Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Rasa dan Rahasia


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu. Langit malam bercahaya lampu benderang terpandang dari balik jendela. Kini aku sedang berada di hotel, memikirkan tempat penginapan selanjutnya, karena proses penyelidikanku sudah selesai, itu yang dikatakan Jack. Aku merapikan barang-barang ke dalam koper.


Sebenarnya aku bisa tinggal lebih lama di sini oleh Jack. Ia telah mengizinkanku untuk menempati hotel ini selama dua minggu lamanya. Tapi hanya untuk diriku seorang, tidak untuk teman-temanku yang akan datang ke sini. Aku harus menemukan tempat kami menginap secepatnya.


Tiba-tiba saja telepon hotel berdering, memintaku untuk menemui pelayan yang berada di lobi hotel. Setibanya di sana, aku dipinjamkan telepon genggam olehnya.


“Halo?”


“Hai, apa benar ini Malka?” tanya seorang perempuan di balik percakapan.


“Alya?” Aku langsung melangkah ke tempat yang lebih sepi dan memutup-nutupi telepon dengan tanganku. “Ada apa kau meneleponku jam segini?”


“Kami sudah ada di Centra, di penginapan. Aku ingin kau segera ke sini. Kita akan bertemu di…” Alya memberi tahu sebuah nama penginapan.


“Sekarang?” tanyaku.


“Iya, aku sudah berada di sana,” jawab Alya yang sontak membuatku terkejut.


“Baik, aku akan secepatnya ke sana,” balasku.


Sekarang aku harus cepat-cepat ke sana. Namun sepertinya cukup jauh dari hotelku saat ini. Akan sangat sulit untuk berjalan kaki karena sudah larut malam. Yang hanya terlintas di benakku hanyalah meminta bantuan pada Jack. Aku meneleponnya dengan telepon yang masih kupinjam.


“Jack, ini aku Malka.”


“Ada apa kau menelepon larut malam begini?” tanya Jack terdengar lesu.


“Maaf, tapi aku butuh bantuanmu sekarang. Bolehkah kau mengantarku ke penginapan lain?” pintaku.


“Eh? Kau sudah mau pergi? Kenapa?”


“Tidak, aku akan masih di Centra. Aku tidak enak menginap seorang diri di sini. Aku ingin bertemu dengan temanku di sini,” jawabku.


“Apa aku mengenalnya?” lanjut Jack.


“Tidak, aku belum pernah mengenalkannya padamu. Kapan-kapan akan aku kukenalkan,” balasku.


“Baiklah, aku akan ke sana. Tunggulah di depan.”


Aku mengembalikkan telepon itu pada pelayan. Bergegas menaiki lift dan berlarian di lorong menuju kamarku. Setelahnya aku kembali ke lantai bawah, melakukan check out lalu berjalan keluar lobi. Terlihat sebuah kendaraan di sana. Jack membuka jendela kendaraan.


“Sini, Malka!” lontarnya.


Roda berputar kami meninggalkan hotel itu.

__ADS_1


“Apa ia teman dari perusahaan lain?” tanya Jack.


“Entah, mungkin bisa dibilang begitu,” jawabku.


“Apa aku bisa menemuinya nanti?” lanjutnya.


“Sepertinya tidak sopan kalau kau datang tengah malam begini,” jawabku.


“Benar juga…”


“Oh iya, aku tidak melihat Harry sama sekali, apa ia sedang tugas keluar kota juga?” tanyaku penasaran.


“Tidak. Saat ini ia sangat sibuk dengan penelitiannya. Besok aku juga harus menemuinya,” jawab Jack. “Kau masuk ke dalam timnya?” lanjutku.


“Iya, karena ada kaitannya dengan energi langit,” jawabnya.


Sesampainya di penginapan, aku turun dari kendaraan membawa barang-barangku. Tanpa turun dari kendaraan, Jack langsung berpamit padaku lantaran dirinya sudah amat kelelahan.


Aku masuk ke lobi penginapan, di sebuah bangku ternyata ada Alya sudah menungguku. Ia langsung mendekatiku.


“Apa saja yang mereka tanyakan padamu?” tanya Alya padaku.


“Seperti yang pernah kuceritakan pada kalian,” jawabku.


Benar saja, kami menuju area parkir dan ke sebuah kendaraan yang terparkir di sana. Di dalamnya ada seorang lelaki yang ikut bersamanya.


