Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Kehilangan


__ADS_3

Padanganku masih belum jelas, terlihat seperti keramaian yang berlarian ke sana kemari. Sebuah cahaya terang menyala tepat di depanku. Tubuhku terasa hangat, mungkin berasal dari cahaya itu. Saat mulai tampak jelas, yang pertama kulihat adalah kepala pesawat yang terperusuk ke tanah. Pada saat itu aku teringat pada Ayah dan Ibu.


“Ayah! Ibu! Di mana?”


Namun gerakku tertahan oleh wanita yang ada di depanku.


“Tenanglah… Tenanglah… Kau tidak boleh banyak bergerak.”


“Ayah! Ibu! Aku ingin melihat mereka!”


Terlihat beberapa tandu yang membawa orang-orang yang sudah tak terbentuk lagi.


“T—Tidak mungkin… Tidak mungkin, kan? Tidak mungkin!”


Seketika pandanganku semakin gelap. Saat aku membuka kedua mata, ternyata aku sedang berbaring. Kutengok samping, ada seorang wanita yang tak tampak asing bagiku.


“Syukurlah kau sudah bangun…”


“Sekarang aku di… rumah sakit?”


“Iya… Untung kau baik-baik saja sekarang,” jawabnya sambil mengangkat telepon. Tak lama dokter pun datang, lalu mengecekku. Pada saat yang sama aku kembali teringat.


“Ayah! Ibu!” Aku langsung beranjak duduk. Sontak mereka berdua kaget. Mereka berusaha untuk menenangkanku. Tapi aku tidak bisa menahannya.


“Tapi Ayah dan ibuku baik-baik saja, kan?”


Perempuan itu tersenyum seraya mengelus-elus kepalaku.


“Tenang saja, aku akan mengantarmu pada mereka nanti…”


“Siapa kau?” tanyaku pelan.


“Leora…” Nama itu sepertinya tidak asing di kepalaku, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Saat ini pikiranku penuh dengan kekhawatiranku pada Ayah dan Ibu. Seluruh bayangan buruk terus berputar di benakku.


“Sudah berapa lama aku di sini?”


“Satu minggu,” jawabnya.


“Satu minggu?” balasku terkejut.


Dokter telah usai mengecekku. Kemudian ia mendekati Leora.


“Dia baik-baik saja, mungkin besok sudah bisa keluar dari sini.”


“Baik, terima kasih, Dok.”


Keesokan harinya aku sudah bisa keluar dari ruangan. Leora ikut membantuku beranjak dari tempat berbaring. Aku sudah bisa berjalan seperti biasa. Pintu ruangan tertutup, aku kembali bertanya sambil melewati lorong.


“Terima kasih sudah menolongku hingga sekarang, aku berutang padamu,” ucapku.


“Tidak perlu, aku hanya ingin menolongmu.”


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau tampak tidak asing bagiku.”


“Hmm… Mungkin saja. Aku juga merasa seperti bukan pertemuan pertama kita.”

__ADS_1


“Jadi, di mana Ayah dan ibuku?” lanjutku.


“Mereka tidak ada di rumah sakit, aku akan mengantarmu.”


Saat berada di ruang lobi, seorang dokter mendatangi kami. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi Leora dan ia sepertinya sudah saling kenal.


“Hai, perkenalkan aku Kachia Iremia. Aku akan mendampingimu selama beberapa waktu ke depan. Salam kenal!” Ia tampak sangat bersahabat denganku.


“Aku Malka. Salam kenal.”


Mereka membawaku ke depan rumah sakit dan menaiki kendaraan. Aku tidak tahu tujuan kendaraan ini berjalan. “Kita akan pergi ke mana?”


“Ke tempat Ayah dan ibumu berada,” jawab Leora.


Sepanjang perjalanan, aku hanya melihat hamparan yang luas. Beberapa rumah yang kami lewati terlihat tidak asing denganku. Apa aku berada di Mennora? Sebuah pedesaan kecil, tapi aku merasa kalau desa ini sedikit berbeda. Mungkin aku berada di desa juga, hanya saja mirip dengan Mennora.


“Sebentar lagi kita akan sampai.”


Aku tidak melihat rumah atau bangunan apapun, hanya ada pepohonan di sekitar sini. Tiba-tiba saja Kachia memberiku beberapa macam obat. Aku diminta untuk meminumnya.


“Aku sakit apa?”


“Kau tidak sakit. Hanya saja kau sedang di masa pemulihan, ini berguna untuk membuatmu merasa lebih baik.”


Aku pun meminumnya. Seketika tubuhku terasa sejuk, napasku sangat lega, dan pikiranku amat tenang. Pada akhirnya kami tiba di tujuan.


“Pemakaman?” tanyaku heran.


“Betul, kita sudah berjanji dengan mereka untuk bertemu di sini,” jawab Leora.


