
Berontak diriku langsung bergegas menghampiri Athar yang berteriak kesakitan. Suaranya yang sangat kencang menggelora di segala penjuru. Seakan bergema di dalam lorong tanah. “Athar!” teriakku, namun Knox langsung menahanku dengan asap hitamnya, mengikatku kencang ke atas tanah.
Knox kembali menghadap sesembahan itu, kemudian terdengar suara bisik-bisik darinya seperti sedang merapalkan sebuah mantra. Semakin pekat asap itu keluar dari sana. Aku mendengar juga Knox yang terkekeh. “Kau tidak dibutuhkan lagi di dunia ini, Malka. Tugasmu sudah selesai. Sekarang saatnya aku berterima kasih padamu.”
Tiba-tiba saja sesuatu terjadi begitu cepat. Aku melihat seseorang yang muncul di belakang Knox dengan sebuah bilah di tangannya, tapi Knox langsung mengeluarkan kekuatannya dan membawanya ke tempat Athar berada. Terkejut diriku melihat sosok yang di balik itu.
“Leora!”
Ramai orang menyahutiku dengan nada yang sama. Kini terdengar dua suara mencekam di hadapan kami.
“Jackpot! Kita mendapat hadiah terbesar di sini!” seru Knox seraya melebarkan tangannya. Seluruh pasukan bersorak membalasnya.
“T—Tidak mungkin…” gumam Eil.
“Apa maksudmu?” lancangku keras ke wajah Knox.
“Kau akan melihatnya. Dan ini, kembaliannya,” jawab Knox lalu mengembalikkan Athar kepada kami. “Apa maksud semua ini?” tanya Alya terkejut heran. Athar yang bertumpu pada tanah sudah lemas tak berdaya.
“Bertahanlah, aku kami akan memulihkanmu,” ucap Stella. Lena bersama tongkatnya berusaha memulihkan Athar. Cahaya hijau keluar dari tongkatnya dan mengelilingi Athar. Sementara aku masih terkekang oleh asap menyebalkan ini.
“Lepaskan aku!”
“Tenanglah, aku hanya ingin kalian menyaksikannya dengan tenang,” balas Knox.
“Aaaaa!” teriak Leora.
Lantas Knox berjalan bolak-balik seraya melipat tangannya, kemudian berkata dengan santai, “Kalian pasti bingung apa yang terjadi? Klise sekali jika aku menjelaskan semua yang terjadi. Tapi tak apa, aku sudah tahu apa yang akan terjadi pada kalian semua. Sedikit bocoran sepertinya seru.”
“Berhenti omong kosong!” balasku.
“Malka, kapan kau bertemu dengan gadis di depanmu ini? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?” tanya Knox.
“Aku tidak harus menjawabmu!” sangkalku.
“Tenang… Tenang, Malka. Yang ku lakukan di sini semuanya untuk kebaikan. Kebaikan bumi, semesta, dan bisa berguna bagi siapa pun. Termasuk pertanyaanku sebelumnya. Aku hanya ingin menjelaskannya kepadamu. Mengapa kau keras kepala sekali?”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang ini semua!” lontarku.
“Aku? Tidak tahu apa-apa tentang ini? Hahaha… Memangnya apa yang kau tahu tentang semua ini? Tentang langit? Langit akan runtuh kalau diserap terus-menerus. Itu yang ingin kau katakan, bukan?”
“Jika memang itu benar adanya, kau akan apa?” balasku.
“Tentu aku tidak berada di sini sekarang. Tapi sekarang aku ada di sini, artinya semua itu tidak benar, bukan? Semua dongeng dan imajinasi orang-orang sebagai cara untuk mengajarkan tentang lingkungan. Apa kau punya bukti jelas kalau langit akan runtuh?”
Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Tidak tahu aku harus menjawab apa. Knox mendekatiku seraya tersenyum, “Kau tidak tahu, bukan, yang terhormat Mantan Kepala Divisi Riset Teknologi Langit dan Angkasa?”
“T—Tentu saja aku ada buktinya! Penelitian Menara, banyak hasil penelitian tentang langit yang tertulis di sana, termasuk potensi langit runtuh,” jawabku.
“Hemm… Sepertinya aku mengingatnya. Berarti aku ada kejutan spesial untukmu,” balas Knox lalu melempar sebuah dokumen ke hadapanku. Terkejut diriku melihat judul yang tertulis, “Uji Simulasi Dampak Ketidakstabilan Energi Langit”. Kemudian tertulis pula subjudul “Kekekalan Energi Langit dan Konversinya”.
