
Kala malam sejuk tiba, sepanjang sungai penuh dengan cahaya jingga dari lampu-lampu. Banyak lampu tergantung melintang di atas sungai. Sebelumnya Zilei dan Sara sempat menolak untuk ikut, untung saja Leora berhasil memaksanya. Pada akhirnya, kami semua terperangah dengan keindahan ini.
Terlihat ragam pantulan berkilau di permukaan air. Aku merasa seperti berada di tengah kehangatan meskipun nyatanya tidak begitu.
“Wah, tidak kusangka malam hari akan seperti ini!” ucap Alya.
“Beruntungnya kita dapat mengunjungi kota ini,” balasku.
Kemudian terlihat jembatan yang sudah aku dan Leora kunjungi tadi sore.
“Indah sekali! Ayo kita ke sana!” teriak Leora sangat membara. Telingaku menjadi bising mendengar teriakan itu tepat di sampingnya.
Setelah mengabadikan kenangan di tempat itu. Kami lanjut berlayar bersama pengendara yang sama. Aku baru tersadar kalau semua perahu mengarah sama dengan kami. Sepertinya akan sangat ramai nanti.
“Eh? Kenapa berhenti?” tanya Alya.
Tampak di sekitar kami banyak perahu berbaris dan terhenti. Seketika mengingatkanku dengan jalan raya di Centra.
“Bahkan sungai juga bisa macet?” lontar Lukas tak percaya.
Terdengar suara klakson perahu yang membuat keributan ini semakin berwarna. Terdengar bising tentunya, tapi ini berbeda dari apa yang kualami dari dalam kendaraan jalan. Sering kali juga kami menyapa orang lain di perahu yang berada di samping. Ada banyak perahu yang sangat kecil untuk para pedagang berjualan di tengah kemacetan.
“Udang bakar tiga tusuk,” ujar Zilei pada pedagang itu. Sementara Leora memanggil pedagang lain yang menarik perhatiannya. “Aku ingin sup rumput laut,” ucapnya.
“Kau ingin beli apa, Malka?” tanya Alya.
“Ada banyak jualan di sini, aku jadi bingung,” jawabku.
Seketika mataku tertuju pada sebuah perahu pedagang dengan poster bertuliskan “Sup Ikan”. Aku langsung memanggil pedagang itu lalu memesannya.
“Apa kau mau juga?” tanyaku pada Alya.
“Kelihatannya enak. Aku ingin mencobanya,” jawabnya.
Lalu dua mangkuk sup hangat dihidangkan kepadaku dan Alya. Tampak uap dari atas sup itu. Aromanya yang harum membuat kepalaku tenang, namun tidak dengan perutku.
“Slurp…!”
Kuah yang hangat itu masuk ke dalam mulutku. Tubuhku langsung terasa hangat. Memang sangat cocok untuk hawa dingin seperti ini. Rasa gurih dari ikan membuatku terus menyendok sup itu tanpa henti.
“Wuah…! Nikmatnya…” gumamku.
“Ahh… Hangat…” sahut Alya.
Setelah beberapa saat bersantap, kami mengembalikkan mangkuk itu. Perahu kami dapat berlayar perlahan. Udara di sini benar-benar sejuk, berbeda dengan kemacetan kota yang penuh dengan asap knalpot.
“Tadi kau beli apa?” tanyaku pada Lukas dan Sara.
“Aku beli jagung dan kacang rebus?” jawab Lukas.
“Makanan itu ada di mana-mana, lho. Kenapa kau tidak mencoba makanan khas kota ini?” lanjutku heran.
“Entah kenapa aku sangat ingin makan itu di suasana seperti ini,” jawabnya.
__ADS_1
“Bagaimana denganmu, Sara?” tanyaku.
“Oh, kalau aku beli puding ini. Rasanya tidak terlalu kuat, hanya sedikit manis,” jawab Sara sambil memegang puding itu. “Kau mau mencobanya?”
“Baru pertama kali aku melihat puding seperti ini,” jawabku menerima puding itu. Hal pertama yang kulakukan ialah mencium aroma puding itu.
“Hmph! Kuat sekali baunya,” hembusku. Baunya tidak seperti puding pada umumnya. “Coba saja dulu,” balas Sara. Aku pun mengambil suapan pertama.
Rasanya memang sedikit manis, seperti yang Sara katakan. Aku juga bisa mengecap rasa pahit yang sangat samar. Ada sedikit bau amis, sih. Tapi entah kenapa aku suka dengan rasa ini.
“Biasanya aku suka manis, tapi rasa ini tidak buruk,” ucapku.
“Habiskan saja. Aku masih punya lima,” balas Sara.
“Wah, kau beli banyak sekali,” ujar Lukas.
Sara pun memberi kami masing-masing satu untuk mencobanya. Leora tidak biasa dengan bau amis hanya mampu mencoba suapan kecil sekali saja.
“Aku belum pernah mencoba rasa ini sebelumnya. Rasa apa ini?” tanya Alya penasaran, begitu pula denganku dan yang lain.
