
Aku dan beberapa temanku masuk memanjati pagar. Kami berjalan perlahan menuju saluran ventilasi belakang. Gras sudah lebih dulu meretas kamera pengawas di luar sini. Ellie mengeluarkan obeng dari tempat penyimpanan alat perkakasnya.
“Apa senter kalian siap?” tanya Ethan.
“Aman,” jawabku. Setelah itu, Ellie sudah melepas mur dari plat ventilasi itu.
“Sudah selesai,” ucap Ellie.
“Siapa yang ingin masuk pertama?” tanya Ethan.
“Kau saja yang lebih dulu masuk,” sahut Zilei.
Pada akhirnya Ethan lebih dulu masuk ke dalam saluran ventilasi itu. Kami merangkak di sepanjang saluran. Aku berada di belakang Alya. Wajahku terlalu dekat dengannya. Aku memalingkan pandanganku ke bawah.
“Aduh!” lontar Alya. Tanpa sadar ia berhenti di depanku.
“Maaf, aku tidak tahu kau berhenti,” balasku.
“Lihat depanmu, Malka,” lanjutnya.
“Cih, kesempatan dalam kesempitan,” celoteh Zilei.
Aku tidak tahu kenapa kita berhenti di sini.
“Di depan ada cabang. Kita pilih ke mana?” tanya Ethan.
“Apa kita tidak berpencar saja?” usulku.
“Aku tidak tahu denah saluran ini. Takutnya nanti tersesat dan tak tahu jalan kembali,” balas Ethan. “Ya sudah, pilih saja yang menurutmu benar,” lanjut Zilei.
“Baiklah, jangan sampai ada yang tertinggal, ya,” ujar Ethan.
Kami lanjut merangkak mengikuti Ethan karena ia yang berada di paling depan. Menggunakan senter, kami bisa melihat di tengah kegelapan. Kami melewati lubang ventilasi yang menghadap ke suatu ruangan. Aku ingin melihatnya lebih jelas dengan sente—
“Malka! Jangan!” ucap Ellie di belakangku. Aku terkejut dan langsung menurunkan tanganku. “Bisa saja di sana ada kamera pengawas, cahaya sentermu bisa terlihat,” lanjutnya.
“Tapi, bagaimana kita bisa tahu ruang pengawas itu?” tanyaku heran.
“Ruangan itu akan cukup terang karena cahaya dari layar pengawas,” sahut Alya.
Kami terus mengikuti saluran ini dan belum kunjung menemukan tujuan. Lima belas menit telah berlalu. Kami sudah mulai ditanya oleh teman-teman yang berada di luar.
“Kalian masih belum menemukannya?” tanya Gras.
“Belum, kita akan berusaha secepatnya,” jawab Ellie.
“Waktu kita semakin terkuras,” sahut Ethan.
Hingga lima menit kemudian, kami terhenti oleh Ethan. Sepertinya ia melihat sesuatu di bawah sana.
“Aku melihat cahaya di bawah sana,” ucap Ethan.
“Kau yakin kalau itu cahaya layar?” tanya Zilei.
“Alya, mundur sedikit,” lanjut Ethan. Lalu ia melihat lebih dekat dengan lubang ventilasi itu. “Benar, itu cahaya dari layar,” ucapnya.
Ellie mengoper obeng pada kami. Setelah Ethan melepas mur lubang itu, ia kembali mengintip dari atas untuk melihat sudut dinding, mengecek kamera pengawas. Ternyata tidak ada satu pun kamera di sana. Satu per satu kami masuk ke dalam.
“Bagaimana bisa ruang pengawas malah tidak di awasi?” gumam Ellie.
Terlihat banyak layar seperti layar televisi terpampang di dinding. Sepertinya kamera itu dapat melihat gelap.
“Layar kamera yang berada di luar tidak mati?” tanya Ellie.
“Sepertinya kamera yang diretas menunjukkan rekaman saat tidak ada siapa-siapa,” jawabku. “Wah, ternyata bisa seperti itu, ya,” balas Ellie.
