System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 73 : Satu ruang


__ADS_3

"Loh kok kita belok Pak? Bukannya kita akan ke kantor?" tanya Laura pada sopir ketika melihat jalan yang dilaluinya bukan jalan menuju kantornya.


"Kita akan ke rumah Pak Ryan terlebih dahulu Bu," jawab sopir tersebut sambil fokus mengemudi.


Kenapa harus ke rumah Pak Ryan? Laura bertanya dalam hatinya.


Tiba-tiba Laura mengingat sesuatu. Dia tersenyum tipis sambil berkata dalam hatinya,


Kalau sudah ada sopirnya pasti Pak Ryan tidak akan memintaku untuk mengantar jemput dia lagi. Sebentar lagi statusku sebagai seorang sopir cantik sudah selesai.


Tiba di rumah Ryan, Laura segera masuk ke dalam rumah tersebut seperti biasanya.


"Selamat pagi Pak," sapa Laura ketika sudah berada di dekat Ryan.


Ryan meletakkan korannya dan melipatnya. Kemudian dia berkata,


"Ayo kita sarapan dulu. Sepertinya hari ini kita akan mengerjakan banyak pekerjaan."


Seperti biasanya, Laura menganggukkan kepalanya dan menuruti perintah yang diberikan oleh Ryan padanya.


Dia duduk di hadapan Ryan dan melahap makanan yang sudah disediakan untuknya.


Ryan menahan senyumnya melihat Laura yang sangat lahap memakan makanannya.


Setelah mereka selesai sarapan, Ryan segera mengajak Laura berangkat ke kantor.


"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Ryan setelah melihat Laura sudah selesai dengan makanan dan minumannya.


"Baik Pak," ucap Laura menanggapi ucapan Ryan.


Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Untuk pagi ini biar saya saja yang mengendarainya. Kamu pasti masih lelah karena harus bekerja di hari liburmu," ujar Ryan sambil membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Laura masuk ke dalamnya.


Laura terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ryan. Dia hanya melongo dan tidak bisa mengatakan apa pun saat itu.


"Laura! Laura! Ada apa? Kenapa kamu melamun?" tanya Ryan sambil menggerak-gerakkan pundak Laura.


Seketika Laura tersadar. Dia tersenyum kaku pada Ryan dan berkata,


"Tidak Pak. Tidak ada apa-apa."


Ryan duduk di kursi pengemudi. Kemudian dia memakai sabuk pengamannya dan berkata,


"Jangan khawatir. Nanti giliran kamu kembali yang mengemudikannya."


Seketika gerakan Laura yang sedang memakai sabuk pengaman terhenti ketika mendengar perkataan Ryan. Dalam hatinya dia menggerutu,


Sudah aku duga. Dia tidak akan begitu saja mengemudikan sendiri mobilnya.


Mobil itu pun dikemudikan oleh Ryan dengan kecepatan sedang menuju kantornya. 


Sebagai penumpang yang baik, Laura hanya diam agar tidak mengganggu konsentrasi Ryan dalam mengemudi. 

__ADS_1


"Laura, apa ada kabar dari Pak Arsenio tentang pertemuan kita waktu itu?" tanya Ryan sambil mengemudikan mobilnya.


Laura menoleh ke arah Ryan. Kemudian dia berkata,


"Belum Pak. Apa ada yang ingin disampaikan padanya?" 


Ryan menyeringai. Dia tetap fokus pada kemudinya dan berkata,


"Biarkan saja. Yang butuh kan mereka, bukan kita. Jika mereka membatalkannya pun tidak ada kerugian bagi kita."


Laura menatap bingung pada Ryan yang sedang fokus pada kemudinya. Dalam hatinya berkata,


Sebenarnya apa maksud Pak Ryan ini? Kenapa sepertinya kerja sama dengan Mas Arsenio hanya seperti bahan candaan atau permainan saja?


Ryan mengerti jika Laura sedang menatapnya. Dia hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apa pun.


Sesampainya di kantor, mereka berdua segera mengerjakan pekerjaan mereka. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ryan. Kini mereka berdua disibukkan dengan banyaknya pekerjaan mereka yang harus cepat mereka selesaikan dalam waktu yang sudah ditentukan.


Tiba-tiba telepon di meja Ryan berdering. Dengan segera Ryan mengangkatnya agar suara dering telepon tersebut tidak mengganggu konsentrasinya dalam bekerja.


"Halo," sapa Ryan pada si penelepon yang ada di seberang sana.


Maaf Pak, Bapak Arsenio dari perusahaan Surya Indah ingin menemui Bapak, ucap seseorang di telepon tersebut.


Ryan menyeringai mendengar nama Arsenio yang datang mencarinya. Kemudian dia berkata,


"Suruh dia masuk ke ruangan saya."


Setelah itu Ryan meletakkan teleponnya dan melihat ke arah Laura seraya berkata,


"Laura, tolong hubungi OB agar membuatkan minuman untuk dua orang."


"Untuk siapa Pak?" tanya Laura dengan wajah bingungnya.


Laura bingung sebab selama ini Ryan selalu menyuruh Laura untuk membuatkannya minuman karena tidak mau dibuatkan minuman oleh OB. Dan sekarang tiba-tiba saja bosnya itu menyuruhnya untuk menghubungi OB agar membuatkan minuman. 


