
Pandanganku berkabut, tubuhku terasa lemas karena melihat kesadisan di hadapanku.
“Tak akan ku maafkan…”
“Knox…!”
Melompat diriku mendekati dirinya untuk menyerang. Sebuah tanda bak pistol yang meletus di udara memulai gemuruh pertempuran. Pasukan ku dan pasukan Knox berhadapan di medan peperangan yang suram, seolah semesta menahan nafas menantikan hasil dari pertarungan ini. Teriakan dan bentakan bergema di udara, menciptakan suasana kacau yang tak terlukiskan. Aku berusaha menemukan kekuatan untuk melawan, untuk menghentikan kegilaan sang Antagonis. Alya dan teman-temanku berusaha bertahan dan saling melindungi satu sama lain dalam kekacauan ini.
Mataku terfokus pada Knox, musuh bebuyutanku yang telah menciptakan kekacauan ini. Dia melayang di udara, tersenyum sinis, dan melontarkan kalimat yang menusuk hatiku, "Saatnya kita akhiri semua ini…"
Amarah yang tak terbendung membara di dalam diriku. Aku telah kehilangan begitu banyak teman, menyaksikan kehancuran yang dia timbulkan, dan dia tidak dapat diampuni.
“Knox! Akulah yang akan menghentikanmu!” teriakku dengan nafas memburu.
Dia menyapu pedang hitamnya, dan asap hitam menyertai gerakannya saat dia menuju arahku dengan kecepatan yang luar biasa. Aku mengeluarkan pedangku dan bersiap menghadapi serangan tersebut.
Medan perang dipenuhi dengan gemuruh pertempuran, pedang bersinar, dan sihir gelap melesat di udara. Pasukan kami berjuang dengan gigih melawan pasukan Knox yang jahat. Di antara kekacauan ini, aku merasa hati ini berdebar kencang karena tantangan dan ketegangan yang kami hadapi.
Aku melihat ke sekeliling, mencari wajah-wajah yang telah bersamaku dalam perjalanan panjang ini. Alya, Cathy, dan Lena berada di sebelah kananku, bersama-sama melengkapi untuk menghadapi musuh-musuh yang mengancam. Di seberang sana, Ellie dan Ethan berdiri kokoh, memberikan dukungan dan kekuatan bagi pasukan kami. Begitu pula kawanku dan lainnya, terlebih Jack yang kulihat menyapu banyak pasukan Knox.
“Kita bisa melakukannya! Jangan menyerah!” teriakku, berusaha memberikan semangat pada rekan-rekanku.
Mereka mengangguk dengan tekad yang sama, menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja. Kami telah mengalami begitu banyak bersama, dan itu adalah ikatan tak tergantikan di antara kami.
“Synnefá!” teriak Alya.
“Synnefá…!”
Bersama-sama, kami menerjang pasukan Knox dengan semangat perang yang membara. Pedang dan panah meluncur, serangan sihir terbang menyapu medan perang. Aku merasa energi mengalir dalam diriku, membakar semangat untuk melawan kejahatan ini.
Namun, di tengah pertempuran, pandanganku terfokus pada satu sosok yang melayang di udara dengan angkuhnya. Wajahnya dipenuhi dengan kegelapan dan kehausan akan kekuasaan. Tatapan kami bertemu, dan aku merasakan getaran amarah di dalam diri. Dia tersenyum sinis, memancarkan aura kejahatan yang menyilaukan.
“Knox, akhiri semua ini! Hentikan kegilaanmu!” seruku dengan tegas.
Dia hanya tertawa dengan meremehkan, lalu menghunuskan pedang hitamnya dari asap hitam yang mengepul, menunjukkannya ke arahku. Dia siap menyerangku.
Aku mempersiapkan diri untuk menghadapi serangannya. Semua suara di sekitarku menjadi redup, dan aku hanya fokus pada musuh di depanku. Serangan pedangnya menghantamku dengan keras, dan aku berhasil menghindari sebagian, tetapi aku merasakan tekanan yang begitu besar.
