
Siang kala suasana tenang di tengah desa kecil, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Lain halnya dengan pemberitaan di televisi yang semakin panas dengan protes aktivis langit. Lagi-lagi terjadi kericuhan di sejumlah kota. Rasanya kami tidak bisa tenang setiap kali bersantap siang tanpa mematikan televisi.
“Kalau begitu matikan saja televisinya, permasalahan selesai,” ucap Zilei.
“Tapi nanti kita tidak akan tahu berita terkini,” balas Alya.
Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberi mereka sebuah kejutan… kejutan terhadap penemuanku, Gras, dan ibunya Alya. Entah penemuan pertama atau bukan, setidaknya aku ingin melihat reaksi mereka. Terlebih kami sudah mengumpulkannya selama beberapa hari.
“Kalian, bersiaplan untuk ‘hidangan’ baru. Aku akan segera kembali,” ucapku.
Mereka tampak kebingungan, sedangkan Gras dan ibunya Alya hanya tersenyum. Kuambil minuman itu dari kulkas. Lalu menuangkan ke masing-masing gelas.
“Segera minum sebelum menguap,” ucapku.
Mereka langsung minum. Wajah semula heran, kini perlahan berubah tenang dan santai… lalu terkejut setelah merasakan efeknya.
“Wah, tidak kusangka akan seperti ini!” lontar Kellos.
“Bagaimana bisa kalian membuat ini?” tanya Leora.
“Kami persembahkan, minuman segar dan menyegarkan. Belum ada namanya, yang pasti bahannya seratus persen terbuat dari energi langit!” jelasku.
“Bicaramu sudah seperti iklan televisi saja,” balas ibunya Alya.
“Jadi alat yang kau bawa dari toko Sid waktu itu digunakan untuk ini?” sahut Ellie. Aku mengangguk padanya.
Tanpa sadar ruangan mulai gelap. Ternyata langit di luar sangat mendung. Alya beranjak menyalakan lampu.
“Sudah tiga hari terakhir hujan terus,” gumam Leora.
“Apa ini akibat dari menara itu?” sahut Gras.
“Hujan beberapa hari berturut-turut belum tentu karena menara. Setiap tahun juga sering seperti ini,” balas Zilei.
“Debum!”
Tiba-tiba suara dentuman yang sangat kencang.
“Aaa!” teriak kami semua spontan.
Suara itu menggetarkan seluruh ruangan. Beberapa gelas dan jendela kaca pecah. Tidak mungkin gemuruh petir sekuat ini, bukan? Ini mengingatkanku dengan fenomena lima tahun lalu. Sepertinya kali ini lebih kuat daripada dentuman kala itu.
“Sembunyi di bawah meja!” teriak Ellie.
“Gempa?” tanya Leora.
Kami semua berlindung di bawah meja. Ini bukanlah gempa. Terlihat di balik kaca jendela yang pecah itu penuh dengan orang-orang yang berhamburan keluar. Seketika terdengar suara peringatan dari televisi.
“Berita terkini saudara-saudara. Terjadi dentuman yang serupa dengan lima tahun lalu di seluruh penjuru benua, namun kali ini lebih besar. Dentuman terjadi begitu saja di luar prakiraan para ilmuwan dan badan cuaca dan gempa. Masyarakat tidak perlu khawatir karena fenomena sudah berakhir. Dentuman ini bukan indikasi gempa. Kejadian ini masih diteliti lebih lanjut.”
“Kali ini sepertinya akibat menara itu,” ucap Ethan.
“Selain itu saudara-saudara. Saat ini terjadi kericuhan besar serentak di sejumlah kota. Mereka menganggap kejadian yang barusan terjadi diakibatkan oleh menara-menara itu. Aparat keamanan saat ini masih berupaya untuk meredam aksi ricuh ini…”
Sepertinya sudah mulai tidak terkendali. Kericuhan sudah di mana-mana. Mungkin sudah saatnya kami untuk turut ikut serta.
“Baiklah pemirsa di rumah, saat ini saya sedang berada di salah satu tempat kericuhan terjadi. Saya akan bertanya pada salah satu aktivis di sini…”
Dari televisi itu terdengar suara keributan orang-orang berteriak dan suara tembakan gas air mata.
