
Aku hanya terdiam melihat mereka semua, entah merasa senang, atau tidak, aku tidak tahu harus berbuat apa.
“A—Aku kembali?” balasku ragu.
Mereka semua lantas tertawa mendengarku. Alya meletakkan koperku di sebuah sudut ruangan. “Kau bisa menaruh barang-barangmu di sini,” ucap Alya. Di sana juga ada barang-barang milik teman-teman.
“Sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat,” ucap Ethan.
Terlihat dua orang yang asing bagiku. Aku belum pernah melihatnya. Daripada menjadi canggung, lebih baik aku segera mengenalnya.
“Maaf, aku dan mereka belum berkenalan,” ucapku gugup.
“Astaga! Aku lupa!” lontar Alya tersadar. “Athar, kuserahkan padamu, ya, ada sesuatu yang harus kukerjakan,” lanjutnya.
“Baiklah, Malka. Yang berada di sebelah sini namanya Lukas Alathic. Lalu yang ini namanya Sara Ryanna,” jelas Athar.
“Salam kenal,” ucap Lukas padaku. Sementara Sara berjalan mendekatiku. Terlalu dekat, sampai-sampai aku merasa tidak nyaman dibuatnya. Aku hanya terdiam.
“Hmm… Aku menyukaimu!” lontarnya seketika mengejutkanku. Tidak, lebih tepatnya semua orang terkejut mendengarnya.
“H—Hah? Apa aku salah dengar?” tanyaku tak habis pikir.
“Aku tidak tahu. Tapi aku merasa kalau aku menyukaimu. Rasa seperti itu tak perlu ada alasan, bukan?” balasnya.
“Apa kau menjahiliku?” tanyaku sebal padanya.
“Jika menurutmu lebih baik, silakan menganggapnya begitu. Tapi aku tidak berbohong sama sekali padamu,” jawabnya.
Semua orang mendengar percakapan kami dengan sangat jelas, termasuk Alya. Ia sempat terdiam mendengarnya, lalu melanjutkan pekerjaannya seperti tidak terjadi apa-apa.
“Sudah, sudah. Semuanya bubar!” ujar Ethan tegas.
Kami berhamburan bersiap-siap untuk tidur. Aku yang sudah sangat lelah lantas berbaring santai di atas sofa. Saat tersadar, suasana hening dan sepi.
Sepertinya aku ketiduran, dan sekarang sudah pagi… atau siang, mungkin. Aku tidak bisa memastikannya karena tidak ada jendela dan jam dinding. Terdapat sebuah telepon pintar yang tergeletak di meja, entah milik siapa. Aku menyalakannya sekedar mengecek jam saat ini. Ternyata memang masih pagi.
Aku menyempatkan waktu yang ada sekarang untuk berkeliling melihat lantai “rahasia” bawah tanah ini. Ternyata terdapat enam ruang lainnya, empat untuk kamar, dan satu untuk dapur. Kalau dilihat-lihat memang benar-benar seperti penginapan pada umumnya. Saat aku memasuki kamar mandi, tidak ada bedanya dengan kamar mandi biasanya.
Aku melihat empat kamar itu. Kamar pertama dan kedua berisi laki-laki, sedangkan sisanya perempuan. Mereka masih tertidur pulas di sana. Aku merasa kalau perjalanan mereka pasti sangat melelahkan.
Aku tidak banyak bertingkah, hanya melihat-lihat peralatan dan apa pun yang bisa kukerjakan untuk menghilangkan rasa bosan.
__ADS_1
Siang harinya, kami bersantap siang di ruangan ini juga, beberapa orang mewakili kami semua untuk mengambil hidangan dari lantai atas. Setelahnya, suasana menjadi serius dan tegang. Mungkin saja kita akan membahas sesuatu.
“Baiklah, kita semua sudah berkumpul sesuai dengan rencana awal. Sekarang saatnya untuk ke rencana selanjutnya…
Tapi sebelum itu, kita harus tahu segala informasi yang sudah dikumpulkan. Saatnya laporan dimulai dari tim satu,” papar Ethan.
“Izinkan aku menjelaskan semuanya,” ucap Ellie.
Entah mengapa suasana seperti ini mengingatkanku seperti rapat kerja di Knox Corp kala itu. Kami pun menyimak Ellie.
“Kami sudah berhasil mengumpulkan… kalau dari hitunganku sendiri sekitar tiga ratus ribu orang yang ikut dengan kita hingga ke Centra. Saat ini mereka bersiap-siap di pinggir kota…
Lalu kami bertemu dengan tiga orang “penting” yang bisa mengoordinasi mereka, ada Athar, Lukas, dan Sara. Untuk peran-peran mereka akan dijelaskan masing-masing…
Kami juga sudah membuat banyak poster lalu mengirimnya ke para pedagang dan ekspedisi. Eee…” Ellie tampak berpikir untuk mengingatnya.
