System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 10 : Misi keempat


__ADS_3

Kini Arsenio dan Laura berada di dalam kamar hotel milik Laura. Mereka berbaring kelelahan setelah aktifitas mereka berdua yang sangat menguras tenaga.


Ingin rasanya Arsenio bertanya pada istrinya tentang keadaannya dan apa yang dilakukannya di pesta tersebut. 


Namun, keinginan itu diurungkannya karena melihat istrinya yang sudah tertidur dan terlihat sangat kelelahan saat ini.


Arsenio pun merasa sangat kelelahan, tapi dia tersenyum puas melihat istrinya yang sangat agresif kali ini.


Dia tidak mengetahui jika Laura dalam pengaruh obat sehingga membuatnya seperti itu.


Dipejamkan matanya untuk berlabuh di alam mimpi bersama istrinya yang berada dalam pelukannya.


Berkali-kali ponsel milik Arsenio yang berada di meja bergetar. Panggilan telepon pada ponsel tersebut pun semuanya berakhir dengan panggilan tak terjawab.


Karena sudah terlalu larut dan pesta pun sudah selesai, rekan tim Arsenio memutuskan untuk meninggalkan pesta tersebut tanpa Arsenio. Sedangkan Rena dengan berwajah kesal mencoba mencari Arsenio di semua tempat.


Hanya satu tempat yang tidak bisa dicarinya. Dan dia mendengus kesal seraya berkata,


"Ke mana dia? Aku sudah mencarinya ke semua tempat, tapi tidak ketemu. Tidak mungkin aku mencarinya di semua kamar hotel ini."


"Rena, ayo kita pulang. Sudah sangat larut sekarang," ucap seorang perempuan yang menjadi manajer Rena sambil menarik tangannya agar ikut bersamanya meninggalkan hotel tersebut.


Rena tidak bisa menolak. Manajernya sangat ketat padanya. Dan dia pun ikut andil dalam rencana Rena untuk menjebak Arsenio agar bisa tidur bersamanya.


Rena mendengus kesal dan menatap tajam pada dua orang laki-laki yang kini duduk di kursi depan mobilnya. Dia kesal pada kedua orang tersebut yang gagal menjalankan rencananya. Lebih kesal lagi karena Arsenio tiba-tiba menghilang dari pesta itu.


Malam pun berlalu. Kini pagi sudah menjelang. Laura dan Arsenio kembali ke rumah mereka dan kembali melakukan aktivitas mereka.


Tring!


Laura dikejutkan suara notifikasi dari ponselnya ketika dia sedang membaca naskah acara yang akan dipandunya.


Mata Laura terbelalak ketika melihat jumlah nominal angka yang masuk ke dalam rekening bank miliknya.


"Empat belas juta?" gumam Laura ketika melihat tulisan pada layar ponselnya.


Laura memikirkan tentang misi ketiganya itu. Dia kembali bergumam,


"Berarti semua misi semalam sukses."


Dia tersenyum karena mengingat misinya yang dikiranya akan gagal karena suaminya mengetahui penyamarannya. Ternyata penyamarannya terbongkar setelah dia menjalankan tambahan misinya dengan menyelamatkan suaminya dari jebakan orang jahat.


"Untung saja sesuai harapanku," gumam Laura sembari tersenyum.


Saat itu juga dia mendapatkan misi keempatnya. Dia membaca tulisan yang terdapat pada panel yang mengambang di hadapannya.

__ADS_1


"Mengantar ibu mertua untuk berobat ke rumah sakit," gumam Laura disertai helaan nafasnya.


Dia merasa sangat berat sebelum melakukan misi tersebut. Bagaimana tidak, ibu mertuanya itu menderita demensia dan dia merasa sangat sehat sehingga tidak mau pergi ke rumah sakit untuk berobat.


"Mas Arsenio saja yang sebagai akan kandungnya sudah angkat tangan karena tidak bisa membujuk ibunya untuk berobat ke rumah sakit. Apalagi aku yang hanya seorang menantu?" gumam Laura kembali sambil memukul-mukulkan naskah yang dipegangnya pada kepalanya.


Tiba-tiba ponsel Laura bergetar. Segera dilihatnya ponsel yang tergeletak di mejanya. 


"Mas Arsen? Tumben dia menelpon jam sibuk seperti ini? Biasanya dia hanya mengirim pesan," ucap Laura lirih sambil meraih ponselnya dari atas meja.


"Halo Mas, tumben jam–"


Tolong datang ke rumah ibu. Sepertinya terjadi sesuatu. Barusan tetangga telepon dan menyuruhku untuk pergi ke sana, sahut Arsenio yang terdengar terburu-buru dan terdengar di telepon suara kru di lapangan yang sedang bekerja.


"Tapi Mas, aku juga sedang bekerja. Sebentar lagi aku mau syuting," ucap Laura yang teringat akan pekerjaannya.


Lalu bagaimana ini? Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku sekarang, sahut Arsenio dari seberang sana.


Seketika Laura teringat akan misinya ketika panel mengambang itu kembali terlihat di hadapannya dan mengeluarkan cahaya merah dengan tulisan huruf kapital sebagai peringatan untuk Laura.


'WARNING!'


"Aku usahakan Mas. Aku akan menemui Ibu setelah proses syuting selesai," sahut Laura dengan cepat.


Laura segera bergabung dengan kru yang lainnya untuk menanyakan persiapan syuting mereka.


"Jam berapa kita akan mulai syutingnya?" tanya Laura pada salah satu kru yang ada di sana.