Sekejap pikiranku melayang tak berarah. Baru satu minggu berpisah, ia sudah memukan ‘teman dekat’nya. Betapa naifnya aku merasa cemburu padanya.


“Perkenalkan, ia kawan sekumpulan dengan kita,” ucap Alya.


“Athar Bramadis, panggil saja Athar.”


“Malka, Malka Syahnivir, salam kenal,” balasku.


Aku menaiki kendaraan itu bersama mereka. Keluar dari penginapan itu. Aku menjadi heran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.


“Kau mungkin banyak pertanyaan, tapi jangan sekarang,” ucap Alya.


“Tapi, bagaimana kalian bisa bertemu?” tanyaku.


“Ceritanya panjang, seperti yang bilang Alya, kita akan membicarakannya nanti,” sahut Athar.


Mereka berdua terlihat sangat akrab sekali. Benar-benar tidak kuduga. Aku merasa seperti orang asing di antara mereka. Yang bisa kulakukan sekarang hanya melihat sekeliling dari balik jendela.

__ADS_1


“Kau tidak apa-apa saat bersama Jack, kan?” tanya Alya.


Aku hanya terdiam tanpa kata-kata. Kepalaku terlalu banyak pikiran dan aku merasa kesal kepadanya. Sulit membuka mulut untuk menjawabnya. Entah, apa yang terjadi pada diriku, saat ini aku sedang kesal.


“Malka?” panggil Alya.


“Maaf, jangan sekarang,” balasku. Ia hanya tersenyum lalu kembali berpaling dariku.


Dari yang aku alami sekarang, aku hanya bisa menarik kesimpulan kalau penginapan tempat kami bertemu tadi sekedar pengalihan saja. Rasanya seperti film detektif saja. Aku yakin kalau kami sedang mengarah ke tempat berkumpul yang sebenarnya.


Jika dipikir-pikir lagi, ada pertanyaan yang mengganjal di kepalaku. Apakah ada tempat yang benar-benar ‘rahasia’ di kota ini? Aku merasa kalau seluruh tempat ini sudah terjangkau oleh Knox Corp. Tapi tidak menutup kemungkinan jika ada aktivis juga di kota ini. Pikiranku terus berputar seiring keakraban obrolan mereka berdua.


Hingga tibalah aku pada sebuah penginapan yang biasa saja, dalam artian sebuah penginapan yang bintang tiga. Kami turun dari area parkir di lantai bawah tanah. Masuk ke dalam lift, tampak tombol lantai hingga beberapa lantai ke atas. Dari posisi kami sekarang, seharusnya kami sudah berada di lantai paling bawah.


Alya menekan beberapa tombol.


Aneh, ia menekan beberapa tombol angka di sana, seperti sedang mengisi kata sandi. Lalu ia menekan tombol darurat, seketika lift terasa bergerak. Namun anehnya lagi, lift ini terasa tidak bergerak ke atas, melainkan ke bawah.


“Tujuh, empat, tiga, satu, lima…?” gumamku kebingungan.


“Ingat baik-baik, jika kau ingin menggunakannya. Yang penting, jangan sampai ada orang luar yang tahu kombinasi angka tadi,” balas Alya.


“Benar, jaga rahasia itu, oke?” sahut Athar.


“Kalian terlihat akrab sekali, ya,” balasku.


“Tidak biasa saja,” lanjut Alya.


“Kau cemburu, ya?” tanya Athar.


Entah kenapa aku merasa malu sendiri mendengarnya. Seketika aku jadi sulit bicara, dan tubuhku bergerak aneh.


“T—Tidak. K—Kenapa juga aku harus cemburu pada kalian?”


Lift terhenti, lalu pintunya terbuka. Aku melangkah keluar. Terlihat seperti sebuah ruangan yang tidak jauh beda dari lobi penginapan lainnya. Perbedaan yang sangat mencolok di sini ialah banyaknya barang-barang dan peralatan… sepertinya semacam senjata.


“Malka!” lontar Gras.


“Kalian?” Aku cukup terkejut melihat mereka.


Mereka berbaris menyambutku, sementara Alya yang berada di dekatku berbalik menghadap diriku dengan penuh senyum.


“Selamat datang di markas Synnefá, Malka!”

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2