
“Aku percaya kau tidak akan menggunakan sesuatu yang aneh, Jack…”
Kami langsung saling menghempaskan diri ke belakang, memberi jarak sebelum akan menyerang kembali. Melirik mataku ke arah Knox, ia tampak sangat menunggu-nunggu momen seperti ini. Tertatap mata Jack yang sangat serius kepadaku, seolah ingin memberi tahu sesuatu.
Mengambil posisi, pedang sudah siap untuk berayun. Tanpa sadar mulutku berteriak lalu bersahut pula dengan Jack. Kaki melangkah cepat untuk saling menyerang. Suara gemuruh langkah bergema hingga pada suatu ketika satu suara dentuman kedua pedang mengalahkan semuanya.
Hanya pedang yang bicara. Sangat nyaring bunyinya menggelegarkan sekitar. Bak peluru yang membabi buta, tuturannya yang tiada henti membuat ramai. Cairan pijar seolah keluar saat dua logam keras itu bertumbukan, berselimut pula dengan lembaran kilap dan asap hitam mengitarinya.
Terdengar suara percakapan beberapa orang di sekitarku. Aku tak bisa melihat wajah mereka sama sekali, hanya suaranya saja yang tak asing di telingaku.
“Cepat sekali… Aku hampir tidak melihat mereka bertarung…” gumam Leora.
“Bagaimana bisa mereka melakukannya seperti ini…?” sambung Lukas.
Pada akhirnya aku dan Jack sama-sama melangkah mundur untuk menarik napas sejenak. Suara tepuk tangan seketika menyertai kami.
“Luar biasa! Kalian sangat pintar untuk menghiburku… Hahaha…”
Aku belum terluka sama sekali dan begitu pula dengan Jack. Kami hanya mengadu pedang seakan hanya pemanasan. Benar, kini tubuhku sudah dilumuri oleh keringat yang tiada henti mengalir. Aku kembali menghunuskan pedangku ke arahnya.
“Ayo kita keluarkan semua teknik yang sudah kita pelajari,” ajak Jack.
“Kau ingin kita menari? Baiklah,” balasku.
Aku kembali mengambil posisi beriringan Jack yang sama siapnya untuk menyerangku. Hentakan keras kakiku meninggalkan pijakan awal dan angin yang berhembus ke belakang. Tampaknya Jack ingin menyerang bagian atas. Aku menghindarinya dengan merendahkan tubuh lalu menyerangnya dari bawah.
“Tidak semudah itu,” tandas Jack. Ia melompatiku sehingga pedangku tidak dapat mengenainya. Saling membelakangi diri aku langsung berputar untuk serangan mendadak namun ia langsung membalikkan tubuhnya di udara sontak menjauh dariku.
“Mereka benar-benar menari…” gumam Leora.
“Tarian yang indah!” Kami kembali berhadap tatap satu sama lain kembali.
“Tapi aku masih menunggu ******* dari semua ini.”
“Jack! Aku tahu kau tidak pernah mengecewakanku.”
“Tentu saja! Akan ku tunjukkan semua yang bisa menghiburmu, Knox.”
Ia merendahkan posisi dengan pedang yang mengarah tepat ke wajahku. Aku tersenyum ke arahnya dan menunggu dirinya untuk menyerang. Benar, ia berlari kencang ke arahku, sementara aku masih di tempat untuk melakukan serangan mendadak lagi. “Hah?” sontakku terkejut melihatnya yang melompat dan melayang.
Pikir cepatku menyimpulkan ia akan menyerang dari atas—
“Bumm!”
Hentakan keras dari kakinya seraya meluncurkan pedangnya. Melesat dengan sangat cepat, aku hanya bisa reflek menahannya dengan pedang itu.
“Cring!”
Pedang itu menabrak pedangku dengan sangat keras sampai-sampai aku tak sanggup menahan pedang di tanganku. Terlontar jauh pedangku ke belakang. Pedang Jack meleset dari wajahku namun terasa di pipi kananku.
“Uhh…! Aku tidak sanggup melihatnya!” tukas Leora menjauhkan padangannya.
“Malka!” lontar Alya.
Aku mengelap pipiku dengan tangan, “Tenang. Aku bisa mengatasinya.”
Kini aku dan Jack tidak bersenjata apa pun, melainkan kedua tangan kami sendiri. Aku mengambil ancang-ancang seperti yang sudah ku pelajari kala itu. Kepalan tangan juga sudah Jack lakukan.
