Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Memilih Risiko


__ADS_3

Di sisi benua sama ramai dengan kerusuhan yang diberitakan di televisi. Kami menyaksikannya bersama-sama. Tak tahan rasanya untuk tetap melihatnya.


“K—Kenapa jadi seperti ini? Sudah seperti perang saja…” gumam Alya tak percaya.


Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh cukup panjang dari luar. Aku langsung melihat ke arah luar. Ternyata suara itu berasal dari menara. Semula terdapat cahaya biru di puncaknya kini semakin redup.


“Apa yang terjadi pada menara itu?” tanyaku.


Sontak mereka semua bergegas untuk melihatnya juga. Kami sama-sama tidak tahu apa yang terjadi. Tidak berselang satu menit, sekejap listrik seluruhnya padam.


Televisi dan lampu mati. Dengan langit yang masih mendung membuat ruangan menjadi gelap. Cahaya pada menara itu sudah tidak ada lagi.


“Apa menara berhenti beroperasi?” tanya Ellie.


“Tapi bagaimana bisa? Bukankah teknologi yang dipakai sudah sangat canggih?” lanjut Leora.


“Sepertinya memang disengaja, entah tujuannya untuk apa,” sahut Alya.


“Yang terpikir di kepalaku sekarang, ia memanfaatkan kondisi sekarang untuk menarik simpatisan energi langit,” balas Ethan.


Apa yang diucapkannya sangat masuk akal, apalagi hampir semua listrik yang disalurkan ke seluruh penjuru benua berasal dari energi langit.


“Dengan begini, akan ada banyak orang yang merasa kalau energi langit sangatlah penting,” gumamku.


“Licik sekali para elit itu!” lontar Alya kesal.


Jantung pemenuhan kebutuhan manusia berhenti hampir sepenuhnya. Kereta listrik terhenti, pekerjaan kantor dan perusahaan terhenti, alat komunikasi terhenti, barang elektronik terhenti. Seakan-akan kembali ke zaman batu.


Alya dan Ethan pergi meninggalkan kami entah dengan maksud apa. Saat mereka kembali, ia membawa banyak kertas dan peta. Kami diminta untuk berkumpul di meja makan. Mereka memperlihatkan kertas-kertas itu.


“Daripada kita hanya berdiam diri, lebih baik kita membahas rencana yang sudah aku dan Alya susun,” ucap Ethan.


“Tentu dibantu oleh Gras dan ibuku, karena tugas kita sama-sama di satu atap,” sahut Alya. Terlihat banyak coretan di sana.


“Kalian menyiapkan semua jenis rencana?” tanyaku.


“Tentu. Kita memikirkan semua skenario yang mungkin terjadi, termasuk kejadian saat ini,” jawab Alya.


“Sebelum masuk ke teknis, ada beberapa opsi yang bisa kita pilih untuk langkah awal kita menghadapi mereka,” ucap Ethan. Kami menyimak penjelasannya dengan saksama.


“Pertama, semua aktivis sepertinya menggunkan nama Synnefá, sebuah keuntungan bahwa mereka bersatu atas nama itu. Kita bisa menggunakannya sebagai ‘prajurit’ untuk melawan Knox. Tapi kekurangannya, identitas kita akan terancam dan belum tentu mereka percaya kita sebagai pemimpinnya…


Kedua, kita memiliki seorang yang pernah memasuki perusahaan itu sebelumnya. Malka, kau bisa masuk ke dalam dan bertemu mereka. Anggap saja Malka seorang mata-mata untuk menggali informasi. Kekurangannya, penjagaan di sekitar perusahaan itu sangat ketat sekarang, dan Malka sudah bukan pegawai di sana…”


Ketiga, kita berperan di balik layar. Kita menghasut para aktivis untuk melawan mereka, sama seperti yang sudah-sudah. Kekurangannya, akan ada banyak kerusuhan yang tidak terukur. Akan sulit melawannya tanpa persediaan atau persenjataan seperti yang kita punya sekarang.”

__ADS_1


“Sepertinya opsi kedua lebih masuk akal bagiku. Setelahnya kita bisa memakai opsi pertama,” balas Ellie. Aku juga sependapat dengannya.


“Bukan bermaksud pesimis, dengan segala resiko yang mungkin terjadi, bisa saja mereka sudah tahu sosok Malka yang juga berperan dalam aktivis ini,” sahut Alya.


Baru terpikir olehku. Benar juga… Bisa saja mereka ingin memancingku untuk datang ke sana, lalu menangkapku. Aku tahu betul sosok Knox yang cerdik lagi licik. Seolah-oleh Knox sudah memperkirakan semuanya. Termasuk pemadaman listrik saat ini, aku yakin betul kalau ini ulahnya.