“Kau tidak akan bisa menghentikanku, Malka! Aku akan menguasai dunia ini!” ujarnya dengan nada sombong.
__ADS_1
“Kekuatan semacam itu hanya akan membawa kehancuran! Hentikan ini sekarang juga!” balasku, tetap berdiri teguh.
“Kau tahu apa tentang semua ini? Bahkan kau saja belum tahu jawabannya!” lontar Knox dengan wajah geramnya.
Kami terus bertarung, saling menyerang dan berusaha menghindari serangan lawan. Di sekeliling kami, pertempuran sengit berlangsung, dan teman-temanku berjuang sekuat tenaga. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Langit telah menggelap akibat semua kekacauan yang terjadi di sini semakin suram. Aku merasa lelah, tetapi tekadku untuk melawan tidak pernah padam.
Alya, Cathy, dan lainnya berusaha mendekatiku untuk membantu, tetapi aku menggelengkan kepala. Mereka harus melindungi pasukan lainnya dan menghadapi pasukan Knox yang masih berusaha menyerbu.
“Tetaplah di sana! Aku akan baik-baik saja!” kataku kepada mereka dengan penuh keyakinan. Mereka memberi isyarat setuju dan kembali ke pertempuran mereka masing-masing. Perjuangan ini adalah milikku, dan aku harus menyelesaikannya sendiri.
Sementara itu, pertarungan dengan Knox semakin intens. Dia menunjukkan keahliannya dalam menggunakan kegelapan dan sihir hitam, sementara aku mengandalkan keterampilan dan semangatku yang tak tergoyahkan.
“Kau sangat naif, Malka!” kata Knox sambil menyerangiku dengan serangan sihir hitamnya itu.
Aku menghindar dan menggulirkan diri untuk menghindari serangannya, lalu menyerangnya dari belakang. Tetapi dia mengantisipasi gerakanku, dan aku harus kembali melompat untuk menghindar dari serangannya.
Menit dan jam berlalu, dan langit semakin gelap. Medan pertempuran telah menjadi reruntuhan akibat serangan, ledakan sihir, dan hempasan asap hitam. Aku melihat sekeliling, dan kebanyakan pasukan kami telah berhasil mengusir pasukan Knox. Tapi aku tahu bahwa pertarungan ini masih jauh dari selesai. Aku dan Knox masih berdiri di medan pertempuran, saling menatap dengan pandangan penuh amarah dan keinginan untuk mengalahkan satu sama lain.
“Sudah cukup, Knox! Kita harus menghentikan ini sekarang juga!” ujarku lantang.
“Benar! Hanya ada satu jalan keluar dari sini, dan itu adalah kekalahanmu!” timpalnya dengan senyum sinis.
“Aku tidak akan kalah! Aku tidak akan membiarkanmu merusak dunia ini!” seruku dengan nafas tersengal-sengal.
Namun, Knox tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Dia masih terlihat kuat dan percaya diri. Kekuasaannya seakan tak terbendung, dan aku merasa seperti aku hanyalah sebatang kayu di tangan angin topan.
Kami terus bertarung dengan gigih, saling berusaha mengalahkan satu sama lain. Tapi entah bagaimana, aku merasa semakin tertinggal. Kekuatkanku semakin menipis, dan aku tahu aku harus segera mencari cara untuk mengubah keadaan.
“Aku tidak boleh menyerah… Aku harus mencari celah…” gumamku dalam hati.
Knox menyerangku lagi, dan kali ini aku hampir tidak dapat menghindarinya. Namun, aku melihat celah kecil di pertahanannya. Aku harus bertindak cepat.
Saat dia menyerang lagi, aku mengelak dengan gesit, lalu menyusul dengan serangan balasan yang cepat. Pedangku bersentuhan dengan miliknya, dan aku merasa getaran energi yang kuat.
