Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Halaman Menara


__ADS_3

Kala pagi tiba, kami berkumpul di suatu kamar. Pembicaraan tak jauh dari perihal lepas malam. Aku masih merasa sangat malu dengan kejadian itu. Tidak pernah terlintas di benakku kalau akan terjadi hal paling memalukan seperti itu di dalam hidupku. Aku hanya berdiam diri tanpa berkata-kata.


“Hahaha! Aku masih tidak bisa lepas dengan wajahmu semalam,” lontar Zilei.


“Sudahlah, Zilei. Mali— maksudku Malka pasti sedang sangat tertekan,” sahut Leora.


Mendengar ucapan Leora tidak mengobati apa pun padaku. Melihatku seperti itu, Alya datang mendekatiku.


“Tenang saja, Malik— ekhem… Malka,” ucap Alya. Seketika terdengar suara cekikikan dari sampingku.


“Aku ingin sendiri dulu…” ucapku pelan lalu pergi menuju kamarku.


Menelungkup diri di atas kasur. Hanya mendengar suara samar keramaian dari lantai atas. Berusaha untuk melupakannya, namun pikiran tetap saja sama. Memaksa diri malah membuatku mengantuk. Pandanganku menggelap. Saat membuka mata, ada tak ada yang berubah dari pandangan.


Sepertinya aku sudah bisa merasa lebih tenang. Aku melangkah menuju suatu kamar, tempat teman-temanku berkumpul.


“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Leora. Zilei masih tertawa kecil melihatku. Lukas berusaha untuk menasehatinya.


“Sudah, jangan dibayangkan terus,” bisik Lukas.


“Haha… Tidak, tidak. Kau sangat tampan, Malka. Aku masih belum terbiasa dengan wajah tampan dan cantikmu itu,” ucap Zilei.


“Zilei!” lontar Leora sebal.


Entah mengapa aku tertawa dengan sendirinya. Mereka terkejut heran melihatku. “Hahaha, apa aku harus menyamar seperti itu untuk menjalankan misi?” ujarku.


“Kutunggu saat itu tiba,” balas Zilei.


Sepintas aku merasa kalau Zilei terlihat tidak dingin seperti biasanya. Tampak lebih ceria dan penuh senyum. Baru pertama kali aku melihatnya seperti ini.


“Sepertinya kau sedang merasa baik sekarang,” ucapku.


“Tentu saja, rasanya aku menaruh hati pada seseorang,” ujarnya tersenyum.


Kami semua terkejut mendengarnya.


“Z—Zilei, kau tidak…” ujar Alya.


“Hahaha! Tenang saja, aku masih normal, kok. Andai saja ada perempuan seperti semalam,” lontar Zilei. Aku merasa curiga terhadapnya.


Sudahi tentang Malika, saatnya kita berlanjut ke pembahasan tentang misi kita di kota ini. Begitulah yang aku katakan pada mereka. Pada akhirnya bayangan tentang Malika perlahan hilang. Pikiranku merasa lebih tenang sekarang.


“Apakah kita sudah ada kemajuan?” tanyaku.


“Hmm… Kita sudah mengenal kota ini, sih. Apa itu termasuk kemajuan?” balas Leora. Suasana menjadi hening sejenak.


“Sebenarnya ada kemajuan, mari kita dengarkan Zilei,” ucap Sara menjahilinya.


“Sepertinya ada yang mengikuti pergerakanku akhir-akhir ini,” sindir Zilei.


“Kau melakukan sesuatu saat kau pergi sendiri?” tanya Alya.


“Tentu saja, aku tidak lupa dengan misi. Tidak seperti kalian,” jawab Zilei ketus. Ia kembali sebagaimana dirinya saat ini.


“Baiklah, aku hanya melihat-lihat rute yang bisa kita ambil untuk pergi dan kabur dari menara itu. Aku menemukan jaringan saluran bawah tanah. Tersambung ke beberapa tempat, seperti tempat kita sekarang dan menara itu,” paparnya sambil memperlihatkan peta yang dibuatnya.

__ADS_1


“Kau sungguh melakukannya sendiri…” gumam Leora.


“Mungkin ini sudah cukup dariku. Sekarang giliran Sara,” ujar Zilei.


“Oh, ternyata kau menyadarinya, ya…” balas Sara.


Tidak ada sesuatu yang dibawa olehnya, tak seperti Zilei. Kami pun mendengarkannya.


“Aku mendapatkan sesuatu dari ‘hobi’ku. Tapi aku belum bisa memperlihatkannya sekarang,” ucapnya. “Eh, kenapa?” tanyaku heran.


“Ya— karena memang belum sampai barangnya. Katanya sih hari ini ingin diantarkan, tapi entah kapan barang itu sampai,” balasnya.


Seketika terdengar suara dering panggilan dari telepon genggam milik Sara. Sontak percakapan terhenti. Ia langsung mengangkat panggailan itu. Kami tidak tahu apa yang ia bicarakan. Hanya mendengar kata “baiklah” dan beberapa ekspresi terkejut darinya.


