System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 85 : Malam yang menyedihkan


__ADS_3

"Maaf Bu, ini untuk berkas-berkas yang baru saja saya selesaikan. Berkas pengajuan gugatan cerai, berkas pelunasan hutang di bank, berkas pelunasan hutang ibu anda dan berkas balik nama kepemilikan rumah anda," ucap pengacara tersebut sambil memberikan semua berkas yang ada di tangannya pada Laura.


Laura menerima semua berkas tersebut dengan tangan yang bergetar. Bahkan air matanya kembali menetes ketika menerima semua berkas tersebut.


Dia tidak mengira jika semua usaha kerasnya bisa menyelesaikan semuanya. Sayangnya dia harus menelan pil pahit untuk membayar kebahagiaan itu. Rumah tangganya tidak bisa dipertahankan olehnya meskipun sekuat tenaga dia mencoba berusaha bersabar dan memperjuangkan rumah tangganya dengan misi-misi yang diberikan padanya. 


Selain itu dia juga kehilangan bayi yang masih berada dalam kandungannya. Bayi yang selama ini diinginkannya bersama dengan suaminya, kini telah pergi tanpa mereka ketahui keberadaannya dalam kandungannya selama ini.


"Semuanya sudah beres. Tinggal menunggu suami anda menandatangani surat perceraian tersebut, setelah itu persidangan dan selesai," ujar pengacara tersebut dengan senyumnya yang merekah menandakan keberhasilannya.


"Terima kasih banyak Pak," tukas Laura sambil memaksakan senyumnya pada pengacara tersebut.


Setelah mengatakan semua yang perlu dijelaskan pada Laura, pengacara tersebut keluar dari ruangan itu meninggalkan Laura dan Ryan yang masih berada di dalam kamar tersebut seperti sebelumnya.


Kebencian Arsenio kini tertuju pada Ryan. Dia mengira jika Laura menggugat cerai dia karena hasutan dari Ryan.


Kemarahan dan kekesalan Arsenio selalu menyertainya semenjak dia keluar dari kamar inap Laura.


"Lihat saja, aku tidak akan melepaskan mu Laura. Aku akan tetap mempertahankan kamu, apa pun yang terjadi," ujar Arsenio dengan mengeratkan gigi-giginya.


Dengan amarahnya yang sudah merajai hatinya itu, Arsenio mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Kekesalan dan amarahnya itu dilampiaskannya pada jalanan. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah sedang menghadapi Ryan yang menjadi sumber kebenciannya saat ini.


Di dalam rumahnya, Arsenio menangis tersedu-sedu merasakan hidupnya yang kosong karena kehilangan semua orang yang disayanginya. Bahkan istrinya yang sudah menemaninya selama hampir enam tahun ini menggugat cerai dirinya.


Di dalam kamar yang penuh dengan kenangan itu, Arsenio meratapi kebodohannya. Kebodohan yang membuatnya kehilangan cinta serta orang yang dicintainya. Juga kehilangan kehidupannya yang sangat bahagia.


Matanya melihat sekeliling kamar tersebut. Bibirnya sedikit tersenyum melihat bayangannya selama kurang lebih enam tahun ini bersama dengan istrinya. Kesenangan dan kebahagiaan tertuang dalam kamar tersebut. Kegiatan mereka untuk mengusahakan hadirnya buah hati mereka pun ikut hadir dalam ingatannya.

__ADS_1


Namun, sekelebat bayangannya bersama dengan Kessy, mampu seketika menghancurkan kebahagiaannya bersama dengan istrinya pun hadir menari-nari di pelupuk matanya seolah mengolok kebodohannya.


Arsenio mengeram marah. Dia memukul-mukul dinding kamarnya menggunakan kepalan tangannya untuk melampiaskan kemarahannya. 


"Aaaaaarggghhh…!" teriak Arsenio penuh kemarahan disertai dengan tangisan kesedihannya.


"Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa ini terjadi pada kehidupanku bersama dengan Laura?" seru Arsenio seolah memprotes hidupnya.


Tanpa sengaja matanya menangkap benda yang selama ini dibawa oleh Laura. Dengan segera dia mengambil tas Laura yang berada di lantai kamar mereka.


Di dalam tas tersebut terdapat dompet serta ponsel Laura. Arsenio tertawa bak orang bodoh yang sedang menertawakan kebodohannya.


"Pantas saja aku menelponnya berkali-kali tidak ada jawaban darinya. Bahkan pesanku yang aku kirim berkali-kali itu tidak ada yang dibacanya. Ternyata HP nya berada di sini," ucap Arsenio diiringi tawa bodohnya.


