
Keesokan harinya adalah hari pertama kami bekerja. Seperti biasa aku sudah mulai berangkat ketika matahari baru saja terbit. Dengan pakaian yang rapih aku berjalan sepanjang koridor ke ruang kerjaku.
Tugas kerja pertamaku adalah membuat berkas-berkas penelitian tempat yang akan dibangun menara. Hasil penelitian dan pengamatan sebelumnya telah dikerjakan oleh perusahaan Knox yang satunya. Setelah semua berkas dan surat izin selesai, aku dan tim akan inspeksi langsung ke tempat itu. Sepertinya semua akan siap minggu depan.
Di hari pertama ini seharusnya aku telah diperkenalkan dengan asistenku. Tapi ia belum juga datang. Sembari menunggunya aku mengerjakan pekerjaanku. Ada empat belas tempat yang akan dibangun menara. Menara ini bertujuan sebagai pembangkit listrik dan energi. Knox memercayainya sebagai energi langit.
Setelah satu jam berselang tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari ruanganku. Aku menyuruhnya masuk. Aku masih belum tahu siapa yang akan membantuku menjadi asistenku.
Pintu pun terbuka pelan dan sosoknya mulai terlihat.
“Jack? Ada apa kau kemari?” tanyaku bingung.
“Saya sekarang asistenmu,” jawabnya.
Seketika aku terkejut senang mendengarnya. Ternyata teman akrabku yang menjadi asistenku. Hal yang pertama kami lakukan adalah mengobrol. Aku bertanya kepadanya apa saja yang ditanyakan Knox saat wawancara. Rupanya pertanyaan tersebut tak jauh beda dengan pertanyaan yang Knox tanyakan kepadaku.
“Apa saja yang harus kulakukan, Pak?” tanya Jack.
Aku sedikit kaget dan heran kenapa memanggilku begitu.
“Sejak kapan kau memanggilku ‘Pak’?
“Barusan,” balasnya.
“Panggil seperti biasanya kau memanggilku.”
“Baiklah, Pak,” ucapnya sambil tersenyum menahan tawa.
Aku hanya bisa menepuk jidat dan menggeleng-gelengkan kepalaku.
Kemudian aku memberikannya tugas untuk membantuku. Aku menyuruhnya untuk menelepon kepala penelitian dari proyek besar ini. Ia juga mengambil berkas yang baru saja sampai.
“Baru ada tiga tempat, ketiganya kota,” ucap Jack sambil membaca berkas yang dipegangnya.
“Oke. Lalu sisanya?” tanyaku.
“Lusa, lima hari, dan terakhir seminggu. Total ada empat kali pengiriman berkas,” jawabnya.
“Baiklah, berikan berkas tersebut kepada Kepala Bagian.”
Tak lama ia meninggalkan ruangan aku juga keluar untuk memantau. Sesekali aku juga berbicara sebentar dengan mereka. Banyak dari mereka lebih tua daripadaku. Saat istirahat makan siang aku juga saling berbagi pengalaman dengan beberapa bawahanku.
Kemudian hari-hari berjalan seperti biasa sampai sehari sebelum inspeksi.
“Sudah semua?” tanyaku sambil merapihkan surat-surat.
“Sudah. Ada empat belas tempat, di antaranya sepuluh kota dan sisanya merupakan desa,” jawabnya.
“Sebutkan empat desa itu.”
“Belhinju, Calomal, Tribey, dan Mennora,” sebut Jack.
“Tunggu. Kau sebut Mennora?” tanyaku tidak percaya.
__ADS_1
Jack mengambil berkas hasil penelitian di desa Mennora kemudian membacakannya.
“Iya, salah satu desa yang terletak di sebelah tenggara dari Centra. Kota terdekatnya adalah Lumiatia. Persentasi energi yang dipancarkan sebesar 93,74 persen.”
“Apa tidak ada tempat lain yang mempunyai persentase tak jauh dari itu?”