“Bersama Synnefá, kita pasti akan mengembalikan keutuhan planet seperti semula!”
“Itulah wawancara saya dengan salah satu aktivis. Selain itu pemirsa, akhir-akhir ini sering tersebut nama ‘Synnefá’. Mereka menganggap nama itu adalah penggerak dari pada aktivis. Saat ini masih tidak ditemukan orang yang pertama kali menggunakan nama ‘Synnefá’ itu…
Dan seperti ini poster yang berterbaran di sekitar sini pemirsa.”
__ADS_1
Tampak sebuah poster bertuliskan slogan bersama dengan nama “Synnefá” di dalamnya. Aku terkejut melihatnya. Apa semua ada orang lain terpikirkan nama yang sama dengan kelompok kami?
“Kenapa ada nama Synnefá juga di sana?” tanya Leora heran.
“Jauh sebelum kalian ke sini, kami mengampanyekan poster itu ke para pedagang keliling. Ternyata sudah tersebar ke seluruh penjuru,” jawab Alya.
“Jadi itu semua ulah kalian?” tanya Zilei kesal.
“Yah… Kami tidak tahu kalau akan seperti ini…” balas Alya.
“Sudah, sudah. Semua itu sudah terjadi. Sekarang saatnya kita merencanakan langkah selanjutnya,” sahut Ethan.
“Apakah kita akan diincar oleh aparat? Karena kita adalah biang penyebabnya,” lanjutku khawatir.
“Tenang saja, akan cukup sulit untuk mengetahui kita. Sebaiknya kita cepat bergerak mulai dari sekarang,” jawab Alya.
“Segala persiapan sudah selesai, bukan? Senjata, ramuan, bela diri, semuanya,” ucap Ethan. Kami semua mengangguk serius padanya.
“Bagaimana kalau kita langsung melihat senjata-senjata kita nanti? Lebih cepat lebih baik,” usul Ellie bersemangat.
“Tapi masih hujan lebat di luar,” sahut Gras.
“Mereka di luar sana saja hujan-hujanan. Mengapa kita tidak?” balas Ellie.
“Tidak perlu hujan-hujanan juga, sih…” lanjut Alya dengan beberapa payung di tangannya. Kami menerima masing-masing payung darinya.
“Kenapa kau bisa punya payung sebanyak ini?” tanyaku.
“Saat perusahaanmu dulu datang inspeksi ke sini. Penginapan kami menyediakan payung-payung itu,” jawab Alya.
“Eh? Kukira selama ini timku menyediakannya sendiri,” balasku.
“Aku akan tetap di sini. Kalian berhati-hatilah di jalan. Jalanan akan menjadi sangat licin pastinya,” ujar ibunya.
“Baiklah, kami berangkat!”
“Permisi, beli!” seru Ellie bercanda.
Sid terkejut melihat kami semua.
“Kenapa kalian datang saat hujan deras begini?”
“Kami ingin melihat alat dan senjata yang sudah Ellie dan Malka buat!” sahut Leora tak sabar. “Aku juga ikut mengerjakannya, lho,” balas Sid.
“Baiklah, tunggu di sana sebentar. Akan kuambilkan keset dan handuk kecil.”
Namun Ellie tak mendengarkan dan tetap melangkah ke depan.
“Hei! Kau membuat tokoku becek!” lontar Sid kesal.
“Kau ingin membatu kami, kan? Kau bisa membantu mengepel toko ini,” balas Ellie tersenyum lalu masuk ke ruang tempat alat-alat itu berada. Kami tersenyum juga mengikutinya dari belakang.
“Dasar gadis tak tahu diri,” gumam Sid kesal.
Memasuki ruangan itu, terlihat berbagai jenis senjata terpajang di dinding-dinding ruangan. Mulai dari senjata tongkat, pedang, bahkan tameng, dan perangkap. Semuanya telah dilengkapi dengan peluru gelombang.
“Wah, beragam sekali…” takjub Leora.
“Silakan pilih senjata yang cocok untuk kalian,” ucap Ellie.
Aku memilih pedang. Alya memilih keling atau brass knuckle. Ellie memilih tongkat. Ethan memilih pistol. Gras memilih alat perangkap.
