Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Gelap Gulita


__ADS_3

Tibalah kami di penginapan dengan keadaan penat. Sementara aku masih tidak bisa melihat Sara. Pikiranku langsung melayang seketika melihatnya. Hari sudah hampir memasuki waktu fajar. Aku langsung melompat ke kasur dan memejamkan mata. Akhirnya bisa menghilangkan rasa penat—


“Malka, bangun,” ucap seseorang dari hadapanku. Padanganku masih gelap.


“Sudah saatnya kita untuk pergi dari sini.”


Saat pandanganku mulai jelas, tenyata Lukas yang membangunkanku. Aku kebingungan sambil bersuara terseret-seret.


“Lukas…? Ada apa? Baru saja tidur…”


“Sudah jam tujuh pagi, kita tidak boleh terlambat naik kereta.”


Perlahan terdengar suara teman-temanku yang cukup bising berbenah barang bawaan. Pada saat itu aku langsung melompat sadar. Kepalaku langsung terasa pusing.


“Kita pergi sekarang?” tanyaku terkejut.


“Iya. Cepet bereskan barang-barangmu,” jawab Lukas.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya usailah kami berbenah diri. Menaiki tangga menuju kedai minum. Aku duduk pada semua meja. Kepalaku berayun-ayun menahan kantuk. Lukas kembali mendatangiku dan membuatku heran.


“Kau dari mana…?”


“Kita sudah tak sempat untuk sarapan sekarang. Nanti saja saat di kereta.”


Tanganku ditarik olehnya keluar dari kedai minum itu. Tak melalui air, kami bergegas menaiki angkutan kuda yang melintas. Saatnya aku naik ke kereta kuda itu. Tapi rasa kantuk membuatku setengah sadar seperti mayat hidup.


“Malka, ayo naik,” ujar Alya.


“Cih, menyusahkan saja,” ketus Zilei kemudian menggendongku naik ke atas kereta.


Untung saja kami tiba di stasiun tepat waktu. Kereta panjang sudah berada di peron. Alya sudah menyiapkan tiket kami semua. Tidak lama kami duduk, kereta membunyikan peluit kereta api lalu terdengar suara deritan roda.


Menghabiskan beberapa jam, aku memanfaatkannya untuk tidur. Saat terbangun, kereta sudah melambat bersiap berhenti di stasiun tujuan kami.


“Wuah… Akhirnya bisa merasa lebih segar,” hembusku lega.


“Segitu lelahnya kau setelah melihat Sara, ya?” sindir Zilei.


“Hentikan! Aku sudah berusaha untuk melupakannya,” balasku kesal.


“Kenapa harus dilupakan? Apa kau tidak menyukaiku?” lanjut Sara.


“M—Maksudku… Aku tidak ingin mencemari kepalaku,” jawabku gelagapan.


“Apa yang terjadi pada Sara semalam, sih?” tanya Leora penih penasaran.


Kami menemui Ethan dan yang lainnya di penginapan. Mereka lebih dulu tiba di Enhaud daripada kami. Banyak pertanyaan yang seakan ingin saling terlontar.


“Bagaimana kalian di kota itu? Menyenangkan?” tanya Ethan.


“Benar-benar seru! Aku sangat menikmatinya!” lontar Leora girang.

__ADS_1


“Wah, terdengar menarik. Memangnya apa saja yang kalian lakukan di sana?” tanya Gras penasaran. Tanpa henti Leora bercerita pada mereka. Sementara Alya dan Athar lagi-lagi bertemu. “Misimu di Grappe lancar?” tanya Alya.


“Tentu saja. Kami banyak berpesta di sana. Aku malah bingung kenapa Sara tidak memilih pergi ke kota ini,” jawab Athar senang.


“Aku sudah bosan dengan anggur. Pengalaman baru lebih menarik. Bukankah begitu, Malka?” goda Sara padaku. Aku langsung berpaling darinya.


“Kau kenapa, Malka?” tanya Athar. Aku tidak tahu harus menjawab apa.


“Bukan apa-apa. Hanya melihat dunia baru dari diriku,” sahut Sara. Sontak mereka terkejut termasuk Leora. “K—Kau memperlihatkannya…?” tanya Leora syok.


“Hahaha! Sudah kuduga. Santai saja, Leora. Kau juga sudah tak asing dengan itu, kan?” jawab Sara tersenyum.


“T—Tapi…” gumam Leora.


Terdengar suara televisi membawakan berita. Kami menyaksikan televisi itu bersama-sama sambil bertukar cerita pada misinya masing-masing.


“Kau menyetelnya seperti yang kita tetapkan waktu itu, kan?” tanya Ethan pada Alya.


“Sudah, kami menyetel waktunya sesuai,” jawab Alya.


“Ternyata menara itu lebih tinggi dari yang kita duga,” sahut Athar.


“Untung saja kami punya barang tambahan,” lanjut Lukas.


“Kalian merakitnya lagi di sana?” tanya Stella.