“Unik bukan? Puding ini rasa darah ikan. Aku baru tahu kalau darah ikan juga bisa dibuat jadi puding lezat seperti ini,” jawab Sara.
“Splurt!”
Aku, Alya, dan Lukas langsung menyemburkannya dari dalam mulut. Rasa jijik langsung menggantikan semua rasa yang sebelumnya kupikir enak.
“D—Darah?” lontar Alya tak percaya. Sedangkan Leora yang mendengar sekejap muntah ke sungai. Tingkah kami menarik perhatian orang-orang di perahu sekitar.
“Kau tidak apa-apa, Leora?” tanyaku khawatir.
Tampak wajah mereka yang seketika lemas, termasuk aku. Jauh berbeda dengan Sara yang sangat menikmatinya dan Zilei yang memasang wajah datarnya lagi.
Kami sudah berada dekat pelabuhan, artinya teater itu sudah tak jauh lagi. Terlihat perahu-perahu besar yang menepi di dermaga. Kami tidak bicara banyak karena masih syok dengan puding darah itu.
“Kita sudah sampai!” lontar Sara bersemangat.
Perahu kami pun menepi, satu per satu Sara dan Zilei melangkah keluar.
“Kalian ingin menonton teater ini, bukan? Cepatlah keluar,” ujar Zilei.
Kami keluar dari perahu dengan wajah lesu. Hingga akhirnya pandangan kami membuat kami lupa dengan kejadian tadi.
“Woah! Ramai sekali!” seru Leora.
Kami langsung bergegas menuju tempat duduk teater. Siapa pun bisa duduk di sana, tidak dikenakan biaya apa pun. Sangat ramai sekali di sini. Aku jadi kelimpungan. Setidaknya aku masih bisa melihat Alya dan mengikutinya.
“Loh, itu bukan Alya? Ke mana mereka semua?” benakku saat menyadarinya.
Terdengar suara teriakkan yang semakin jelas.
“Permisi! Permisi!”
“Per—”
__ADS_1
“Aduh!” lontarku.
Aku terjatuh karena ditabrak oleh seseorang. Aku merasa baik-baik saja, tapi orang itu masih berada di atas tanah.
“Ah…” hembusnya kesakitan. Ia mengulurkan kakinya. Tampak sebuah ruam di sana.
“Sepertinya kakimu terkilir. Aku akan menggendongmu. Kau sedang pergi ke mana?”
“Aku sedang buru-buru. Kumohon antarkan aku! Aku akan menunjukkan jalannya,” jawabnya. Tanpa pikir panjang aku langsung menggendongnya.
Jalan yang ia tunjukkan seperti mengitari tempat duduk itu. Aku tidak tahu ke mana tujuannya. Kami pun berada di sebelah panggung lalu memasuki sebuah gerbang yang dilarang untuk pengunjung. Ia menunjukkan seperti tanda pengenal ke penjaga itu.
Saat memasuki sebuah ruangan, ada banyak orang di sana. Mereka terkejut melihatnya dan langsung menghampiri kami.
“Cast!” seru mereka.
Mereka tampak sangat panik melihat kondisi orang yang kuselamatkan barusan. Ia hanya duduk di kursi sembari diobati oleh tenaga medis yang berjaga.
“Ia baru akan pulih setelah tiga hari,” ucap dokter.
“Tiga hari? Apa tidak cara agar dia bisa tampil sekarang?”
“Sial! Kenapa harus seperti ini…?”
Kemudian mereka berpaling menatapku. Aku merasa takut dilihat serius oleh mereka.
“Apa kau bisa menggantikan Cast memerankan perannya nanti?” pinta perempuan itu sungguh-sungguh. Aku merasa tidak enak untuk menolaknya.
“Perannya seperti apa?” balasku.
“Kapten. Tidak sulit, kok. Kami sangat memohon padamu…”
Sontak aku terkejut mendengarnya.
“K—Kapten? Apa itu artinya aku menjadi pemeran utama?”
“I—Iya…”
Aku terdiam tanpa kata-kata. Aku tidak tahu harus membalas apa.
“Kumohon… Nama baik kota ini bergantung pada pentas malam ini.”
“B—Baiklah… Tapi aku tidak menjamin kalau aku bisa memerankannya,” balasku.
“Apa kau bisa improvisasi? Bolehkah kau tunjukkan sekarang?”
Aku pun melakukan sebuah baris kalimat sambil memerankan seorang kapten.
“Wah! Bagus sekali! Kau tampak sangat cocok dengan peranmu!”
“Masih ada setengah jam sebelum mulai. Kuharap kau bisa mengingatnya baik-baik. Cukup bagian penting-pentingnya saja jika menurutmu sulit dihafal. Kami sangat bergantung padamu!”
Di lain sisi, Alya dan yang lainnya sudah menempati tempat duduk. Mereka mendapat letak bangku yang berada di tengah. Seketika Alya menjadi cemas saat tahu kalau aku menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
“Di mana Malka?”
Bersambung~