“Semuanya sangat berisiko, ya…” gumam Leora.


“Menurutku tidak ada salahnya menjadikannya sebagai tumbal,” celetuk Zilei.


“Kau tidak boleh begitu, Zilei,” balas ibunya Alya.


Kami seperti skakmat, tiada jalan keluar yang bisa diambil. Kami tidak bisa seenaknya memutuskan. Sebenarnya pendapat Ellie cukup masuk akal bagiku. Andai saja kita bisa mengurangi resikonya…


“Aku ada ide! Kau tahu Jack bukan, Alya? Aku bisa menghubunginya dan mendapatkan informasi,” lontarku.


“Apa kau percaya padanya? Aku tidak yakin ia ada dipihakmu sekarang,” balas Alya.


“Tenang saja, dia kan teman dekatku. Tidak mungkin dia akan seperti itu,” lanjutku.


“Kau terlalu naif, Mal. Tidak ada teman dan musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan pribadi. Kau tidak tahu apa yang dia pikirkan di belakangmu, kan?” sahut Ethan.


Aku terdiam mendengarnya. Lagi-lagi itu sangat logis di benakku. Aku baru sadar kalau teman juga bisa berkhianat. Aku menjadi sangat pusing.


“Lalu, apa ada usul lain?” tanyaku.


“Wah, benar juga. Tapi aku tidak pandai memanipulasi obrolan,” lanjutku.


“Kita bisa membantumu. Aku sudah banyak berinteraksi dengan laki-laki, apalagi lelaki yang menyebalkan,” sahut Stella.


“Hah? Kalau begitu, kau tidak pandai berinteraksi namanya!” balas Zilei.


“Aduh, sempat-sempatnya…” gumamku.


Mereka berdua mewarnai perkumpulan kami. Kepalaku makin pusing mendengarnya. Suara melengking dan keras membuat telingaku sakit.


“Cukup ributnya. Sepertinya kepala kalian sudah mencapai batasnya hari ini. Bagaimana kalau kita bersenang-senang?” tutur ibunya Alya.


“Benar, kita bisa lanjut lagi besok. Saatnya bermain!” sahut Gras bersemangat.


Ibunya Alya mengajak kami ke sebuah ruangan di lantai dua. Seingatku hanya ada kamar tidur di sana. Aku menjadi heran.


“Baiklah, kita sudah sampai,” ucapnya.


“Eh? Kenapa kamar tidur?” tanya Kellos.

__ADS_1


“Aku sudah menyiapkan beberapa kertas dengan nama kita semua. Kita akan membuat dua tim,” balasnya.


Tim pertama terdapat aku, Stella, Kellos, Ethan, dan Leora.


Sementara tim kedua ada Alya, Zilei, Lena, Ellie, dan Gras.


“Aku akan menjadi juri kalian. Jika bantal atau tangan kalian menyentuh tanah, maka akan terliminasi,” jelas ibunya Alya.


“Bantal… Kita akan perang bantal?” tanyaku.


“Yap! Benar sekali!” lontar ibunya Alya.


Kami pun bersiap di kedua sisi dengan bantal di tangan.


“Bersiap… Satu, dua, tiga, mulai!”


Dimulailah permaian perang bantal itu. Aku berhadapan dengan Alya.


“Aku tidak akan menahan diri!” lontar Alya.


“Baiklah, aku tidak akan mengasihanimu!” balasku.


Sedangkan Zilei berhadapan dengan Stella.


“Huh, aku akan sangat puas bisa melihatmu menyerah ketakutan,” ucap Stella.


“Coba saja! Jangan menangis lagi, ya!” sahut Zilei.


Di sisi lain, Kellos berhadapan dengan Lena. Tanpa banyak bicara mereka langsung berlari saling mendekat. Tiba-tiba saja Lena terpeleset dan menabrak Kellos. Lena tergeletak di atas Kellos.


“Kellos dan Lena tereliminasi!”


Ellie berhadapan dengan Leora, dan Ethan berhadapan dengan Gras.


Kami bermain tak sadar waktu. Saat aku sadar, tiba-tiba saja sinar terang masuk dari luar jendela. Tak kusangka hari sudah pagi.


“Wuah… Nyenyak juga tidurku…”


Terlihat teman-temanku masih tergeletak tak beraturan. Aku turun ke lantai bawah yang ternyata sudah ada ibunya Alya di dapur.


“Selamat pagi,” sapaku.


“Siang,” balas ibunya Alya sambil memasak.


“Eh? Sudah siang?”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2