
Pesan yang didapatkan oleh Laura membuatnya terkejut. Dia tidak menyangka jika usahanya kemarin bisa membuatnya selangkah lebih maju dari keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan.
Laura mendapatkan pesan bahwa dia diminta datang ke salah satu perusahaan yang kemarin telah dia kirim lamaran pekerjaan untuk melakukan interview.
Hanya dengan mendapatkan pesan seperti itu saja bisa membuat Laura menjadi senang. Dia merasa usahanya tidak sia-sia.
Kini Laura mendapatkan semangatnya kembali. Dia segera merapikan make up dan penampilannya untuk bersiap-siap melakukan interview di perusahaan tersebut.
Kini Laura berdiri di depan bangunan tinggi yang bertuliskan logo perusahaan RAZ. Perusahaan yang bergerak dalam bidang entertainment.
Laura menghirup nafas dalam-dalam, kemudian menghelanya perlahan. Dia melakukan itu berkali-kali hingga suasana hatinya menjadi lebih tenang.
Setelah itu masuklah Laura ke dalam bangunan tersebut untuk menemui pihak yang bertugas untuk menyeleksinya.
Di sinilah Laura sekarang berada. Dia duduk di hadapan pemilik perusahaan RAZ, Ryan Arion Syahreza.
Kini Laura tidak baik-baik saja. Debaran jantungnya memacu dengan cepat. Dia merasa gugup dan kecil di hadapan CEO dari perusahaan tersebut.
Kenapa aku bisa di interview langsung oleh beliau? Bukankah biasanya dari pihak HRD yang menyeleksi? Ada apa ini? Apa gosip tentangku itu sudah didengar oleh beliau? Apa ini artinya aku gagal sebelum diseleksi?
Laura hanya menundukkan kepalanya sambil bertanya-tanya dalam hatinya.
"Laura Veronica. Apa anda bersedia bekerja di perusahaan ini sebagai asisten pribadi saya?" tanya Ryan sambil menatap Laura yang sedang duduk di hadapannya dengan menundukkan kepalanya.
"Saya bersedia Pak," sahut Laura dengan tegas dengan posisi kepalanya yang masih menunduk.
Ryan tersenyum mendengar jawaban dari Laura. Dia masih saja memandang Laura seolah tidak ada bosannya.
"A-apa Pak? Asisten pribadi?" tanya Laura yang baru saja sadar jika Ryan menanyakan padanya untuk menjadi asisten pribadinya.
Ryan terkekeh melihat ekspresi Laura saat ini. Dia tidak menyangka jika seorang Laura Veronica yang selalu dilihatnya di televisi bisa selucu itu.
"Benar. Kamu saya terima menjadi asisten pribadi saya," ujar Ryan dengan tegas dan tersenyum tipis pada Laura.
Dahi Laura mengkerut. Dia terdiam sejenak seolah berpikir. Kemudian dia berkata,
"Bukannya lowongan pekerjaannya untuk di bagian lain ya Pak?"
Ryan kembali tersenyum. Dia mengambil ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar. Kemudian dia meletakkannya kembali di atas meja kerjanya dan berkata,
__ADS_1
"Bagian itu sudah terisi oleh orang lain. Saya sedang membutuhkan seorang asisten pribadi. Dan saya memilihmu."
Sontak saja Laura membelalakkan matanya. Dia bingung saat ini. Dalam hatinya dia berkata,
Haruskah aku senang sekarang ini karena menjadi yang terpilih? Atau aku harus menolaknya karena merasa aneh? Tapi aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Sudahlah Laura, tidak usah dipikirkan lagi. Lebih baik cepat terima pekerjaan itu daripada kamu menyesal nanti.
"Tapi Pak, kenapa harus saya? Maaf jika saya banyak bertanya," ucap Laura dengan wajah menyesalnya.
Ryan tersenyum mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Laura padanya. Dia menatap Laura dan berkata,
"Karena saya mengenalmu. Jadi saya tidak perlu khawatir lagi tentang kinerjamu."
Seketika Laura terhenyak. Dia benar-benar kaget mendengar jawaban dari Ryan. Dan kecurigaannya pun semakin menguat.
"Bapak mengenal saya? Bagaimana bisa? Apa kita saling mengenal sebelumnya?" sahut Laura dengan rasa ingin tahunya.
