Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Tempat Kelahiran


__ADS_3

Sang fajar telah bangun. Suara keramaian lalu-lalang mulai terdengar. Aku bangun dari kasurku dan bersiap untuk pergi. Setelah rapih-rapih dan sarapan aku pun pamit kepada orang tuaku kemudian pergi menuju bandara.


Rute yang kulewati untuk menuju Mennora sama dengan saat aku pergi dari Mennora menuju Centra. Hanya saja kali ini berbalik dari Centra menuju Mennora. Banyak waktu perjalanan kuhabiskan untuk beristirahat.


Setelah berjam-jam lamanya di perjalanan, akhirnya tidak lama lagi aku sampai di tempat kelahiranku. Aku bersama timku mengadakan rapat di dalam kereta sebelum akhirnya sampai. Tak lama kemudian terdengar suara jeritan roda kereta yang menandakan kereta akan berhenti.


Kami pun melangkahkan kaki kami keluar dari gerbong kereta dan langsung menuju penginapan yang satu-satunya ada di desa ini. Sebagian dari timku ada yang ingin beristirahat terlebih dahulu. Sedangkan aku dan sebagiannya lagi bersiap untuk inspeksi desa ini.


Satu jam berselang tapi kami belum menemukan tempat yang kami inginkan. Aku juga tidak melihat teman-temanku. Terpikir di benakku apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Aku ingin mencari mereka dan mengobrol sebentar, tapi tugasku belum selesai.


Beberapa waktu kemudian datang sebagian timku dan mereka memberitahu kami bahwa mereka telah menemukan tempat yang sesuai. Kami pun melangkahkan kaki ke tempat yang mereka katakan itu.


Saat jalan langkahku melangkah, terdengar suara teriakan seseorang memanggil namaku. Ternyata ia tidak lain dan tidak bukan adalah penjual toko perkakas. Aku pun menanggapinya.


“Malka! Apa kabar?” teriaknya.


“Baik!”


“Lama tak berjumpa!”


“Padahal belum ada setahun, lho…!” balasku tergelitik tawa. Kemudian teman setimku bertanya heran kepadaku.


“Itu tadi temanmu?”


“Iya,” jawabku.


“Kau tinggal di sini?” tanya salah satu dari mereka lagi.


“Ini tempat kecilku,” jawabku.


Kami pun mengobrol bersama sambil berjalan menuju ke tempat itu. Terlihat panorama hijau pedesaan. Udara yang terhirup terasa segar dan menyejukkan, jauh berbeda dengan udara di perkotaan. Sepanjang langkah itu pula lagi-lagi mereka tak terlihat di hadapanku.


“Apa mereka sedang sibuk?” gumamku.


Pada saat yang sama aku melihat rumahku dulu. Rumah itu sudah terlihat sedikit usang dan sudah ada tanaman belukar yang tumbuh di halaman. Rumput telah tumbuh cukup tinggi lalu sekejap aku kembali teringat dengan semua kenangan di tempat ini. Aku menjadi tidak fokus dan tak sengaja menabrak seseorang.


“Ah! Maaf!” lontarku.


“Tidak mengapa, aku juga minta ma—”


“Malka!” teriak orang itu dan membuatku kaget.

__ADS_1


“Gras? Akhirnya aku melihatmu!” balasku senang. Seketika suasana menjadi cair dan kami saling mengobrol.


“Lama kita tak ketemu! Kau sedang sendiri saja?” tanyaku.


“Iya, aku baru saja dari tempat kumpul tadi. Bagaimana denganmu? Tumben sekali kau kembali dengan pakaian rapi.”


“Yah… Aku sedang ada pekerjaan di sini… Hehe…” Gras menjadi penasaran terhadapku.


“Wah! Pekerjaan apa itu?”


“Aku bekerja di Perusahaan Knox.”


“Knox?” Lalu terdengar suara seseorang dari timku yang memanggilku.


“Malka! Cepatlah! Waktu kita tidak lama!”


“Baik aku akan segera datang!” sahutku.


“Maaf, Gras. Aku sedang sibuk sekarang. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti.”


“Tak masalah, aku memaklumimu. Aku akan bilang pada Alya dan yang lainnya untuk memberi surat padamu.”


“Oke! Sampai jumpa!”


Tak lama berjalan kaki akhirnya kami tiba di tempat yang dimaksud. Terlihat beberapa anggota timku sedang melakukan pengecekan dan pengambilan sampel untuk diuji lebih lanjut di laboratorium nanti. Jack yang sudah lebih dulu di sini lantas datang menghampiriku.


“Kau bertemu teman-teman?” tanya Jack.


“Ya, tadi aku bertemu Gras. Kau?”


“Aku tidak melihat siapa-siapa tadi. Hanya sapaan dari masyarakat di sini,” jawabnya.


Kemudian seorang anggota tim mendatangi kami lalu memperlihatkan hasil yang keluar dari alat tersebut.


“Hanya meleset sekitar nol koma saja, Pak.” Aku masih belum terbiasa di panggil dengan sebutan “Pak”.  Jack yang ada di sampingku hanya mendengarkan.


“Baiklah, masukkan ke dalam data dan lakukan sesuai rencana.”