"Ada tamu yang akan datang ke sini. Sepertinya sebentar lagi mereka akan sampai," jawab Ryan sambil tersenyum pada Laura.


Tanpa berpikir panjang lagi, Laura segera menghubungi pantry agar membuatkan minuman untuk tamu Ryan.


Tok… tok… tok…


Pintu ruangan Ryan diketuk oleh seorang dari luar.


Ryan yakin jika yang mengetuk pintu ruangannya adalah Arsenio. Dengan cepatnya dia berseru,


"Masuk!"


Pintu ruangan itu pun terbuka. Masuklah dua orang ke dalam ruangan tersebut.


Arsenio dan Kessy masuk dengan menatap kagum pada ruangan besar dan mewah milik Ryan. Mata Arsenio kini tertuju pada plakat nama yang terukir dengan indah nama pemiliknya, Ryan Arion Syahreza.


"Selamat pagi Pak Ryan. Maaf mengganggu waktunya. Saya ke sini hanya ingin menindaklanjuti tentang kesepakatan kerja sama kita kemarin," ucap Arsenio ketika sudah berada di hadapan Arsenio.

__ADS_1


Arsenio berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sofa yang ada di tengah-tengah ruangannya. Kemudian dia berkata,


"Silahkan duduk."


Arsenio pun berjalan ke arah sofa tersebut. Betapa terkejutnya dia melihat Laura, istrinya itu duduk di kursi kerjanya yang ada di dalam ruangan tersebut.


Tidak hanya Arsenio yang kaget melihat keberadaan Laura di dalam ruangan tersebut. Kessy pun terkejut melihatnya. Dia menyeringai ketika Laura memandang ke arahnya.


Arsenio dan Kessy duduk di kursi yang ada di hadapan Ryan. Mereka sibuk mengeluarkan berkas-berkas yang akan mereka tunjukkan pada Ryan saat ini.


"Laura, ke sini lah," perintah Ryan pada Laura yang masih duduk di tempatnya.


Dengan segera Laura duduk di kursi yang ada di samping Ryan untuk menemaninya seperti biasanya.


Tampak kekesalan menghiasi wajah Arsenio saat ini. Dan lagi-lagi Kessy bertindak seolah-olah dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Arsenio. Kessy memegang tangan Arsenio dengan tujuan untuk menenangkannya.


Namun, di mata Laura dan Ryan berbeda. Mereka mengira jika ada hubungan asmara di antara Arsenio dan Kessy selain hubungan pekerjaan mereka.


Arsenio melepaskan tangannya dari tangan Kessy. Kemudian dia memberikan berkas yang dibawanya pada Ryan seraya berkata,


"Silahkan dibaca terlebih dahulu Pak. Kemudian Bapak bisa menandatanganinya.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Tidak lama setelah itu masuklah OB dengan membawa dua gelas minuman untuk Arsenio dan Kessy. Setelah meletakkan minuman tersebut, OB itu segera keluar dari ruangan tersebut.


"Silahkan diminum Pak. Saya akan membacanya terlebih dahulu," tutur Ryan sambil mengambil map tersebut.


Laura menatap penuh kebencian pada Kessy yang tersenyum seolah meremehkannya. Sedangkan Arsenio menatap istrinya dengan berbagai macam pertanyaan yang ingin ditanyakan padanya.


Setelah Ryan selesai membacanya, dia segera menandatanganinya dan berkata,


"Tunjukkan kerja keras dan kreativitas anda Pak Arsenio. Saya akan menantikannya."


Kemudian diserahkannya map yang sudah ditandatanganinya itu pada Arsenio dan Arsenio pun menerima map tersebut sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ryan.


"Terima kasih atas kepercayaan anda Pak. Saya akan bekerja keras agar perusahaan Bapak tidak menyesal telah memilih kami," ujar Arsenio ketika berjabat tangan dengan Ryan.


Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dan dia tidak mengatakan apa pun sehingga Arsenio merasa dia harus segera pamit pada Ryan.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak," ucap Arsenio pada Ryan.


"Baik Pak. Silahkan," tukas Ryan sambil tersenyum pada Arsenio.


Bagi Arsenio senyuman Ryan sangat mengganggunya. Dia merasa jika senyuman Ryan seolah mengejeknya. Akan tetapi, dia harus profesional dalam pekerjaannya. Dia membalas senyum Ryan dan berkata,


"Terima kasih Pak."


Arsenio segera beranjak meninggalkan ruangan tersebut setelah mendapat anggukan dari Ryan. Kessy pun mengikuti Arsenio keluar dari ruangan tersebut. Dia tidak berperan apa pun dalam pertemuan itu. Dia hanya sekedar menemani Arsenio dan hanya diam saja sepanjang pertemuan itu. 


Kenapa Laura tidak mengantarkan aku keluar? Kenapa dia hanya diam saja seolah tidak mengenalku? Arsenio berkata dalam hatinya sambil berjalan menuju pintu ruangan tersebut.


Namun, ketika Arsenio sudah berada di kuar ruangan dan akan menutup pintu tersebut dari luar, dia melihat istrinya sedang terkekeh bersama dengan Ryan melihat layar ponsel yang dipegang oleh Ryan.


Kurang ajar! Sialan! Apa yang sedang mereka lakukan?!

__ADS_1


__ADS_2