
“Wuah…” hembusku bangun tidur. Terlihat Jack masih terlelap. Aku beranjak dan merapihkan diri. Terlihat keramaian di lantai bawah. Aku menyapa mereka semua. Hari ini merupakan agenda terakhir untuk melakukan inspeksi. Petang nanti kami sudah harus bersiap untuk kembali pulang.
Sebelum memulai aktivitas, kami berkumpul di ruang makan untuk mengambil sarapan. Karena ruangan itu tidak bisa memuat semua orang, mereka semua akhirnya berpencar di sekitar sini. Terdapat antrean di sana. Tiba-tiba Jack menghampiriku. “Selamat pagi!” sapanya. Ia pun ikut mengantre bersamaku. Kami berbincang tentang agenda hari ini.
Aku mengambil piring kemudian melangkah perlahan-lahan. Terdapat dua wanita yang mengambilkan makanan itu lalu meletakkannya ke piring. Aku tak terlalu memperhatikannya. Aku asyik menoleh belakang tempat Jack berada. Sekarang giliranku untuk menerima makanan itu.
“Silakan…” Terdengar suara yang tak asing bagiku. Aku pun memalingkan kepalaku ke arahnya. Ternyata Alya yang berada di depanku. Aku terdiam tanpa kata-kata, begitupun Alya. Jack yang sama kagetnya hanya melihat aku dan Alya bolak-balik.
“Alya? Apa kabar?” ucapku bersemangat.
“Lama tak berjumpa, Malka! Aku baik-baik saja! Kau?”
“Sama sepertimu. Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku ikut membantu ibuku,” jawab Alya sambil memandang ibunya yang juga hadir di sini. “Wah, Malka!” lontarnya senang.
Betapa terkejutnya Jack saat melihat ibunya Alya yang ternyata ialah wanita yang ia jumpai semalam. “Hai, anak yang semalam!”
“Kau memiliki penginapan?” lanjutku. Aku tidak menyangkanya sama sekali.
“Iya. Sebenarnya ini milik pamanku, tapi dia sedang tinggal di Lumiatia.”
“Kalian sedang ada pekerjaan apa di sini?” lanjut Alya penasaran. Lantas aku minta Alya untuk mendekatkan telinganya denganku. Seketika kami menjadi perhatian orang-orang, termasuk Jack.
“Setelah ini datanglah padaku,” bisikku.
“Apa serahasia itu?” tanya Alya heran. “Bukan rahasia, sih. Bagaimana menjelaskannya, ya… Yang penting nanti kau—” Perkataanku tersela oleh Jack yang sudah menunggu di belakang.
“Ekhem, sepertinya makanan itu enak.”
Aku berjalan menuju halaman depan untuk menikmati sarapan seraya melihat suasana pagi di desa ini. Aku duduk di sebuah bangku yang kosong. Jack duduk di sebelahku. Suara keramaian lalu-lalang dan obrolan anggota tim mewarnai pagi ini. Tak lama kemudian Alya datang dengan sepiring hidangan. Ia juga duduk di sebelahku.
“Aku sudah selesai,” ucapnya. Aku pun menjelaskan tentang perusahaan tempatku bekerja sekarang. Wajah Alya semula ceria lambat laun berubah. Aku tidak menjelaskan secara spesifik. Seakan-akan seluruh ekspetasinya runtuh. Aku berusaha untuk meyakinkannya.
“Kumohon percayalah padaku. Aku akan tetap menepati janji kita waktu itu.”
__ADS_1
“Benarkah?” Aku mengangguk tepat di hadapannya. Sementara Jack hanya bersantap sambil mendengarkan.
Setelah sarapan, aku bersiap menuju lapangan seperti kemarin. Alya sudah berjalan meninggalkanku. Sepertinya mereka akan berkumpul. Ia tidak berkata apapun tentang apa yang ia ingin lakukan nanti. Semoga saja mereka bisa memaklumiku yang tidak hadir di pertemuan itu.
Aku bersama Jack dan seluruh tim berjalan bersama. Barisan langkah yang ramai dan seragam tentu menarik perhatian orang sekitar. Aku membawa alat itu lagi. Jack menjadi penasaran dengan barang yang selalu kubawa sejak kemarin. “Apa barang yang kau bawa?”
“Alat penelitian, rahasia tentunya,” jawabku.
“Maaf, aku tidak akan lanjut bertanya.” Bicaranya kembali tegas, berbeda dengan semalam.
Setibanya di tempat, seluruh tim mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. Aku yang masih heran dengan alat itu lantas kembali mencobanya. Sembunyi-sembunyi, aku mengeluarkan alat dari dalam tas. Seketika aku kepikiran dengan Ellie yang mengotak-atik alat ini semalam, tapi tidak ada yang berubah.
