
Menembus kapas putih tipis yang mengambang, tampak rindang hutan yang bercahaya dan penuh ragam warna. Mulutku seakan terbungkam oleh keindahan yang memanjakan mataku. Melihat ke bawah, kami seperti terbang dengan cepat tapi anehnya aku tidak merasa hembusan angin yang kuat. Terasa
lembut menerpa diriku.
“Seperti ini rasanya terbang!” lontar Leora.
“Tidak perlu berteriak sekencang itu,” balas Luceyl.
“Memangnya kalian bisa mendengarku?” tanya Leora.
“Tentu saja, aku bisa mendengar jelas suara kalian. Apakah kalian biasa teriak seperti ini saat bicara?”
“Di saat seperti ini biasanya kami hanya bisa mendengar suara angin yang sangat kencang, tak kusangka hembusannya tidak seperti bayanganku,” jawab Alya.
“Aku tidak tahu seperti apa situasi kalian saat itu, tapi di sini kami bicara sambil terbang seperti biasa.”
“Rasanya aku ingin tinggal di sini selamanya!” ungkap Leora bersemangat.
Terlihat beberapa rumah dari kejauhan. “Pegangan yang erat, kita akan sampai sedikit lagi,” Luceyl mempercepat laju terbang kami. “Bukankah ini terlalu cepat?” teriak Leora ketakutan. Aku langsung memejamkan mataku, kemudian membukanya perlahan. Aku mulai terbiasa dengan ini semua.
“Woohoo! Seperti naik wahana!”
“Seru, bukan?” lanjut Luceyl.
“Aaaaa!” teriak Leora.
Kami mulai melambat sebelum akhirnya mendarat perlahan. Keseimbanganku sedikit goyah saat berdiri, dan rasanya sedikit pusing.
“Aku tidak bisa berdiri…” gumam Leora pusing, wajahnya seperti orang yang baru bangun tidur. Aku tidak mendengar suara Alya sama sekali, “Kau baik-baik saja kan Al—”
Wajah Alya pucat dan mulut sudah tak tahan untuk muntah. Ia berjalan sepoyongan lalu terjatuh, merangkak mencari sebuah tempat, namun ia sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku dan Luceyl langsung memalingkan wajah.
“Ugghh…!”
“M—Maaf! Aku lupa kalau kalian belum terbiasa…” ucap Luceyl tak enak hati.
“Buk!”
Alya terbaring tak sadarkan diri. Aku dan Luceyl langsung berlari menghampirinya, “Alya!” Sementara Leora yang tak berdaya hanya bisa melihat kami.
Kami tiba di depan gerbang desa. Alya berada di punggungku, begitu pula Leora yang digendong bersama Luceyl. Aku bisa merasakan dagu Alya yang bertopang pada pundakku. Ada dua penjaga di depan sana. Aku mengikuti langkah Luceyl.
“Berhenti di sana!” lontar penjaga sembari mengarahkan tombak ke arah kami.
“Ini aku, kenapa kalian menghalangi kami?”
“Luceyl? Kenapa kau bersama makhluk jahat seperti mereka?”
“Makhluk jahat? Mereka tidak jahat,” jawab Luceyl.
“Hampir semua desa di sekitar sini sudah hancur karena makhluk seperti mereka. Bukankah itu belum cukup menjelaskan kalau mereka jahat?”
“Mereka berbeda dengan yang kau sebutkan! Aku berani menyerahkan nyawaku sebagai jaminannya kalau tiga temanku ini baik!”
__ADS_1
“T—Teman…?” gumamku pelan.
“Baiklah kalau itu katamu. Kalian akan tetap kami awasi.”
Akhirnya kami diizinkan untuk melintas masuk. Saat aku tepat berhadap-hadapan dengan salah seorang penjaga, pandangan sinis tampak jelas dari matanya. Aku langsung mempercepat langkahku menjauh darinya.
“Selamat datang di desaku! Maaf kalau sambutannya di luar ekspetasi kalian.”
“Ti—Tidak apa-apa! Aku sudah menduga kalau akan seperti ini, hehe…” balasku cengar-cengir. Kemudian aku mengikuti arah Luceyl pergi.
Desa tempat ku berada sekarang tidak seperti desa tempatku tinggal. Suasananya lebih sepi, dan hanya terlihat satu-dua orang yang terlihat lalu-lalang di jalan bebatuan ini. Namun semua ini membuatku merasa damai dan tenang, jauh dari kebisingan.
“Ada taman di sebelah sana, biasanya lebih ramai, tapi aku harus pergi ke suatu tempat dulu,” ucap Luceyl. “Bagaimana dengan Alya dan Leora?” tanyaku. “Aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak ingin berdebat lagi dengan orang-orang di sini…”
“Kau masih sanggup, kan?” tambah Luceyl.
“Entah mengapa aku tidak merasa berat sama sekali,” jawabku.
“Benarkah? Baguslah kalau begitu.”
Aku terus berjalan tanpa tahu ke mana kami akan pergi. Sesekali kami berpas-pasan dengan orang lain yang juga melintas, mereka menatap kami dengan tatapan dingin lalu menjauh. Terdengar juga beberapa omongan tidak enak terlontar dari mereka.
“Aku benar-benar minta maaf…”
“Tak masalah, sudah wajar jika makhluk asing datang,” balasku.
Tibalah kami di depan sebuah gubuk kayu yang tampak kokoh dan sedap dipandang. Luceyl masuk ke dalam, sementara aku menunggu di luar— melihat orang lain yang menatap diriku. “Ikut saja ke dalam,” ucap Luceyl.