Merasa sangat penasaran, Arsenio membuka semua pesan dan notifikasi yang masuk pada ponsel tersebut.


"Tidak mungkin ini dari Ryan bukan? Nama pengirimnya bukan dia. Tapi bisa saja dia membuat rekening lain untuk menyamarkannya," ujar Arsenio yang mencoba mencari kesalahan istrinya agar dia tidak merasa terlalu bersalah.


Namun, matanya seketika berkaca-kaca ketika melihat sebuah pesan dari sistem yang mengikat Laura selama ini dengan misi-misinya. Dalam pesan tersebut menerangkan jika misi Laura selama ini sudah berhasil. Laura pun sudah terbebas dari ikatan sistem tersebut. Bahkan dalam pesan tersebut terinci dengan jelas tugas-tugas apa saja yang diberikan oleh sistem padanya.


Dia mengingat setiap keanehan yang terjadi saat tiap misi yang dijalankan oleh Laura. Dia mengingat semuanya dan semakin merasa bersalah setelah mengetahui kebenarannya.


Dalam setiap misi tersebut Arsenio selalu mendapati kejanggalan dan keanehan dari sikap istrinya. Dan ternyata semua itu karena misi yang dijalankannya. Yang terlebih membuatnya merasa sangat bersalah adalah semua misi tersebut hanya untuk melindunginya. 


Tangan Arsenio bergetar hebat membaca pesan tersebut hingga ponsel milik Laura yang dibacanya pun jatuh ke lantai.


"Aaaaarrrggghhh…bodoh… bodoh… bodoh… Ini salahku… Salahku… Semua salahku… Maafkan aku Laura… Maafkan aku Sayang…Maafkan suami bodoh mu ini…," seru Arsenio dengan deraian air matanya mengiringi rasa bersalahnya.

__ADS_1


Diambilnya dompet milik istrinya dari dalam tas tersebut. Dia mengambil sebuah foto yang terselip dalam dompet tersebut. Foto cantik istrinya itu membuat air matanya semakin deras menetes.


Terlebih perkataan Laura ketika mengatakan bahwa dirinya sudah sangat lelah dalam berjuang sendiri untuk rumah tangga mereka. Semua perkataan Laura itu membuatnya seperti seorang suami sampah yang tega memanfaatkan istrinya hanya untuk semua kepentingannya.


Air matanya mengalir sangat deras. Air mata penyesalan itu kini seolah tidak ada harganya sama sekali. Dia menyesal dan penyesalan itu tidak bisa dihilangkan.


Laura, istrinya itu kini telah memutuskan perpisahan mereka. Dan keputusannya itu tidak bisa diubahnya. Bahkan ketika Arsenio memohon maaf dan memintanya untuk membatalkan gugatan cerai tersebut, Laura dengan tegas menolaknya.


Malam itu pun dihabiskan oleh Arsenio dengan menangis meratapi semua kebodohannya sehingga menciptakan kesalahan yang besar dalam kehidupannya.


Tanpa terasa Arsenio tertidur di lantai kamarnya dengan memeluk tas milik Laura beserta ponsel dan dompetnya. Bahkan dia terlihat sangat menyedihkan saat ini. Foto Laura yang terselip di dompetnya itu dipegangnya dengan erat seolah takut akan kehilangannya.


Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden yang melewati jendela kaca itu mampu membuat mata Arsenio terganggu. Perlahan matanya mengerjap-ngerjap dan terbuka secara perlahan.


Matanya memicing terkena sinar matahari yang mengganggu tidurnya. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat seberat masalah yang dihadapinya saat ini.


"Auuuccchhh… Apa yang terjadi kemarin? Apa semua ini hanya mimpi?" ucap Arsenio sambil mengernyitkan dahi dan matanya serta memegangi kepalanya yang sungguh terasa begitu berat.


Pandangan matanya mengarah pada tangannya yang sedang menggenggam erat selembar foto. Matanya kembali berkaca-kaca tatkala melihat foto cantik istrinya yang sangat dirindukannya saat ini.


Namun, kesedihannya kali ini tidak bisa berlangsung lama. Suara bel rumahnya yang dibunyikan oleh seseorang mampu mengganggu kesedihan Arsenio.


Dengan malasnya Arsenio berjalan menuju pintu rumahnya. Bahkan langkah kakinya kini terasa berat untuk digerakkan.


Ada dua orang laki-laki yang berpakaian rapi berdiri di hadapan Arsenio. Salah satu dari mereka berkata,


"Permisi Pak. Selamat Pagi. Kami dari pihak Bank memberitahukan agar hari ini juga Bapak Arsenio diharapkan untuk meninggalkan rumah ini."

__ADS_1


__ADS_2