
Kami menghabiskan waktu di ruang depan penginapan yang usang itu dengan bercakap-cakap. Aku masih penasaran dengan Sara.
“Berarti kau benar-benar sosok dia?” tanyaku.
“Tentu, kau tidak menyangkanya, kan?” jawabnya.
“Pantas saja kau dekat dengan orang-orang seperti itu…” gumamku.
“Kalian membicarakan apa?” tanya Ellie kebingungan, begitupun dengan Lukas yang terdiam menyimak heran. “Bukan apa-apa,” balas Sara. Ia pun melihat Lukas yang memperhatikannya. “Eh? Kau tidak tahu, Lukas?” tanya Sara.
“Aku hanya tau kau sering mendekati orang-orang penting. Kalian sedang membicarakan itu?” ujar Lukas. “Kira-kira begitu. Kebetulan juga aku bertemu dengan orang penting yang tak kuduga sama sekali,” jawab Sara lalu menyindirku.
“Hentikan. Aku sudah berusaha untuk melupakannya,” ucapku salah tingkah sendiri memegang mulutku. “Maksudmu Malka?” tanya Ellie pada Sara.
“Sepertinya semuanya akan terbongkar,” lanjut Sara menatapku. Sontak aku merinding ketakutan melihatnya. Lukas buncah melihatku dan bertanya, “Kau kenapa?”
“Tidak apa-apa. Hanya saja orang ini selalu membuatku jadi hampir gila,” jawabku.
“Kejadian seperti di menara itu terulang lagi?” tanya Lukas. Aku jadi bertingkah sendiri dengan penuh rasa gugup setelah mendengar Lukas.
“Mentalmu mulai sering teruji, ya…” gumam Ellie tertawa kecil.
Tidak lama kemudian, Ethan, Alya, dan Stella datang menghampiri kami. Mereka bergabung dengan kami. “Apa kalian sudah merencanakan sesuatu?” tanya Ellie.
“Sudah, tapi aku sendiri tidak terlalu yakin,” jawab Alya.
“Kota ini tampak benar-benar dijaga ketat. Kita tidak bisa bergerak seenaknya seperti sebelumnya,” lanjut Ethan. “Kita harus membagi tugas sungguhan,” sahut Stella.
“Memangnya saat itu kita tidak membagi tugas dengan sungguhan?” tanyaku pada Alya. Alya menyanggahku seraya menjawab, “Maksudnya lebih terencana, tidak spontan.”
“Apa kalian punya informasi?” tanya Ethan pada kami.
“Knox berada di kota ini,” jawab Sara santai.
“Knox ada di sini!” lontar mereka. Aku cukup terhibur melihat wajah mereka.
“Berarti kita harus mengubah rencana yang sudah ada,” gumam Alya.
“Kenapa kau tidak memberi tahu kami dari tadi pagi?” tanya Stella.
“Aku dan Sara juga terkejut saat melihat dirinya tadi siang,” jawabku.
Pada akhirnya Sara menceritakan semuanya. Kami baru mengetahui sisi Sara yang lainnya. Ia memang sangat dengan para konglomerat, entah ia berada di posisi apa.
“Wah… Kenapa kau bisa dekat dengan mereka semua?” tanya Ellie.
“Seru saja sih, bisa bermain dengan mereka yang punya banyak uang,” jawabnya.
“Apa kau tak masalah dengan itu? Berarti…” lontarku terkejut sambil memikirkan sesuatu yang aneh. “Aku tidak seburuk yang kalian pikirkan. Tetap saja aku yang diuntungkan.”
“Dengan pikiran licik pun bisa menghasilkan uang,” gumam Lukas.
“Aku hanya punya tubuhku, sedangkan aku tidak pintar seperti kalian. Jadi kumanfaatkan saja semua yang kumiliki. Dan ternyata benar-benar bekerja,” paparnya.
Setelah percakapan perihal sosok Sara yang semakin banyak kuketahui tentangnya. Alya melihat tas besar itu lalu menjadi heran.
“Tas itu milik siapa?”
__ADS_1
“Malka,” jawab Ellie.
“Aku mendapatkan barang yang kita perlukan. Kita tidak perlu susah-susah merakitnya lagi,” lanjutku. Kemudian datang seorang pelayan memberikan masing-masing segelas air minum.
“Apa sedikit terbuka jika membahasnya di sini?” tanya Lukas.
“Tidak masalah. Menerima informasi pihak lain tanpa izin adalah hal tabu di penginapan gelap seperti ini,” jelas pelayan.
“Bukankah orang itu akan tetap mendengarnya juga?” lanjutku.
“Kami juga punya etika terhadap sesama kami.”
Datanglah Zilei bersama orang kejam yang waktu kami jumpai di penginapan ini. Seketika semua ingatan kelam tentangnya terbuka kembali.
“Kenapa kau membawanya ke sini?” tanya Lukas.
“Dia bersedia membantu kita,” jawab Zilei.
“Aku akan membantu kalian! Aku Grim!” serunya girang. Tampak giginya yang menyeringai membuat suasana mencekam. Aku melihat dirinya senang, tapi dari sisi yang berbeda.
“S—Salam kenal…” balasku.
“Baiklah kalau begitu, sepertinya akan cukup membantu…” lanjut Ethan ragu.
“Kudengar kalian sedang mengincar Knox Si Rakus itu! Aku kudapatkan kepalanya! Hahaha!”
“Tidak, tidak! Itu terlalu jauh. Kita hanya ingin menghancurkan menaranya saja,” balas Alya gelagapan.
“Kalau begitu, besok kita akan membahas rencana ini bersama-sama,” lanjut Stella.