“Di sini,” tutur Leora.


“Aku tidak melihat siapa-siapa selain kita bertiga.”


Leora dan Kachia menundukkan kepalanya, seperti melihat sesuatu di bawah. Aku yang bingung lantas mengikutinya. Terlihat sebuah batu nisan yang tertulis nama Ayah dan Ibu. Pada saat itulah aku mengetahui semuanya.


“Ayah… Ibu…”


Tubuhku langsung lemas. Aku sangat terpukul melihatnya. Tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar air mata mengalir dari kedua mataku. Aku bertekuk di hadapan nisan itu. Aku hanya terdiam bagai patung selama beberapa saat. “Tidak mungkin…”


“Ayah! Ibu!” Aku langsung memeluk batu nisan itu, dan menangis sekencang-kencangnya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kualami saat ini.


“Kenapa? Kenapa? Kenapa?”


“Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sudah kehilangan kalian…”


Di lain sisi, Leora dan Kachia hanya menyaksikanku. Leora ingin menghampiriku, tapi Kachia menahannya. “Jangan sekarang…”


Sementara aku masih merengek di hadapan mereka. Kupanggil Ayah dan Ibu terus menerus. Tanpa balasan, tanpa suara. Teringat semua masa-masa ketika kami bersama. Aku tidak bisa menerimanya. Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kenapa harus sekarang? Aku belum siap dengan semua ini.


Entah hingga kapan aku meneteskan air mata, saat ini pipiku sudah kering. Kachia mendatangiku perlahan. “Mereka mendengarmu… Mereka mendengarmu…” tuturnya lembut. Aku merasa sedikit lebih tenang, tapi masih merengek.


“Kau sudah memberikan perasaanmu… Mereka merasakannya… Mereka akan terus bersedih jika kau masih bersedih…”


Perlahan aku merasa tenang.

__ADS_1


“Tersenyumlah… Mereka juga akan tersenyum padamu…”


Aku tersenyum memandang nama mereka. Aku tersenyum memandang peristirahatan mereka. Aku tersenyum pada mereka.


“Ucapkanlah sesuatu pada mereka. Buat mereka senang mendengar ucapanmu…”


Tersenyum merintih, kuucapkan beberapa patah kata pada mereka.


“Terima kasih sudah membesarkanku sampai sekarang… Terima kasih sudah terus bersamaku… Terima kasih sudah tersenyum untukku… Terima kasih…


Maaf jika aku belum bisa membuat kalian benar-benar tersenyum… Maaf aku belum bisa memberi kalian apapun… Maaf atas semua perbuatanku yang buruk bagi kalian… Maaf…”


Kachia mengelus-elus punggungku. Terasa hangat, seperti tangan Ibu.


“Mereka pasti memaafkanmu. Mereka pasti senang dan bangga padamu,” ucap Kachia.


“Ada pesan dan permintaan terakhir dari Ayah dan Ibu. Kau tahu?” lanjutnya.


“Apa itu?”


“Tapi, berjanjilah untuk menepati permintaan mereka. Apa kau ingin berjanji pada mereka?” Aku mengangguk dan bersungguh padanya.


“Ya, aku berjanji.”


“Buatlah mereka bahagia, dengan menjadi dirimu sendiri. Kau harus bisa bangkit, menjadi lebih baik. Jangan sia-siakan hidupmu. Jangan sia-siakan harapan mereka. Kaulah harapan mereka. Percayalah, mereka akan terus bersamamu.”


“Aku akan menepati itu, Ayah, Ibu…”


Kachia memelukku. Terasa hangat, seperti Ibu. Tangannya mengelus kepalaku.Terasa nyaman, seperti Ayah.


“Kau tahu ini?” tanya Kachia sambil menunjukkan sebuah logam kecil berbentuk burung merpati. Aku ingat betul dengan itu. “Tentu, itu pemberian ibuku.”


“Kujadikan gelang, agar kau bisa terus memakainya. Simpan baik-baik gelang ini.”


“Baik, terima kasih,” balasku.


Aku pun memakainya. Pertama kalinya aku mengenakan gelang.


“Kau tampak keren,” ucap Leora.


“Benarkah, aku merasa sedikit aneh,” balasku.


“Hahaha!”


Suasanaku kembali cerah sama seperti langit. Terlihat hamparan luas dan kota-kota dari kejauhan. Aku baru sadar kalau kita berada di atas bukit.


“Indah sekali…” gumamku.


Kami menikmati pemandangan dari sini. Cahaya itu membuat merpati itu berkilauan. Setelah beberapa saat kemudian, sudah waktunya kami kembali.


“Waktunya kita pamit,” ucap Kachia.


“Sampai jumpa, Ayah, Ibu… Istirahatlah dengan tenang…”


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2