“Tidak mungkin! Lalu, mengapa tumbuhan menjadi layu setelah energi itu diserap?” sanggahku. “Layu bukan berarti mati, bukan? Apa kau mengeceknya lagi di lain hari?” tanya Knox. Aku kembali terdiam.
“J—Jadi… Selama ini…” gumamku bergetar.
“Kau naif sekali, Malka. Kau sudah bertahun-tahun bekerja denganku, tapi kau sebenarnya tidak paham sama sekali tentang tujuan kita bersama. Pikiranmu hanya berputar tentang langit yang kau agungkan itu.”
Knox kembali melanjutkan perkataannya seraya mendekatkan wajahnya denganku.
“Kau ingin tahu semua jawaban tentang langit, bukan? Apa kau sudah mendapatkannya?”
Seketika pandanganku kosong, tubuhku terdiam, dan kepalaku penuh dengan rasa penasaran yang selama ini menghantuiku.
“Belum…”
Knox tersenyum, suaranya pelan dan lembut berhembus dari mulutnya, “Apa kau ingin mengetahui jawabannya bersama kami?” Knox mengulurkan tangannya kepadaku. Sedikit tubuhku tergerak dan tanganku terangkat, meraih tangannya.
“Berhenti, Malka! Itu semua hanya manipulasi dia!” teriak Eil.
“Malka jangan dengarkan orang terkutuk itu!” lanjut Alya.
Aku dan Knox berjalan pelan. Ia menuntunku sambil berpegangan tangan. Banyak pertanyaan melayang-layang di pandanganku. “Sekarang aku akan bertanya lagi. Bagaimana kau bisa bertemu dengan Leora?” ucap Knox.
~
“Aduh!”
“A—Apa kau tidak apa-apa?”
__ADS_1
“Y—Ya hanya tergores sedikit saja, tapi itu semua akan membaik.”
“Kau harus berhati-hati. Jangan terburu-buru.”
“Maaf, aku terlalu bersemangat.”
“Tidak perlu minta maaf, yang penting kau sudah lebih baik.”
“Siapa kau?” tanyaku heran.
“Leora. Namaku Leora Seraphia. Kau bisa memanggilku Leora. Salam kenal!”
“Malka. Malka Syahnivir.”
“Senang bertemu denganmu. Ini, makanlah. Dengan ini kau akan membaik.”
“Kau jual ini?”
“Iya. Riunbread. Simbol reunion.”
“Reunion?”
“Iya.”
~
“Aku…”
“Aku tiba-tiba bertemu dengannya, tiba-tiba juga dia menghilang…” jawabku pelan.
~
“Malka! Jangan dengarkan dia! Malka!”
“Malka! Sadarlah!
~
“Baiklah, sekarang berikan aku satu kata yang tepat untuk Leora,” ucap Knox.
“Misterius.”
“Tidak, Leora! Malka! Sadarlah!” teriak Alya panik, sementara aku hanya terdiam dengan padangan kosong. Alya berteriak lagi memanggil namaku dengan sangat kencang dan panjang.
“Malka…!”
~
“Hmph… Terima kasih.”
“Sedang apa kau di sini?”
“Aku memang hampir setiap hari kesini. Kenapa kau kesini?”
“Aku sedang mencari sebuah buku.”
“Buku tentang apa? Langit? Kalau itu yang kau cari, sepertinya salah lemari…”
“Bagaimana kau tahu? Aku belum memberi tahumu sebelumnya.”
“Biasanya… orang-orang kesini tidak lain dan tidak bukan untuk mencari tahu tentang langit itu. Ibu perpustakaan yang mengatakanku begitu. Tapi tidak ada satupun yang mendapatkan apa yang mereka cari. Karena buku itu ditempatkan di tempat yang tidak semua orang tahu.”
“Mari… Ikuti aku.”
“Wah, banyak sekali buku-buku di sini.”
“Ini, ambillah.”
“Ini hanya buku fiksi. Kau percaya?”
“Mungkin seharusnya kau buka halaman terakhir sebelum menanyakannya kepadaku.”
~
Aku membuka mataku yang selama ini terpejam. Aku baru menyadari itu. Tapi aku benar-benar baru sadar kalau diriku saat ini berada di tengah hamparan air dangkal sehingga memantulkan langit bagai cermin. Suasana ini seperti familiar bagiku. Muncul sesosok gadis cantik yang tidak asing bagiku.