“Rencana? Kalian masih terpaku dengan rencana serba rumit itu?” celoteh Zilei.
Zilei menatap kami dengan wajah serius dan menepuk tangannya yang mengepal.
“Kita bergerak malam ini. Sejarah akan terbentuk dalam waktu semalam.”
~
Malam hari tiba. Cahaya rembulan menerangi dataran terang bersamaan lampu sorot yang menembak ke berbagai arah dari menara. Kami berpisah dan berada di tempat masing-masing… setelah setengah jam berlalu.
“Benar-benar mendadak sekali, ya…” gumamku.
Kami berada di atas gedung penuh kilauan marmer, tepatnya sisi barat dari menara. Sementara dua tim lainnya berada di sisi lain dari menara. Aku, Kellos, Lena, dan Stella sedang berada di atap memperhatikan keadaan sekitar gedung menggunakan teropong.
“Ini, mah, penjara namanya,” ucap Stella kesal.
“Lampu sorot itu menyulitkan pandangan kita. Satu bagian terlalu silau dan lainnya gelap. Apalagi pakaian petugas itu warna gelap juga,” lanjutku.
“Jadi, apa kita menunggu laporan dari yang lain saja?” tanya Kellos.
“Apa tongkatmu bisa menggapai tempat itu dari sini?” tanyaku pada Lena.
“E—Eh? A—Akan kucoba!” balas Lena terkejut gugup. Aku langsung mendekatkan wajahku pada Lena. “Jangan gugup. Bicaramu barusan bisa membuat kita salah paham,” ucapku serius.
“B—Baiklah!”
“Bagaimana dengan tongkatmu itu?” lanjutku. Terlihat dirinya masih gugup dan panik sendiri. Aku pun berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
“Tarik napas perlahan… Jangan buru-buru mengucapkannya.”
“Huft… Aku bisa memasang pelacak pada mereka, tapi tidak bertahan lama,” ucapnya. Aku terkejut mendengarnya yang seketika lancar saat bicara.
“Loh, kau bisa melakukannya. Tetaplah tenang seperti ini,” ucapku. Ia tersenyum kecil ke arahku. “Berapa lama pelacaknya bertahan?” tambahku.
“Aku belum pernah mencoba sebelumnya. Mungkin sepuluh menit,” jawabnya.
“Itu waktu yang kita perlukan untuk turun ke bawah…” gumamku.
“Kurasa mereka punya rute pengawasannya masing-masing,” ujar Stella pelan.
“Aku tahu arahmu. Akan kucoba memetakannya menggunakan telepon pintarku,” balasku. “Syukurlah kalau kita bisa terus satu frekuensi seperti ini. Aku akan membantumu.” Sementara Lena dan Kellos memperhatikan kami berdua.
“Apa ada yang bisa kami bantu?” tanya Lena lembut.
“Apa ada cara agar aku bisa melihat apa yang kau lihat?” lanjutku.
“Pegang tongkat ini,” jawabnya.
“Baiklah,” balasku lalu memegang tongkat itu. “Kellos, apa kau bisa melihat sekeliling dengan teropong?” tambahku.
“Laksanakan,” balasnya.
Akhirnya aku dan Stella berhasil memetakan mereka semua setelah beberapa menit berlalu. Kami pun bergerak mendekati area menara itu. Untung saja di sekitarnya ada banyak pepohonan dan semak belukar. Kendaraan yang terparkir di beberapa tempat juga tampaknya dapat membatu pergerakan kami.
Perlahan kami mengendap ke belakang petugas-petugas itu. Secara bersamaan kami melumpuhkan mereka. Kami semakin mendekat dari menara itu, namun langkah kami terhenti saat melihat sekeliling menara itu dikelilingi oleh pagar kawat tinggi. Terdengar suara helikopter yang melintas di atas kami.
“Aneh, apa penjagaannya memang seketat ini?” tanya Stella.
“Aku merasa kalau mereka sudah tahu semua pergerakan kita,” lanjutku.
“Kita tidak bisa masuk lewat mana pun,” sahut Kellos sambil menggunakan teropong.
“Mau tidak mau kita harus masuk dari pintu bawah tanah,” gumamku. Aku pun mengajak teman-teman untuk mengikutiku.
Aku menemukan sebuah pintu bawah tanah yang berada cukup jauh dari menara. Pintu itu tampak sedikit usang dengan rerumputan yang tumbuh di sekitarnya. Semoga saja pintu ini masih terhubung ke dalam.
“Pintunya macet,” ucapku.
“Aku akan membantumu,” balas Lena lalu menggunakan tongkatnya.
“Kreeek!”
“Terbuka, terima kasih, Lena,” ujarku tersenyum.
Kami memasuki pintu itu kemudian melangkah perlahan mengikuti lorong. Di sini sangat gelap, kami harus menggunakan senter. Hingga akhirnya kami berada di sebuah pintu yang terkunci.
“Pintunya terkunci dari seberang,” gumam Stella setelah mencoba mendorong pintu itu. Pada saat-saat seperti ini peran Lena sangat dibutuhkan. Kunci terbuka, Stella membuka pintu pelan-pelan, cahaya terang melewati sela pintu itu.
“Di depan sudah ruang bawah tanah menaranya,” ucapku.
Perlahan melewati pintu itu, akhirnya kami sudah memasuki area menara—
“Siapa di sana?” teriak seorang petugas yang tengah patrol bersama beberapa petugas lainnya. Mereka langsung berlari ke arah kami. Sontak kami mengambil posisi dan ancang-ancang. Aku mengeluarkan pedangku seraya memberi semangat pada teman-temanku.
“Saatnya pemanasan, kawan!”
__ADS_1
Bersambung~