
Aku tidak menyangka kalau akan terlelap selama itu. Setelah membantu ibunya Alya menyiapkan sarapan… maksudku makan siang, satu per satu mereka turun mendatangi kami. Wajahnya sangat mirip denganku saat sadar sekarang sudah siang. Saat semuanya berkumpul, kami melanjutkan makan siang.
Tidak banyak perbincangan yang terjadi. Tampaknya mereka belum sepenuhnya sadar. Hingga akhirnya kami menghabiskan hidangan di piring. Sekarang listrik sudah pulih kembali. Televisi yang menyala tidak ada habis-habisnya mengangkat topik pemadaman listrik itu.
“Benar saja, sekarang banyak juga yang mendukung energi langit…” gumamku.
Saat ini sudah terbentuk dua kubu yang saling bertentangan. Satu mendukung lingkungan dan langit, sementara satunya mendukung energi langit sebagai energi ramah lingkungan. Cukup abu-abu memang. Mereka semua sama-sama bertujuan melindungi planet, tapi kebenaran mutlak semakin samar pada akhirnya.
Terpikir di kepalaku saat ini. Sejak satu dekade terakhir, banyak isu yang tentang lingkungan yang diangkat. Pemanfaatan energi fosil tentu berdampak buruk bagi lingkungan dan langit. Sampai akhirnya ditemukan energi langit, semua energi tak terbarukan itu diganti dengan energi langit tanpa pandang risiko.
Yah… memang tidak ada risiko yang benar-benar terlihat dengan mata telanjang. Kemudian muncullah aktivis langit, salah satunya kami. Aku yakin kalau kumpulan itu pada awalnya hanya ingin menjawab pertanyaan misterius tetang langit itu sendiri, tapi semenjak dioperasikannya menara-menara itu, banyak orang menganggap ekploitasi energi langit tentu juga berdampak pada langit juga.
Seakan-akan memakan buah simalakama. Segala kemajuan yang manusia ciptakan justru tetap membuat planet itu rusak tanpa sepengetahuan kita. Saat muncul penemuan “ramah lingkungan”, apakah itu benar-benar membuat lingkungan menjadi terjaga? Atau malah memunculkan permasalahan baru?
Sudah cukup berpikirnya. Akhir-akhir ini kepalaku dibuat pusing dengan dunia ini. Mungkin lebih baik aku melanjutkan suatu hal yang belum sempat terselesaikan, yaitu menghubungi Jack.
“Apa kita akan menghubungi Jack sekarang?” tanyaku.
“Iya. Kau bisa meletakkan telepon itu di atas meja, jadi kami bisa mendengarkannya juga,” jawab Alya.
Menggunakan telepon milik Alya, aku mencari kontak Jack lalu menekan tombol panggila—
Tunggu, tunggu. Sepertinya ada yang janggal. Banyak kejanggalan setelah aku berpisan dengan Jack kala itu. Jika aku meneleponnya sekarang, ia akan sangat terkejut saat mengetahui bahwa aku masih hidup. Apalagi ia tahu betul jadwal penerbanganku. Sementara berita di televisi mengatakan kalau tidak ada korban dalam kecelakaan itu.
Aku juga tidak memenuhi permintaannya. “Kabari aku kalau sudah sampai”, aku ingat betul dengan perkataannya waktu itu. Aku tidak bisa menghubunginya bahkan hingga detik ini. Aku tidak tahu apa pandangannya tentangku saat ini.
Aku juga tidak tahu apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Aku tidak sadarkan diri, lalu seminggu telah berlalu saatku sadar. Lebih baik kutanyakan pada mereka.
“Alya, Leora, ada yang ingin kutanyakan pada kalian,” ucapku.
“Baik, apa tidak masalah kita membicarakannya di sini?” balas Alya.
“Tidak apa-apa, sekalian supaya tidak menjelaskan dua kali,” jawabku.
“Baiklah, akan kami jawab pertanyaanmu,” lanjut Leora.
“Alya, apa kau pernah menghubungi Jack sebelumnya?” tanyaku.
“Oh iya, benar. Ia meneleponku dan bertanya tentang kondisimu. Aku tidak bisa menjawabnya, karena saat itu kau belum ke desa ini,” jawabnya.
Informasi didapat, saat ini Jack belum tahu kalau aku masih hidup.
__ADS_1
“Baik, terjawab pertanyaanku. Leora, apa yang terjadi padaku setelah kecelakan waktu itu? Bagaimana berita mengangkatnya?” lanjutku.
“Seperti yang kau tahu sekarang. Kau tidak sadarkan diri baru baru bangun seminggu kemudian. Kalau berita… Sepertinya detail kecelakaan cukup tenggelam karena tersorot oleh aktivis langit. Dan diberitakan kalau semua korban meninggal,” jawab Leora.
“Apa berita itu menyebutkan nama lengkap korban?” tanyaku.