Dia terkejut dengan seranganku, dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengirimkan pukulan dari energi langit yang terkonsentrasi ke arahnya. Dia menghindar, tetapi aku bisa melihat bahwa seranganku menyentuhnya sedikit.
“Kau hampir mendapatkan aku, Malka. Tapi hampir tidak cukup!” ucap Knox dengan serangan balik yang lebih kuat.
Pertarungan kami terus berlanjut, dan aku menyadari bahwa aku harus menggunakan kecerdasanku juga, bukan hanya kekuatan fisik. Aku perlu mencari cara untuk menggagalkan rencananya.
__ADS_1
Knox menyerangku lagi dan lagi, tetapi aku mulai mengenali pola serangannya. Aku mencoba mengantisipasi gerakan berikutnya, dan itu membantu aku untuk menghindari beberapa serangan yang seharusnya mengenai.
“Kau hebat, Malka!” puji Knox.
Namun, aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Aku harus segera beraksi. Aku mengamati lingkungan sekitar, mencari cara untuk mengalihkan perhatiannya.
Dan di situlah aku melihatnya, sebuah batu besar sisa reruntuhan. Dengan cepat, aku mengarahkan seranganku ke arah batu tersebut lalu mengarah ke Knox yang melayang itu.
“Apa yang kau coba lakukan, Malka?” tanya Knox, sedikit bingung.
Tapi dia terlambat menyadari rencanaku. Seranganku mengenai batu besar itu, dan dengan suara gemuruh, batu itu jatuh menimpa Knox. Dia terjatuh dari langit, terbawa oleh batu besar itu. Namun, dia masih saja mengayunkan pedangnya dengan marah.
Kawan-kawanku yang melihat situasi itu berteriak, “Malka…! Hatinya yang gelap telah membutakannya!” Pada saat itu aku sadar bahwa pertempuran di sekitarku sudah meredup dengan pasukan yang bertebaran dan kawan-kawanku yang sudah tak berdaya di atas tanah, hanya bisa menyaksikan aku dan Knox berhadapan.
Aku menatap Knox yang masih berusaha bangkit dengan amarah tak terbendung. Hatiku bergetar melihat kegigihan dan obsesinya akan kekuasaan yang merusaknya.
“Sudah cukup, Knox! Kamu tidak akan mendapatkan apa pun dengan cara ini! Hentikan pertempuran ini!” seruku, berusaha membuka matanya yang tertutup kegelapan.
Tapi dia terus berusaha menyerangku dengan sisa tenaganya yang terakhir. Aku menghindar, menghindari setiap serangannya.
“Kau tidak mengerti, Bocah! Aku harus mendapatkan kekuasaan ini! Aku harus membuktikan bahwa aku lebih baik dari siapapun!” teriaknya dengan penuh kebencian.
“Kekuatan tidak akan membawamu ke mana-mana, Knox! Kamu hanya akan terjebak dalam kegelapan yang semakin dalam!” balasku dengan keras.
“Aku sudah muak mendengar ceramahmu yang itu terus!”
Aku melihat tatapan hampa di matanya, seolah-olah dia tidak mengenali dirinya sendiri lagi. Kegelapan benar-benar telah membutakannya dan menghancurkan hatinya.
“Aku tidak akan menyerah!” dia berteriak, lalu menghunuskan pedangnya yang terbuat dari asap hitam yang terkumpul itu untuk serangan terakhir.
“Mati kau bocah sialan!”
Aku menghadapinya dengan keberanian yang terakhir, mengetahui bahwa ini adalah pertarungan pamungkas kami. Dia melayang dengan cepat, serangannya datang dengan kecepatan yang luar biasa.
Tapi aku tidak akan menyerah. Aku menggerakkan pedangku, bersiap untuk menghadapi serangan itu.
Namun, sebelum serangannya sampai padaku, ada sebuah kejutan yang tak terduga.
“A—Apa yang terjadi?”
__ADS_1
Bersambung~