Synnefá: Into The Sky

Synnefá: Into The Sky
Perampok


__ADS_3

Bersama Leora aku berangkat menuju tempat kumpul. Cukup lebih awal dari perkiraanku. Untung saja aku tidak bangun kesiangan… walaupun aku dibangunkan oleh Leora. Aku cukup kagum pada dirinya yang bisa bangun sangat awal, sebelum matahari terbit.


Tibalah kami di ujung pasar itu. Terlihat barisan kereta kuda, namun teman-temanku belum tampak satu pun. Sepertinya aku dan Leora datang paling awal. Kami bertemu lagi dengan orang kemarin.


“Kalian cepat sekali,” ucapnya.


“Benarkah? Tapi kalian juga sudah siap-siap di sini,” balas Leora.


“Ya… Kami harus memuat barang-barang ke atas kereta.”


“Ada yang bisa kami bantu?” tanyaku.


“Kami akan sangat terbantu. Kalian bisa pergi ke orang-orang di sana.”


“Baiklah…” Aku tidak tahu nama orang itu.


“Porty, itu namaku,” balasnya.


“Aku Malka, dan dia Leora.”


“Baik Porty, kami akan pergi ke sana,” sahut Leora.


“Kalian bisa datang kepadaku kapan saja,” ujar Porty.


Kami pergi mendekati beberapa orang yang sedang mengangkat barang-barang itu naik ke atas kereta. Ada banyak kotak di sana.


“Pagi, Anak Muda,” sapa salah seorang dari mereka.


“Pagi, kami ingin membantu kalian. Boleh?” tanyaku.


“Oh, silakan. Kalian kuat mengangkatnya, kan? Atau kalian bisa angkat apa pun yang menurut kalian lebih ringan.”


Aku pergi mengambil sebuah kotak dari tumpukan kotak yang tergeletak di sana. Aku tidak tahu isinya, tapi terasa cukup berat. Leora yang juga melihatku juga ingin melakukan sepertiku. “Errghh! Errghh!” Ia tidak kuat mengangkatnya.


“Kau kuat sekali, Malka,” ucap Leora. Aku sedikit malu dibuatnya. Saat aku kembali ke tumpukan itu, Leora masih berusaha. Aku menjadi kasihan padanya. Saat aku mengangkat kotak paling atas, ternyata di baliknya terdapat kotak-kotak kecil.


“Di sana ada banyak kotak kecil, mungkin kau bisa membawanya,” ucapku.


“Wah, benar… Baiklah, terima kasih,” balasnya.


Setengah jam berlalu, pekerjaan memuat barang sudah hampir selesai. Terdengar suara beberapa orang yang datang. Teman-temanku sudah tiba. Mereka datang bersama-sama. Lekas mereka ikut membantu. Tanpa sadar pekerjaan selesai sangat cepat.


“Huft… Akhirnya selesai,” hembusku sambil menepuk-nepuk tangan.


“Terima kasih, kalian semua. Sekarang inilah tugas kalian yang sebenarnya,” sahut Porty.


Kami semua ikut dalam rombongan kereta itu. Ada delapan kereta yang berbaris, terdiri dari enam kereta barang dan dua kereta penumpang, berisikan para pedagang dan kami yang terpisah jadi dua. Aku, Leora, Kellos berada di kereta paling depan, sedangkan Zilei, Stella, dan Lena berada di tengah rombongan.


“Kau bisa bela diri juga Leora?” tanyaku. “Aku bisa melindungi diri sendiri,” jawabnya sambil memeragakan tangannya. Aku merasa agak ragu dengannya, tapi aku percaya saja. “Kalau kau?” lanjutku pada Kellos.


“Sama seperti Leora, hehe… Kau sendiri bagaimana?” balasnya.


“Yah… Sebatas pertahan diri,” jawabku cengar-cengir.

__ADS_1


Seseorang di sebelah Porty berbisik padanya, tapi aku bisa mendengarnya sedikit.


“Apa kau yakin dengan mereka? Lawan kita perampok, lho.”


“Benakku berkata untuk percaya pada mereka. Semoga saja kita bisa lolos dari semua perampok itu,” jawabnya.


Setengah perjalanan, kami memasuki hutan. Pepohonan memenuhi pemandangan kanan dan kiri kami. Terlihat senyap, aku merasa tidak baik dengan suasana ini. Tidak terlihat satu pun hewan di sini. Bukankah di hutan itu habitat para hewan?


Aku mencium bau darah, tapi aku tidak bisa meyakinkannya. Bisa saja itu bau tanah, atau… entahlah… Baunya seperti tidak asing. Oh, mungkin saja ada pemburu di dekat sini…


Tunggu, tapi rumornya ada banyak perampok di jalur yang kami lewati. Apa pemburu itu tidak takut pada perampok? Apa meraka sudah pergi? Pergi ke mana?


Tidak, tidak. Kalau perampok itu tidak pergi, dan tidak ada pemburu di sekitar sini, tapi tidak ada hewan berkeliaran, itu berarti…


“Perampok!” teriak pengendara kuda.


Benar saja, aku sudah merasa sangat was-was sejak keanehan itu.


Sebagian pedagang berlindung di atas kereta, sebagiannya lagi memegang senjata untuk membantu kami. Melihat mereka memegang senjata, aku meminta Porty untuk meminjam salah satu senjata itu.


“Masih ada satu pedang, ini, ambillah,” ujarnya.


