
Pada akhirnya kami berada di dalam rumah tersebut, tepatnya di ruang tamu. Tanpa perlu memanggil kepala desa untuk keluar, ia muncul dengan sendirinya karena suara sangat bising akibat Luceyl dan Eil yang saling beradu mulut. Berbeda dengan barusan, suasana saat ini sangat hening. Aku hanya bisa diam melihat mereka.
“Jadi, perlu apa kalian datang ke sini dengan mereka?” tanya kepala desa pada Luceyl dan Eil. Lantas Luceyl menjelaskan maksud kami dan semua yang telah terjadi. “Asal kalian tahu, kota besar di dekat kerajaan sudah hampir hancur karena ulah makhluk seperti mereka, dan kalian mempercayai mereka?” lanjut kepala desa.
“Kami percaya,” balas Luceyl sembari tunduk. Lalu ia lanjut menghadapku, Alya, dan Leora. Sepertinya saatnya kami yang diinterogasi. Aku menelan air liurku sendiri.
“Senjata apa yang kalian gunakan?”
Aku menjawab dan menjelaskan saat kami berpindah ke dunia ini, “Tapi semua senjata itu hilang saat kami sampai di dunia ini…”
“Ikuti aku,” ucap kepala desa yang beranjak dari tempat duduk, ia membawa kami menuju sebuah ruang bawah tanah. Sedikit gelap di sini, hanya terang dari obor api.
“Apa maksud kalian senjata seperti ini?”
Semua senjata terpampang jelas berjajar di dinding. Pedang, perisai, dan senjata lainnya yang kukenal terlihat di sini. Sementara Luceyl dan Eil terkejut. “Bagaimana semua ini bisa ada di sini?” tanya Eil. “Orang-orang memberikan senjata ini yang tergeletak di bekas tempat pertempuran itu,” jawab kepala desa.
“Tunggu, bagaimana bisa mereka membawa senjata seperti ini? Sedangkan kami tidak bisa,” ujar Alya heran.
“Katanya senjata-senjata ini diselimuti asap hitam saat itu. Semua ini sudah dimurnikan dengan energi langit,” papar kepala desa.
Setelahnya kami kembali menuju ruang tamu, duduk seperti sedia kala. “Di mana kawan-kawan kalian yang lainnya?” tanya kepala desa. “Mereka berada di bukit seberang hutan,” jawab Alya. Ia kembali beranjak, sontak aku ikut berdiri, begitu pula yang lain.
“Bawa mereka secepat mungkin. Kalau bisa sebelum matahari terbenam,” ucap kepala desa. “K—Kau yakin, Tuan?” tanya Luceyl tak percaya. Kepala desa itu tersenyum kepada kami, “Tentu saja…”
Aku, Alya, dan Leora ingin melangkah pergi, namun kepala desa langsung memberhentikan kami. “Tunggu sebentar, Malka.”
“Kau tahu namaku?”
“Sesaat melihat kalian ribut tadi,” jawabnya.
“Maaf, kami tidak bermaksud seperti itu…” balasku cengar-cengir.
“Hahaha! Lupakan itu. Saat kalian kembali ke sini, segeralah ke rumahku. Ada yang sesuatu yang ingin kubicarakan lagi pada kalian,” ucapnya. Seketika aku merasa takut terhadap dirinya. “Tenang saja, aku sudah percaya pada kalian, untuk apa kalian takut?”
Tiba-tiba aku melihat bunga-bunga jauh di belakang kepala desa itu bercahaya dan meredup, berulang-ulang. Pandanganku tertuju pada bunga-bunga itu.
“Itu saja yang ingin ku sampaikan. Sekarang, cepat jemput kawan-kawan kalian.”
“M—Maaf, Tuan. Apa semua bunga itu milikmu?” tanyaku.
“Oh, itu bunga yang dirawat oleh pekebun desa ini. Bunga Lavandula, setiap anak yang sudah mencapai usia enam tahun, akan melakukan upacara dan diberikan bunga itu.”
“Semuanya bisa menggunakan bunga itu?” tanya Leora.
“Benar, termasuk aku dan Eil,” jawab Luceyl. Aku melihat jubah mereka yang terdapat tiga bunga, dan salah satunya sama, bunga Lavandula itu.
“Apa bunga itu juga punya fungsinya sendiri?” lanjut Alya.
“Bunga itu membuat semua pemakainya dapat merubah bentuk energi langit menjadi apa pun yang pembuat inginkan,” jelas kepala desa. Kepalaku terus memikirkan bunga tersebut. Langkahku tertarik oleh bunga-bunga itu yang seakan-akan terus memanggil namaku.
