
Membuka jendela, terang cahaya mentari menerangi seisi kamarku. Bersiap pagi, beranjak pamit dari Ayah dan Ibu. Membuka pintu rumah berangkat menuju kantor. Ketika ragaku hadir di kantor, aku mempersiapkan dokumen bersama Jack. Tenggatnya hari ini, lebih tepatnya satu jam lagi. Aku tidak ingin membuat Cathy menunggu.
Membuka laci, mengambil stampel dan pulpen. Kugoreskan hitam di atas putih tertanda resmi. Setelah semua siap aku pergi keluar ruangan.
“Aku akan memberikannya,” ujarku.
“Baik, syukurlah kita selesai tepat waktu.”
Membuka pintu, terlihat Cathy yang sedang duduk santai dengan bakaran gulungan daun kering di mulutnya. Aku datang menghampirinya, seraya disambut asap putih yang keluar dari mulutnya. Aku memberikan seluruh dokumen yang diperlukan untuk ditindak lebih lanjut oleh divisi mereka.
“Kau sudah menyelesaikannya?” tanya Cathy. Aku menjawab singkat. Ia bangun dari duduknya lalu membawa segulung kertas ke atas meja.
Membuka selembar peta, terlihat seluruh tempat di benua yang besar ini. Berada di tengah benua, orang-orang menyebutnya “Jantung Planet”, yakni sebuah kota besar yang sedang kupijak saat ini. Cathy mematikan bakaran itu lalu melihat empat belas tempat pembangunan menara itu.
“Centra di sini. Empat belas menara itu tersebar di seluruh bagian benua. Bisa membantuku memberi tanda?” ujarnya.
“Baik, aku akan membantumu.” Aku melaksanakan tugasku untuk membantunya. Mataku terfokus dengan peta itu. Sementara Cathy masih sedikit heran akan sesuatu. Aku menjadi penasaran.
“Apa ada masalah?”
Membuka tutup pulpen, tangannya bergerak pada suatu tempat di peta. Ia melingkarinya. Aku memperhatikannya.
“Apa menurutmu kedua titik ini tidak berdekatan? Aku pikir sepertinya tidak akan efisien, apalagi ada daerah yang cukup jauh dari menara terdekat.”
“Aku sempat memikirkan itu. Tapi jumlah energi lebih diutamakan daripada lokasinya. Solusi lain kita bisa membuat kabel dari sumber terdekat,” balasku.
“Tapi akan cukup sulit untuk melakukan perawatan dan jika terjadi keadaan darurat.” Aku baru tersadar akan hal itu. Aku berpikir untuk mencari jalan tengahnya. Kulihat titik-titik pembangunan menara yang ada di peta dengan saksama. Sepertinya ada sesuatu yang bisa kulakukan, terlebih aku menempati posisi yang memang ahli di bidang ini.
“Hmm…” Kepalaku terfokus pada dua buah titik di peta itu. Sepertinya aku menemukan jawabannya, tapi sedikit ragu. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba.
Membuka pikiran, aku menarik garis lurus dari kedua titik itu, dan terhubung pada satu tempat. Aku memberi tanda lingkaran pada tempat itu. Cathy memperhatikan tanganku. Mengusap dagu, ia menjadi heran.
“Dua garis itu bertemu di Enhaud…” Aku menarik sebuah garis lagi dari Enhaud ke daerah yang sulit terjangkau itu.
“Kau mengerti maksudku, kan?” tanyaku.
“Kau menghubungkan tempat terpencil itu dengan dua menara?” Aku pun menjelaskan gagasanku.
“Awalnya aku berpikir kalau bisa saja kita hanya menggunakan satu menara, tapi kau bilang kalau akan sulit kalau ada keadaan darurat, kan?
Anggap saja satunya lagi cadangan. Lagipula daerah itu berada di antara kedua menara itu.”
__ADS_1
“Tapi, apa anggarannya cukup? Lumayan panjang untuk membuat kabel ke Enhaud, dan kini dua kali lipat.”
Membuka dokumen, melihat anggaran untuk pembangunan menara dan segala penunjangnya. Menghitung kasar sebentar, aku cukup yakin kalau anggaran tersebut masih cukup untuk itu.
“Untung saja cukup. Tak hanya untuk kabel, tapi kita bisa membuat transmisi cabang di Enhaud. Jadi perawatan akan lebih mudah.”
Cathy melanjutkan perkataanku.
“Dan daerah itu terkenal dengan danaunya. Jika terjadi sesuatu, transmisi itu sudah berada di dekat air. Aku tidak memikirkannya sama sekali. Kau memang cerdas!”
“Baiklah, satu masalah terpecahkan,” lanjutnya.
