Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Tariklah Napas Sejenak


__ADS_3

Langit cerah menyambut pagi hariku. Berangkat kerja dengan seragam rapih sambil berjalan santai di sepanjang trotoar. Terlihat keramaian di sana-sini. Sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Kuhirup udara segar, tapi itu tidak bertahan lama. Ada banyak kendaraan di sini. Aku menjadi rindu dengan udara desa yang sejuk.


Berhenti di suatu persimpangan. Aku harus menyeberang. Di sisi lain terlihat Pow yang sedang melayani pembeli. Senang melihatnya yang tersenyum pada anak itu. Semoga selalu seperti itu. Ku lanjutkan langkah saat lampu hijau menyala. Sekarang saatnya aku menaiki kendaraan umum. Cukup sepi di sini. Mungkin aku menaiki bus akhir, yang di mana orang-orang sudah menaiki bus-bus sebelumnya.


Lagi-lagi berhenti, tapi di suatu halte. Tampak seorang wanita lansia dengan tongkatnya sedang berjalan menaiki bus. Aku ingin membantunya. Tapi terhalang oleh penumpang lain yang ingin masuk. Untung saja ada salah satu dari mereka yang membantunya. Tempat duduk sudah penuh, aku memberikan kursiku untuknya.


“Terima kasih, Nak…” Aku mengucapkan balasan sambil tersenyum padanya.


Hingga akhirnya aku tiba di halte tujuanku. Melangkah turun dan melanjutkan langkahku yang sudah tak jauh dari kantor. Beberapa orang dengan seragam yang serupa denganku sudah berlari-larian. Kupastikan waktu di jam tanganku. Masih ada setengah jam sebelum jam masuk.


Kembali berhenti, pada sebuah toko roti yang tercium harum dari kejauhan. Tak terlalu ramai. Kebanyakan di datangi oleh pekerja sepertiku, terlebih saat jam berangkat kerja. Terheran-heran dengan mereka yang buru-buru itu. Sepertinya jam masuk mereka lebih awal dariku. Terdengar suara lonceng pintu saat aku keluar dari toko. Melanjutkan langkah seraya menjinjing kantung roti.


Seketika berhenti, melihat seorang badut yang sedang melakukan atraksinya di depan anak-anak. Suara tepuk tangan dan gelak tawa meramaikan sebuah sudut kota. Menyaksikannya sebentar sambil menikmati sebuah roti isi coklat. Suapan terakhir bersamaan pula dengan atraksinya. Keceriaan anak-anak terpancarkan yang lanjut berangkat ke sekolah. Kini tinggal menyeberangi persimpangan terakhir. Aku melewatinya.


Berhenti sejenak, kutempelkan sidik jari untuk mengisi absensi kehadiran. Sudah berada di dalam gedung. Berjalan menuju lift, namun kuurungkan niat itu setelah melihatnya yang sudah penuh. Menaiki tangga menjadi opsi yang kupilih. Hitung-hitung untuk olahraga dan agar tubuhku tak kaku. Sudah lama sejak berlatih bela diri terakhir.


Berhenti saat Jack menyapaku. Di dalam ruangan kuletakkan tas di atas meja kerjaku. Mengecek data dan dokumen lebih lanjut, tugas Jack saat ini. Beranjak dari kursiku, melangkah menuju pintu.


“Kau ingin ke mana?”


“Aku ingin ini menemui Harry,” jawabku. Suara kenop pintu terdengar, aku berjalan melewati koridor. Sapaan terlontar dari pegawai lainnya di sini. Mereka berada satu divisi denganku. Suasana damai, itu yang hanya kurasakan saat ini. Ruangan Harry sudah dekat. Kuperlambat langkahku.


Berhenti di depan pintu. Menarik napas, semangatku meningkat. Meminta izin, aku diizinkan untuk masuk. Aku dipersilakan untuk duduk di hadapannya. Senyum, serasa seperti teman sekolah.


“Selamat pagi.”


“Pagi. Senang sekali hari ini. Syukurlah…”


Sekarang saatnya serius.


“Aku ingin meminta maaf atas kesalahanku dalam tugas inspeksi kemarin.”


“Aku sudah memaafkanmu. Jangan sampai diulangi lagi. Jika ada sesuatu yang membuatmu merasa keberatan, datanglah padaku. Kita bicarakan sama-sama.”


“Kau tidak akan memecatku, kan?”


“Hahaha! Untuk apa? Belum tentu kami menemukan penggantimu. Lagipula belum ada sebulan kita bekerja di sini. Anggap saja  sebagai masa orientasi untukmu.”

__ADS_1


“Benarkah? Terima kasih banyak, Harry!”


“Akhirnya kau memanggilku begitu.” Aku hanya cengengesan padanya.


“Yang penting kau bisa belajar dari kesalahan, lalu memperbaikinya,” tambahnya.


“Baik! Akan kuusahakan yang terbaik!” lontarku bersemangat.


“Sekarang saatnya bekerja!” sahutnya membara-bara.


Kututup pintu dan berjalan kembali ke ruanganku. Aku menyadari betul bahwa tidak ada yang perlu kau cemaskan. Bersikaplah tenang dan gembira saat menempuh hari baru, bahkan saat masa sulit sekalipun. Hari ini tidak sama seperti hari kemarin, ubahlah semampumu. Tidak masalah orang lain berkata apa, kau tidak mendengarkannya, atau justru itu hanya pemikiranmu saja.


