Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Fenomena Misterius


__ADS_3

Kami berjalan menuju rumah Pow dan semakin jauh dengan rumahku. Uangku sudah sangat sedikit untuk pulang dengan kendaraan umum karena sudah kugunakan dengan membeli dagangannya Pow.


Kata Pow jalan menuju rumahnya sudah tidak jauh lagi dari sini. Kami memasuki jalan kecil dan satu-satunya akses menuju pemukimannya. Jalan ini cukup kecil namun masih muat untuk satu kendaaran. Kanan-kiri jalan ini ditutupi langsung dengan tembok rumah-rumah yang ada di sini. Jalan ini cukup sepi bahkan hanya ada aku dan Pow sejauh mataku melihatnya.


Namun langkah kaki kami tiba-tiba terhenti karena ada yang menghalangi di depan kami. Lagi-lagi ada beberapa orang yang mencegat kami lewat.


Mereka mengepal tangannya dan menepuk-nepuknya.


“Bagaimana ini? Aku tidak bisa melawannya,” ucap Pow yang sangat panik.


“Tenang saja. Tetap di belakangku,” balasku meyakinkannya.


“Lihatlah. Ada dua orang lemah yang ingin melewati daerah kita,” cakap seorang penjahat itu kepada kawan kawannya.


Mereka semakin mendekat kepada kami. Sepertinya mereka tidak akan banyak basa basi seperti yang waktu itu. Kemudian mereka langsung menyerbu kami. Pow langsung lari agak jauh di belakangku. Aku langsung melawannya. Untung aku masih sedikit mengingat cara bela diri yang pernah kupelajari di desa.


Pow hanya menyaksikanku dan para penjahat ini saling bertarung. Aku hanya sendiri sedangkan mereka ada empat orang dan bersenjata tajam. Mereka hanya memukul dan menendang seperti orang berkelahi pada umumnya. Semua serangannya cukup mudah kuhindari. Namun ada beberapa ada yang mengenaiku karena mereka menyerangnya dengan bersamaan.


Tak lama aku berhasil melawan mereka semua. Aku sedikit terluka lecet di tangan dan kakiku. Dan pipiku tergores pisau sedikit. Kemudian Pow menghampiriku dan memberikan ku air yang ada di tasnya. Aku sangat kelelahan dan terengah-engah. Namun aku masih sanggup untuk berjalan. Pow merangkulku dan kami melanjutkan perjalanan kami. Sedangkan para penjahat itu berlari menjauhi kami dengan rasa takut dan luka-lukanya yang cukup parah.

__ADS_1


Kemudian kami sudah memasuki sebuah pemukiman yang berbeda jauh seperti kota. Padahal ini berada di pinggir kota. Tempat ini cukup kumuh dan berantakan. Tidak jauh seperti desa tempatku tinggal.


Pow menunjuk rumahnya yang sudah terlihat dari sini. Rumahnya sangat sederhana dengan halamannya yang cukup luas dan ditanami banyak tumbuhan di sini. Pow mempersilahkanku untuk masuk.


Saat aku masuk ke dalam rumahnya kulihat banyak keluarganya yang sedang bersenang-senang dan mengobrol di ruang tengah. Ketika mereka melihatku, dengan senang hati mereka mengajakku duduk dan mengobrol bersama. Mereka juga menyuguhkan makanan dan minuman padaku. Aku sangat berterima kasih dan sedikit malu.


Di keluarganya, hanya Pow yang bekerja di kota menjual permen. Sedangkan istrinya yang membuatkannya. Sesekali Pow juga bekerja serabutan jika uang yang diperolehnya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebagai kepala keluarga Pow berusaha keras untuk menafkahi keluarganya. Namun ia juga berusaha untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.


Waktu yang seharusnya kugunakan untuk berkeliling mengenal daerahku tergantikan dengan memiliki sebuah kenalan dan pengalaman yang baru. Aku mendapat beberapa pelajaran hari ini. Mereka juga saling berbagi ceritanya. Aku yang baru di sini hanya tersenyum dan memperhatikannya. Aku juga diajak untuk makan siang bersama dengan mereka.


