
Aku menjadi bingung mendengar jawabannya. Sepertinya kepala divisi sedang mengurus… administrasi? Entah, tidak terpikirkan apa pun tentang itu.
“Berarti ini memang tugas kepala divisi, ya? Makanya kau sebagai asisten tidak terlalu terikat dengan itu,” gumamku.
Tunggu, bukankah asisten selalu membantu kepala divisi apa pun dinasnya? Yah, walaupun tidak semua, sih. Tapi aku tidak tahu sama sekali tentang program kerja perusahaan saat ini.
“Kau tidak mengalami luka atau apa setelah kecelakaan waktu itu, kan?” tanya Jack heran. Aku ikut heran mendengarnya. “Aku baik-baik saja, tidak ada yang berubah.”
“Ngomong-ngomong, kau sangat akrab sekali dengan kepala divisi. Kau biasa duduk di sana?” tambahku.
Jack tertawa lepas dan menepuk jidatnya. Ia merapikan sebuah kursi di hadapannya.
“Sini duduk di depanku,” ujarnya. Aku mengikuti perkataannya dengan duduk di sana. Ia masih terkikik tak kunjung usai.
“Hahaha, aduh perutku sakit. Perkenalkan, Kepala Divisi Riset Teknologi Langit dan Angkasa, Jack Furiend,” ucapnya.
Ah… Pantas saja kepala divisi tidak datang-datang. Ternyata—
“Eeeehhh…? K—Kau kepala divisinya sekarang?”
Betapa terkejutnya aku. Rasanya jantungku hampir copot dibuatnya. Aku sama sekali tidak menyangkanya, secara Jack tidak ada latar belakang di bidang… ia pernah jadi asistenku sebenarnya. Tapi apa itu termasuk.
“Cekrek!”
“Hahaha! Wajahmu sangat apik sekali, harus kusimpan untuk kenang-kenangan,” ucap Jack sambil memegang telepon pintar miliknya. Sontak aku tersipu sekaligus kesal kepadanya. “Hentikan! H—Hapus foto itu!”
Lagi-lagi ia memotret wajahku yang menahan malu setengah mati. Aku hanya bisa menutup wajah dengan tanganku sendiri. Sangat memalukan meski ia teman dekatku.
“Maaf aku tidak menyadarinya sejak tadi…” gumamku.
“Tidak masalah, aku juga sudah menduganya,” balasnya.
“Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?” lontarku.
“Sedikit hiburan tidak ada salahnya. Aku sangat terhibur, terima kasih, Malka!”
Menarik napas panjang, aku berusaha untuk kembali tenang. Sementara Jack masih melihat-lihat ponselnya. Aku sangat yakin kalau ia sedang melihat fotoku tadi.
Memang tak terduga, entah kenapa tidak pernah terpikir olehku tentangnya. Kepala divisi tentang langit, tidak semudah yang dikira. Aku tahu betul kalau ia sedang sibuk dengan segala keributan yang terjadi.
Tunggu, kalau benar seperti itu, sudah seharusnya ia juga mengurus penyelidikan ini, bukan? Tapi, aku ingat betul kalau waktu itu Jack bilang bahwa dirinya tidak banyak mencampuri urusan itu.
“Kau juga ikut dalam tugas itu?”
“Tidak, maksudku Knox Corp. Aku tidak pandai mengambil keputusan dan kesimpulan. Bisa-bisa malah jadi salah paham, hehe…”
__ADS_1
Seingatku percakapannya seperti itu. Tidak pandai mengambil keputusan… tapi kenapa malah menjabat sebagai kepala divisi? Yang aku tahu, posisi kepala divisi ialah posisi teratas yang berada langsung di bawah Knox dan Harry. Tidak mungkin pernyataannya itu sesuai dengan posisinya sekarang, kan?
“Berarti kaulah yang sebenarnya pemain utama dalam penyelidikan ini?” tanyaku curiga. Jack meletakkan teleponnya. Suasana hening, kami menjadi serius.
“Bisa dibilang begitu. Hmm… Sepertinya aku sempat berbohong padamu sebelumnya. Itu salah satu teknik persuasif, bukan?” ujarnya.
“Aku hargai teknikmu itu. Kau benar-benar bisa menarikku hingga detik ini. Jadi, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” balasku.
“Aku hanya menjalankan tugasku. Aku akan melakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini,” jawabnya. Ia tidak tampak seperti Jack yang kukenal sebelumnya.
“Oh, jadi inikah yang dimaksud menusuk kawan dari belakang?” tanyaku.
“Lebih tepatnya seseorang yang memberi pisau pada kawannya dari belakang.”