“Alya?”
__ADS_1
Gadis itu menggerakkan bibirnya kemudian berkata.
“Selamatkan kami…”
“Selamatkan kami dari iblis itu…”
“Avadananthe Risidious.”
~
Pandanganku kembali gelap. Terdengar suara rintihan seseorang yang sangat kencang. Banyak orang memanggil namaku.
“Malka? Akhirnya kau sadar,” ucap Alya yang wajahnya memenuhi pandanganku.
“A—Alya? D—Dimana aku?”
“Bagaimana bisa Alya melakukan seperti itu?” Aku mendengar pertanyaan Gras yang entah bertanya pada siapa.
“Kita sedang berhadapan dengan Knox,” jawab Alya. Aku langsung teringat kembali semua yang terjadi. Termasuk mimpiku barusan. Aku langsung beranjak bangun dan panik. Orang-orang heran dengan perangaiku.
“Ada apa, Malka? Apa kau mengetahui sesuatu?” tanya Alya.
“Apa Knox sudah mengatakannya?” balasku.
“Mengatakan apa?” lanjut Alya.
“Tidak! Leora!” teriak Athar.
“Hahaha! Kau sudah tahu jawabannya kah, Malka?” ucap Knox.
“Jangan…! Tidak! Hentikan!” teriakku.
Knox mengangkat kedua tangannya seraya menghadap ke atas, kemudian membuka lebar-lebar mulutnya.
“Avadananthe Risidious!”
Aku tidak menyangkanya. Selama ini… Selama ini itulah yang ingin sosok itu sampaikan kepadaku. Tapi aku harus apa? Apa yang harus ku lakukan untuk memperbaiki semua ini? Hanya berteriak yang bisa aku lakukan sekarang.
“Tidakkkk…!”
Leora berteriak sangat kencang, bergemuruh langit dengan suaranya. Cairan merah mengalir dari mulutnya yang tak sanggup lagi menahan kesakitan.
“Aaaaa…!”
Asap… Asap hitam itu melenyapkan Leora.
“Leora…” lirihku.
“Hahaha! Ini yang ku tunggu-tunggu. Aku bisa merasakannya sekarang. Hahaha!” tawa Harry sembari mengepalkan kedua tangannya yang berselimut dengan kepulan hitam itu. “Arghh!” lontar dirinya sembari mengembangkan tubuhnya. Angin kencang terhempas dari tubuhnya ke segala penjuru arah.
Knox merasa sangat senang hingga gelaknya tak terhenti. Harry terbang bersama kekuatan yang menyelimuti dirinya. Ia mengangkat ayahnya itu ke hadapannya. “Terima kasih, Ayah. Berkat Ayah, aku bisa mendapatkan apa yang aku ingin—tidak—yang kita inginkan.”
“Anakku, sekarang tidak ada siapa pun yang bisa menandingimu sekarang.”
“Benar, Ayah. Benar… Sekarang aku tak terkalahkan. Tidak ada yang bisa mengalahkanku! Ya… Sekarang aku tidak butuh siapa pun lagi. Semua orang membutuhkanku sekarang.”
“Apa yang kau katakan, Nak? Ada yang masih belum kita tuntaskan. Ayo kita selesaikan bersama-sama.”
“Tidak, Ayah. Sekarang aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Apa pun…” Harry membuka telapak tangannya, lalu mencengkeramnya kembali. Pada saat itulah semua pasukan Knox mati dengan tubuh yang tidak beraturan. Seketika tempat ini menjadi lautan darah.
“Apa yang kau lakukan, Harry? Kenapa kau melakukan ini?” tanya Knox terkejut.
“Diamlah! Ayah tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Akulah penguasa semesta!”
“Mengapa kau menjadi seperti ini? Aku tidak menginginkanmu seperti ini…”
“Diam, Ayah! Kau selalu saja berisik! Sekarang, rasakan ini!”
“Bleeerrkk!”
Tiba-tiba saja tubuh Knox bernasib sama seperti pasukannya. Potongan tak beraturan itu jatuh dan berhamburan ke atas tanah. Harry turun ke tanah, kemudian mengambil sebuah potongan itu lalu menggigit dan mengunyahnya.
“Pahit sekali. Memang cocok dengan dirimu yang biadab itu.”
Aku terdiam syok. Wajahku bergetar tak sanggup apa yang sudah terjadi. Aku berdiri tegap, namun tubuhku terasa lemas.
“T—Tidak mungkin…”
__ADS_1
Bersambung~