
Waktu sudah berjalan panjang seiring langkah karirku. Sudah banyak berkembang sejak terakhir kali kami melakukan berbagai penelitian dan inspeksi. Tepat hari ini, sudah empat tahun perusahaan ini berjalan. Hari yang besar tentunya. Sesampainya di kantor aku sudah mengira kalau akan melakukan tradisi tahunan. Sebuah hari tanpa perlu pusing akan pekerjaan.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Aku tidak melihat beberapa kepala divisi di sini. Hanya ada aku dan Pappous, ia sangat bersemangat dengan botol yang dipegangnya itu. Tidak mungkin mereka absen hari ini, bukan? Terlebih pula acara ini bisa dimanfaatkan untuk mengakrabkan diri dengan para anggota divisi.
Benar saja, Jack datang menghampiriku. Ia memintaku dan Pappous untuk menemui Knox di ruangannya.
“Baik, aku akan segera ke sana. Terima kasih.”
Aku mendekati Pappous yang tampak setengah sadar. Tingkahnya tak terkendali dan seperti mengigau. Aku tidak tahu ia berbicara dengan siapa. Aku pun mengajaknya pergi.
“Pak Pappous, kita dipanggil ke ruang kepala.” Ia hanya membalas dengan kata-kata yang tak kumengerti sama sekali. Sudah berkali-kali aku menyadarkannya namun tidak ada hasil. Pada akhirnya akau meminta beberapa orang untuk merangkulnya menuju ruangan.
“Ini sebabnya aku tidak ingin minum,” gumamku.
Memasuki ruangan, terlihat para kepala divisi yang tidak sempat kutemui tadi, bersama Harry dan Knox. Aku duduk pada sebuah kursi kosong, begitu pula dengan Pappous. Semuanya hanya bisa pasrah melihatnya. Sementara Pappous masih meracau sendiri. Knox pun memulai pertemuan.
“Baiklah, selamat pagi. Semoga semuanya dalam keadaan seh—” sambutannya terpotong oleh racauan Pappous.
“Bwah… Akyu mewnwngu kwue…”
Perhatian kami teralihkan kepadanya.
“Tepat empat tahun perusahaan ini aku ingin mengucapkan selamat untuk kalian semua. Ada kabar sangat baik hari in—”
“Bwah bwah bwah…”
Kita menjadi jengkel dengan tingkah Pappous. Knox meminta beberapa orang untuk membawanya kembali keluar. Ia menepuk jidat.
“Untung saja korban hari ini hanya satu. Aku juga lupa mengingatkan kalian untuk tidak minum…
Jadi hari ini kita mendapat undangan kehormatan langsung dari kerajaan. Suatu kebanggaan bisa ikut andil dalam pembangunan negeri ini.”
Kami yang mendengarnya sontak terkejut senang dengan perkataannya.
“Kita akan berangkat satu jam lagi. Kuperintahkan kalian jangan menjadi korban pesta seperti Pappous, jaga diri kalian.”
“Berarti dia tidak ikut?” tanya Harry.
“Kita lihat perkembangannya. Kalau masih seperti itu nanti lebih baik tidak usah ikut,” jawab ayahnya, Knox.
Setelah keluar dari ruangan Knox, aku kembali melihat pesta yang ada di ruang tengah. Terlihat Pappous yang masih meracau bersama beberapa orang. Aku hanya memakan buah dan meminum soda sendirian. Seringkali aku diajak oleh anggota divisiku untuk ikut berkumpul bersama mereka, aku pun menerimanya. Hanya sekedar saling sapa dan bicara lepas. Banyak dari mereka yang berumur lebih tua dariku. Mereka juga sering mengeluarkan celoteh-celotehan.
“Eh, akhir-akhir ini banyak yang kena asma, ya?”
“Memangnya kenapa?”
“Asal mengisi absen.”
__ADS_1
“Hahahaha!” sahut mereka semua. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Lalu muncul Lydia mendantangiku.
“Anak kecil tidak mengerti candaan orang tua,” sindirnya. Wajahku langsung berubah olehnya. Lalu kembali tertawa sedikit agar suasana tidak runyam.
“Haha… Aku pergi sebentar,” ucapku.
“Baik, Pak.”
Aku langsung menarik Lydia ke tempat yang sepi. Aku benar-benar merasa kesal padanya. Sementara ia masih tergelitik tawa. Aku mengencangkan tanganku.
“Aduh, sakit. Apa yang kau lakukan?” tanya Lydia. Aku pun melepasnya.
“Selalu seperti itu, kau membenciku?” lanjutku geram.
“Tidak, justru sebaliknya. Kau sangat lucu saat tingkah seperti tadi…” jawabnya cengengesan. Amarahku semakin memuncak.
“Jangan mencari alasan! Kuperingatkan kau sekarang.” Aku beranjak pergi meninggalkannya. “Masih pagi sudah merusak suasana,” benakku.
Masuk ke ruanganku, tiada siapapun kecuali diriku sendiri. Duduk di kursi, menadah kepala di atas meja. Aku menjadi pusing. Mungkin minum secangkir teh hijau. Jack masih berada di tempat pesta. Aku membuka pintu lalu melihat ada pelayan kantor.
“Ada perlu apa, Pak?”
“Aku ingin teh hijau hangat, bisa kau bawa ke dalam?”
“Baik, Pak.”
Setibanya di sana, kami diarahkan langsung menuju singgasana. Aku masih terkesima dengan istana yang berdiri megah dan tampak elegan. Berlandaskan karpet merah membimbing langkah kami. Setiap lorong beratapkan tinggi dan luas. Kami terhenti di hadapan pintu yang amat besar.
