Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Lintas Dimensi


__ADS_3

Malam yang lebih hangat dari biasanya, kami berada di dalam ruang kontrol darurat. Terkejut kami melihat banyak tombol dan tuas di mana-mana. Dinding ruangan penuh dengan layar yang menyala. Aku sama sekali belum pernah melihat kontrol yang sebegitu banyaknya, terlebih lagi semuanya hanya dijelaskan dengan tiga huruf entah apa artinya.


“Apa kau tidak tahu apa pun dengan semua ini?” tanya Alya.


“Tidak. Aku belum pernah melihat seperti ini.”


“Lalu, bagaimana kita menghidupkan cahaya itu lagi?” sahut Leora.


“Bantu aku mencari buku panduan atau apa saja yang bisa menjelaskan semua ini.”


Setiap sudut tak terhindar dari pandangan kami. Satu buku bahkan lembaran tak tampak di sini. Aku melihat meja kontrol itu lagi, memikirkan cara untuk bisa menyalakannya lagi.


“Coba-coba saja dulu,” ucap Sara.


“Apa akan baik-baik saja?” balas Ellie.


Ada beberapa tombol yang menyala sejak awal, beberapa indikator juga terlihat di layar. Aku mencoba memahami maksud dari semua itu.


“Gunakan otakmu, Mantan Kepala Divisi,” sindir Zilei.


“Sedang kupikirkan. Diamlah.”


“Kau sendiri juga hanya bisa bicara saja,” celetuk Stella. Seketika ruangan penuh dengan gema mereka berdua.


“Diamlah kalian! Lanjutkan di luar sana!” ujar Ethan. Mereka langsung terdiam dan berpaling satu sama lain dengan wajah kesal.


Aku mencari sebuah tombol atau tuas yang bisa langsung menyalakannya, dengan kata lain kontrol darurat. “Setidaknya alat seperti ini ada tombol daruratnya…” Yang kutahu, biasanya ia berwarna merah, tapi semua yang ada di sini berwarna merah, kecuali warna hijau yang artinya menyala.


Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menekan beberapa tombol lalu melihat layar. Beberapa indikatornya berubah, tapi tidak membuat alat itu menyala.


“Jangan pencet sembarangan, Malka,” ucap Ellie. Aku langsung reflek dengan menjauhkan tanganku dari tombol-tombol.


“Tet—Tet—Tet—”


Suara sirine peringatan terdengar seisi ruangan. Ruangan penuh dengan sinar merah lampu yang berkedap-kedip.


“Apa yang terjadi?” tanya Leora panik.


“Aku tidak tahu!”


“Kontrol darurat diaktifkan. Tekan tombol menyala untuk mengaktifkan sistem.”


“Tombol itu!” lontar Athar.


Lukas menekan tombol tersebut. Seketika suara sirine dan lampu merah berhenti menyala. Kemudian terdengar sebuah peringatan.


“Alat diaktifkan.”


Kebisingan terdengar dari luar, seluruh sudut ruangan bergetar, lampu berkedap-kedip. Seketika semua listrik padam. Sangat gelap hingga aku tidak dapat melihat apa pun.


“Cetek.”


Aku menyalakan senter begitu pula yang lainnya. Kami keluar dari ruang kontrol, tidak ada yang terjadi.


“Tidak terjadi apa-apa?” tanya Gras.


“Oh iya, ngomong-ngomong, kenapa tadi bisa aktif tiba-tiba? Apa ada yang mengaktifkannya?” tanya Alya penasaran.

__ADS_1


“E—Eeh… A—Aku yang menyalakannya tadi…” jawab Gras pelan.


“Bagaimana bisa?” lanjutku.


“Aku tidak sengaja membuka sebuah… pintu kecil? Di dalamnya ada tuas, jadi aku tarik saja ke bawah…”


“Perasaan aku tidak melihat pintu apa pun…” gumam Ellie.


“Pintunya menyaru dengan dinding. Aku juga tidak sengaja menyenggolnya.”


“Berkatmu itu, kita bisa menyalakannya,” sahut Ethan.


“Tapi tidak ada yang terjadi,” celetuk Leora.


Kami memandangi alat itu. Leora perlahan melangkah ke alat itu, namun aku langsung memberhentikannya. “Jangan! Bisa saja berbahaya!”


Suara seperti pengisi daya semakin terdengar keras. “Mundur!” seruku. Tanah bergetar hebat hingga mengguncangkan bangunan kontrol itu sendiri.


Sinar biru menembak terang menembus awan. Aku hampir buta karenanya. Kubuka mataku perlahan, seantero kota benderang seperti tadi.


“Wah… Menyala…” pukau Leora. Gras menjadi penasaran, “Ayo kita lihat ke da—”


“Tunggu!” lontar Athar. “Aku melihat keramaian di ujung sana.”


Benar kata Athar, ada banyak orang-orang dari kejauhan melangkah ke sini. Aku tidak bisa melihat mereka dengan jelas, hingga pada akhirnya aku menyadari kalau mereka adalah pasukan kerajaan.


“Pasukan kerajaan?” gumamku.


Setelah dekat, mereka berhenti, tampak senyum dari kepala pengawal kerajaan itu. Tanpa sadar aku membalasnya serupa, mataku terasa sangat basah. Kami saling berpelukan di hadapan orang-orang. Rasa haru terdengung jelas di kepalaku.