“Sekarang, layar ini harus kita apakan?” lanjut Ethan heran.
__ADS_1
“Kau tahu semua ini kan, Malka?” sahut Zilei.
“Akan kucoba,” balasku lalu duduk di atas kursi, mengambil papan ketik dan tetikus. Terdapat sebuah perangkat lunak di dalam komputer itu. Tertulis sebuah alamat protokol dari kamera itu. “Ketemu,” ucapku.
“Tes, tes. Apa kau bisa mendengarku, Gras?” panggilku melalui alat komunikasi.
“Iya, aku bisa mendengarmu. Ganti,” jawab Gras.
Aku memberikan alamat protokol itu pada Gras.
“Baiklah, aku sudah memasukkannya. Butuh sekitar tiga menit untuk bisa menjebolnya,” lanjut Gras.
“Kabari kami kalau sudah selesai,” balasku.
Kami menunggu di dalam ruang pengawas. Aku mengotak-atik komputer itu.
“Apa tidak ada yang patroli di sini?” gumam Ellie lagi.
“Sekedar mengecek. Tolong jangan ada suara sedikit pun,” ucap Alya.
Ia menempelkan telinganya ke atas lantai di dekat pintu.
“Aku mendengar seperti suara orang melangkah. Suaranya semakin besar,” lanjutnya santai. “Berarti kita harus sembunyi,” lontarku panik.
“Padahal terlihat jelas di layar bagian ini kalau ada orang di lorong,” sahut Zilei.
“Tapi kita tidak tahu kamera itu ada di mana,” lanjut Ethan.
“Aku akan memancing orang itu masuk ke dalam sini. Kalian sembunyilah,” ujar Alya. Tanpa pikir panjang aku menuruti perkataannya.
Suara pijakan mulai terdengar. Saat benar-benar dekat, Alya mengetuk kecil pintu itu. Ia mengendap di samping pintu itu. Benar saja, pintu terbuka dan petugas itu sedikit masuk ke dalam menyorot beberapa sudut ruangan. Alya langsung membekukannya dari belakang.
Petugas itu lantas tak sadarkan diri. Ellie langsung menuang ramuan ke dalam mulutnya. “Apa yang kau tuang?” tanyaku penasaran.
“Ramuan pelumpuh yang dibuat Gras,” jawabnya.
“Kata Gras kurang lebih empat jam,” jawab Ellie.
Tiba-tiba terdengar suara Gras dari alat komunikasi itu.
“Kalian membicarakanku?”
“Ramuan pelumpuh yang kau buat benar-benar bekerja,” balasku.
“Wah, syukurlah. Ngomong-ngomong, aku sudah berhasil meretasnya. Kalian sudah aman… dari kamera pengawas,” ucapnya.
Aku meletakkan petugas yang tidak sadarkan diri itu ke atas kursi, dan menaikkan kakinya ke atas meja, seperti orang yang sedang tidur lelap. Aku mengembalikan tampilan layar komputer itu seperti biasa.
“Kita sudah hampir tiga puluh menit di sini. Kita harus cepat,” ucap Ethan.
“Di luar sudah tidak ada petugas lagi, kan?” tanya Alya.
“Aku tidak melihat siapa pun lagi di layar tadi,” sahut Zilei.
“Baiklah, tapi kita harus tetap waspada,” lanjut Ethan.
Kami mengendap-endap melewati lorong. Terasa cukup asing bagiku yang pernah ke tempat ini, karena benar-benar gelap. Akhirnya aku menemukan sebuah pintu yang terhubung dengan gudang itu.
“Ini pintunya,” ucapku. Pintu itu terkunci. Ellie mengeluarkan sebuah alat pemetik kunci, lalu berusaha membukanya.
“Ceklek.”
Sepertinya Ellie berhasil. Ketika pintu itu terbuka, terlihat sebuah tangga mengarah turun. “Gudang itu ada di bawah sini?” tanya Ethan.
“Sebaiknya dua orang pergi ke pintu untuk membukanya,” ucap Alya.