“Tunggu sebentar, aku akan segara kembali,” ucap Sara bergegas meninggalkan kami.


“Sambil menunggu, aku penasaran dengan apa yang sudah kalian lakukan selama di sini,” sindir Zilei kepada kami. Aku tidak tahu harus menjawab apa.


“Aku kembali,” ucap Sara sambil membawa sebuah tas yang cukup besar. Ia terlihat keberatan mengangkatnya.


“Huft! Enak, ya, hanya melihat saja,” ujarnya.


“Apa itu?” tanya Lukas penasaran.


Sara membuka tas itu dan terlihat seperti dinamit.


“Dinamit?” tanya Leora.


“Yap! Benar sekali!” lontarnya senang.


“Tidak ingat? Ini yang kudapatkan dari ‘hobi’ku,” balas Sara.


“Kau tidak melakukan sesuatu yang aneh, kan?” tanya Lukas.


“Tenang saja, aku tidak seburuk yang kalian pikirkan.”


Alya merasa kalau semua ini sudah cukup untuk persiapan. Pembahasan berlanjut dan waktu sudah menunjukkan petang.


“Berarti selanjutnya kita waktu untuk kita menjalakan misi,” ucap Alya.


“Kita lakukan saja malam ini,” celetuk Zilei dan membuat kami terkejut.


“M—Malam ini? Yang benar saja, kita belum punya rencana,” sahutku.


“Ayolah, kita sudah tiga hari di sini,” balas Zilei.


“Zilei benar. Bisa saja tim Ethan sudah selesai mengerjakan tugasnya. Jangan sampai kita menjadi beban,” lanjut Alya.


“Baiklah, aku mengikuti kalian saja,” ucap Lukas.


“Rencana ku serahkan padamu, Alya,” ujar Zilei.


“Kau yang meminta malam ini, tapi kau malah melempar rencara pada Alya?” cetus Leora kesal. “Dia sudah setuju, berarti sekarang rencana itu tugasnya, kan?” balas Zilei dingin. Leora merasa sangat sebal dan ingin melontar fisik padanya. Aku langsung menahan Leora dari amarahnya itu.


“Tenang, Leora.”

__ADS_1


“Menurutku kita tidak perlu rencana yang rinci. Lagi pula tidak ada Ethan di sini. Kita bisa menggunakan rencana andalanku,” ujar Zilei.


“Aku juga berpikir begitu. Rencana apa yang kau miliki?” tanya Alya.


“Rencana spontan,” jawab Zilei.


Kami semua hanya terdiam mendengarnya. Lalu Zilei bertanya pada kami dengan dinginnya.


“Apa kalian tahu keadaan menara?”


Kami menggeleng-gelengkan kepala.


“Apa kalian tahu jadwal petugas yang berjaga di sana?”


Kami menggeleng-gelengkan kepala lagi.


“Lihat? Kalian tidak tahu apa-apa. Menurutku, percuma kita membahas rencana A hingga Z. Waktu kita hanya terbuang untuk itu saja,” lanjutnya.


Aku sependapat dengannya. Aku juga merasa pusing mendengarkan rencana demi rencana. Seakan pergerakanku terkekang olehnya.


“Aku setuju. Apa ada yang merasa keberatan dengan ini?” ujar Alya. Leora masih menatap kesal ke arah Zilei.


“Baiklah, sudah diputuskan,” ucap Alya.


Setelah makan malam, kami bersiap-siap untuk menjalankan misi. Aku memasukkan senjata, beberapa alat dan ramuan yang akan kubawa ke dalam tas.


“Apa semuanya sudah membawa barang masing-masing?” tanya Alya.


Kami mengangguk serius membalasnya.


“Nyalakan senter kalian, dan jangan sampai ada yang tertinggal,” lanjut Alya.


“Aku membawa garam kalau diperlukan,” ucapku.


“Akan sangat diperlukan! Kita bisa menandakan jalan yang sudah kita lewati dengan ini,” balas Alya.


Kami menyusuri sumur itu mengikuti peta yang sudah Zilei buatkan. Aku menumpahkan garam ke dekat dinding dari jalan yang kami lalui.


“Wuekh! Bau sekali!” lontar Leora.


“Aku takjub denganmu bisa melakukan ini sendiri, Zilei,” ucap Alya.


Setelah hampir satu jam memutar-mutar di labirin ini, akhirnya sebuah tangga yang kami naiki mengarah ke halaman menara.


“Eh? Pintunya tidak di dalam menara?” tanya Alya.


“Tidak, hanya ini yang terdekat dengan pintu masuk ke menara,” jawab Zilei.


Kami keluar satu per satu, lalu mengendap-endap menuju sebuah semak. Kami bersembunyi sembari melihat sekitar. Terdapat banyak penjaga yang melakukan patroli.


“Sudah jam dua belas,” ucap Lukas.


Kami bersiap mengambil posisi kami masing-masing. Berkomunikasi menggunakan isyarat, kami mengendap mendekati beberapa penjaga di posisi masing-masing. Alya memberi tanda untuk menyerangnya bersamaan.


“Ergghh…”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2