“Sebentar, aku akan mencarinya dari data di komputer,” jawab Jack dan memberikan berkas empat belas tempat itu lalu ia menghadap layar komputer.
Aku membaca berkas-berkas itu sembari menunggu Jack menemukan tempat selain Mennora.
“Ketemu. Suthmein, 84,31 persen.”
“Jauh sekali selisihnya. Semua kota dan desa di planet ini telah diteliti?” tanyaku sedikit panik.
“Kata mereka begitu. Desa ini berada di selatan Metlehein.”
“Coba aku lihat.”
Aku melihat layar computer yang ada di meja Jack. Setelah kulihat semua ternyata hanya ada desa ini yang memiliki persentase di atas delapan puluh persen. Sisanya di bawah itu.
Aku berusaha agar tempat kelahiranku tidak dieksploitasi.
“Ganti berkas Mennora dengan berkas yang satunya. Masukkan ke amplop,” ucapku.
“Aku akan menelepon perusahaan sebelah.”
Aku mengatakan kepada Ketua Penelitian agar tidak memberi tahu siapapun bahkan kalau bisa Mennora dihapus dari data hasil penelitian.
Kemudian aku menutup telepon. Jack menghapiriku dan bertanya.
“Apa kau yakin akan baik-baik saja?” tanya Jack resah.
“Semoga,” jawabku.
Sebentar lagi akan ada rapat untuk inspeksi besok. Aku menyiapkan semua berkas dan surat untuk dilaporkan kepada Knox. Setelah semua siap aku meninggalkan Jack yang masih sibuk menatap layar komputernya di ruanganku.
Aku bersama para Kepala Divisi telah berada di dalam ruang rapat beberapa menit sebelum rapat dimulai. Knox belum ada di ruangan. Aku menyusun semua berkas dan surat yang akan dilaporkan dan diberikan kepadanya. Pada rapat kali ini hal yang akan dibahas adalah tentang perencanaan pembangunan menara dan inspeksi besok. Anehnya, ada sebuah kursi di sebelah tempat duduk Knox.
Beberapa menit kemudian Knox memasuki ruangan. Semua orang berdiri kemudian duduk kembali setelah Knox duduk dahulu. Setelah itu Knox membuka rapat.
“Selamat siang menjelang sore. Rapat kali ini seperti yang telah saya infokan sebelumnya. Silahkan kepada saudara Malka untuk menjelaskan.”
Aku menjelaskan semua yang telah kusiapkan. Aku menyebut semua tempat yang ada dalam proyek ini. Kecuali desa Mennora yang berkasnya kusimpan di ruanganku dan kuganti dengan desa Suthmein. Namun Knox mulai curiga ketika aku menyebut desa itu.
“Tunggu. Hanya 84,31 persen? Kudengar sebelumnya kalau tempat yang memiliki persentase di atas 90 persen ada empat belas tempat,” potong Knox curiga.
“Mohon maaf sebelumnya, setelah penelitian lebih lanjut ternyata hanya ada tiga belas tempat. Itu yang kudapat dari data yang terkirim” jawabku sedikit gugup dan berusaha untuk tenang.
Seketika suasana menjadi hening. Knox masih melihat berkas dengan jari tangan kanannya mengusap dagunya. Semua Kepala Divisi menatap ke arahku. Sedangkan aku masih berusaha untuk tetap tenang sambil mengecek berkas lainnya.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Knox mempersilahkan masuk. Terlihat seorang pria muda nan tampan dengan tubuh ideal dan gagah. Tampak otot dan lekuk tubuhnya yang sempurna. Sampai-sampai Cathy meleleh melihatnya. Pria itu duduk di sebelah Knox. Kemudian Knox memperkenalkan pria itu.
“Perkenalkan ia adalah anak saya. Harry Knox. Wakil Presiden Perusahaan. Dia baru saja pulang dari Metlehein setelah mencari udara segar di tempat masa kecilnya.”