Zilei dan Ellie pergi menuju pintu belakang. Sementara kami sudah memasuki gudang itu. Terlihat sangat luas dan penuh dengan senjata-senjata di setiap rak.
__ADS_1
“Banyak sekali…” gumam Alya.
“Seingatku di sekitar sini ada banyak kotak penyimpanannya,” balasku.
Terlihat tumpukan kotak di ujung ruangan. Aku pun mengangkatnya, namun cukup berat untuk sebuah kotak kosong. Saat dibuka, ternyata di dalamnya juga sudah penuh dengan senjata.
“Bahkan di sini juga ada?” ujar Ethan tak percaya.
“Kita bawa yang kotak dulu saja,” usulku.
“Aku tidak yakin kita bisa membawa semuanya,” ucap Alya.
“Lebih baik kita langsung bergerak dan bawa sebanyak yang kita bisa,” lanjutku.
Kami membawa masing-masing satu kotak kembali ke atas. Kotak itu cukup besar dan berat. Kami kesulitan saat menaiki tangga. Pintu belakang sudah dibuka oleh mereka.
“Itu senjatanya?” tanya Ellie.
“Iya. Masih ada banyak di dalam, ayo bantu kami cepat!” jawab Alya.
Athar, Lukas, dan lainnya berada di luar pagar. Kami pun memberi kotak itu pada mereka untuk dinaikkan ke dalam truk.
“Waktu kita tiga puluh menit lagi. Kita harus kembali dengan kondisi seperti semula,” ujar Athar. “Aku tahu itu, akan kuusahakan,” balas Alya.
Waktu berjalan seiring kami bolak-balik mengambil senjata. Aku sudah tidak menghitungnya lagi. Mungkin ini sudah kesepuluh kalinya. Lantai yang kami lewati penuh dengan tetesan keringat.
Alya memberi kotak itu pada Athar, namun Athar hanya terdiam menatapnya.
“Kau lihat ke mana?” tanya Alya kesal.
“M—Maaf!” balasnya gugup. Sedangkan Lena malah malu sendiri melihat Alya.
Waktu tersisa lima menit, masih ada beberapa di dalam gudang. Aku bergerak secepat yang aku bisa. Baju yang kugunakan terasa mengganggu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Leora.
“Aku titip bajuku dulu,” jawabku. Ternyata Zilei dan Ethan mengikutiku juga.
“K—Kenapa sekarang aku jadi penitipan baju?” gumam Leora sebal sembari memegang baju yang meneteskan banyak keringat.
“Keringkan baju itu. Aku tidak ingin baju itu membanjiri trukku,” ucap Athar. Dengan berat hati dan merasa jijik, Leora memeras baju itu.
Kini kali terakhirnya kami membawa senjata itu. Tidak ada kotak atau penyimpanan untuk mempermudah kami. Aku memeluk beberapa senjata yang bisa kubawa sekaligus.
Kembali ke pagar belakang, kami memberikannya pada mereka.
“Senjata pun sampai ikutan basah…” gumam Leora.
Kami sempat merapikannya seperti semula sebelum memanjat keluar dari tempat itu. Setelah semuanya dinaikkan ke dalam truk. Kami bergegas balik ke markas. Sepanjang perjalanan, Gras meretas seluruh kamera pengawas yang kami lewati, begitu juga saat kami berangkat tadi.
Setibanya di markas, kami semua turun, terkecuali Gras dan Athar. Mereka harus mengantar senjata itu ke pinggiran kota.
“Kami pergi dulu,” ucap Athar.
“Hati-hati. Pastikan tidak ada yang mengikuti kalian,” balas Alya.
“Alat peretas masih aman, kan?” tanya Ethan.
“Tenang. Alat ini masih sangat sehat,” jawab Gras.
Mereka pun pergi. Misi kali ini cukup melelahkan. Aku, Zilei, Alya, dan Ellie duduk di sofa. Meredakan penat dan menenangkan napas.
“Huft… Untung saja semuanya baik-baik saja…” hembus Alya.
Tiba-tiba saja Leora melempar kami masing-masing sebuah handuk.
“Mandi sana!”
__ADS_1
Bersambung~