Sementara Leora memilih panah. Zilei dan Stella memilih pedang, sama sepertiku. Kellos memilih tameng. Lena memilih tongkat pengendali.
“Apa itu tongkat sihir?” tanya Leora melihat tongkat itu di pegang oleh Lena.
__ADS_1
“Simpelnya mirip seperti itu. Mengendalikan energi langit dalam bentuk gelombang. Tidak sefiktif cerita atau dongeng yang bisa mengeluarkan berbagai elemen. Tongkat itu sangat efektif untuk penyembuh, pendeteksi, dan segala yang berguna untuk peran pendukung,” jelasku.
“Benar sekali! Jadi kau bisa menggunakannya dari belakang, Lena,” sahut Ellie.
“Lalu untuk Kellos. Seharusnya tameng berada di paling depan, bukan? Tapi untuk posisimu sekarang ialah melindungi Lena dan Gras,” lanjutku.
“Gras, kau tahu posisimu, kan?” tanyaku.
“Tentu, aku akan di belakang. Membawa perangkap dan ramuan untuk kita semua,” jawabnya.
“Bagus, kau juga akan membawa semua perlengkapan kita,” tambahku.
“Bukankah itu akan sangat berat?” tanya Leora.
“Oleh karena itu kami membuat tas ini,” sahut Ellie sambil memegang tas itu.
Terlihat seperti tas biasa dari luar, namun tampak sangat besar dan luas dari dalam.
“Sepertinya semua barang-barang bisa masuk ke dalam. Tapi kenapa bisa begini?” tanya Alya heran.
“Entahlah. Kami juga tidak sengaja membuatnya,” jawabku.
Setelah semua mengambil peralatannya masing-masing. Kami berniat untuk kembali pulang, sekarang hujan juga sudah reda.
“Tunggu, ini cincin apa?” tanya Alya.
“Fungsinya mirip tongkat milik Lena, tapi dia terikat dengan kepribadian orang yang memakainya. Cukup rumit karena butuh pikiran dan perasaan untuk mengaktifkannya,” jawab Ellie.
“Baiklah kalau begitu aku akan ambil ini untuk ibuku,” balas Alya.
Ellie memberikan kami semua gelang untuk menghindari kejadian terburuk dengan energi langit. Dengan gelang ini, kami juga tidak akan menyakiti diri sendiri dan teman-teman yang menggunakannya.
“Pastikan kalian memakai gelang ini saat menggunakan senjata kalian,” ujar Ellie.
Lalu kami pergi menghampiri Sid. Ia tampak masih mengepel lantai yang kami lewati tadi. Kami pun berpamitan padanya.
“Sudah selesai?” tanya Sid.
“Sudah, kami ingin pulang dulu. Semua alat tanpa energi langit bisa kau ambil, tapi tidak dengan alat yang sudah ada energi langit,” jawab Ellie.
“Baiklah, terima kasih,” balas Sid.
Jalan yang kami lewati sangat sepi. Sepertinya karena habis hujan lebat, jadi orang-orang tidak berniat keluar.
Tibalah kami di rumah Alya lalu menyapa ibunya yang sedang mendengar berita sambil membersihkan pecahan kaca akibat dentuman tadi.
“Kami pulang,” ucap Alya.
“Wah, barang-barang tampak bagus! Cocok dengan kalian!”
Alya memberikan cincin itu pada ibunya.
“Dor! Dor! Dor!”
Suara tembakan yang diiringi teriakan orang-orang terdengar dari televisi.
“Saat ini aparat mulai melakukan tindak represif bagi massa kericuhan. Beberapa orang tergeletak di atas jalan, sementara massa mulai perlahan mundur.”
Muncul sosok Knox di depan layar kaca.
“Sekarang kami akan meluncurkan tembakan dalam kericuhan di seluruh tempat. Sekarang mereka semua kami kelompokkan sebagai ‘teroris’. Kami minta seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan berlindung di dalam rumah bagi yang berdekatan dengan tempat kericuhan. Kami akan mengatasi secepatnya.”
Kami semua sangat terkejut melihatnya. Nyawa orang-orang bertaruh dalam kerusuhan itu.
Situasi semakin memburuk…
__ADS_1
Bersambung~