__ADS_1
Aku terkejut mendengarnya.
“Panggil saja Harry. Maaf terlambat,” cakap Harry tersenyum dan sedikit mengangguk ramah kepada kami semua.
Kami semua memperkanalkan diri kepadanya. Harry sangat ramah dan mudah diajak bicara. Namun kulihat ia membawa selembar kertas di tangannya. Sebelum rapat dilanjutkan kembali, Harry memberikan selembar kertas itu kepada ayahnya sambil berbisik kepadanya. Kami semua hanya bisa melihatnya dengan penuh kebingungan.
Knox membacakan selembar kertas itu.
“Baru saja Harry mendapat informasi dari para peneliti bahwa tempat keempat belas itu adalah sebuah desa bernama Mennora, sebesar 93,74 persen.”
Sontak aku kaget mendengarnya. Untung saja tidak ada yang melihat reaksiku. Semua orang masih memperhatikan Knox. Namun tidak bagi Harry. Tenyata ia memperhatikanku. Saat aku mengarahkan mataku padanya. Ia hanya tersenyum menyeringai. Aku hanya terdiam.
“Baiklah semua tempat yang disebutkan aku sahkan dan Metlehein diganti dengan Mennora. Empat belas tim sudah dibentuk untuk inspeksi besok. Malka, kau dapat mengikuti salah satu tim itu bersama asistenmu. Untuk Kepala Divisi lainnya tetap bekerja seperti biasa.”
Kemudian Knox menutup rapat hari ini.
“Rapat hari ini saya tutup. Sekian.”
Hari sudah mulai petang. Sebentar lagi waktunya kami pulang. Aku kembali ke ruanganku bersama dengan Harry yang ruangannya searah denganku. Sambil melangkahkan kaki, kami saling mengobrol. Namun ada pertanyaan yang kutanyakan kepadanya.
“Bagaimana kau mendapatkan berkas itu?” tanyaku penasaran.
“Entahlah. Tiba-tiba ada selembaran itu diberikan kepadaku sebelum aku masuk ke dalam ruang rapat.” jawabnya.
Seketika aku mulai berprasangka buruk kepada Jack. “Apakah ini semua ulah Jack?” dalam benakku.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Harry bingung.
“Tidak. Tidak apa-apa. Lupakan,” jawabku.
Ia kembali bertanya kepadaku.
“Kau pernah tinggal di Mennora?”
“Iya. Tempat kelahiranku. Masa kecilku banyak dihabiskan di desa itu.”
Ruanganku sudah ada tepat di depanku. Aku berpisah dengan Harry. Sebelum aku masuk ke ruangan, aku melihat langkah Harry menuju ruangannya. Terlihat gagah dan penuh wibawa. Banyak orang yang terkagum-kagum dengannya.
Aku membuka pintu, Jack masih menatap layarnya. Tugasnya hari ini hampir selesai. Aku mengecek rak meja dan berkas Mennora masih ada di sana. Aku masih bingung bagaimana ia mendapatkannya, sedangkan aku sudah memberi tahu Ketua Penelitian untuk tidak membocorkannya kepada siapapun.
Kepalaku menjadi pusing dan aku menggaruk-garuk kepalaku sambil bersiap untuk pulang.
“Ada apa, Mal?” tanya Jack dan menenangkanku.
“Tidak ada apa-apa. Besok aku akan inspeksi ke Mennora. Kau ikut denganku,” jawabku.
“Oke,” balasnya.
"Tunggu, dia tidak terkejut? Berarti dia sudah mengetahuinya?" benakku bertanya-tanya.
Aku pun pulang menuju rumahku dan menyiapkan segala persiapan untuk inspeksi besok. Malam ini aku tidur lebih awal dari biasanya supaya aku tidak bangun tidur kesiangan.
Bersambung~
__ADS_1