“Tidak. Semua itu karena Sara yang pandai ‘berinteraksi’ itu. Tidak sepertimu,” jawab Zilei sekaligus menyindir Stella.


“Apa maksudmu? Aku melumpuhkan puluhan petugas di menara. Memangnya apa yang kau lakukan?” lontar Stella kesal.


“Yah, kami sangat terbantu oleh Zilei,” sahut Leora.


“Apa yang terjadi pada kalian?” tanya Gras penasaran.


“Berkeliling kota, menonton festival, malah ada yang menjadi ‘artis’ dan menyamar jadi perempuan,” sindir Zilei.


“A—Apa yang kau katakan, Zilei?” lontarku tersipu.


“Mulutmu seperti kompor saja, ya,” balas Alya tertawa kecil.


“Kalian semakin membuat kami penasaran,” ucap Kellos.


Seketika terdengar suara keroncongan dengan sangat jelas. Sontak kami terkejut namun tidak ada yang mengaku. Pandanganku terhenti pada wajah Lena yang semakin memerah. “A—Ayo… kita makan…” tuturnya pelan.


Setelah makan, kami yang masih berkumpul di meja makan lantas membicarakan langkah selanjutnya. Ethan memimpin pembahasan seperti sebelum-sebelumnya.


“Baiklah, kita harus segera pergi dari sini.”


“Eh? Kita sudah berada cukup jauh dari tempat misi kita. Apa tidak bisa istirahat dulu?” sahut Leora. “Otakmu sepertinya hanya liburan, ya,” balas Sara.


“Kita harus terus bergerak. Cukup bahaya kalau kita berlama-lama di suatu tempat,” sahut Ellie. Aku menyimak pembicaraan mereka.

__ADS_1


“Benar, lagi pula seperti yang pernah dibilang Malka, kota ini hanya terhubung sumber energi dari kedua menara itu saja,” ujar Ethan.


“Berarti kota ini akan benar-benar gelap?” tanya Gras. Ethan membalasnya dengan menganggukkan kepalanya.


“Kau sudah tahu kita akan ke mana, bukan, Anak Kecil?” celetuk Zilei. Sontak aku terkejut mendengarnya tiba-tiba.


“A—Ah! Iya… Ada satu tempat yang ada di pikiranku. Tapi kota itu sangat besar setara dengan Centra,” ucapku.


“Tunggu, apa kita akan langsung ke menara selanjutnya?” tanya Stella.


“Memangnya kenapa?” lanjut Alya heran.


“Saat bom itu meledak, pengamanan mereka akan semakin ketat, bukan? Aku merasa tidak yakin kalau kita pergi ke menara,” jawab Stella.


“Hmm… Aku baru kepikiran juga, alangkah baiknya kita pergi ke suatu kota yang aman saja dulu,” sahut Ellie.


“Apakah kalian tidak melihat petugas yang menjaga menara itu? Diperketat juga tak akan jadi masalah buatku,” ujar Zilei.


“Memang tidak sesulit yang kita bayangkan, kita juga belum tau akan berapa lama mereka memperketatnya. Tidak mungkin kita hanya diam menunggu,” jelas Ethan.


“Maksudmu kita akan bertaruh keberuntungan kali ini?” tanya Alya.


“Kira-kira begitu,” jawab Ethan.


“Knox tidak punya pasukan khusus, kan?” tanya Zilei padaku.


“Entah, menurutku pasti ada. Tapi menurutku penjagaannya tidak akan efisien karena menyebarkannya ke dua belas menara bersamaan,” paparku.


“Dengan jumlah terpecah seperti itu, kurasa tidak akan sebanyak yang kita bayangkan,” balas Ellie.


“Jadi, kota apa yang kau maksud?” tanya Zilei menopang dagu dengan tatapan serius dan wajahnya tersenyum ke arahku. Seketika membuatku ketakutan melihatnya.


“Pharlouse.”


Hari petang mengiringi kepergian kami menggunakan truk. Kota tersebut tampak semakin mengecil dari pandangan. Perjalan yang ditempuh akan memakan waktu semalaman. Penerangan di dalam bak truk hanya berasal dari lampu darurat yang dibuat oleh Ellie.


“Kau benar-benar mempersiapkannya…” gumam Leora.


Pandangan langit jingga dan ungu menghiasi kala mentari terbenam. Bersama-sama kami melihat ke arah luar dan kota Enhaud.


“Kapan mereka kegelapan?” tanya Gras.


“Tidak lama lagi,” jawab Zilei.


“Gedebuk!”


Tiba-tiba saja truk terguncang saat Athar melaju di jalan berlubang. Kami terkejut dibuatnya. Begitu pula Ellie yang kemudian marah kepada Athar.


“Perhatikan jalanmu! Lampuku jadi mati! Untung saja tidak rusak!”


Pada saat yang sama, gemerlap yang tampak seketika hilang. Aku terperangah melihatnya.

__ADS_1


“Wah… Benar-benar gelap…”


Bersambung~


__ADS_2