Hah? Apa maksudnya? Aku masih tidak mengerti dengan pikirannya. Sosok yang sulit kutebak, ternyata cukup mengerikan.
Tiba-tiba saja ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan perlahan mengitari meja.
“Malka Syahnivir, apa kau siap untuk interogasi?” tanya Jack.
Ia berhenti di sampingku. Aku pun menghadapnya.
“Baiklah kalau itu yang kau mau. Sesuai saranmu waktu itu, aku akan menjawab sejujur-jujurnya. Awas saja kalau kau memutarbalikkan fakta,” ucapku.
“Sepertinya aku tidak perlu banyak bertanya, silakan ceritakan semua yang Anda tahu, saudara Malka Syahnivir.”
“Baiklah, aku menerima semua infomasi yang kau sampaikan,” ucap Jack.
“Ada yang ingin kau tanyakan? Aku akan selalu siap,” balasku.
“Sebelum terbang, apa saja yang sudah kau konsumsi beberapa hari ke belakang?”
Pertanyaan yang cukup aneh. Aku sendiri sudah tidak ingat makanan apa yang aku makan. Yang pasti aku hanya mengonsumsi makanan dan minuman biasa.
“Apa kau lakukan sebelum terbang?” lanjutnya.
Hah? Sebentar, sebentar. Bukankah aku selalu bersamanya bahkan saat-saat terakhir sebelum masuk terminal bandara? Aku tidak habis pikir dengan pertanyaannya.
“Aku berada di kantor, saat itu ada pesta perpisahanku. Setelah itu aku bersama seseorang bernama Jack, ia juga mengantarku ke bandara,” jawabku.
Ia hanya terdiam sambil memutar-mutarkan pulpen dengan jarinya.
“Sepertinya kau memang tidak pandai mengambil keputusan dan kesimpulan,” sindirku tersenyum.
“Huft… Malka Syahnivir, terduga salah seorang anggota aktivis langit, Synnefá. Apa aku salah,” ucapnya spontan.
__ADS_1
Eh? Selama ini ia sudah tahu tentangku? Tenang, Malka. Jangan sampai terpojok.
“Apa kau sudah kehabisan kartu jalanmu?” balasku.
Ia mengulurkan tangannya ke hadapanku.
“Selamat datang kembali di Centra, Malka. Sekarang kau memiliki orang dalam,” ujarnya tersenyum.
“Jadi semua ini hanya…”
“Aku hanya ingin bermain denganmu. Ternyata kau masih seperti Malka yang kukenal. Aku tidak akan pernah bisa melampauimu,” jawabnya.
Aku menarik napas lega. Cukup melelahkan setelah melewati perbincangan serius tadi. Yah, aku hanya menjawab jujur, sih.
“Sejak awal kau berpura-pura tidak menyadari jabatanku sekarang. Sebenarnya aku masih ingin bermain seperti itu denganmu, tapi semua di luar dari yang kupikirkan,” ucapnya.
“Sungguh, sebenarnya aku memang tidak menyadarinya. Tapi aku sudah menaruh curiga padamu sejak awal,” balasku.
“Berarti semua ini sudah kau rencanakan juga, kan?” tanya Jack.
“Apa ini masih bagian dari interogasinya?” lanjutku.
“Kau tidak menjawab? Jika begitu aku akan menganggapnya ‘iya’.”
“Jika kau bertanya seperti itu, harusnya kau sudah tahu jawabannya,” balasku.
“Senang bisa bermain denganmu,” ujarnya.
Pembicaraan terhenti. Aku duduk bersandar di kursi kantor yang empuk itu. Sementara Jack terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya ia sedang membuat laporan hasil interogasiku barusan.
“Perlu kubantu?” tanyaku.
“Tuntaskan semua rencanamu. Aku akan bantu memberi pisau di belakangmu,” jawabnya. Aku pun mendekatinya dan mengambil dokumen kosong.
“Apa kau tidak penasaran dengan rencanaku?” lanjutku.
“Aku yakin kau tidak akan mempercayaiku sepenuhnya,” jawab Jack.
“Aku mempercayaimu sebagai teman, tapi aku tidak mempercayaimu sebagai pegawai di markas musuh utamaku,” balasku.
“Kalau begitu, sebagai teman, kuanggap rencana itu adalah privasimu. Sebagai teman juga, kau bisa menghubungi kapan saja. Aku akan membantu sebisaku.”
“Untuk saat ini aku hanya butuh informasi. Kau hanya perlu bertindak sebagai pegawai perusahaan ini.”
“Baiklah, kita sepakat,” ucapnya sambil bersalaman denganku.
__ADS_1
“Senang bekerja sama denganmu, kawan.”
Bersambung~