
Detak jam terus berputar. Sudah dua bulan setelah dokumen titik-titik pembangunan menara ditanda tangan. Kini urusan kami sudah berbeda. Ada kesibukan di dalam ruanganku. Bersama Jack aku harus mengecek pembahasan lebih lanjut tentang permasalahan yang ada di Sabuk Ekuator. Saat semuanya siap kami beranjak menuju ruang rapat. Telah ada beberapa ahli yang sudah hadir.
“Selamat siang.” Aku membuka rapat pembahasan. Aku menjelaskan tentang perancangan alat yang sudah dibuat oleh divisi sebelah. Kemudian dilanjutkan dengan sesi bertukar pendapat terbuka. Pokok bahasan kali ini adalah dampak alat itu bagi langit dan lingkungan. Aku juga memberi laporan tentang alat yang pernah kupakai saat di Mennora kala itu.
“Sama seperti hasil yang ada di laboratorium,” gumam seorang ahli.
Pembahasan berlangsung cukup lama. Masih menjadi perdebatan para ahli tentang risiko fatal pada makhluk hidup. Belum ada data penelitian tentang permasalahan itu. Sebagian menyebutnya berbahaya, namun sebagiannya lagi tidak. Aku menarik kesimpulan di antara kedua kubu itu. Tapi ada persoalan yang juga penting bagiku.
“Untuk sementara kita simpulkan seperti itu dulu. Ada sesuatu yang sama pentingnya,” ujarku. Ruang rapat kembali tenang. Mereka memperhatikanku.
“Apakah sudah ada penelitian terkait dampak langsung alat itu pada langit? Secara alat itu mengonversi energi langit.”
“Belum ada. Hingga saat ini tidak ada acuan sampel yang bisa kami teliti,” jawab seseorang. Aku juga tidak dapat menyangkalnya. Permasalahan itu masih dipertanyakan tanpa petunjuk apapun.
“Anomali langit? Cuaca?” tanyaku.
“Anomali sudah terjadi sejak dentuman itu. Jadi kami tidak bisa mengidentifikasi apakah itu dampak dari alat atau bukan.”
Semua hadirin di ruang rapat ini berusaha untuk memutar otak, namun lagi-lagi tidak menemukan jawaban sedikitpun. Justru semakin banyak pertanyaan yang bermunculan. Aku menyudahi pembahasan tentang ini. “Sebaiknya kita lanjut ke pembahasan berikutnya.”
Dua jam berlalu sejak aku mulai berpijak di ruang ini. Beberapa permasalahan sudah kami bahas. Sebagian terpecahkan, sebagian tidak. Kuharap kami semua bisa menemukan jawabannya satu per satu seiring waktu berjalan. Aku memberi arahan pada mereka. Aku pun menutup pertemuan.
Baru saja keluar dari ruangan, seorang pelayan kantor menyampaikan sesuatu padaku.
“Pak Pappous memanggil Anda untuk datang ke ruangannya.”
Aku memberikan berkas di tanganku kepada Jack, lalu aku meninggalkannya. Setibanya di ruangannya, aku tidak melihat siapapun.
Kemana dia? Aku melihat sekeliling ruangan dan benar-benar hanya aku sendiri di sini. Aku melihat mejanya. Ada satu dokumen yang menarik perhatianku, yaitu tentang perancangan alat dalam skala besar. Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata Pappous yang kucari-cari.
“Sudah melihatnya?” celetuknya. Ia menghampiriku sementara aku masih fokus melihat cetakan biru alat itu.
“Kau benar-benar merancang ini?” tanyaku tak percaya.
“Aku tidak sendiri, tentu bersama para ahli,” jawabnya.
Ia pun mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Kami keluar dari ruangan lalu berjalan di sepanjang koridor. Akan tetapi, seketika saja ia terhenti saat melihatku.
“Kau tidak membawa dokumen itu?”
“Kau menyuruhku?” tanyaku heran.
__ADS_1
“Tentu, aku ingin menunjukkan itu padamu.”
“Maaf, aku akan segera kembali.” Aku kembali ke ruangan kemudian mengambil berkas itu. Ia masih menungguku di koridor.
Kami terus berjalan tanpa kutahu arah tujuan kami. Aku hanya mengikuti di sampingnya. Kami menaiki lift, lalu bergerak turun. Aku sempat berpikir kalau alat itu tidak berada di sini. Saat di lantai dasar, benar saja. Kami mengarah keluar dari gedung. Sebuah kendaraan pribadi sudah menunggu di sana.
“Silakan…” ucap sang Sopir.
Selama perjalanan, aku banyak bertanya pada Pappous. Untung saja ia tidak merasa risih dengan itu. Aku sedikit heran dengan dirinya yang sudah berumur tapi masih bersemangat. Tingkahnya sama seperti anak muda.
“Apa ada tempat tersendiri untuk perancangannya?”
“Tentu, tidak mungkin kau merakit alat sebesar itu di dalam gedung, kan?”
“Apa rancangan ini sudah tahap akhir atau masih prototipe awal?”
“Masih awal. Masih perlu diuji coba berulang kali.”
