
“Sudah hampir saatnya. Apa kau sudah siap, Malka?”
“Aku masih sedikit ragu bisa tampil di depan banyak orang,” jawabku pada Cast.
“Tidak ada yang perlu kau takutkan. Percaya dirilah! Aku yakin kau bisa melewatinya. Oh iya, pastinya kami menyiapkan imbalan untukmu,” balasnya.
“Aku dulu sering berpidato, sih. Tapi kalau pentas… aku belum pernah selain di sekolah,” lanjutku.
“Pentas teater seperti ini tidak berbeda dengan pentas sekolah, kok. Selagi sempat, apa kau mau kuberi beberapa tips tentang peran teater?” ujar Cast.
Tentu aku menerimanya tanpa pikir panjang. Ia menjelaskan beberapa ilmu tentang itu sambil duduk di atas kursi dengan kaki dibalut perban. Aku menyimaknya dengan saksama. Ada banyak hal yang baru kutahu seluk-beluk peraktingan.
“Selain tubuh dan suara, rasa sangatlah penting. Karena itulah yang kau sampaikan kepada para penonton. Aku masih sering melihat pemeran mengabaikan satu hal ini.”
“Tapi kadang-kadang merasa jijik dengan lakonku,” ucapku.
“Orang-orang tidak berkata begitu. Justru itu hanya pikiran negatifmu saja,” balasnya.
“Ada jadi penasaran, tapi di luar topik, apa tidak apa?” tanyaku.
“Tanyakan saja. Akan kuusahakan untuk menjawabnya.”
“Sudah berapa lama kau aktif di dunia seperti ini?”
“Hahaha! Kukira kau akan bertanya apa… Sejak kecil aku sudah mulai sering berakting dan hiburan,” jawabnya.
“Tunggu, apa itu artinya kau seorang artis?” lanjutku terkejut.
“Ya… bisa dibilang begitu. Tapi aku tidak sepopuler yang kau kira, kok,” balasku.
Entah mengapa aku malah berpikir kalau ia hanya merendah saja. Aku ingin bertanya lagi tentang itu, tapi tidak enak rasanya.
“Apa tidak apa-apa aku menggantikanmu? Penggemarmu pasti akan kecewa.”
“Tak apa. Aku juga sudah menginfokannya di media sosialku.”
Aku menatap diriku di hadapan cermin. Terlihat sosok kapten dengan pakaiannya yang tradisional, berbeda dengan seragam kapten yang kukenal.
“Sebentar lagi. Aku ingin melihatmu berperan sedikit sekarang,” ucapnya.
Dengan kostum kapten, aku berperan di dalam ruang tata rias bersama Cast dan pemeran lainnya. Ada beberapa kata dalam dialog yang aku lupa. Aku berusaha untuk berimprovisasi. Cast menyaksikan sepotong adegan peran kami.
“Keren! Keren!” lontarnya seraya bertepuk tangan.
__ADS_1
Tibalah saat bagi aku dan pemeran lainnya untuk tampil. Aku mengintip ke arah penonton, dan terlihat sangat banyak. Saking banyaknya aku tidak bisa mencari teman-temanku berada. Lampu sorot menyala dan pembawa acara memulainya.
“Mari kita saksikan bersama-sama, pentas rakyat ‘Benderang Cahaya, Benderang Budaya di Atas Air’!”
Semua orang bersorak-sorai dan bertepuk tangan bersamaan tirai teater yang perlahan terbuka. Aku yang pertama kali muncul di atas perahu besar ini.
~
“Suara dan orang itu… bukankah mirip dengan Malka?” tanya Alya.
“Eh? Malka?” sahut Leora.
Mereka menajamkan pandangan untuk memastikan pemeran yang sedang tampil itu. Hingga beberapa saat berlalu, orang itu benar-benar seperti Malka.
“Malka! Itu Malka!” lontar Lukas pelan, di tengah suasana hening menyaksikan teater. “Benar-benar Malka…!” balas Leora berbisik kegirangan.
“Lelaki yang ‘sempurna’, ya…” gumam Sara tertarik.
“Bagaimana bisa ia berada di sana? Ia tidak bilang apa pun ke kita, kan?” lanjut Leora. Alya menggelengkan kepalanya lalu membalas, “Terakhir aku melihatnya seperti itu saat pentas di sekolah dulu.”
“Sshh! Jangan mengganggu penonton lain!” bisik Zilei kesal.
Mereka lanjut menyaksikannya dengan raut wajah teramat gembira. Sama sekali tak terpikirkan di benak mereka dengan apa yang terjadi saat ini.