“Siap, Pak!” Orang itu kembali melakukan pekerjaannya. Aku kembali menghadap Jack lalu berbicara sebentar sebelum akhirnya melanjutkan pekerjaan. Suasana lapangan menjadi ramai dengan suara bising seperti sedang ada proyek pembangunan.


Tanpa sepengetahuan siapapun, sebenarnya aku membawa sebuah alat kecil yang dapat mengonversikan energi langit menjadi energi listrik. Aku masih bingung dengan cara kerja alat ini. Aku pergi menjauh dari orang-orang. Kuletakkan alat tersebut di atas tanah. Tertulis di petunjuk kalau aku hanya perlu menancapkan pangkal alat ke dalam tanah.

__ADS_1


“Apakah seperti ini?” benakku heran. Lalu aku menyalakan alat itu dan memperhatikannya. Sesekali aku melihat sekitar untuk memastikan kalau tidak ada yang menyadari perbuatanku.


Alat itu bekerja seperti penghisap, bahkan aku mengira kalau itu tidak berbeda dengan mesin penghisap debu. Aku tidak tahu apa yang dihisapnya. Tidak mungkin hanya udara, kan? Tapi saat aku mendekatkan jariku ke sana tidak ada sensasi seperti dihisap. Lantas apa yang dihisap?


Aku mencoba membuat asap dari kertas yang telah dibakar sedikit. Anehnya, asap itu hanya melayang terbawa angin seperti biasa. Jadi, apa yang dimaksud dengan energi langit? Aku tidak dapat memahaminya sama sekali. Sebelumnya juga belum ada keterangan resmi dari hasil penelitian alat ini. Aku pun juga diminta Kepala Penelitian untuk ikut serta meneliti alat ini, namun hingga detik ini aku belum bisa menarik kesimpulan apapun.


Aku sadar kalau aku tidak bisa berlama-lama melakukan penelitian rahasia ini. Pada akhirnya aku menyudahi percobaan alat tersebut untuk hari ini. Tiba-tiba saja Jack datang kepadaku lagi. Untung saja aku sudah membereskan semuanya.


“Semuanya sudah siap, tinggal validasi ulang. Kalau sudah selesai, tahap pra konstruksi selanjutnya bisa dilaksanakan besok.”


“Baik, terima kasih laporannya,” balasku.


Langit senja telah tampak dan kami merapihkan alat-alat. Semenjak turun dari kereta, aku belum mengunjungi penginapan tempat kami bermalam. Beberapa anggota lainnya telah berada di sana sejak awal sekaligus membawakan barang-barang bawaan kami semua. Sebelum meninggalkan lapangan kami mensterilkan sekitar lalu berkumpul dahulu.


“Baiklah, kita akan berkumpul lagi setelah jam makan malam di ruang kumpul penginapan. Kita akan membahas pekerjaan kita besok. Mengerti?”


“Mengerti, Pak!”


“Bubar, jalan!”


Aku menyaksikan mereka semua pergi keluar dari lapangan. Aku menjadi yang terakhir. Sembari menikmati pemandangan, aku melangkah pelan. Tanpa sadar langit sudah mulai gelap dan lampu-lampu sudah menyala. Kehidupan yang aku lihat saat ini tidak berbeda sejak terakhir aku meninggalkan desa ini.


Akan tetapi aku tidak melihat teman-temanku sama sekali, selain Gras tentunya. Apa mereka sedang ada kesibukan? Aku tidak tahu apapun yang terjadi setelah meninggalkan mereka saat itu. Aku sedikit merasa bersalah karena tidak mengabari apa-apa selama aku berada di Centra.


Setelah memikirkan teman-temanku, sekilas terlintas di benakku tentang alat yang sedang kubawa ini. Masih belum terpecahkan. Mungkin aku bisa memikirkannya sekarang sambil berjalan. Energi langit, sepertinya aku pernah melihatnya di buku tentang langit yang pernah kubaca. Aku tak tahu pasti, tapi istilah itu terasa tak asing bagiku. Mungkin aku akan membacanya saat di penginapan nanti.


Lagi-lagi aku tidak memperhatikan sekitar yang ternyata sudah amat sepi. Toko-toko sudah tutup, suara kebisingan sudah tak terdengar lagi.


“Sepertinya aku harus bergega—” Tiba-tiba aku ditarik oleh seseorang ke sebuah gang kecil. Pandanganku samar karena terlalu gelap di sini.


“Siapa kau—” Mulutku langsung didekap oleh tangannya. Aku tidak bisa melakukan perlawanan. Seakan-akan tubuhku sudah dikunci olehnya.


“Sshh! Tenang, tenang!” bisiknya.


Perempuan? Jelas sekali kalau itu suara perempuan. Tapi dia tampak sudah sangat jago bela diri. Apa dia salah satu temanku? Tidak, tidak. Tidak seharusnya dia memperlakukanku seperti ini. Entah, kepalaku pusing dengan keraguanku sendiri. Akhirnya aku tenang menuruti perkatannya. Ia melepas tangannya dari mulutku.


“Siapa kau?” tanyaku agak lantang.


“Sshh! Sudah kubilang jangan berisik!” Ia menyalakan senter lalu menyoroti wajahnya di tengah kegelapan. Sontak aku melompat kaget.


“Ellie? Kenapa kau melakukan ini?”

__ADS_1


“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.”


Bersambung~


__ADS_2