"Sepertinya syuting hari ini akan ditunda. Artis yang harusnya datang sekarang, mendadak tidak bisa datang," jawab kru tersebut disertai helaan nafasnya.


Mungkin ini kesempatanku. Aku harus cepat ke rumah Ibu agar misi ini bisa cepat selesai, Laura berkata dalam hatinya.


Laura bergegas menghampiri sutradaranya dan bertanya perihal syuting kali ini. Sutradara pun membenarkan. Dan Laura meminta ijin untuk keluar terlebih dahulu dengan alasan mencari makan.


Anto, sang sutradara mengijinkannya dengan catatan Laura harus segera datang ketika mereka membutuhkannya. Tanpa berpikir panjang, Laura pun menyetujuinya.


Dengan gerakan cepatnya Laura segera keluar dari kantornya dan menaiki taksi menuju rumah ibu mertuanya.


Hanya beberapa menit saja Laura sudah sampai di rumah ibu mertuanya.


Dia melihat ibu mertuanya sedang berdebat dengan seorang wanita yang menjadi tetangga tepat di sebelah rumah ibu mertuanya. Laura berlari kecil menghampiri mereka.


"Ibu, ada apa ini?" tanya Laura setelah berada di depan ibu mertuanya dan wanita yang menjadi tetangganya itu.


"Mbak, tolong singkirkan barang-barang tidak berguna ini. Lingkungan kita bukan tempat penampungan sampah. Jadi, kami sangat terganggu dengan barang-barang rongsokan ini. Bagaimana lingkungan kita bisa menjadi juara dalam lomba lingkungan bersih jika barang-barang ini masih berada di sini," tutur wanita tersebut yang terlihat sangat kesal.

__ADS_1


Sontak saja Laura menjadi sungkan dan malu pada tetangganya itu. Kemudian dia berkata,


"Maaf Bu, kami akan segera menyingkirkannya."


"Kenapa harus disingkirkan? Barang-barang ini masih bagus dan bisa dipakai. Kenapa kalian ingin membuangnya?" sahut ibu mertua Laura seolah tidak terima dengan ucapan tetangganya.


Laura segera merangkul pundak ibu mertuanya dan menahannya agar tidak terpancing kembali  emosinya.


"Pokoknya saya tidak mau tau. Cepat singkirkan semua barang rongsokan yang tidak berguna ini. Atau warga yang akan membuang semuanya ini," ujar wanita tersebut dengan geram.


Setelah mengatakan itu, wanita tersebut segera meninggalkan Laura dan ibu mertuanya yang masih saja mengomel karena tidak terima dengan ucapannya.


Laura segera mengajak ibu mertuanya masuk ke dalam rumah dan berbicara padanya.


"Ibu, semua barang-barang itu sudah tidak bisa dipakai. Sebaiknya kita buang saja. Dan berhentilah untuk memungut barang-barang seperti itu di tempat pembuangan," tutur Laura dengan sangat lembut dan memegang kedua tangan ibu mertuanya.


Ibu mertua Laura menghempaskan tangan Laura seraya berkata,


"Barang-barang itu masih bagus dan bisa dipakai. Ayah Arsenio pasti akan sangat senang jika aku bawakan barang-barang seperti itu"


Laura menghela nafasnya. Terlihat sekali dia sangat lelah menghadapi ibu mertuanya yang mengidap demensia itu.


"Bu, Ayah sudah tidak ada. Dan barang-barang itu sudah rusak, tidak bisa dipakai lagi. Blender, kipas angin, magic com dan barang-barang lainnya yang ada di luar itu hanya menjadi rongsokan yang tidak berguna sekarang. Ibu sudah punya semua alat yang tidak rusak di dalam rumah ini. Jadi tolong singkirkan barang-barang itu dan jangan membawa barang rongsokan apa pun ke rumah," tutur Laura dengan menahan kekesalannya.


"Tidak, Ibu tidak akan menyingkirkannya. Jangan harap kalian bisa membuangnya," sahut ibu Arsenio dengan tegas.


Laura kembali menghela nafasnya. Seketika dia teringat akan misi yang diembannya untuk kali ini.


"Bu, ikutlah denganku. Kita akan pergi ke suatu tempat," ucap Laura dengan tersenyum dan memeluk tubuh ibu mertuanya untuk merayunya.


"Kemana?" tanya ibu Arsenio dalam pelukan Laura.


Laura mengurai pelukannya dan kembali tersenyum pada ibu mertuanya seraya berkata,


"Kita akan menemui seseorang."


Ibu Arsenio menyingkirkan tubuh Laura dan berjalan ke kamarnya. Setelah beberapa menit dia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang lebih rapi dan tas yang dijinjingnya. Kemudian dia berkata,


"Cepat tutup dan kunci pintunya. Tidak ada lagi orang yang masuk ke rumah ini setelah Ayah Arsenio meninggal."


Laura membelalakkan matanya. Dia menghela nafasnya setelah mendengar perkataan ibu mertuanya yang kini dalam keadaan mengingat yang sebenarnya. Padahal tadi ibu mertuanya itu mengatakan jika Ayah Arsenio masih hidup.


Dengan segera Laura beranjak keluar dari rumahnya dan mengunci pintu rumah tersebut. Setelah itu mereka menaiki taksi yang sedari tadi masih menunggu Laura di depan rumah ibu mertuanya.


"Mengapa kita datang ke tempat ini?"

__ADS_1


__ADS_2