“Iya, tapi aku hanya melihatnya sekilas. Aku melihat deretan nama-nama para korban, tapi aku tidak ingat ada namamu di sana,” jawabnya.
“Namamu ada di televisi, di dalam deretan nama itu,” sahut Alya.
“Terima kasih,” balasku.
Informasi didapat, semua nama korban termasuk aku pernah ditampilkan di televisi, tapi tenggelam oleh kegiatan aktivis langit.
Saatnya melengkapi teka-teki yang semakin melebar.Pertama tentang kondisi orang-orang yang belum tahu diriku yang masih hidup, terlebih Jack dan Knox Corp. Pastinya mereka akan bertanya-tanya tentangku. Kedua, namaku sebagai korban sudah tersebar di layar kaca, akan berbahaya jika orang-orang sadar kalau aku satu-satunya yang selamat.
Hmm… Apakah ada cara untuk menyelesaikan kedua masalah sekaligus? Jika aku menyebarkan berita diriku yang selamat, sudah pasti nanti akan ada keributan di kedua belah kubu. Bisa saja aku dipaksa oleh kedua pihak untuk menjadi alat bukti masing-masing. Jika netral, akan sangat sulit kalau ke depannya aku berpihak pada aktivis.
Baiklah, coba berpindah dahulu sebentar. Teka-teki ketiga, rencana yang sangat masuk akal bagiku adalah rencana Ethan yang kedua, memasuki perusahaan untuk mendapatkan informasi. Berarti, jawaban yang paling mendekati ialah aku menyerahkan diri pada Knox Corp.
Anggap aku menyerahkan diri ke Knox Corp, aku yakin kalau aku akan diinterogasi dan menjadi bahan propaganda mereka untuk menyulut aktivis langit. Jika begitu, maka kekurangannya aku tidak akan dipercaya oleh para aktivis. Terkecuali kalau Alya dan beberapa orang lainnya membuat semacam teori konspirasi.
Cahaya biru? Lagi-lagi aku dibawakan ke sebuah pertanyaan baru. Apakah mereka akan percaya jika aku menceritakannya? Ada rumor tentang adanya makhluk tak terindentifikasi di langit sana, seperti dunia lain di atas tanah tempaku berpijak. Berarti cahaya biru itu bisa menjawab pertanyaan sebagian peneliti yang mempercayainya.
“Malka?” tanya Alya heran melihatku terdiam.
“Maaf, aku sedang berpikir,” jawabku.
Sip, kalau begitu lebih baik aku memberitahu apa yang kupikirkan saat ini. Mereka mendengarkanku dengan saksama, terkecuali Gras yang sepertinya tidak tertarik dengan topik ini.
“Berarti kau ingin menggunakan rencana itu, tapi dalam konteks ini kau hanya sebagai korban selamat yang menyerahkan diri, kan?” tanya Alya.
“Aku juga sependapat dengan usulmu itu. Kita juga harus cepat-cepat memberitakan kalau Malka benar-benar selamat,” sahut Ethan.
“Benar, aku juga tidak mau kita diganggu oleh media,” lanjut Ellie.
“Baiklah. Aku akan menelepon Jack terlebih dahulu,” ucapku.
“Memang itu yang ingin kita lakukan sejak awal, bukan?” ujar Stella.
“Kalau begitu, persiapan sudah lebih matang,” balasku.
__ADS_1
“Kita akan membantumu bicara padanya,” ucap Leora.
Aku memberikan telepon itu pada Alya.
“Kau mulai bicara duluan, karena ini teleponmu,” ucapku.
Alya menghubungi Jack. Tidak lama kemudian, Jack mengangkatnya. Kami semua diam menyimak pembicaraan mereka.
“Siang, Jack. Bagaimana kabarmu?” ucap Alya.
“Siang, baik seperti biasa. Ada apa kau meneleponku sekarang, Alya? Oh iya, bagaimana dengan kabar Malka dan orang tuanya? Mereka dimakamkan di Mennora, kan?’
“Kau mungkin tidak percaya, tapi ini sungguh nyata…” balas Alya.
“Apa maksudmu? Apa ada sesuatu terjadi?” tanya Jack khawatir.
“Tapi, berjanjilah untuk tidak memberi tahu siapa pun,” pinta Alya.
“Baik, aku akan merahasiakannya,” balas Jack.
“Sebenarnya, Malka selamat…”
Jack sangat terkejut mendengarnya.
“Hah? Benarkah?”
“Sshh! Nanti orang-orang mendengarmu!” balas Alya.
“Tenang saja, aku sedang sendiri di sini. Tunggu, berarti Malka masih hidup?”
“Aku akan memberikan buktinya,” ucap Alya.
Ia mendekatkan telepon itu padaku. Sekarang aku berbicara padanya.
“Lama tak berjumpa, Jack,” ucapku.
“Malka? Malka!”
Jack benar-benar tidak menduganya. Kami semua tertawa kecil mendengar reaksinya.
Bersambung~
__ADS_1