Tanpa sadar kami sudah tiba di sebuah tempat pinggiran kota. Sebuah bangunan luas seperti hanggar pesawat yang pernah ku lihat saat di bandara. Turun dari kendaraan, kami diberi alat keselamatan. Aku kebingungan saat memakai helm pelindung. Pappous tergelitik melihat tingkahku. Ia pun membantuku.
“Dasar anak muda,” ujarnya tertawa.
“Waw…” Mulutku ternganga. Pappous mencoba untuk menjelaskan alat itu sesimpel mungkin. Tapi perhatianku masih terpusat pada alat itu.
“Di dalam itu ada ratusan, bahkan ribuan pelat logam. Energi langit yang masuk dan bertumpuk akan membuat pelat itu menjadi tidak stabil. Gelombang yang terus berpantul di dalamnya akan memanaskan air yang ada di atasnya.”
Aku berpikir bahwa konsep konversi energi hampir mirip dengan pembangkit listrik lainnya, hanya saja dalam tahapan yang lebih lanjut. Tapi aku dibingungkan dengan bagian bawah alat yang tampak terpisah dengan bagian atas.
“Apa bagian bawah juga berisi pelat logam?”
“Oh bukan. Itu tempat konversi tahap selanjutnya. Kita tidak bisa menyimpan energi langit di pelat-pelat itu. Saat mulai jenuh, ia akan mengalir ke bagian bawah. Dalam kondisi sangat jenuh, mereka akan meledak. Energi panas yang dihasilkan jauh lebih besar daripada nuklir.”
“Berarti hampir mirip dengan awan yang terkondensasi? Tunggu, kau sebut energi panas. Apa tidak berbahaya?” lanjutku.
“Tenang, ada pendingin yang mejaga suhu tetap ditingkat yang aman. Kau tahu pembangkit tenaga nuklir, kan? Hampir mirip dengan itu.”
“Lalu air pendingin yang menguap dengan tekanan tinggi mengalir ke generator. Siklus terus berulang…” gumamku.
“Tepat sekali, anak muda!”
“Tapi aku tidak mengerti, kenapa harus ada pelat-pelat di bagian atas? Bukankah dengan ini saja sudah cukup?”
__ADS_1
“Energi tidak boleh disia-siakan. Rancangan awal juga persis seperti yang kau katakan. Fungsi pelat itu awalnya hanya untuk mengumpulkan energi langit dalam beberapa tingkatan. Tapi kami menyadari kalau pada proses itu terdapat energi yang besar juga. Kau tahu oven gelombang mikro? Gelombang itu juga yang akan menggerakkan molekul air, lalu uapnya akan menggerakkan generator.”
“Jadi generator digerakkan dengan dua sumber uap sekaligus?” tanyaku.
“Betul sekali. Setidaknya untuk saat ini. Kami masih terus mengembangkannya agar efisiensi yang didapat semakin besar.”
“Tapi bukankah ada masalah akan polusi suara? Terlebih dentuman di bagian bawah alat itu.”
“Kami sudah memecahkannya dengan lapisan fiber karbon. Dan beberapa lapis penangkal dentuman di menara nantinya.”
Aku takjub mendengarnya.
“Wah, kau sangat jenius!” lontarku bersemangat.
“Oh tentu saja! Jangan remehkan aku, tiada arti umur bagiku.”
Aku pergi mengelilingi alat itu. Butuh waktu cukup lama untuk bisa melihat seluruh bagiannya. Seketika aku teringat dengan masalah yang dibahas saat rapat tadi. Aku kembali menemui Pappous. Ia sedang mengecek alat bersama beberapa pengawas lainnya.
“Permisi, bisa bicara dengan Pak Pappous sebentar?” Ia berjalan mendatangiku.
“Aku teringat masalah dua bulan lalu saat membahasnya dengan Cathy. Tentang Sabuk Ekuator,” jelasku.
“Kami sedang mengembangkan solusinya.” Ia pun menjelaskan sebuah alat yang dirancang oleh divisinya.
Aku mendengar kalau mereka sedang mengembangkan alat transmisi menggunakan elektromagnetik. Aku berpikir kalau itu sangat mustahil untuk mentransmisikan energi yang sangat besar, terlebih berbahaya bagi burung dan apapun di atas sana. Ia menyanggahku. Memang membutuhkan gelombang besar, tapi gelombang itu bisa diselimuti oleh energi langit.
Namun aku sedikit cemas bila gelombang itu melenceng dari jalurnya.
“Tak perlu khawatir. Selama diselimuti energi langit, ke manapun ia bergerak akan tetap aman.”
Gelombang itu hanya bisa diproses oleh alat pemancar dan alat penerima. Alat pemancar itu menyelimuti gelombang itu dengan energi langit, lalu alat penerima melakukan sebaliknya.
Akhirnya aku mengerti dan permasalahan itu selesai. Aku meminta dokumen itu supaya diberikan salinannya. Lagi-lagi terpikirkan olehku satu hal.
“Bagaimana cara memindahkan alat sebesar ini?”
“Itu urusan divisi sebelah. Mungkin kau akan berurusan dengannya.”
Aku berpikir kalau urusan seluruh divisi, divisiku selalu terlibat di dalamnya.
Bersambung~
__ADS_1