“Karena mereka temamku. Mereka akan membantu kita semua melawan makhluk yang jahat itu.”
“Mereka juga makhluk jahat! Seperti yang lainnya, Luceyl!”
“Aku sudah bicara banyak dengan mereka bertiga. Tentu mereka dari dunia yang sama, tapi tujuan mereka berbeda. Percayalah padaku.”
“S—Salam kenal, aku Malka... dan ini Alya.”
“Ini Leora, mereka berdua seperti ini karena kami terbang terlalu cepat tadi,” lanjut Luceyl. Ibu koki itu sepertinya mulai percaya dengan kami. “Baringkan mereka di sana,” ucap Ibu tersebut sambil memotong bahan-bahan. Kemudian Luceyl datang menghampiri Ibu itu lalu menggapai sesuatu dari jubahnya.
“Ini hasil buruanku hari ini.”
“Sedikit lebih besar dari biasanya. Kau memang dapat diandalkan, Luceyl. Ini imbalanmu,” Ibu itu memberi beberapa koin kepada Luceyl. “Terima kasih,” balasnya. “Tunggu sebentar, akan kubuatkan minuman untuk kalian, terlebih mereka berdua.” Sementara Luceyl kembali menghampiriku.
“Kenapa? Kau ingin koin juga?”
“Malka?”
“E—Eh! Maaf, aku melamun…”
“Apa ada sesuatu?” tanya Luceyl.
“Ah, tidak! Aku hanya penasaran bagaimana bisa kau menyimpan rusa sebesar itu di balik jubahmu.” Sungguh penasaran diriku melihat kejadian tadi sampai-sampai tercengang.
“Oh iya, selain untuk terbang, jubah ini bisa kau pakai juga untuk menyimpan barang,” jelas Luceyl. “Bagaimana caranya?” tanyaku.
__ADS_1
“Bayangkan saja seperti ada wadah di dalam jubahmu itu, lalu masukkan saja.”
“Seperti tas?” lanjutku.
“Tas?” Luceyl tampak bingung mendengar ucapanku barusan.
“Bukan apa-apa,” balasku. Apa di dunia ini tidak ada benda bernama tas? Itu yang kupikirkan sekarang. Seketika Luceyl memberiku sebuah apel, “Cobalah…”
Aku mengambilnya dan mencoba apel tersebut—
“Bukan dimakan! Masukkan ke dalam jubahmu!”
Aku menghadap ke belakang, melihat ke arah jubahku. Sulit membayangkan sesuatu dengan mata terbuka. Bagaimana bisa jubah berbuah menjadi tas? Apa ada bentuk lain yang bisa menyimpan barang?
Pada saat itu juga terbayang di benakku saku dalam seperti di dalam jas, namun ini lebih besar. Sekejap saku itu muncul. “Wah…” Aku memasukkan apel itu ke dalam saku.
“Kau berhasil, Malka! Hebat sekali hanya dengan sekali coba!”
“Y—Yah… Terima kasih…” balasku cengengesan. Pasti Luceyl tidak akan paham kalau aku menjelaskan saku dalam yang biasanya ada pada jas.
Tak lama setelahnya ibu tersebut datang sembari membawa nampan bersama gelas yang penuh dengan minuman, seperti minuman herbal atau semacamnya itu aku juga tidak tahu. “Minumlah, kalian akan merasa lebih baik,” ucap ibu itu.
Aku meneguk minuman itu, terasa aneh, tapi masih bisa kuterima. Sementara Luceyl langsung meneguknya hingga habis. “Kau menyukainya?” tanyaku. “Tentu saja, setiap hari aku meminum ini.”
Beberapa saat setelah minum seketika saja tubuhku terasa hangat dan ringan, rasa pusing di kepalaku juga menghilang, mengingatkanku dengan ramuan yang dibuat Gras. “Namanya Jamhoo, minuman kami setiap hari. Bagus untuk kesehatan,” jelas ibu itu.
“Sekarang berikan minuman itu untuk mereka berdua,” lanjutnya.
“Bagaimana caranya?” tanyaku heran.
“Cukup membantunya untuk minum,” jawab ibu itu.
“Maksudnya?” ucapku, kemudian Luceyl menunjuk mulutku. “T—Tidak mungkin… Aku tidak bisa melakukannya…” gumamku. “Ini sama saja dengan ciuman!” benakku.
“Tapi memang seperti itu caranya. Jika ada seseorang yang tak sadarkan diri, kami menyuapinya dengan mulut kami,” balas Luceyl.
“Kalau begitu kau saja yang melakukannya,” ucapku.
“Tidak bisa, aku belum pernah melakukannya ke makhluk seperti kalian.”
“Lakukan saja, tak ada yang perlu kau takutkan, Nak,” sahut ibu itu.
Aku memasukkan minuman ke dalam mulutku lalu mendekatkannya dengan mulut Alya. Sontak aku menahan napas. Hembusan napasnya terasa di wajahku. Aku memejamkan mataku, lalu mulut kami saling bertemu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Minuman itu sudah berpindah mulut, namun rasanya ia belum menelannya. “Gunakan lidahmu,” ucap Luceyl. Aku tak mengerti maksudnya, aku hanya menggerakkan lidahku di dalam mulutnya. Benar saja, minuman dimulutnya kian berkurang.
“Mmmm!”
Suara Alya terdengar jelas di hadapanku. Aku sangat terkejut mendengarnya. Mata kami saling bertatap, aku tidak bisa langsung menarik mulutku, “Mmmm!”
Alya bangun?
Bersambung~
__ADS_1