Terbuka perlahan memperlihatkan ruangan yang amat luas dengan singgasana di ujung ruangan. Para pasukan pedang berjajar di kanan dan kiri kami. Meskipun terlihat “ketinggalan zaman”, sebenarnya itu hanya budaya yang tidak dapat dihilangkan. Dengan kecanggihan saat ini, ruangan itu selalu diawasi dan senjata di setiap sudut.
Kami menunduk di hadapan Sang Raja.
“Berdiri.” Kami mengikuti perkataannya.
“Terima kasih sudah menghadiri undanganku. Dalam rangka apresiasi dengan segala kontribusi, aku mengajak kalian untuk makan malam bersama.”
“Suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami bisa mendapati undangan dari Baginda Raja. Izinkan aku untuk memperkenalkan orang-orang hebat di sampingku,” ucap Knox. Namun Sang Raja beranjak dari singgasananya.
“Alangkah baiknya kita membicarakan sembari bersantap siang.”
Di dalam ruang makan, lagi-lagi terpukau dengan seluruh interior di dalamnya. Sebuah meja super panjang dan pulihan kursi di sana. Satu kursi amat berbeda di ujung sana, tempat duduk Sang Raja. Kami hanya perlu duduk, lalu pelayan melakukan segalanya. Benar-benar tidak pernah terbayang olehku. Seperti yang ada di cerita, dongeng, dan mimpi orang-orang.
Dengan makanan pembuka, Knox melanjutkannya.
“Kepala Divisi Riset Teknologi Langit dan Angkasa, Malka Syahnivir.
Kepala Divisi Pengembangan Senjata dan Keamanan, Lydia Aralle.
__ADS_1
Kepala Divisi Pengembangan Transportasi Terintegerasi, Ryne Charityse.
Kepala Divisi Perencanaan Tata Kota, Catherine Fournier.
Kepala Divisi Sains dan Teknik, Pappous Geros.”
Betapa terkejutnya kami saat melihat Pappous yang juga ada di sana tanpa kami sadari. Semua orang terdiam melihat tingkah Pappous. Dengan rasa malu Knox meminta maaf pada Sang Raja.
“Tidak masalah, semua agenda di sini memang untuk santai dan bersenang-senang.”
Kemudian Knox melanjutkannya lagi untuk memperkenalkan seluruh perwakilan yang hadir.
“Wakil Presiden, Harry Knox.”
Agenda dilanjutkan dengan saling memperkenalkan diri lebih lanjut dan berbincang santai. Segala pertanyaan terlontar kepada kami. Latar belakang, kepandaian, penemuan, dan rencana ke depannya. Seperti wawancara saat masuk ke perusahaan. Tak jarang juga suasana diwarnai gelak tawa di tengah pembicaraan.
Setelah makan siang, kami dibebaskan untuk berkeliling di istana ini. Dengan pengawalan tentunya. Ada beberapa tempat yang tidak boleh kami kunjungi. Senang sekali rasanya. Berjalan di setiap sudut istana dan melihat keagungan di dalamnya. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan Tuan Putri, persis seperti di dongeng-dongeng.
Tampak anggun dan cantik. Aku hanya terdiam seribu kata. Aku tidak bisa menggambarkannya. Bak Dewi yang turun ke planet.
“Selamat siang.”
“S—S—Siang…” balasku gugup. Ia hanya tergelitik pelan, membuatnya menjadi kian indah dipandang.
“Siapa namamu?”
“M—Malka, Malka Syahnivir…”
“Vasilissa Frinkivissa. Salam kenal.” Lalu kami saling berjabat tangan. Aku berusaha tenang, tapi kepalaku sudah bergejolak.
“Tidak mungkin! Aku bersalaman dengan Tuan Putri!” benakku. Rasa senang seakan-akan memaksaku untuk jungkir balik.
Tanpa disangka-sangka, ia mengajakku untuk berkeliling bersamanya. Tentu dengan senang hati kuterima.
Ia memperkenalkan tiap sudut istana. Suaranya yang lembut membuatku gagal fokus dan terlelap olehnya. Ia juga memperkenalkan dirinya lebih jauh. Ia merupakan anak tunggal, dan hanya memiliki selisih satu tahun lebih muda dariku. Sesekali aku mendengarkan curahan hatinya menjadi seorang putri kerajaan. Aku turut bersimpati padanya. Ada banyak sisi lain yang baru kuketahui sekarang.
Pada usianya sekarang, tentu rasa dan hati sedang bergejolak tak tentu arah. Rasa kagum dan suka kadang tidak ada bedanya. Aku sangat setuju dengan itu. Aku juga mengalaminya. Meski aku mengganggapnya sepele supaya bisa menjadi lebih dewasa. Entah, aku juga tidak terlalu mengerti tentang itu.
“Enak sekali menjadi dirimu yang bebas dengan pilihan, sedangkan aku, semuanya sudah tertulis…” Aku tidak tahu harus merespon apa padanya. Namun ada sesuatu yang membuatku penasaran.
“Apa seorang putri tidak bisa menikah dengan orang biasa?”
“Sudah menjadi tradisi menikah dengan bangsawan, sebagai alat tukar politik dan kekuasaan. Seharusnya bisa-bisa saja setahuku, tapi pastinya akan dipandang buruk oleh keluarga dan para bangsawan.”
“Rumit sekali rupanya… Tapi menurutku, selama masih ada kesempatan, kau masih bisa yakin dengan itu.” Wajahnya kian membaik setelah mendengarkanku.
“Akan kuperjuangkan lembaranku sendiri…”
__ADS_1
Bersambung~