itu, aku dan teman-teman sedang bersiap-siap di dalam markas. Sembari menunggu Athar dan Gras kembali, kami sempat membahas rencana selanjutnya. Sepertinya Alya dan Ethan masih ragu dengan usulan kalau aksi dimulai dengan penyerangan di tepi kota.


“Seperti yang sudah kubilang, penjagaan akan semakin ketat jika begitu,” ucap Stella.


Seketika terpikir di benakku sebuah ide. Rencana seperti itu membuatku teringat dengan sebuah film aksi yang pernah kutonton.


“Bagaimana kalau kita menyerangnya serempak? Kita bisa melumpuhkan hampir setengah pasukan penjaga langsung,” usulku.


“Bisa kau jelaskan lebih rinci?” tanya Ethan.


Terbayang di kepalaku sebuah adegan film, kejadian di dalamnya hampir mirip kondisi kami saat ini. Orang-orang melakukan demontrasi seperti biasanya, hanya saja ada penembak jarak jauh yang sudah berada di posisi, tepatnya di dalam gedung dan tak terlacak. Di saat yang tepat, mereka menembak semua petugas yang terlihat bersamaan.


“Wah, ide bagus! Aku tidak menyangka kalau kau mengingat adegan itu,” sahut Ellie.


“Miris sekali. Kita terinspirasi dari film,” sindir Zilei.


“Jangan salah. Film itu gambaran ide dan pemikiran pembuatnya. Sudah banyak film yang menjadi kenyataan,” balas Leora.


“Tapi, apa semuanya bisa menggunakan senjata jarak jauh?” tanya Sara.


“Kami punya banyak orang yang bisa menggunakannya,” jawab Lukas.


“Benarkah? Tak kusangka kalau mereka benar-benar bisa menggunakannya,” sahut Ellie. “Aku mendapat info kalau mereka lebih sering latihan di sana,” balas Lukas.


“Apa mereka tidak ketahuan?” tanyaku heran.


“Di sana juga banyak tempat rahasia seperti ini,” jawabnya.


“Baiklah, ide Malka terasa masuk akal untukku. Setidaknya risiko yang didapat lebih kecil daripada ide sebelumnya,” balas Ethan.


Ellie pergi mengambil senjata jarak jauh yang dibuatnya. Kami sama-sama melihatnya menjelaskan singkat tentang senjata itu.


“Apakah ada pendeteksi termal?” tanya Alya.


“Ada, dengan begini kita bisa menggunakannya malam-malam,” jawab Ellie.


“Tapi setahuku, ada alat pelindung yang sulit dideteksi, salah satunya dengan pendeteksi termal,” jawabku. Lydia pernah menjelaskannya padaku.


“Berarti akan sulit kalau dilakukan malam-malam…” gumam Ellie.


“Demonstrasi saja sudah tidak masuk akal jika dilakukannya malam hari,” sahut Zilei.


“Athar dan Gras mungkin sampai nanti malam. Kita bisa meminta para aktivis bergerak besok pagi. Lalu kita bisa mulai aksi saat tengah siang,” ucap Alya.


Tiba-tiba Athar dan Gras datang.


“Eh? Kalian datang lebih cepat dari prediksi kami,” ujar Lukas.

__ADS_1


“Apa ada info dari sana?” tanya Ethan.


“Mereka lebih fokus dengan senjata jarak jauh. Mereka ingin melakukannya tersembunyi,” jawab Athar.


“Pas sekali!” balas Alya. Kemudian Alya menjelaskan kembali apa yang kami sudah bahas sejauh ini.


“Bagaimana?” tanya Alya.


“Bagus. Aku bisa membayanginya. Kapan kita mulai?” balas Athar.


“Besok,” jawab Ethan.


“Aku dan Athar akan memberi tahu mereka sekarang,” sahut Lukas.


Pada akhirnya kami memutuskan rencana itu.


“Synnefá!”


Keesokan harinya, kala matahari menyinari permukaan planet, langit sangat cerah. Jarak pandang sangat jauh, kami terbantu dengan cuaca hari ini. Seperti langit sangat berkenan kepada kami untuk melaksakan misi kami.


“Apakah langit mendengarkan kita?” gumam Ellie. Aku melihat langit, tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Seakan-akan langit itu juga tersenyum padaku.


Orang-orang sudah mulai bergerak menuju pusat kota, lebih tepatnya gedung administratif kerajaan, gedung Knox Corp, bahkan istana kerajaan juga menjadi sasaran kerumunan. Demonstrasi damai, kurang lebih seperti itu… kemasannya.


Hari ini, seluruh penjuru benua mengetahuinya.


