Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Cendekiawan "Ryne"


__ADS_3

Aku bergegas menuju ruangan Kepala Divisi dari ruanganku. Tiba-tiba saja langkahku terhenti saat Jack menghalauku. Aku menjadi kebingungan dengannya. Ia terlihat panik. “Jangan ke sana dulu!” itu yang diucapnya. Lantas aku menanyakan alasan di balik itu. Ternyata ada berkas yang belum lengkap. Saat mengecek ulang, aku merasa kalau semuanya sudah ada di sini.


“Kurasa sudah semua. Apa yang kurang?” tanyaku heran.


“Kau ingin ke divisi transportasi itu, bukan? Sepertinya kau perlu data penelitian yang kita bahas dua hari lalu?”


“Maksudmu tentang elevasi objek menggunakan energi langit?”


“Iya itu. Tapi aku belum menerima berkas data itu dari Kepala Bidang,” jawabnya.


“Benar juga… Aku baru ingat pernah mengarahkan mereka untuk itu. Terima kasih sudah mengingatkan. Sekarang ikut aku menemui dia.”


“Baik, Pak,” balas Jack.


Sesampainya di salah satu ruang Kepala Bidang. Aku menemui orang itu. Terlihat banyak pegawai yang bolak-balik masuk dan keluar ruangan. Tampak seperti sedang terburu-buru. Aku pun meminta berkas yang kubutuhkan.


“Maaf, kami tidak bisa menyiapkannya tepat waktu. Sedang kami usahakan secepatnya,” ujarnya membungkuk di hadapanku. Terdapat beberapa pegawai yang hanya terdiam menyaksikanku.


“Aku butuh sekarang. Apa kau bisa?” pintaku.


“Sepertinya baru akan selesai tiga hari lagi, Pak,” jawabnya. Aku menjadi sedikit jengkel mendengarnya. Aku sudah berjanji untuk menemui Kepala Divisi hari ini.


Aku sempat berpikir untuk tetap menemuinya tanpa berkas ini. Tapi Jack membuatku semakin ragu. Menurutku berkas itu juga penting, tapi apa boleh buat kalau belum siap, bukan? Akhirnya aku berpikir untuk menemukan solusi.


“Apa kendalanya?” tanyaku.


“Ada beberapa data yang tidak ada karena alat uji cobanya bermasalah.”


“Apa tidak bisa diabaikan?” lanjutku.


“Tidak bisa, Pak. Sesuai perhitungan, hasil akhirnya nanti akan berantakan dan tidak akurat,” jawabnya. Kemudian aku meminta Jack untuk memanggil beberapa ahli ke sini.


“Apa bisa disimulasikan dulu di komputer?” tanyaku.


“Akan kucoba.” Ia membuka sebuah simulasi di komputer. Ia memasukkan angka-angka dari dokumen, namun terhenti saat ingin memasukkan variable yang tiada itu. Aku memperhatikannya kemudian kembali berpikir.


“Tunggu, kalau ada simulasi seperti ini, berarti Jack tidak perlu memanggil ahli, kan?” Aku merasa tidak enak dengan para ahli itu. Tapi aku tidak mempermasalahkannya.


“Coba kalau kau masukkan angka acak,” ujarku.


“Baik, Pak.” Ia memasukkan angka acak, lalu layar itu menampilkan hasil akhir perhitungan dan simulasi objek itu, namun tidak sesuai keinginan kami. Ia kembali memasukkannya berulang kali dengan angka semakin lebih kecil. Akhirnya terlihat kalau objek itu melayang dari permukaan.

__ADS_1


“Coba naikkan angka menjadi negatif tujuh belas,” ucapku. Kemudian tampak objek itu tepat berada di atas permukaan dengan total diferensiasi berjumlah nol.


“Baik, itu bisa dijadikan ambang batas minimal.” Ia pun memasukkannya ke dalam data. Jack dan beberapa ahli tiba di dalam ruangan. Aku meminta mereka untuk mengecek hasil percobaan simulasi kami.


“Hmm… Tidak ada masalah,” cakap salah seorang ahli.


“Tapi ini masih hitungan kasar. Kekuatan magnetik dan gravitasi planet terus berubah sewaktu-waktu. Belum lagi setiap daerah besarannya berbeda,” sahut ahli lainnya.


“Bukankah para teknisi ujung-ujungnya menggunakan angka bulat?” tanyaku.


“Benar, tapi angka akurat juga diperlukan untuk pengembangan. Untuk sekarang sepertinya tidak masalah, hanya sementara,” jawab seorang dari mereka.


“Baiklah, tolong siapkan berkasnya. Terima kasih semuanya.”


Setelah siap aku meninggalkan ruangan berjalan menuju tujuan awalku. Jack kembali ke ruanganku untuk melanjutkan tugasnya. Setibanya aku mengetuk pintu.