~
Pentas berjalan satu jam lamanya. Aku dan para pemeran memberi salam penutup dan melemparkan beberapa cendera mata. Banyak yang jatuh ke sungai, tapi orang-orang justru melompat dan mengambilnya. Aku sangat terkejut melihatnya.
“M—Mereka melompat?”
“Memang sudah tradisi setiap tahunnya. Kita percaya, kalau mendapat cendera mata itu, maka selama setahun ke depan akan penuh dengan berkat dan kebahagiaan. Harapan juga akan terkabulkan,” jawab seseorang di sebelahku.
“Cih, teknik pemasaran pasaran,” sahut Zilei mendengar percakapan Alya dengan orang di sampingnya. Mereka terkejut mendengar ucapan Zilei.
“M—Maaf! Kami tidak bermaksud begitu! Dia memang suka seperti itu,” ucap Alya.
“Tidak masalah. Setiap pendatang pasti punya pandangannya masing-masing,” balas orang itu. Setelah beberapa pembicaraan, orang itu pergi meninggalkan mereka.
“Semoga liburan kalian di sini menyenangkan!” ucapnya memberi sambutan.
“Terima kasih!” balas Leora tersenyum.
Saat orang itu sudah menjauh, mereka sebal dengan tingkah Zilei yang tidak ramah terlebih dengan orang lokal.
__ADS_1
“Kenapa kau berkata seperti itu padanya?” lontar Alya marah.
“Untung saja dia tidak tersinggung dengan itu,” sahut Leora sebal.
Sementara Zilei hanya terdiam dan berpaling. “Lebih baik aku pergi saja,” ucapnya, lalu pergi meninggalkan Alya dan yang lainnya. Mereka hanya melihat Zilei yang sekejap lepas pandangan dilahap ramainya orang-orang.
Tradisi mengambil cendera mata masih berlangsung. Suara kehebohan terdengar di bawah sana. Aku kembali ke ruang belakang panggung. Banyak orang-orang yang memuji penampilanku saat pentas tadi.
“Tidak bisa dipercaya! Kau berhasil, Malka!” seru Cast bangga.
Aku jadi tersipu mendengarnya. Aku tidak tahu harus membalas apa. “T—Terima kasih…”
“Kau sudah seperti arti— maksudku— kau seperti pemeran bintang atas!” lanjutnya.
“Hehehe… Kau berlebihan,” balasku.
Aku kembali menggunakan pakaian milikku. Ketika keluar, Cast langsung mengajakku untuk bicara empat mata. Jalannya masih setengah pincang terbantu dengan dinding yang menjadi tumpu tangannya.
“Ini imbalan untukmu. Terima kasih banyak sudah menggantikanku. Tanpamu, aku tidak tahu apa jadinya malam ini.”
Ia memberikan beberapa cendera mata, kaos yang bertanda tangan dirinya, nomor teleponnya, dan pastinya sejumlah uang.
“S—Sepertinya ini terlalu berlebihan untukku,” balasku merasa tak enak hati.
“Terima saja. Jarang-jarang kau mendapatkan ini, kan?”
“Baiklah. Terima kasih banyak,” lanjutku.
“Hei, apa kau ingin ikut tur bersamaku? Kupastikan kau akan mendapat peran yang cukup penting. Tawaran yang menjanjikan, bukan?”
“Maaf, aku tidak ada kepikiran sejauh itu. Ini semua hanya kebetulan,” jawabku.
“Bukan kebetulan, tapi kesempatan. Apa kau sungguh akan menyia-nyiakannya?”
Sekilas membuatku teringat dengan ucapanku sendiri tentang kesempatan. Tentu ini adalah kesempatan yang sangat besar… dari sudut pandang karir. Tapi aku tidak bisa lepas dari keanggotaanku di Synnefá.
“Tentu tawaran itu sangat menggiurkanku. Aku ingin mengambilnya, tapi saat ini bukan waktu yang tepat. Aku bingung untuk menjelaskan alasannya. Kuhargai tawaran besarmu itu,” jawabku.
“Tidak masalah, itu adalah pilihanmu. Aku tidak akan memaksa.”
“Jika kau berubah pikiran. Kau bisa menghubungiku kapan saja. Cukup hubungi nomor itu saja, oke?” tambahnya.
“Aku berjanji akan menghubungimu saat waktu itu tiba,” balasku.
__ADS_1
“Senang bisa kenal denganmu!”
Bersambung~