Aku langsung menyerang bersamaan dengan dirinya. Tak ada lagi suara tinggi nan keras, hanyalah suara benturan fisik di antara kami. Jack mendapati seranganku beberapa kali. Sesekali darah keluar dari mulutnya, tapi wajahnya masih tampak bugar. Tanganku sedikit sakit dibuatnya.
“Sekarang giliranku.”
Ia datang segera menghampiriku. Aku tahu betul semua gerakan yang dia lakukan. Kurasa hal serupa juga berada di pihak Jack. Pertandingan kami hanya penuh dengan serangan dan bertahan.
“Arghh!”
__ADS_1
Lengahku membuatnya bisa menyerangku sesuka hati. Bertubi-tubi ia menyerangku tanpa sempat ku tahan lebih dulu.
“Malka!” teriak Alya.
“Hentikan, Jack!” sambungnya.
Tubuhku sedikit lemas setelah serangannya itu. Kami kembali bertatap, melangkah kami memutari tempat ini.
“Sekarang kondisi kita sama,” cakap Jack.
“Hanya untuk sekarang…” balasku.
Masa kian berjalan. Entah sudah berapa lama aku bertarung dengan Jack. Jujur saja sudah banyak tenagaku yang terkuras hanya untuk menyerangnya. Tiada yang menghentikan kami. Ratusan kali kami bertanding, tidak ada yang diunggulkan. Kami menempati posisi yang sama.
Aku harus menyudahi semua ini apa pun yang terjadi.
Sekarang aku membiarkan egoku ikut bermain, lebih liar lagi.
“Wuah… Aku mengantuk,” hembus Lydia menutup mulutnya.
Tunggu, sepertinya aku menyadari sesuatu.
“Kenapa kau diam saja? Sudah menyerah?” celetuk Jack.
Aku melirik tipis ke arah pedangku dari jauh, tampak tidak bereaksi pada apa-apa. Aku juga merasakan hawa yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Aku mengambil sebuah batu lalu—
“Sekarang apa? Ingin bermain lempar batu seperti anak kecil? Hahaha!” lanjut Jack.
Aku menggenggam batu itu lalu—
“Aduh! Apa-apaan kau menyerangku tiba-tiba?” teriak Lydia.
“Kau mengantuk, kan? Itu agar kau tidak tertidur—“
“Karena tuanmu sudah tidak ada di sini.”
“Aaaa…!” teriak Alya bergelora, memasuki arena bersama yang lain.
Ramai, suara bergemuruh di dalam tanah yang dikelilingi kabut hitam pekat. Aku langsung mengambil pedangku yang tergeletak, dan kembali berhadapan dengan Jack. Ia terlihat sudah lelah, sama sepertiku. Aku menggunakan pedangku untuk memanfaatkan kabut hitam di sekitar untuk mempersulit pandangan kami.
“Jack, kemari,” bisikku di dekatnya.
“Terima kasih sudah memperhatikanku.”
“Kau baik-baik saja, kan? Maaf jika aku menyerangmu terlalu keras,” lanjutku. Sontak terdengar suara cekikik kecil dari dirinya. “Aku tidak bisa menandingi kebaikanmu, Mal. Tenang saja, kau tidak perlu mencemaskan tandinganmu.”
“Itu yang ku harapkan,” balasku tersenyum.
“Andai saja aku ikut denganmu saat keluar dari perusahaan ini, Mal. Mungkin kita tidak akan seperti ini…”
“Entahlah… Aku berpikir itu akan memperburuk semuanya. Aku bersyukur memiliki teman sepertimu. Karenamu, sekarang kita ada di sini.”
“Malka, kau benar-benar percaya denganku, kan?”
“Aku percaya kau Jack yang sudah mengenalkanku lebih dengan dia,” balasku sembari melihat bayang sosok perempuan yang tengah bertarung di balik kepulan kabut.
“Tunggu, kau mulai tertarik dengannya?”
“B—Bukan itu maksudku! Entah kenapa aku masih sangat ingat waktu kita mengobrol di kelas. Saat semuanya ramai melihatku akrab dengannya.”
“Hahaha! Entah kau yang lugu atau bagaimana. Tapi ingatlah baik-baik, aku percaya padamu, apa pun yang terjadi.”