Tak terasa hari sudah mau gelap lagi. Kami terlalu asyik sampai lupa waktu. Bermain, mengobrol dan berbagi cerita bersama. Keluarga yang berwarna walaupun harus terus berjuang untuk bertahan hidup di tengah zaman yang penuh dengan teknologi ini.


Terlihat dari ujung pinggir kota ini semua gedung-gedung yang sangat tinggi menjulang di tengah pusat kota. Saat hari sudah mulai gelap, kulihat lampu-lampu benderang menerangi langit kota. Sangat indah sekali, bahkan melebihi Lumiatia. Aku melintasi perumahan-perumahan dengan berjalan kaki.


Aku juga masih takut dengan luka-lukaku yang masih berbekas ini. Walaupun sudah membaik tapi ruam-ruamnya masih terlihat apalagi goresan di pipiku. Sesekali aku juga masih merasakan sakit saat aku melangkah. Untung saja aku sudah dioleskan obat luka ketika di rumah Pow tadi. Sekarang sudah lebih baik daripada sebelumnya.


Hari sudah gelap dan larut. Aku berhenti sejenak dan duduk di bangku trotoar. Kulihat jalan dan gedung yang selalu ramai dengan orang-orang. Aku juga meregangkan tubuhku yang sudah mulai pegal ini. Setelah beristirahat sejenak, aku melanjutkan jalanku dengan perlahan dan berharap agar tidak ada lagi yang menghalangiku.


Langkah demi langkah, waktu cepat berlalu, hari sudah sangat larut tapi aku belum sampai juga. Aku yang sangat lelah dan mengantuk ini sudah tidak bisa menahannya lagi. Namun aku terus memaksanya dan sudah terlihat rumahku dari kejauhan. Aku pun langsung bergegas melangkahkan kakiku ke sana.

__ADS_1


Aku sangat lega saat sudah sampai masuk ke dalam rumah. Ternyata ayahku sudah menungguku. Ayahku mencemaskanku. Terlebih lagi ia terkejut saat melihat goresan di pipiku.


“Kau kenapa, Mal?” tanya ayahku menaikkan nadanya sambil menegelus pipiku.


“Tidak apa-apa. Aku hanya terjatuh tadi,” jawabku.


Aku sengaja berbohong kepada ayahku agar ayahku tidak kaget dan cemas karena kejadian tadi. Ayahku langsung mengambil obat luka yang biasa kugunakan. Biasanya lukaku cepat pulih jika menggunakan obat itu. Ayahku mengoleskan obat tersebut di pipiku serta kaki dan tanganku yang terluka.


Aku kemudian pergi ke kamarku dan bersiap untuk tidur. Sebelum tidur aku menabung uang sisaku tadi. Lalu aku tidur di atas tempat tidurku yang nyaman ini.


Saat aku memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari langit dan air dalam botol minumku bergetar kuat. Aku melihat jendela ternyata banyak orang-orang di luar dan panik. Aku yang sangat lelah ini langsung beranjak dan berlari keluar dari kamar. Ayah dan ibuku yang menghampiriku juga panik dan kami pun bersama keluar rumah. Kejadian tersebut hanya terjadi beberapa detik.


Saat semua orang di depan rumah fenomena tersebut sudah berakhir. Setelah beberapa menit di luar rumah dalam keadaan panik, orang-orang kembali ke dalam rumahnya masing-masing. Setelah kami masuk ke dalam rumah, ibuku langsung menyalakan televisi dan langsung terbuka berita terkini.


“Telah terjadi sebuah fenomena alam yang baru terjadi lagi setelah beribu-ribu tahun. Warga tidak perlu panik karena fenomena ini sudah berakhir. Menurut para ilmuwan dan alat deteksi gempa bahwa ini bukan disebabkan oleh gempa. Fenomena ini masih terus diteliti dan dicari tahu informasinya lebih  lanjut.”


Itu yang kulihat dan kudengar dari berita yang dibawakan hari ini. Aku bingung apa yang barusan terjadi. Suara dentuman yang keras yang berasal dari langit. Apakah ini semua berasal langit yang kumaksud itu?


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2