Aku tahu pasti akan tiba saat-saat seperti waktu lalu. Sulit rasanya untuk berpikir yang baik-baik. Ada yang menahan mulut untuk bisa tersenyum. Ada yang menahan mulut untuk menasehati diriku sendiri. Sebuah tembok besar ada di kepalaku.


Orang-orang akan mengatakan untuk tenang. Itu benar, namun mungkin ada sedikit tambahan. Lihatlah ke bawah dan syukuri keadaanmu sekarang. Jadikanlah itu sebagai tantangan, supaya kau bisa menerobos dindingnya. Percayalah, segala rintangan pasti akan selalu ada, tapi sesuai porsinya masing-masing.


Tiba-tiba berhenti, seseorang memberhentikan langkahku. Ternyata ia merupakan salah satu bawahanku. Ia mengajakku pada suatu ruangan. Penuh dengan sofa dan sekat untuk privasi. Tidak ada siapapun di sini, karena memang jam kerja. Aku duduk berhadapan dengannya. Wajahnya tampak pucat dan tidak semangat, berbanding terbalik denganku.


Aku hanya terdiam melihatnya. Ia menceritakan sesuatu padaku.


Aku bisa menyelesaikannya tepat waktu, tapi seperti ada yang menggerogoti isi kepalaku…


Ini sudah kesekian kalinya aku mencari pekerjaan. Tentu aku bersyukur dengan pekerjaanku sekarang. Tapi aku tidak sanggup dengan semua ini…


Apa lebih baik ku akhiri saja?”


Jujur aku sangat syok mendengar kalimat terakhirnya. Untung saja aku tidak bereaksi berlebihan. Aku belum pernah berurusan dengan hal ini sebelumnya. Perlahan aku bertanya.


“Kau tidur malam biasanya jam berapa?”


“Entahlah… Waktu terasa lambat bagiku… Seringnya aku tidak bisa tidur walaupun sudah kupaksa. Kepalaku pusing. Daripada hanya berbaring, aku mengerjakan tugasku di rumah.”


“Apa kau mau mendengarkan padanganku?” tanyaku.


“Tentu, aku tidak memiliki jalan keluar.”


“Kau sering dengar kalau hidup itu ‘pilihan’, betul?” Ia mengangguk kepadaku. “Tapi, tidak ada pilihan untuk mengakhiri segalanya…”

__ADS_1


“Segala macam takdir sudah tertulis dan kau cukup memilihnya. Mungkin terasa sulit seperti ujian, karena memang begitulah nyatanya. Tapi percayalah, pilihan itu sudah sesuai dengan porsi dan kemampuanmu. Bantuan pun bisa datang kapan saja. Dengan kau mendatangiku mungkin itulah pilihanmu, tanpa sadar bantuan sudah datang padamu…


Banyak orang yang tidak sadar saat bantuan itu tiba. Beruntunglah jika kau menyadarinya. Jangan sia-siakan kesempatan itu…


Kau tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, kan?”


“Iya… Aku ingin lebih baik dari sekarang,” jawabnya.


“Aku tahu permasalahanmu. Apa kau mau mendengarkan penjelasanku?”


“Baiklah, aku akan mendengarkanmu.” Aku pun menjelaskannya.


“Sebenarnya kau berpikir berlebihan, apalagi saat ingin tidur. Pastinya kau akan penat esok harinya, jadinya produktivitasmu berkurang. Siklus itu berulang hingga kau berada di titik terendah…


Kau mengira kalau kau sudah sekeras mungkin untuk menyelesaikannya, tapi rasa penat itu memperlambat kinerjamu. Seperti ilusi, kau tampak berlari tapi posisimu tak berubah…


Kau ingin mendengarkan masukan dariku?”


“Iya…”


“Sekarang cobalah untuk tenang, terlebih saat kau ingin tidur. Banyangkan hal indah yang pernah terjadi dalam hidupmu. Jika sulit, lakukan suatu aktivitas satu jam sebelum jadwal tidurmu. Itu akan membuat pikiranmu teralihkan. Atau, kau juga bisa menganggap kalau semua tugas itu hanyalah tantangan di dalam permainan. Kau akan mendapatkan sesuatu saat kau menuntaskannya…


Tidak masalah untuk memberi hadiah sesekali pada dirimu sendiri. Entah pergi berwisata, berkumpul dengan teman, atau menghadiahkan dirimu sendiri dengan barang impianmu…


Jika aku menjadi dirimu. Aku akan menanggapnya sebagai batu loncatan agar bisa seperti orang lain atau bahkan melebihinya. Jangan tundukkan kepalamu pada mereka. Kejarlah mereka! Tunjukkan kalau kau juga bisa! Percayalah, kau pasti bisa melewati semuanya…”


Wajahnya yang semula pucat kini mulai membaik.


“Terima kasih banyak, Pak! Aku akan mengingat betul perkataanmu.” Kami saling memberi senyum.


“Kini ada satu perintah dariku untukmu,” ujarku.


“Baik, Pak!” balasnya sigap. Aku bersikap santai lalu mengusap-usap punggungnya.


“Tariklah napas sejenak…”


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2