Ryan kembali tersenyum mendengar pertanyaan yang diberikan Laura padanya.
"Eh maaf Pak, jika pertanyaan saya menyinggung Bapak," sambung Laura dengan sungkannya.
"Saya selalu melihat acara kamu. Bisa dibilang jika saya fans kamu. Saya tau betul bagaimana kerja keras kamu selama ini. Dan acaramu bagus. Saya suka. Tapi sekarang, sejak kamu tidak lagi memandu acara itu, saya jadi kurang suka. Menurut saya pengganti kamu tidak bisa menandingi talenta kamu," tutur Ryan sambil tersenyum pada Laura.
"Wah… saya merasa tersanjung Pak," ucap Laura dengan senyuman malu-malunya.
"Tapi jangan harap saya akan lunak padamu jika menyangkut masalah pekerjaan," ujar Ryan dengan tegasnya.
Seketika senyuman Laura lenyap. Dengan cepatnya dia berkata,
"Baik Pak."
"Apa bisa saya artikan jika jawabanmu ini berarti setuju untuk menjadi asisten pribadi saya?" tanya Ryan dengan menatap intens manik mata Laura.
"Benar Pak. Saya akan menjadi asisten Bapak. Mohon bantuannya Pak," jawab Laura dengan tegas.
Ryan tersenyum. Dia mengambil sesuatu dari lacinya dan memberikannya pada Laura seraya berkata,
"Ini id card mu agar bisa masuk ke dalam perusahaan."
Mata Laura berbinar. Dia mengambil id card tersebut dengan perasaan bersyukur dan tidak menyangka jika diberi kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan yang sangat dibutuhkannya saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih Pak. Saya akan berusaha dan bekerja keras dalam bekerja," ujar Laura dengan sungguh-sungguh.
"Saya tidak butuh janji. Saya hanya butuh bukti," tukas Ryan sambil menyeringai.
"Baik Pak, saya akan buktikan," ujar Laura dengan tegas dan sungguh-sungguh.
Ryan tersenyum puas. Dia menganggukkan kepalanya sambil berkata,
"Baiklah. Bekerjalah mulai besok pagi. Dan kamu harus sudah ada di ruangan saya sebelum saya datang."
"Baik Pak," sahut Laura dengan tegas.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Laura berpamitan untuk undur diri dari ruangan tersebut.
Ryan tersenyum melihat Laura yang keluar dari ruangannya. Matanya tidak berhenti menatap Laura sejak kedatangannya di ruangan tersebut.
"Sepertinya Bapak sedang senang. Saya juga sangat senang melihat Bapak tersenyum," ucap Rendra, sekretaris Ryan yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kenapa?" tanya Ryan sambil membaca file yang ada di mejanya.
Rendra mendekat dan duduk di kursi depan Ryan. Kemudian dia berkata,
"Tidak apa-apa. Hanya saja sudah lama aku tidak melihat senyuman itu sejak… kepergian istrimu."
Ryan menghentikan kegiatannya. Dia menatap ke arah Rendra dan berkata,
"Sudahlah, jangan kamu ungkit lagi masalah itu. Aku tidak ingin lagi mengingatnya."
"Baiklah. Maafkan aku. Dan aku berharap jika hatimu yang beku itu akan segera mencair dengan datangnya perempuan baru yang bisa menaklukan gurun es yang bersarang di hatimu," ucap Rendra sambil terkekeh.
"Sialan kamu Rendra! Sudah, kembali bekerja sana! Jangan harap kamu bisa pulang sebelum pekerjaanmu selesai!" ujar Ryan sambil melempar bolpoin pada Rendra dan tersenyum tipis padanya.
Rendra pun beranjak dari duduknya. Dengan segera dia keluar dari ruangan Ryan tanpa membalas perkataannya.
Rendra merupakan sekretaris Ryan. Tapi dia juga merupakan sahabat dekat Ryan, sehingga dia mengetahui apa yang terjadi dalam hidup Ryan. Jika sedang bekerja, dia pasti berkata dengan sopan dan memanggil Ryan dengan sebutan Pak. Tapi jika mereka sedang berdua saja dan membicarakan hal pribadi, mereka akan berbicara santai seperti tadi.
Ryan membuka file data pribadi Laura. Dia tersenyum dan berkata,
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti."
__ADS_1