“Silakan masuk,” sahutnya. Aku membuka pintu. Terlihat dirinya yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di mejanya. Ia terlihat gagah, berwibawa, dan lebih dewasa daripadaku.


“Oh Malka, kemarilah. Kau sudah menyiapkan semuanya?”


“Tentu, Pak Ryne Charityse.”


“Tidak perlu seperti itu. Umur kita tak jauh berbeda. Anggap saja aku kakakmu. Bisa kulihat berkas-berkasnya?”


“Apa angkanya bulat seperti ini? Atau hanya angka kasar?”


“Itu angka kasar. Kami tidak mendapatkan angka akurat dari alat uji coba itu.”


“Baiklah, tidak masalah. Sama persis dengan hitungan kami.” Ia merapikan semua berkas itu lalu memasukkannya ke dalam tas.


“Ayo kita berangkat sekarang.”


Kami menaiki kendaraan dan pergi menuju suatu tempat yang lagi-lagi tidak kuketahui tujuannya. Tapi bangunan yang kulihat tidak terasa asing bagiku. Setiap persimpangan tampak pernah kulewati sebelumnya. Apa tempat itu sama seperti “hangar” itu? Begitulah isi pikiranku saat ini.


“Baiklah kita sudah sampai.”


Aku terkejut melihat bangunan yang bersebelahan dengan tempat yang kukunjungi sekitar tiga bulan lalu bersama Pappous. Ryne tergelitik melihat reaksiku.


“Aku tidak menyangka kalau bersebelahan…”


“Tentu saja, pinggiran kota tak begitu padat, untuk apa berjauhan?”

__ADS_1


Aku baru ingat kalau kendaraan yang sedang dibuat sekarang ditujukan untuk mengangkut alat raksasa itu. Ia mempersilakanku untuk masuk ke dalam. Bentuk bangunan dan luasnya benar-benar sama seperti sebelah. Saat berada di dalam, aku terperangah dengan kendaraan yang jauh lebih besar dari alat itu.


Benar, tidak mungkin barang angkutan lebih besar dari kendaraannya itu sendiri. Tapi aku masih merasa tidak percaya kalau kendaraan ini akan benar-benar berfungsi. Sebuah teknologi baru yang menerapkan energi langit sebagai bahan bakarnya. Yang lebih membuatku heran, kendaraan ini tanpa roda. Ya, menggunakan elevasi dan melayang.


“Ternyata data elevasi dan magnetik planet gunanya untuk ini…” gumamku. Ia hanya tersenyum padaku.


“Tapi ini benar-benar baru. Apa kau yang menemukannya?” lanjutku.


“Aku malu untuk mengatakannya. Iya, penelitian sebelumnya hanya mengembangkan kendaraan beroda. Tapi aku berpikir kalau ada akan masalah dengan itu. Roda bisa menjadi penghalang untuk mengangkut barang yang besar dan berat. Aku membayangkan kendaraan tanpa roda, pastinya mau tidak mau harus melayang.”


“Berarti bisa saja kendaraan ini menggantikan kendaraan terbang yang sudah ada sekarang?” tanyaku.


“Mungkin saja. Aku sempat membayangkan kota yang penuh kendaraan terbang.”


“Bukankah akan lebih berbahaya jika seperti itu?” lanjutku.


“Kita lihat saja ke depannya.”


“Wah, sebuah penemuan yang besar,” pujiku. Aku terkagum dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan ini. Penuh dengan para cendekiawan.


“Terima kasih.”


Aku berkeliling dan melihat-lihat kendaraan itu. Bentuknya cukup aneh bagiku. Sangat berbeda dari yang sudah ada.


Setelah itu aku pergi menuju kantin untuk mengisi perut dan istirahat sejenak. Seketika perhatianku beralih pada suatu berita di televisi. Ia memberitakan kejadian teror di suatu negeri. Aku kepikiran dengan keamanan saat membawa alat itu nanti. Wajah Ryne tampak khawatir melihatnya.


“Mungkin aku harus membahas itu secepatnya…” gumamnya. Aku menjadi heran dengannya, tapi aku tidak enak hati untuk menanyakannya.


“Malka, kapan jadwal pertemuanmu dengan Divisi Pengembangan Senjata dan Keamanan?” tanya Ryne.


“Belum ada jadwal,” jawabku.


“Maukah divisimu ikut pertemuan dengan kami dua minggu lagi?”


“Aku akan mengecek jadwal dan berkomunikasi dengan yang lainnya dulu.”


“Baiklah, kutunggu jawabanmu secepatnya,” balas Ryne.


Bisa disimpulkan divisiku mendapat pekerjaan lebih berat dari divisi lainnya. Seperti direktur yang mengatur segalanya. Aku pun berucap dalam hati.


“Kau pasti bisa, Malka!”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2