Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Serikat


__ADS_3

Pandangan gelap, lantas kubuka kedua mata. Terlihat langit-langit yang sangat asing bagiku. Terdengar suara keramaian dari dekat. Apa yang telah terjadi? Dan… aku di mana?


“Malka? Akhirnya kau bangun,” ucap Leora.


“Di mana kita?” tanyaku heran. “Kita sedang berada di serikat pedagang desa,” jawabnya. Pantas saja terdengar sangat ramai di sini.


Serikat dagang? Apa yang membuatku dan Leora berada di sini? Aku benar tidak ingat apa pun. Ternyata di sebelah sana ada Zilei dan yang lain juga.


“Kenapa kita ada di sini?” lanjutku.


“Kau tidak ingat? Kita mengawal para pedagang dari Suthmein ke sini.”


“Pedagang?” Aku terdiam untuk mengingat-ingatnya lagi. Entah mengapa sulit sekali untuk mengingatnya. Rasanya seperti terlelap dan mimpi, tapi terasa nyata.


“Kau ping— maksudku, kau tertidur saat di perjalanan tadi,” ucap Leora.


Kemudian datang Porty mendatangi kami berdua.


“Syukurlah kau sudah bangun. Terima kasih sudah mengawal perjalan kami. Barang-barang kami sampai dengan selamat. Imbalannya sudah kuberikan ke teman-teman kalian di sana,” ujar Porty.


“Imbalanmu sangat akan sangat membantu kami. Senang bekerja sama denganmu,” balas Leora. Tunggu? Sepertinya aku ingat sepotong demi sepotong. Aku merasa kalau kereta kami sempat terhalau oleh para perampok. Itu yang menjanggal pikiranku.


“Apa saat di perjalanan kita bertemu dengan perampok?” tanyaku.


“Untung saja ada ka—” ucapan Porty langsung dihentikan oleh Leora. Apa yang sebenarnya terjadi? Tingkah mereka menjadi aneh.


“Apa itu hanya mimpiku saja, ya…?” gumamku pelan.


“Ah! Selama perjalanan baik-baik saja. Sepertinya itu hanya mimpimu saja, hehe…” jawab Leora. Porty sepertinya masih ada urusan, ia sibuk melihat ke kiri dan kanan.


“Mungkin kalian lapar, silakan pesan makanan. Kali ini kutraktir sebagai imbalan. Aku tinggal dulu, ya? Kau bisa mendatangiku di halaman bongkar muat,” ujar Porty lalu meninggalkan kami berdua.


“Sepertinya teman-teman sudah menunggu. Ayo, Malka.”


“Aku ingin membasuh wajah dulu. Kau bisa duluan,” balasku.


“Baiklah, kutunggu bersama yang lain. Jangan lama-lama, ya!”


Kusempatkan sedikit waktu untuk membasuh wajahku dahulu.

__ADS_1


“Ah!” Terasa perih saat air mengenai wajahku. Dari cermin ternyata ada sebuah luka goresan di wajahku. Apa yang terjadi padaku? Sejak kapan pipiku terluka? Aku sama sekali tidak mengerti. Baiklah, daripada pusing sendiri, lebih baik aku segera berkumpul dengan mereka.


“Hai, Malka! Sepertinya kau nyenyak sekali, ya!” lontar Kellos tersenyum. Seperinya mereka sedang membicarakan sesuatu, tapi aku tak terlalu mendengarnya barusan.


Terdengar suara gemuruh. Ternyata dari perut Lena. Sangat malu dia karenanya. Leora langsung memanggil seorang pelayan.


“Perut tidak bisa bohong, bukan?” canda Kellos. Wajahnya merah, badannya menguncup, matanya sayu, dan hanya bisa terdiam malu.


“Sudah, sudah. Dia jadi sangat malu karenamu,” ucap Leora, sementara Kellos hanya cengengesan. “Maafkan aku, ya?” lanjut Kellos sambil mengelus kepalanya Lena.


Suasana seperti ini membuatku dadaku terasa sesak. Kenapa aku jadi begini? Mereka berdua tampak serasi sekali, terlebih Lena dengan tingkahnya yang malu-malu.


Tidak, tidak. Aku tidak ingin merasakan rasa sakit seperti ini. Inikah seperti yang disebut orang-orang? Gejolak masa muda? Tapi kepada siapa perasaanku bergejolak? Apa hanya ingin merasakan berada di posisi seperti mereka berdua?


“Kau kenapa, Malka? Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Leora khawatir.


“Eh! Eee… Tidak, bukan apa-apa!” Aku terkejut mendengar Leora.


“Ekhem! Aku mual melihat seseorang sedang mencari perhatian,” sindir Zilei.