“Apa ada sesuatu?” tanya Eil.
“Semua alam berasal dari energi langit…”
“Lalu?” lanjut Leora.
__ADS_1
“Senjata kita kebanyakan terbuat dari logam, dan logam berasal dari alam.”
Di depan bunga-bunga itu, aku merendahkan tubuhku untuk meraih sekuntum bunga yang mekar itu. Setelah memetiknya, aku mencoba memasangnya di kerah jubahku. Seketika jubahku bercahaya kemudian bunga itu terpasang.
“Wah, kita juga bisa memakainya?” lontar Leora bersemangat.
“Ada satu hal yang ingin kucoba,” ucapku. Mereka melihat diriku yang memejamkan mata. Aku memikirkan sebuah senjata, pedang. “Jika energi bisa berubah menjadi apa pun, seharusnya ia juga bisa menjadi ini,” pikirku. Sebuah energi yang sangat padat, membentuk kerangka-kerangka sehingga pedangku nanti tidak seutuhnya energi padat itu, namun terdapat rongga agar tetap ringan, dalam ukuran yang sangat-sangat kecil.
Aku membuka kedua mataku. Sebuah pedang sudah berada di genggamanku. Lebih ringan dari pedangku yang sebelumnya.
“T—Tidak mungkin!” decak kepala desa.
“B—Bagaimana kau melakukannya?” tanya Eil.
Aku mencoba menebas-nebas dengan pedang itu. Hingga aku akhirnya menebas kuat ke arah atas. Seketika hembusan angin cepat keluar dari pedang itu. Membelah awan yang berada di atas sana.
“K—Kuat sekali…”
“K—Kapan kalian pergi?” tanya kepala desa yang mulai kesal dengan kami. Kemudian kami kembali terbang bersama Luceyl dan Eil. Di atas udara, aku memegang pedang itu. “Simpan saja pedang itu,” ucap Luceyl. “Bagaimana caranya?” lanjutku. “Bayangkan saja kau menyimpannya di dalam jubahmu,” jawabnya. Aku baru ingat kalau bisa seperti itu.
Lepas pedangku tersimpan, tiba-tiba saja Luceyl melepas tanganku dan membuatku jatuh bebas.
“Tidak…!”
“Malka!” lontar Alya terkejut panik.
“Cepat tangkap dia!” sambung Leora, namun Luceyl tidak menghiraukannya. “L—Luceyl? K—Kenapa kau…?” gumam Leora tak percaya.
Aku memejamkan mataku. Andai saja kalau aku bisa terbang seperti Luceyl dan Eil, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Terpikir di benakku jika melayang di udara sama seperti berenang di dalam air. Tanpa sadar tanganku bergerak seperti orang yang berenang. Seketika aku tidak merasa seperti jatuh, hanya sedikit angin yang menerpaku dari depan.
“E—Eh? Aku tidak jatuh?” gumamku.
“Aku melayang!”
“Malka! Kau terbang sendiri!” lontar Leora. “Tapi bagaimana dia melakukannya?” gumam Alya. “Kalian juga bisa melakukannya,” sahut Eil.
“E—Eh?”
Luceyl dan Eil langsung melepas Alya dan Leora sama sepertiku.
“Eh…!”
“Bayangkan kau sedang berenang!” teriakku pada mereka. Mereka melakukannya sambil menutup mata. Wajah mereka yang ketakutan membuatku tergelitik tawa. “Wajah kalian santai saja,” ucapku.
“Bagaimana bisa santai di saat seperti ini?” lontar Leora.
“Buka mata kalian,” lanjutku. Mereka membuka mata, alangkah terkejutnya mereka setelah sadar mereka terbang. “Aku terbang!” Wajah mereka langsung berubah menjadi senang. Kami pun berkumpul, di atas angkasa.
“Ayo kita lanjut ke sana,” ucap Luceyl.
Kami terbang sendiri-diri. Luceyl memimpin kami di paling depan. Ia membawa kami menembus dedaunan dan memasuki hutan. Ia kembali menari-nari dan melewati dahan pohon bak pemain sirkus. Eil juga melakukannya. Aku ingin mencobanya juga.
“Woohoo! Aku juga bisa…!”
Sesampainya di perbukitan itu, tampak lautan manusia di bawah sana. Terlihat teman-temanku yang sedang berkumpul. “Itu mereka!” lontar Leora, kemudian kami langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
“Hai,” ucapku.
