
Petugas-petugas itu berlari menghampiri kami, kemudian mereka menodongkan senjata ke arah kami. Terdengar suara isi daya kemudian tembakan tak terlihat tertuju pada kami. Kami kalah kecepatan menarik pelatuk.
“Oh tidak!” teriak Kellos di depanku.
Mataku sudah terpejam pasrah. Namun aku tidak merasakan apa-apa.
“Eh? Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Aku bisa melindungi kalian. Serang mereka!” seru Lena dengan mata tertutup melawan rasa gugup. Aku berlari ke petugas-petugas itu sambil melihat Lena sekilas.
“Imut…”
Tergumam sepatah kata tanpa sadar. Setelah mendekat aku mengangkat pedang dan mengacungkan ke arah mereka. Tak pernah terpikir di benakku kalau Lena dapat mengeluarkan perisai pada masing-masing kami.
“Argghh!” teriak seorang petugas yang baru saja kutebas pada bagian dadanya. Aku langsung teringat dengan kejadian kala itu. Ingatan yang menakutkan itu seketika terlintas lagi tepat di hadapanku. Tubuhku terkunci oleh trauma yang pernah mengguncang diriku.
“Malka? Kau kenapa?” lontar Stella khawatir. Mereka bertiga menjadi panik melihatku yang hanya terdiam. Mereka mengira kalau aku terkena senjata gelombang dari petugas itu. Tanganku bergetar dengan sendirinya, dan pedang terlepas dari genggamanku.
Stella menjadi panik saat ada seorang petugas yang sudah mengarahkan senjata tajam ke arahku. Berbeda dengan senjata gelombang, senjata tajam akan berefek pada fisik langsung. Petugas itu berlari dan bersiap menusuk aku.
“Malka awas!” seru Stella sambil bergegas menghampiriku dengan pedang di tangannya. Kellos berusaha sekuat tenaga untuk melindungiku, namun perisai yang dibawanya cukup membuatnya terhambat.
“Ting… Ting… Ting…”
Seketika cahaya ragam warna keluar dan melayang di sekeliling kami. Terdengar suara lantunan yang bergumam dengan lembut. Seketika aku lupa dengan yang kupikirkan barusan. Kepalaku terasa sangat ringan dan napasku sejuk sekali. Semua orang terpukau dengan fenomena yang sedang terjadi.
“Semua ini energi langit?” gumam Kellos.
“Wah… terasa sejuk dan nyaman…” lanjut Stella.
Beberapa saat kemudian cahaya itu mulai memudar dan suara lantunan perlahan menghilang. Aku baru sadar saat melihat tongkat milik Lena juga bercahaya. Banyak partikel-partikel melayang di sekitarnya, sebelum akhirnya menghilang.
“Apa kalian semua baik-baik saja?” tanya Lena khawatir.
“B—Bagaimana kau bisa melakukannya?” tanyaku tak percaya.
“E—Eh? A—Aku tidak bisa melakukan apa-apa tadi. Aku hanya ingin kalian semua baik-baik saja,” jawabnya sontak kembali gugup.
“Berarti tongkat itu bisa mendengarkan ucapan hatimu…?” tanya Stella takjub.
“Seingatku semua alat ini terhubung dengan pemakainya…” sahutku.
__ADS_1
“A—Aku juga tidak menyangka kalau akan…”
Tiba-tiba ucapan Lena semakin pelan dan tubuhnya melemah, kemudian ia runtuh kelelahan. Untung saja ia masih sadarkan diri.
“Lena! Apa yang terjadi padamu?” tanya Kellos penuh cemas. Sementara Lena hanya terengah-engah dan tak dapat berkata apa-apa. Kellos menahan tubuh Lena yang setengah terbaring dengan tangannya.
“Oh iya, petugasnya!” lontarku yang baru sadar seraya sigap melihat sekeliling, namun tidak ada siapa pun kecuali kami.
“Kemana mereka pergi?” lanjutku.
Seketika terdengar suara dengkuran yang cukup keras dan saling bersahutan. Saat melihat ke bawah, ternyata mereka semua tertidur pulas.
“Sihirmu membuat mereka tidur nyenyak. Aku juga hampir ketiduran tadi,” sahut Stella tersenyum pada Lena. Aku mencoba menggerak-gerakkan salah satu dari mereka dengan kakiku. Mereka seperti pingsan tapi dengan suara mendengkur.
“Tadi kau kenapa, Malka?” tanya Stella.