“Sudah saatnya, Malka…”


Ribuan orang berkumpul di tempat yang sama, tempat untuk melangkah ke tempat selanjutnya, melangkah meraih sesuatu yang sejak lama hanya berada di mimpi manusia. Dongeng, legenda, fakta ilmiah, semua itu akan terbukti tepat di mata kepala kami sendiri. Bersatu, pasukan kerajaan, para aktivis, orang biasa, bahkan ilmuan, menggapai jawaban.


Tak tahu apa yang akan terjadi di depan, Ethan melakukan tugasnya di depan orang-orang. Suasana hening, hanya ada suara Ethan berkumandang.


“Kita semua yang berada di sini, saat ini, detik ini, kita akan melihat apa-apa yang belum pernah dilihat


sebelumnya…”


“Yang ingin kupastikan, jangan ada yang terpecah di antara kita. Ingatlah, kita bergerak bukan sendiri-sendiri, tapi sebagai kesatuan.”


“Synnefá!”


“Synnefá!”


Gemuruh seruan beribu orang menyelimuti malam di tengah gedung-gedung tinggi. Kami melangkah perlahan menuju tembakan cahaya terang itu. Aku mencoba memasukkan tanganku terlebih dulu, dan tak ada yang terjadi. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berani masuk ke dalam.


Aku tidak bisa melihat kecuali warna putih yang memenuhi pandanganku, sebelum aku menutup mataku karena terlalu silau.


Saat terbuka, aku terbangun di sebuah tempat tidur, di sebuah kamar tidur, yang sangat kukenal.


Mennora, mentari cerah yang masih setinggi orang-orang yang melintas. Aku melihat masa laluku dari balik jendela. Sinarnya menerangi kamarku. Muncul rasa penasaran.


“Kenapa aku ada di sini?”


“Apa aku sedang bermimpi?”

__ADS_1


Aku beranjak dari kasur dan melihat-lihat seisi kamar. Tak berbeda, benar-benar serupa dengan waktu itu.


“Malka! Waktunya sarapan!” seru seorang wanita dari lantai bawah. Suaranya sangat tak asing, memutar memori lama di dalam kepalaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas.


Menghampiri sumber suara, aku tidak melihat siapa pun di ruang makan. Seketika muncul cahaya biru dari segala sudut ruangan, melayang lalu membentuk dua sosok, sepasang pria dan wanita, yang tak lain ialah Ayah dan Ibu. Ibu sedang menyiapkan sarapan, Ayah sedang bersiap untuk berangkat kerja. Tanpa sadar air mataku menetes tanpa suara.


Melangkah pelan, mendekati sarapan yang benar-benar ada tepat di hadapanku. Duduk di hadapan mereka, aku mencoba mengambil sesuap, namun tanganku tidak sanggup melakukannya. Padanganku hanya tertuju pada Ayah dan Ibu yang sedang bersantap pagi. Chamnion Soup dan Riunbread, persis dengan hari itu.


Sesekali mereka menatap diriku dengan penuh senyum, seakan sedang ada percakapan hangat saat ini.


“Oh, ini namanya Chamnion Soup dan yang ini namanya Riunbread. Keduanya merupakan makanan legenda dan turun temurun di desa ini. Ibu tahu resep ini dari catatan punya Nenekmu. Saat Ibu membacanya, saat itu juga Ibu terpikir untuk membuatnya.”


Ini memang percakapan hari itu…


Aku benar-benar mengingatnya…


“Ibu! Ayah! Ini aku! Malka!” teriak seorang anak menangis kencang, memanggil nama kedua orang tuanya, berharap mereka membalas.


“Ibu!” Aku mendekatkan wajahku pada sosoknya. Tiada balasan.


“Ayah!” Aku mendekatkan wajahku pada sosoknya. Tiada balasan.


Tertunduk kepala memandang hidangan di hadapan, aku hanya bisa menangis dengan segala penyesalan yang bangkit kembali di dalam kepalaku.


“Nak, Ayah ingin berbicara sesuatu padamu,” ucap Ayah tiba-tiba.


“Apa, Ayah?” balas Malka tersedu-sedu.


Seketika sosok mereka perlahan menghilang, kembali menjadi utasan-utasan cahaya yang melayang-layang.


“Aaaa!”


“Bam!”


Seluruh piring berguncang hebat dari atas meja.


“K—Kenapa semua ini terjadi…?”


“Ayah… Ibu…”


Piringku penuh dengan air mataku.


Cahaya-cahaya itu mengarah ke suatu tempat yang sama. Sebuah pintu yang mengarah ke luar rumah. Tangisku berhenti, berganti dengan penuh tanda tanya. Aku mengikuti mereka, terhenti di depan


pintu.


“Aku harus keluar…?”


Membuka pintu, tidak ada apa pun, hanya cahaya putih membentang.


Menarik langkah pelan, aku kembali ke lautan putih, seperti kala aku datang ke rumah tadi. Mataku tertutup lagi, menempuh langkah baru.


Sampai akhirnya perasaanku berkata bahwa sudah saatnya membuka mata. Teringat tujuanku melakukan semua ini. Berharap menemukan jawaban.


Aku melihat jelas… sebuah jawaban… bersama teman-temanku di sini… namun bukan ini jawaban yang kumau…


“A—Apa yang sudah terjadi di sini…?”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2