Penjagaan terus diperketat di sepanjang lintasan yang dilewati oleh demonstran. Sementara ini, pihak Knox Corp hanya memberi tahu kalau mereka akan menerima perwakilan untuk dibicarakan bersama…


Tak hanya di ibu kota, kejadian serupa juga terjadi di hampir seluruh penjuru benua. Mereka melakukan demontrasi di depan menara.”


Semuanya berjalan sesuai rencana, kami memantau dari lantai atas penginapan yang sama dengan markas kami. Sekarang kami disibukkan dengan komunikasi dengan seluruh aktivis di seluruh penjuru benua. Ya, kami menjadi komando utama misi hari ini.


“Sudah hampir sampai di Knox Corp, minta tim penembak bersiap,” ucap Alya.


“Tim penembak. Tim penembak. Ambil posisi siap. Hitungan mundur, dua puluh menit. Ganti,” ujar Athar melalui alat komunikasi. Kami semua yang menggunakannya juga bisa mendengarnya.


“Tim penembak sisi barat, sudah dalam posisi siap. Menunggu perintah selanjutnya. Ganti.”


Begitu pula dengan belasan tim penembak dari berbagai sisi di sekitar gedung Knox Corp. Aku memantau perkembangan dari kamera langsung yang dipasang oleh mereka dan dari berita juga.


Perlahan, para demonstran sudah memasuki jalan utama menuju gedung Knox Corp, di mana Knox berada di dalam sana.


Tiba-tiba saja telepon berbunyi, rupanya telepon milik Alya. Alya pergi meninggalkan kami menuju tempat yang lebih sepi.


“Lima belas menit. Pertahankan kondisi demonstran. Ganti,” ucap Leora.


“Kami sudah lima ratus meter dari lokasi. Ada banyak penjaga di sana. Ganti.”

__ADS_1


Alya menghampiriku, lalu memberikan teleponnya padaku.


“Malka? Apa kau mendengarku?” tanya Jack.


“Jack? Iya, aku mendengarmu,” balasku.


“Apa di sana baik-baik saja?”


“Tentu. Bagaimana denganmu? Bukankah sangat berbahaya menelepon di depan para pegawai?” balasku. “Tenang saja, aku sedang ada di ruanganku,” jawabnya. “Sebentar lagi aku juga akan berkumpul di ruang Knox untuk penyampaian pers,” tambahnya.


“Baiklah, semoga kau baik-baik saja di sana,” ucapku.


“Kau juga, kuharap semua berjalan lancar,” balasnya.


Aku kembali ke ruang pemantauan. Waktu mundur sudah terlihat sepuluh menit lagi. Para demonstran sudah berada persis di depan gedung Knox. Gedung itu diberi kawat besi penghalang dan penjaga terbentang di sana.


“Saat ini para demonstran sudah berada di depan gedung Knox Corp, gedung administratif kerajaan, dan istana kerajaan. Dengan pengeras suara, mereka menyampaikan protesnya."


Tidak lama, Knox pun muncul di layar televisi.


“Teruntuk para masyarakat yang menentang dengan perkembangan teknologi kita yang semakin memudahkan umat manusia. Nanti akan ada pakar dan ahli yang menjelaskan kesalahpahaman yang sudah menjadi-jadi ini…


Namun yang perlu diketahui semua pihak. Kami tidak akan memadamkan energi langit sebagai sumber energi kita semua. Sebanyak delapan puluh persen kebutuhan sudah bergantung padanya. Sudah seharusnya kita beralih ke energi ramah lingkungan, meninggalkan energi fosil yang berbahaya bagi langit…


Saya apresiasi bentuk protes yang teratur ini. Saya tidak menuntut bentuk dari kebebasan berpendapat. Demonstrasi ini juga akan kami bicarakan lebih lanjut untuk keberlangsungan hidup kita semua, hingga sepuluh tahun, seratus tahun, seribu tahun ke depan.”


Pernyataan yang cukup panjang dari Knox. Hitungan mundur tinggal tiga menit lagi. Semua senjata sudah berada di posisi dan sasaran masing-masing.


“Sudah siap sasaran. Ganti.”


“Pertahankan sasaran masing-masing penembak. Jangan ada yang tumpang tindih satu sama lain. Ganti,” balas Ethan.


Hampir menyentuh satu menit hitung mundur. Seluruh komunikasi beralih ke Ellie. Ia menghitung mundur waktu.


“Enam puluh detik. Laporan terakhir masih diterima…”


“Tiga puluh detik. Komunikasi satu arah, nyalakan senjata gelombang. Setel ke pelumpuh berat…”


“Lima belas detik. Kunci sasaran…”


“Sepuluh, sembilan, depalan, tujuh, enam, lima, empat…”


“Tiga… dua… satu…”


“Tembak!”


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2