Pedang? Terasa seperti kembali ke ratusan tahun lalu. Sebenarnya aku sendiri belum pernah memegang pedang. Tapi… pedang? Kukira aku bisa menggunakan setidaknya pistol atau senjata api lainnya. Akan sangat sulit jika lawan kami menggunakan peluru.


“Hahaha! Kalian melewati daerah kami tanpa izin. Kalian sudah tahu akibatnya, bukan? Hahaha!"


"Untung saja aku sedang baik hari ini. Tinggalkan kereta kalian di sini, maka kalian akan selamat. Saling menguntungkan, bukan? Aku mendapat harta dan kalian mendapat nyawa, hahaha!”


Apanya yang saling untung? Walau nyawa kami selamat, tapi harta para pedagang itu hilang tak bersisa. Orang itu terlihat besar dan banyak omong. Sepertinya dialah bosnya.


“Hah? Lancang sekali mulutmu! Makanya aku benci anak muda zaman sekarang. Apa kau menantangku?”


Eee… aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya kuperbuat. Leora dan Kellos terlihat panik melihat tingkahku. Aku harus berbuat apa? Apa tidak bisa melakukan negosiasi saja?


“Kupikir aku takut dengan tubuh besarmu itu? Apalagi banyak omong sepertimu.”


Astaga! Apa yang kukatakan barusan? Memang aku bisa bela diri, tapi aku tidak tahu kemampuan mereka. Sepertinya aku juga banyak omong.


“Kenapa, Bocah? Apa kau takut dengan kata-katamu sendiri? Hahaha!”


“Woi, beruang! Mengapa kau tidak maju saja?” lontar Zilei di sampingku. Aku terkejut mendengarnya. “Apa yang kau katakan, Zilei?” ucap Leora panik.


“Huh, datang lagi bocah tak beradab satu ini. Untuk apa aku maju sekarang? Hahaha!


Sepertinya kalian mengabaikan tawaranku, ya? Baiklah kalau begitu…


Serang mereka semua…!”


Perampok-perampok itu maju menyerang kami. Dari yang aku lihat, sepertinya mereka juga tidak ada senjata api. Setidaknya senjata kami seimbang dengan mereka.


Aku maju dan melakukan pertahanan. Tatapan mereka seperti ingin membunuh kami. Tanganku tidak ingin menumpas darah orang lain.


“Arghh!”

__ADS_1


Mereka menemukan celahku. Untung saja hanya tergores, bukan luka yang berarti. Aku tidak bisa terus-terusan menahan serangan mereka.


Baiklah kalau itu mau mereka, aku akan membalasnya.


“Aku tidak akan menahan diri!” lontarku. Polaku agak berbeda dengan yang pernah kupelajari saat latihan kala itu. Ada banyak celah pada mereka.


“Aaaa! Tanganku!”


Oh tidak! Apa yang barusan kulakukan? Aku menebas tangannya hingga putus. Tidak mungkin… Tidak mungkin, kan?


Lena berteriak kencang saat melihatnya. Wajahnya menjadi pucat. Leora langsung membawanya ke belakang.


“Ha! Hanya ini kemampuanmu? Saatnya aku membalas perbuatan temanmu!” teriak seseorang di hadapan Zilei yang sudah terbaring di atas tanah.


“Zilei!”


Aku langsung berlari kepadanya. Pedangku dan orang itu saling beradu. Untung saja masih sempat kutangkis.


“Ah! Rasakan ini!” teriak orang itu sambil menyerang lurus ke depan. Persis dengan yang pernah kupelajari. Aku langsung menyerangnya dari bawah dengan cepat.


“Arghh! Aaa…”


Sebuah pedang tertancap di dadanya. Tak lain ialah pedangku sendiri.


Aku baru saja membunuh seseorang…


Tidak, tidak, tidak… Tidak! Tanganku… Tanganku! Aku tidak percaya melakukan ini. Kenapa aku melakukan ini? Kenapa harus aku? Darah itu mengalir di tanganku. Masih hangat, baunya terhirup olehku…


Tidak mungkin…


“Malka! Masih belum selesai! Pikirkan itu nanti saja!” teriak Zilei yang sudah kembali bangun.


Aku tidak salah, kan? Aku melindungi teman-teman dan para pedagang. Yang aku lakukan adalah benar, kan? Pedang itu sudah berlumuran darah…


Melindungi… Kau melindungi orang-orang, Malka… Kau melakukan hal yang benar…


Kepalaku penuh bimbang. Musuh sudah bersiap di hadapanku.


“Baiklah, kugunakan pedang ini untuk melindungi orang!” lontarku menyerang.


Keadaan semakin baik di sisi kami. Banyak dari mereka yang sudah terbaring di atas tanah. Mereka tak sadarkan diri dan terluka, tapi salah satunya terbunuh olehku.


“Bagaimana bisa? Mereka bisa mengalahkan para anggotaku…”


“Aaa…!” Ia berlari sekencang mungkin seorang diri. Stella langsung mengerjarnya dan melumpuhkannya.


Suasana mencekam pun berakhir.


Aku masih tidak percaya. Sangat tidak percaya. Aku berjalan kembali ke arah mereka. Kepalaku pusing, aroma darah itu semakin kuat tercium. Mereka termasuk Leora terlihat syok melihatku.


“M—Malka…” ucap Leora.


Tubuhku seketika lemas, pedangku terlepas dari tangan, lututku bertumpu pada tanah, dan pandanganku semakin gelap.

__ADS_1


“A—Aku membunuh orang…”


Bersambung~


__ADS_2