“Kami membawa banyak makanan!” sahut Gras bersemangat.
“Nah iya! Kami mengumpulkan banyak logistik juga,” balas Ellie.
“Baiklah, sekarang giliranku menjelaskan laporan kami,” lanjut Alya.
“Seperti yang kalian lihat dan rasakan sekarang, kita mendapat penginapan gratis yang diberikan oleh salah satu dari mereka,” ucapnya.
“Benar. Lalu untuk kampanye kami sempat beberapa kali memberikannya kepada berita televisi nasional, secara anonim tentunya…
Tentang penjagaan Malka, untung saja tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan. Jadi kita anggap tugas itu selesai. Sudah dipikirkan juga beberapa rencana, semua itu tergantung pada informasi dari Malka,” jelas Alya.
Selanjutnya, saatnya aku memberikan informasi pada mereka. Aku menjelaskan tentang apa yang aku alami selama di kantor itu. Aku menghamparkan sebuah denah gedung yang aku dapatkan dari dokumen di ruang Jack ke atas meja. Mereka memperhatikannya, sementara aku dengan sebuah pulpen berusaha memaparkannya.
“Rumit juga, ya,” gumam Ethan.
“Terus, aku juga dapat informasi dari Jack, kalau banyak kepala divisi yang sedang ada dinas di luar kota, termasuk kepala divisi persenjataan. Tapi aku tidak tahu persis kapan ia kembali, bisa saja hari ini,” lanjutku.
“Apa masih ada lagi yang ingin disampaikan?” tanya Ethan.
“Kau pernah bekerja di sana, bukan? Kenapa kau tidak menjelaskan semuanya?” ujar Zilei dengan tatapan tajam padaku.
“Aku akan menjelaskannya seiring berjalan,” jawabku.
“Informasi dari Malka kurasa sudah cukup. Sekarang saatnya menyusun rencana selanjutnya,” balas Ethan.
__ADS_1
“Yang pertama kami akan mengusulkan seperti ini. Sebelum kita bertindak di Centra, lebih baik kita menyulutnya terlebih dulu di kota-kota lain, apalagi daerah yang dekat dengan menara. Dengan begitu, perhatian mereka akan menuju ke sana…
Kita bisa mulai bergerak dua atau tiga hari setelahnya. Fokus kita adalah mengambil alih kantor Knox Corp dan segala turunannya,” jelas Ethan.
“Jadi kita meramaikan berita dulu?” tanya Ellie.
“Tepat. Kita bisa gunakan itu sebagai tanda untuk aktivis di seluruh penjuru benua,” jawab Ethan.
“Tapi, bukankah penjagaan di sekitar sini justru akan semakin ketat?” tanya Stella.
“Bagaimana kalau kita merampas persenjataan mereka dulu?” usul Lukas.
“Ide bagus. Kita semua dapat bergerak bersama-sama, tidak masalah, kan?” balas Ethan. “Tapi kita tidak tahu gudang persenjataan itu berada,” lanjut Lukas.
“Tenang saja, kita punya Malka. Dia tahu segalanya. Benar, kan?” celetuk Leora lalu menatap wajahku.
“Wah, wah… Tenyata kau melebih ekspetasiku, Malka,” sahut Sara.
“Berarti kita belum bisa menjalankan rencana itu sebelum merampasnya?” tanyaku memastikan.
“Iya, apakah ada usul lain?” lanjut Ethan.
“Sepertinya itu yang terbaik,” balas Gras.
Pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan misi merampas senjata di gudang Knox Corp esok malam. Untung saja aku pernah ke semua fasilitas perusahaan itu. Sembari menunggu waktu itu tiba, kami mempersiapkan segala yang dibutuhkan.
Kami terpisah menjadi beberapa perkumpulan. Sebagian mengecek peralatannya masing-masing, lalu sebagiannya membicarakan rencana misi itu. Gras dan Sara menyiapkan ramuan di dapur. Sementara aku… tidak tahu ingin melakukan apa.
“Aku ikut melihat senjata juga, deh,” benakku.
Aku mengambil pedangku lalu duduk di sebuah bangku seorang diri. Terlihat Alya dan Athar yang sangat akrab bercerita tentang diri mereka satu sama lain. Pandanganku kosong mengarah ke mereka.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aaa! Kau mengangetkanku, Ellie!”
“Hehehe. Maaf, maaf,” balasnya cengengesan.
“Melihat mereka membuat dadaku sakit dan kepalaku pusing. Tapi aku tidak bisa berpaling menghindarinya. Aku merasa kesal melihat mereka seperti itu…”
“Oh, kau menyukai Alya?”
__ADS_1
Bersambung~