“Tadi? Aku tidak kenapa-kenapa,” jawabku keherenan.
Aku tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Stella. Seingatku kami berada di sini melawan para petugas itu, sampai akhirnya Lena mengeluarkan “sihir”-nya.
“Tapi tadi… Ah sudah, lupakan saja…” gumam Stella.
Kami lanjut melangkah menuju ke ruang tengah yang berada di atas kami. Lantai bawah tanah ini seperti labirin saja. Aku tidak tahu apakah kami sudah melewati lorong ini atau belum, semua tampak sama bagiku.
“Seingatku hanya ada beberapa menara saja yang seperti ini. Dulu digunakan untuk penelitian, mungkin sekarang masih sam—”
“Aaaaa!”
Sontak terdengar suara teriakan yang berasal dari Kellos. Ia terkejut sampai melompat jauh ke belakang. Sementara Lena langsung bersembunyi di balik Kellos. Aku dan Stella ikut terkejut mendengarnya.
“Ada apa?” tanyaku kebingungan.
“Hewan apa itu?” lontar Kellos perlahan menjauh.
Terlihat sebuah makhluk yang baru pertama kali kulihat. Seperti sapi, zebra, dan rusa, namun bukan ketiganya. “Apa ini salah satu dari penelitian mereka?” gumamku.
Ternyata kami memasuki tempat dengan bilik-bilik kaca di kanan-kiri kami. Di dalamnya ada banyak hewan yang sama sekali tak ada yang kami ketahui. Benar-benar terlihat seperti monster. Kami tetap melangkah, meskipun beberapa “monster” itu menggertak kami dari balik kaca dan membuat kami kaget.
“Sepertinya mereka semua berbahaya…” gumam Kellos.
Langkah kami terhenti saat Stella berhenti di depan kami.
__ADS_1
“Hewan dongeng benar-benar ada…” ucap Stella sambil memperhatikan hewan itu. Aku pun ikut melihatnya. Ternyata seekor kuda berwarna putih berkilau dengan tanduk di kepalanya. “Wah… Ternyata sungguhan…” decakku terperangah.
Kami terus melangkah hingga akhirnya terdapat pintu tertutup di hadapan kami. Saat pintu itu terbuka, suasana di dalam sana tampak berbeda dengan yang sudah kami lalui tadi.
“Sebuah ruangan besar dan lebih gelap. Bukan lorong, tapi jembatan,” ujar Stella.
Tiba-tiba saja ada seorang dengan jas lab bersama dengan beberapa petugas mengepung kami dari belakang.
“Wah, wah! Kita kedatangan tamu yang tidak diduga-duga!” lontar orang dengan jas lab itu dengan girang. Kami langsung mengarahkan senjata ke arah mereka dan mengambil ancang-ancang.
“Perkenalkan, aku salah satu ilmuwan muda di sini. Bisakah kalian melepas topeng kalian?” ucapnya sambil perlahan melangkah ke arah kami. Kami melangkah ke belakang menjauhi mereka menuju ruangan besar tadi.
“Ayolah, aku hanya ingin tahu siapa kalian,” ujarnya.
Kami sudah berada di atas jembatan, sementara mereka berada di pintu yang terbuka itu. Jembatan ini tampak tinggi dari atas tanah.
“Sepertinya tamu kali ini tidak ramah. Kalau begitu, selamat berjuang!” teriak ilmuwan muda itu kemudian menutup pintu dan menguncinya. Satu-satunya jalan hanya maju ke depan.
“Sekarang kita ada di mana?” tanya Kellos.
Kami semua terheran-heran dengan tempat ini. Hanya sebuah jembatan yang melintang di tengah ruangan yang sangat besar. Lena langsung memberi kami perisai dengan “sihir”-nya itu.
“A—Aku merasa kita tidak baik-baik saja…” gumam Lena.
Saking besarnya ruangan ini, suara yang terdengar bergema ke seluruh sudut ruangan.
“Grweeett…”
Suara derik dari jembatan ini mengiringi setiap langkah kami. Membuat suasana menjadi lebih menakutkan.
“Ayo kita cepat-cepat pergi dari sini,” ucapku.
“Tunggu!” lontar Stella berhenti melangkah.
“Ada apa?” tanyaku heran.
“Bukankah tempat ini terlihat seperti kandang?”
“Kandang? Sebesar ini?” lanjutku tak percaya.
Seketika saja terdengar suara yang sangat besar dari bawah tempat kami berdiri.
__ADS_1
“Gruoaaaahhh…!”
Bersambung~