“B—Bagaimana bisa kalian terbang?” tanya Gras terkejut. Kemudian Leora dengan penuh semangat menjelaskan semuanya.
“Perkenalkan, dia Luceyl, dan dia Eil,” sambungnya.
Aku memberi tahu mereka apa yang kepala desa katakan, “Kita semua diminta untuk datang ke sana. Kita diterima di sana.”
“Tapi, bagaimana cara kita ke sana? Kita tidak bisa terbang seperti kalian. Apa bisa dengan berjalan kaki?” tanya Ellie.
“Bisa saja berjalan kaki, tapi cukup memakan waktu untuk ke sana, sedangkan tidak lama lagi matahari akan tenggelam,” jawab Luceyl.
“Kita bisa terbang dengan bergandengan tangan, tapi…” sahut Eil sembari melihat orang-orang yang sedang berlalu-lalang, “Aku tidak tahu apakah mereka semua bisa melakukannya.”
“Coba saja di sini ada kendaraan…” gumam Sara. Seketika terbesit di benakku.
“Aku ada ide!”
Betapa sempurnanya dunia ini, cukup membayangkannya saja maka semua keinginan akan terkabulkan. Aku membayangkan sebuah ruang tak kasat mata seperti ruang yang menyerupai pesawat, tempat orang-orang bisa masuk ke dalamnya, kemudian terbang namun tetap merasa nyaman.
Tapi membuat ruang tak kasat mata akan sulit untuk orang-orang masuk ke dalamnya, tanpa tahu batasan ukuran ruang ini.
“Kita harus mengumpulkan semua orang terlebih dulu,” ujarku.
Setelah semuanya berkumpul, aku membuat ruangan itu, lalu aku bersama Alya, Leora, Luceyl, dan Eil saling bergandengan tangan. Aku menghubungkan jubahku dengan ruang itu.
“Setelah aba-abaku,” ucapku, “Satu, dua, tiga!”
Terbang semua insan bersama dua makhluk langit ke atas langit. Semua orang tampak takjub melihat pemandangan dari atas, sama sepertiku yang saat pertama kali memandangnya.
“Aku tidak percaya kalian sudah melihat semua ini lebih dulu…” gumam Ethan.
Setibanya di desa, kami disambut dengan meriah oleh penduduk desa. Berjalan perlahan, kami melewati mereka yang berjajar di kanan dan kiri kami. Tiba-tiba saja Luceyl mendekatiku dan berkata, “Kau harus bertemu kepala desa sekarang.”
Bertemu dengan kepala desa di rumahnya, aku langsung disuruh masuk dan menggunakan pakaian yang sudah ia siapkan. Aku kebingungan dengan apa yang terjadi. “Kenapa aku harus menggunakan ini?” Ia hanya tersenyum dan itu tidak menjawab apa pun.
Aku mengikuti kepala desa, sementara Luceyl kembali meninggalkanku. Betapa kagetnya diriku saat sebuah panggung sudah berdiri di depanku.
“Silakan naik,” ucap kepala desa. Aku melangkah naik kemudian ia mengikutiku dari belakang. Saat berada di atas, semuanya bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Kepala desa mengangkat tangannya lantas semuanya terdiam. Seseorang datang dengan sebuah nampan yang terukir sangat indah.
“Boleh kuminta pedangmu?”
Aku memberikan pedangku itu kepadanya. Ia meletakkan pedang tersebut di atas nampan lalu meletakkannya pada sebuah meja, kemudian ia menyiramnya sambil melatunkan beberapa kalimat. Seketika pedang itu bercahaya sangat terang hingga menyilaukan mataku. Saat kubuka mata, sebuah pedang putih bersinar tergeletak di sana.
“Terima ini.”
Aku mengambilnya, sontak semuanya tertunduk ke arahku. Hanya diriku dan kepala desa yang masih berdiri.
“Berdiri menghadap mereka.”
Aku menuruti perkataannya sambil berpikir heran.
“Alam terhampar di bawah daun hijaunya. Tanah kokoh memberi kehidupan di bawah akarnya. Tercipta dunia yang luas di bawah juluran batangnya. Indah penjuru pandang bagai kelopaknya. Harum tercium bagai kuntumnya…”
“Telah datang seorang amanah semesta. Telah datang sekuntum bunga dijubahnya. Telah datang bunga Jasminum dari utusan legenda…”
__ADS_1
“Selamat datang, Pahlawan.”
Bersambung~