Aku melakukan percobaan sama seperti semalam, dan ternyata benar. Tumbuhan yang ada di sekitar itu tampak layu. Aku menulis kejadian itu ke dalam dokumen penelitian. Masih banyak yang belum aku ketahui tentang alat ini. Apa alat ini benar-benar berbahaya bagi langit? Sungguh misterius.
Tidak banyak yang terjadi selain menyelesaikan pekerjaan. Saat semuanya siang, mentari mulai menyingsing. Sudah saatnya kami bersiap untuk mengemas barang bawaan. Berbondong-bondong tiba di penginapan. Aku tidak melihat Alya di sini, sepertinya mereka masih berkumpul.
Dengan beberapa koper, kutinggalkan sejenak di depan. Aku pamit dengan ibunya Alya dahulu. “Sering-sering ke sini! Hati-hati di jalan!”
Saatnya kami berada di kereta, lagi-lagi kuhabiskan untuk istirahat. Perjalanan yang panjang. Pada akhirnya kami tiba di Centra. Semua orang kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk diriku. Walaupun banyak istirahat di perjalanan, tapi entah mengapa diriku langsung terbawa ke kasur dengan sendirinya. Sepertinya istirahat selama perjalanan tidak memulihkanku sepenuhnya.
“Kriiingg…”
Aku bangun kesiangan.
Bergegas menuju kamar mandi, pandanganku masih belum terlalu jelas. “Aaa!” teriakku saat tersiram air dingin. Seragam kupakai seadanya, lalu berlari menuruni tangga dengan pakaian yang berantakan. Ibu dan Ayah tergeletik senyum melihat tingkahku. Sarapan sudah ada di meja makan.
“Bukannya tadi ada suara alarm? Kenapa telat?” tanya Ayah kebingungan.
“Itu alarm lama, aku lupa mengaturnya lagi.” Aku langsung melahap makanan itu. Dengan makanan yang masih kugenggam, aku berangkat dari rumah.
“Hati-hati tersedak!” seru ibuku mengingatkan.
Sepanjang jalan sambil menghabiskan makanan, aku melangkah cepat dan melewati keramaian dengan lincah. Aku merapihkan seragam saat menaiki kendaraan umum. Sesekali aku melihat jam tangan dan berguman-guman. “Cepatlah, cepatlah…”
Aku langsung berlari ketika pintu kendaraan baru terbuka. Seragam yang baru saja kurapihkan menjadi berantakan lagi. Sesampainya di depan gedung aku kembali berjalan seperti biasa. Untung saja kondisi ruang depan sangat sepi. Secepatnya menaiki lift dan memasuki ruangan. Aku tidak melihat Jack di sana, hanya tasnya saja. Aku yang berkeringat lantas mendinginkan diri di ruangan tertutup itu.
__ADS_1
“Wah… Sejuknya…”
Tiba-tiba saja Jack membuka pintu.
“Kau dipanggil Harry di ruangannya.” Aku yang masih istirahat sudah disibukkan olehnya. Aku beranjak bangun lalu melangkah menuju ruangannya. Aku mengecek lagi seragamku. Setiap langkahku mendekat semakin membuatku merasa tegang.
“Apakah dia akan membicarakan tentang tempat inspeksi waktu itu?”
Tibalah aku di depan pintu. Aku menarik napas panjang. Aku pun membuka pintu, namun aku tidak melihat Harry di mejanya. Aku terkejut melihatnya.
“Di mana dia?” gumamku.
“Selamat pagi,” sahut seseorang tepat di sebelahku. Ternyata Harry yang sedang bersandar di dinding samping pintu.
“Pagi, Pak!” balasku sigap.
“Tidak perlu formal-formal, hanya kita berdua di sini. Silakan duduk.” Aku dan Harry duduk bersamaan.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Harry.
“Baik, Pak!”
“Sudah kubilang biasa saja. Lagipula kita seumuran.”
“Eh? Apa benar?” Aku terkejut mendengarnya.
“Tentu.” Aku tidak menyangkanya sama sekali. Ia terlihat gagah dan kekar seperti orang yang sudah berkepala dua. “Aku suka reaksimu,” lanjutnya. Aku terdiam tanpa kata-kata. Ia kembali bertanya.
“Bagaimana inspeksimu kemarin? Lancar?”
Seketika aku merasa tegang dan gugup. Firasatku kini tidak bagus.
“Apa dia akan menjurus ke sana?”
Bersambung~
__ADS_1