Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Malam Benderang


__ADS_3

Bergegas langkah keluar dari gedung ini. Bersama pengawal kerajaan, mengiringi rasa duka atas berpulangnya Sang Raja. Setiap langkah kami tidak terhindar dari suara tangisan keluarga Baginda. Sesaat tiba di lantai dasar, tepatnya di depan pintu keluar, terlihat ada banyak kerumunan di hadapan kami.


“Arghh!”


Seketika tangan Leora menjadi lumpuh akibat gelombang yang datang entah dari mana. Kerumunan yang tampak samar itu sepertinya sedang memperhatikan kami.


“Apa yang terjadi?” tanya Ellie. Kami semua kebingungan dengan semua yang terjadi sekarang. Suasana hening sekejap sebelum terdengar seruan dari kejauhan.


“Pengkhianat!”


Aku terkejut mendengarnya. “Apa maksud kalian?”


“Kami sudah tahu segalanya! Ternyata kalian sama busuknya!”


“Tidak! Kalian salah paham! Dengarkan kami dul—”


“Serang…!”


Siapa sangka, semula kami bersama-sama menempuh ke tujuan, namun seketika berbalik seratus delapan puluh derajat. Pertikaian antar sesama kami tak terelakkan. Jumlah mereka yang banyak cukup membuat kami kewalahan.


“Swerts!”


Pipiku langsung terasa perih terkena tebasan pedang tepat di depanku. Aku kaget, mereka serius ingin menyerangku. Serangan serupa bertubi-tubi mengarah kepadaku. Aku menghindar sebisaku, tapi tak semua terhindarkan.


“Kalian salah paham. Knoxlah yang membunuhnya.”


“Pembohong! Jelas-jelas Baginda mati di tanganmu.”


Adu mulut antara aku dan mereka yang tak kunjung percaya. Rasa sakit yang kurasakan membuatku geram pada mereka. Ucapan lantang terlontar dari mulutku sambil menebas pedang dengan kuat.


“Dengarkanlah dulu!”


“Arghh!”


Sontak lantai penuh dengan percikan darah. Mereka sudah tak berdaya lagi melawanku. Tapi wajah mereka seakan masih tetap ingin melawanku. Aku berlari ke arah mereka seraya menghunuskan pedang.


“Rasakan ini…!”


Tertutup matanya memohon keajaiban pada nyawanya.


“Tidak…!”


Tiba-tiba seseorang menahanku dari belakang. “Hentikan, Malka. Tenangkan dirimu,” ucap Stella tepat di samping telingaku. Aku masih ingin memberi mereka pelajaran.


“Lepaskan aku.”


Stella menarikku menjauh dari mereka. Jumlah mereka seperti tidak berkurang sama sekali. Sementara aku hanya menyaksikan bersama Stella yang masih menahanku. Kepala pengawal kerajaan datang dan menyampaikan sesuatu.


“Kalian cari Knox. Biar kami yang mengurus di sini. Mereka akan segera mengerti.”


Kami menjauh dari medan pertempuran itu. Padahal aku sudah tidak melihat seorang pun petugas dan pasukan milik Knox, melainkan perang antara aktivis yang kini terpecah belah. Terjawab mengapa semua ini terjadi. Insiden yang terekam kamera pengawas itu di tayangkan di semua layar besar. Pada sebuah jalan kecil, kami berhenti sejenak.


“Tak kusangka akan seperti ini…” gumam Ethan.


“Kau terluka banyak,” ucap Alya sambil mengobatiku dengan kotak pertolongan yang masih tersisa di tasnya.


“Terima kasih, aku baik-baik saja.”


“Kita akan pergi ke mana sekarang?” tanya Sara.


“Apa kau tidak tahu tempat persembunyiannya, Malka?” lanjut Ellie. Aku menggeleng-gelengkan kepala padanya.


Malam masih panjang, namun kini purnama hilang dari tertutup tirai kapas di langit sana. Dinding-dinding bangunan tinggi menutup terang lampu ke jalan ini. Kala sunyi tak berbunyi keramaian, selain kami yang diskusi sambil sembunyi.


Hingga sesuatu terjadi, percakapan kami terhenti karenanya.

__ADS_1


“Cahaya dari mana ini?” tanya Gras.


“Ada senter di sana,” sahut Zilei santai.


Sebuah sinar biru menembus awan. Teramat terang seperti siang, namun berwarna biru. Setiap sudut kota menjadi terang, termasuk tempat kami berdiri saat ini.


“Apa yang sedang terjadi, Cast?” ucap Ethan melalui radio komunikasi.


“Kellos, Lena, kau mendengarku?”


“Aku tidak mendengar suaramu di radio,” sahut Alya.


“Tak berfungsi sama sekali… Apa karena sinar biru itu?” lanjut Leora. Aku mencoba menggunakan pedangku, aku tidak merasakan ada energi langit sedikit pun.


“Pedangku juga tidak ada energi langit…” gumamku.


Seketika seluruh lampu di kota ini padam, namun tetap terang karena sinar biru itu. Kurasa semua ini memang karena sinar itu. Ada yang janggal, sepertinya aku menyadarinya.


“Jangan-jangan…”


“Ini semua ulah Knox?” sambung Zilei.


“Knox sudah memulai eksplorasinya,” balasku.


“Kita harus bergegas ke sana,” ucap Lukas.


Kami keluar dari persembunyian jalan kecil itu lantas bergegas menuju sumber sinar itu. Sinar yang amat besar, terlihat dekat namun tidak begitu. Aku sudah tak mendengar lagi keributan di dekat gedung Knox itu. Terdengar kecil suara pengeras suara, “Knox membunuh Paduka Raja.”