Apa maksudnya? Aku merasa seperti yang ia ucapkan. Tapi ia jelas menyindir ke Kellos dan Lena, kan? Karena mereka berdua masih saja sibuk berdua. Untuk apa aku mempermasalahkan ucapannya? Lebih baik kuanggap seperti angin lewat saja.


“Benarkah? Tapi kau tampak seperti memikirkan sesuatu,” balas Leora padaku.


Tunggu, tunggu. Dua percakapan bersamaan, membuat kepalaku pusing.


“Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kau harusnya becermin juga, Perempuan Tidak Laku!” lontar Zilei. Sontak Stella menjadi sangat kesal padanya.


“Siapa yang kau sebut tidak laku? Kau juga sama! Tidak akan ada yang mau denganmu karena sikapmu itu!” seru Stella lalu pergi meninggalkan kami.


Kami menjadi tontonan semua orang di dalam ruangan. Tidak bisa melerai, hanya menyaksikannya saja, termasuk aku.


“Stella!” panggil Leora. “Jaga mulutmu!” lanjutnya lalu pergi menghampiri Stella. Zilei masih sangat kesal dengan wajahnya yang berpaling. Sementara Kellos dan Lena hanya terkesiap tanpa kata-kata.


Sudah kuduga kalau akan seperti ini…


Beberapa saat kemudian, aktivitas kembali normal, meskipun keadaan Zilei dan Stella masih belum membaik. Leora dan Stella belum kembali. Sepertinya Stella sangat terpukul dengan itu. Akan tetapi, semoga saja Zilei juga ikut terpukul dengan perkataan Leora tadi. Dengan kejadian ini, semoga mereka saling mengenal dan akrab satu sama lain.


Hidangan datang dan disajikan. Gejolak di dadaku kini sudah terhenti. Aku bersyukur dengan itu. Aku ingin menyantap makanan ini saat semuanya lengkap. Namun tidak ada tanda-tanda mereka kembali, terlebih makanan mulai dingin. Zilei sudah makan sejak hidangan itu tiba. Kellos dan Lena masih belum berubah, aku cukup terhibur dengan tingkah mereka.

__ADS_1


Sebaiknya aku makan lebih dulu saja. Suapan pertama masuk ke mulutku.


“Ini semua salahmu!” bentak Zilei. Ia sangat marah padaku.


“Prushh!” Tersembur makanan yang baru saja masuk ke mulutku.


“S—Salahku?”


Ia tidak melanjutkan perkataanya, malah lanjut makan. Aku mengelap mulut dan meja. Untung saja ada kain di atas meja. Melihatku makan, Kellos dan Lena juga mengikutinya tapi mereka masih ketakutan. Tangannya bergetar saat mengambil suapan. Makanan itu tumpah sedikit-sedikit ke atas meja.


Kini makananku hampir habis. Leora dan Stella akhirnya tampak masuk ke dalam. Terkejut aku melihat Stella yang sedang menangis. Leora berusaha membujuk dan menenangkannya. Lalu mereka duduk bersama kami.


“Apa tidak ada permintaan maaf sama sekali?” tanya Leora kesal pada Zilei.


“Maafkan aku, Stella…” ucap Zilei pelan. Sikapnya amat berbanding terbalik. Syukurlah Stella bisa merasa lebih baik dan tenang sekarang.


Setelah kejadian yang menggemparkan satu ruangan itu, kami mendatangi Porty masih berada di halaman bongkar muat itu.


“Oh, kalian sudah mengisi perut?” tanya Porty.


“Sudah, makanan di serikat enak juga ternyata,” balas Leora.


“Tentu, jangan meremehkan masakan di sini.”


“Pekerjaan kami sudah selesai, bukan? Kalau begitu kami pamit—” lanjutku.


“Tunggu, hari sudah mulai gelap. Lebih baik kalian menginap dulu saja di sini, lalu berangkat besok. Kalian bisa bertanya pada pelayan serikat tentang kamarnya. Bilang saja atas namaku,” potong Porty.


“Sepertinya kami menerima banyak imbalan yang tak pantas dari sekedar mengawal kalian. Kami sangat berterima kasih padamu,” ucap Leora.


“Sama-sama, justru kami yang sangat terbantu dengan kalian,” balas Porty tersenyum.


Kami bermalam di lantai atas gedung serikat pedagang ini. Ternyata bangunan ini sangat luas. Kami membaginya menjadi dua kamar, dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.


Keesokannya, kami berangkat kembali menuju Suthmein.


“Kalian bisa menghubungiku kapan saja. Hati-hati di jalan,” ujar Porty.


“Sip! Sampai jumpa!”

__ADS_1


“Dadah!”


Bersambung~


__ADS_2