Membuka mata lebar, melihat setiap titik menara dan jaringan-jaringan yang akan menghubungkannya ke tiap-tiap desa dan kota. Pandangan Cathy terhenti pada suatu tempat di peta. Ia tampak seperti mengingat-ingat sesuatu. Aku mengecek ulang transmisi induk yang terpencar di seluruh daratan.
“Umm… Malka.” Tiba-tiba ia memanggilku.
“Ya?”
“Seingatku di sini daerah pegunungan, dan terdapat gunung berapi aktif. Apa kau mengetahuinya?”
“Oh iya. Benar, benar, aku juga baru ingat kalau pegunungan itu disebut ‘Sabuk Ekuator’. Pemisah bagian utara dan selatan benua.”
“Aku sepemikiran denganmu. Cukup berisiko dan membutukan waktu yang lama untuk bisa menembus gunung-gunung itu.”
“Hampir mustahil kalau kita mengambil jalan memutar, jauh, jauh sekali…”
“Andai saja kita bisa menghubungkannya tanpa harus menyentuh gunung itu…” gumamku pelan. Tiba-tiba pembahasan kami teralihkan pada pintu yang bersuara.
Menutup pintu, seseorang memasuki ruangan dengan dua cangkir minuman di tangannya. Aku terheran-heran dengan tingkahnya. Orang itu menatap ke arah Cathy, sedangkan Cathy sendiri terlihat jengkel dengan kehadirannya. Ia berjalan menghampiri kami.
“Hai nona cantik, bagaimana dengan proyekmu? Aku membawakanmu secangkir kopi panas agar kau tetap bersemangat.”
“Cih, dasar Pak Tua, kau mengganggu kami. Keluar dari ruangan ini sekarang!” lontar Cathy kesal.
“Aku bukan Pak Tua! Aku Pappous, Pappous Geros!”
“Setahuku itu bahasa kuno yang artinya ‘tua’.”
“Umurku tidak berbeda jauh denganmu. Kepala enam dan dua tidak jauh, bukan? Ayolah, sekarang waktunya kita bersan—” Sontak ia tersandung oleh kakinya sendiri. Aku dan Cathy menjadi panik.
“Petanya!” seru Cathy. Aku langsung menggerakkan tubuhku.
__ADS_1
Menutupi peta itu, kopi itu menumpahi pakaianku. Untung saja peta itu baik-baik saja. Sekarang seragamku basah dengan aroma kopi yang menyengat.
“Ah! Panas!” teriakku saat terkena kopi itu.
“Malka! Kau tidak apa-apa?” Cathy berlari menghampiriku. Aku langsung membuka seragamku dan mengelap badanku. Seakan-akan tumpahan itu membakarku. Terdapat bercak merah dikulit, seperti melepuh.
“Ini semua salahmu, Pak Tua!” Ia baru beranjak setelah tersungkur ke lantai.
“Aduh… Kepalaku…” gumamnya sambil mengusap-usap kepalanya. “Oh tidak! Kopi yang kubuat sepenuh hati, tumpah semua…” Untung saja tidak ada cangkir yang pecah.
Menutup kulkas kecil, Cathy membawa sebotol minuman untukku. Aku merasa cemas melihatnya.
“Aku tidak minum,” ucapku.
“Bukan untuk diminum, tapi untuk kulit merahmu itu.” Cathy menempelkan botol itu. Terasa dingin. Setelah itu ia menempelkan plester untuk mengobatiku.
“Terima kasih.”
“Tidak masalah, kau juga sudah menyelamatkan peta ini…” Kemudian Pappous menghampiri kami berdua.
“Kalian memangnya sedang apa? Sibuk sekali…” tanya Pappous.
“Ada pegunungan di sini…” Cathy menjelaskan semuanya.
“Oh mungkin aku tahu jawabannya,” sahutnya. Aku dan Cathy lantas mendengarkannya. “Tapi aku masih belum bisa menjelaskannya sekarang. Masih dalam tahap pengembangan,” lanjutnya. Ia berjalan menuju pintu.
“Dua bulan ini kau berurusan dengan nona cantik. Bersiaplah untuk berurusan denganku nanti…”
Menutup pintu, ia pergi meninggalkan ruangan.
“Aku tidak mengerti dengan pikiran Pak Tua itu. Mentang-mentang kepala divisi…” cakapnya geram.
“Sebaiknya kita lanjutkan,” balasku.
“Aku sudah tidak ingin melanjutkannya sekarang. Kita akan lanjutkan besok.” Suasana hati Cathy berubah drastis akibat kejadian tadi.
“Baiklah, sampai jumpa,” lanjutku beranjak pergi.
Menutup pembahasan kali ini.
Bersambung~
__ADS_1