“Baiklah. Ngomong-ngomong, apa kau tahu kemana Knox pergi sekarang?”
“Dia tidak menjelaskan tujuannya. Hanya saja ia sangat ingin pergi ke suatu tempat yang katanya belum pernah ada siapa pun yang bisa ke sana.”
__ADS_1
“Tempat yang belum terjamah di langit?” Aku berpikir mengingat segala hal yang pernah kubaca dari buku itu, dan yang jauh hari Alya menjelaskannya padaku. Terlintas di benakku tentang langit yang memiliki tujuh lapisan, tapi itu membuatku semakin bingung.
“Sekarang kita harus menghentikan pertarungan ini dan bergerak. Apa kita harus melumpuhkan mereka?” ucapku.
“Jangan. Bagaimana jika kita jadikan mereka bergabung dengan kita?” balas Jack.
“Tapi bagaiman caranya?”
“Aku yakin pedangmu itu bisa melakukannya. Sebenarnya semua pasukan kami dikutuk oleh asap hitam itu, termasuk mereka,” papar Jack.
“Sebentar, lalu kenapa kau bisa tidak terkena semua itu?”
“Aku tidak bisa menceritakannya di sini. Sekarang, gunakanlah pedangmu.”
Aku menggunakan pedangku dan membayangkan jika semua asap yang menyelimuti masing-masing mereka telah sirna. Mataku terpejam sejenak. Saat kembali membuka, pedang tersebut mengeluarkan cahaya yang melayang-layang di tengah kabut. Aku tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi pada cahaya itu, namun pertempuran masih berjalan.
“Apa tidak terjadi apa-apa?” gumam Jack.
Seketika saja suara keributan mulai mereda, kemudian cahaya terang terurai ke segalah arah dan menghempaskan kabut yang ikut bersamanya. Terlalu silau hingga aku hanya dapat melihatnya sekejap. Setelah itu, tampak semua orang terkapar di atas tanah, terkecuali aku dan Jack.
“Kenapa mereka semua seperti ini?” ucapku heran.
Perlahan mereka mulai tersadar dan bangun. “Apa yang terjadi padaku…?” gumam Alya sembari memegang kepalanya. Mereka semua terlihat kebingungan.
“Teman-teman, kalian baik-baik saja?” tanyaku.
“Sedikit pusing, kenapa aku begini?” jawab Stella.
“Syukurlah, yang penting kalian semua baik-baik saja.”
“Kemana Knox pergi? Kita harus melawannya!” lontar Leora
Sementara Jack menghampiri kawan-kawan koleganya. Kondisi mereka sama dengan teman-temanku.
“Bukankah kita sedang melawan Knox tadi?” tanya Lydia.
Aku kembali mendekati Jack seraya berkata pelan, mungkin agar tak didengar oleh yang lainnya, “Apa ini yang kau maksud Jack? Mereka sudah tak terkutuk lagi?”
“Sepertinya begitu. Kita bisa langsung bergerak mencari Knox pergi.”
Setelah semuanya membaik, aku dan Jack memperkenalkan teman-teman kami satu per satu. Aku menjelaskan semuanya, bersama dusta menemaniku. Mereka tidak perlu tahu kebenaran jika itu memperburuk keadaan.
“Jadi kita harus mencari tempat yang Knox tuju,” ucap Alya.
“Apa kau tahu, Eil, Yeil?”
“Sebenarnya ada banyak tempat yang belum ditemukan oleh kami. Tapi jika itu Knox, mungkin dia akan pergi ke Taman Suci,” jawab Luceyl.
“Taman Suci? Maksudmu singgasana Raja Langit?” sahut Eil terkejut.
“Benar, tapi itu sudah sangat lama. Seakan-akan tempat itu disembunyikan oleh waktu,” jelas Luceyl.
“Seperti fantasi saja, waktu adalah kekuatan,” sambung Leora.
“Fantasi di dunia kita, nyata di dunia mereka,” celetuk Zilei.
“Mungkin, tapi aku belum pernah dengar siapa-siapa yang bisa menggunakan itu,” balas Luceyl.
“Tunggu, kau benar-benar bisa menembus waktu?” tanya Cathy penasaran.
“Kalau itu ada, berarti Knox sudah berada di sana sekarang…” gumamku.
“Kita harus ke Taman Suci itu sekarang!” lontar Eil.
Bersambung~
__ADS_1