“Akhirnya semua kesalahpahaman itu selesai,” gumamku.


Lumayan menguras tenaga untuk bisa sampai ke sinar itu. Setelah merasa kelelahan, kami tiba di dekat sinar itu berasal. Alat yang tampak tak asing, tapi jauh lebih besar dari yang pernah kulihat di menara. Tempat itu tertutup oleh pagar yang mengelilinginya. Kami tak bisa masuk lantaran ada banyak pasukan Knox di sana.


“Kita tidak langsung menyerangnya?” tanya Gras.


“Tahan dulu, senjata kita juga tidak berfungsi,” jawab Ethan.


“Itu alat untuk bisa ke langit?” tanya Alya.


“Kelihatannya begitu, kita harus ke sana juga,” jawabku.


“Kita akan masuk setelah mereka tinggal sedikit sebelum cahaya itu hilang. Yang pasti kita akan melawan mereka sebentar. Ada ide lain?” papar Ethan.


“Aku tak yakin kalau cahaya itu bisa hilang,” sahut Athar.


“Jaga-jaga saja. Selama jumlah kita tak jauh beda, ku yakin kita bisa melawan mereka dengan fisik saja,” lanjut Ethan.


“Berarti tidak semuanya ikut bertarung?” tanyaku.


“Beberapa tetap di sini saja,” balas Alya.


“Aku ingin ikut, aku sudah bisa menggerakkan tanganku sekarang,” sahut Leora.


“Kau tetap di sini saja, cukup berisiko di depan sana,” balas Zilei.


“Sombong berkedok perhatian,” sindir Stella.


Beberapa waktu berlalu, jumlah mereka sudah kian menipis. Ethan langsung memberi aba-aba untuk menyerangnya diam-diam. Aku sudah cukup dekat dengan targetku.


“Cetrum!”


Lampu tembak menyilaukan mata mengarah kepada kami. Aku yang sedang menunduk sontak terdiam bagai patung. Mereka langsung menodong senjata gelombang. Kami mengambil posisi siap melawan.


Seseorang muncul di tengah kesilauan lampu itu. Bayangan hitam, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.


“Lama tak berjumpa, Mantan Kepala Divisi…”

__ADS_1


Aku sangat kenal dengan suara ini. Sosoknya juga persis sama dengan orang itu. Aku yakin dialah orangnya.


“Lama tak berjumpa, Lydia Aralle.”


“Aku tidak punya banyak waktu untuk menyambutmu, Malka.”


“Ini sudah sambutan yang mengejutkanku.”


Ia mengarahkan senjatanya kepadaku. Zilei yang melihatnya lantas tertawa.


“Huh, senjata seperti itu takkan beker—”


Asap hitam keluar dari senjata itu. Aku tidak sempat menghindar—


“Arghh…!”


“Malka!”


“B—Bagaimana bisa?” gumam Alya tak percaya.


“Aaaaa! Aaaaa!”


Aku berteriak tiada henti. Seluruh tubuhku terasa sakit sekali. Bagaikan pisau yang menusuk-nusukku dari dalam. Aku bertekuk lutut dan pandanganku semakin samar. Tumbang diriku tergeletak di atas tanah, namun aku masih bisa mendengar.


“Sekarang giliran kalian,” ucap Lydia.


Aku bisa mendengar suara teman-temanku melawan pasukan itu. Lantang pasukan yang kesakitan sering terdengar.


“Semoga kalian bisa memenangkannya…” ucapku dalam hati. Pandanganku semakin gelap. Tubuhku seakan sudah mati rasa.


“Malka! Malka!”


Aku langsung tersadar lagi, tapi masih saja samar-samar.


“Anggap saja seri. Aku harus pergi sekarang,” ujar Lydia kemudian masuk ke dalam sinar biru itu.


“Tunggu!” lontar Gras menghampirinya, namun sinar itu langsung hilang. Seluruh sudut kota benar-benar gelap, sebelum akhirnya lampu kembali menyala.


“Arghh!”


“Malka!” lontar Alya di hadapanku.


Rasa sakit kembali muncul. Aku penasaran dengan alat itu. Sontak aku memaksa diri terseret di atas tanah untuk bisa mendekati alat itu. Alya kaget sekejap langsung membantuku. Aku sudah bisa melihat sedikit-sedikit.


“Senjata apa yang mereka gunakan? Kukira sama dengan senjata gelombang biasa,” tanya Sara heran.


“Ini sama yang dipakai Harry malam itu…” gumam Leora. Ada beberapa asap hitam yang membekas di atas tanah. Ellie mendekatkan tongkatnya pada asap itu.


“Buzztt!”


Ellie langsung melempar tongkat yang seketika bercahaya itu.


“Apa yang terjadi, Ellie?” tanya Leora.


“Ini energi langit, tapi jauh lebih kuat,” jawab Ellie.


Aku menemukan selembar kertas terselip di tepi alat itu. Aku langsung memberikannya kepada Alya. Alya pun membacakan kertas itu.


“Ruang kontrol darurat. Aku yakin kau bisa mengatasinya.”


“Apa maksudnya?” tanya Gras.


Aku belum bisa melihat jelas tulisan itu. Namun ku yakin, satu-satunya kawan di Knox Corp hanyalah Jack. Aku tersenyum menyadarinya.


“Sempat-sempatnya kau memikirkan kami, Jack…”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2