System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 12 : Totalitas seorang Laura


__ADS_3

Arsenio merasa dipermainkan oleh jawaban dari dokter laki-laki itu. Dia pada akhirnya memang mengatakan jika tidak ada hubungan dengan Laura, tapi sebelum itu dia memberi pertanyaan padanya seolah mengejek ketidak percayaannya pada istrinya.


Kini mereka berdua duduk di sofa kamar inap ibunya. Arsenio melirik istrinya seolah ingin bertanya sesuatu padanya.


Tiba-tiba ponsel Laura berdering. Dia mendapatkan panggilan dari asisten sutradaranya yang menyampaikan bahwa syuting akan segera berlangsung, sehingga Laura diminta oleh sutradaranya untuk segera datang.


"Mas, aku harus kembali ke kantor," ucap Laura seraya beranjak dari duduknya sambil menjinjing tasnya.


Arsenio mengernyitkan dahinya dan melihat ke arah jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,


"Ini sudah melebihi jam kerja."


Laura kembali menghela nafasnya. Dia masih melihat keraguan dari mata suaminya.


"Mas, aku benar-benar bekerja. Hari ini syuting dibatalkan karena artisnya tidak bisa hadir. Karena itulah aku bisa membawa ibu ke rumah sakit dan menungguinya hampir seharian ini. Dan sekarang artisnya sudah bisa datang. Syuting akan dimulai sebentar lagi. Aku harus segera berangkat," tutur Laura sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut meskipun belum mendengar perkataan yang keluar dari suaminya.


Arsenio melihat ibunya sedang tidur dengan nyenyaknya. Dia segera keluar dari kamar itu dan menitipkan ibunya pada perawat yang berjaga.


Dia berlari untuk mengejar istrinya. Niat hati dia akan mengantarkan istrinya, sayangnya Arsenio melihat Laura sudah masuk ke dalam taksi.


Dengan segera dia menuju mobilnya dan mengendarainya untuk menyusul istrinya. Dia sengaja membuntutinya untuk mengetahui tujuan istrinya saat ini.


Curiga? Benar, dia masih sedikit ada rasa curiga pada istrinya. Sebab itulah dia mencari tahu kebenarannya.


Arsenio menghela nafasnya sambil tersenyum lega setelah melihat taksi yang ditumpangi istrinya berhenti di depan kantor stasiun tv swasta yang merupakan tempat kerja istrinya dan dia melihat Laura masuk ke dalam bangunan tersebut.


Dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk menemani ibunya.


Ternyata dokter menyarankan agar Arsenio beristirahat di rumah saja karena ibunya masih bisa ditangani oleh perawat di sana.


Arsenio pun menyetujui saran dari dokter tersebut. Dia memberi kabar pada Laura jika dia berada di rumah dan memberitahukan saran dari dokter yang menangani ibunya.


Di rumahnya Arsenio menunggu istrinya sambil menonton siaran televisi. Berkali-kali dia melihat jam yang tergantung di dinding. Dia pun melihat ponselnya.


"Kenapa dia tidak pulang-pulang? Sedang apa dia? Kenapa dia juga tidak menghubungiku?" tanya Arsenio yang sedang cemas pada istrinya.


Kini apa yang biasanya dirasakan oleh Laura, dirasakan pula oleh Arsenio. Seandainya saja jika Laura tahu, pasti dia akan menertawakan Arsenio dan memberitahukan apa yang dirasakannya selama ini.

__ADS_1


Tidak berapa lama Laura masuk ke dalam rumah. Dengan gaya sok cool nya, Arsenio berusaha terlihat cuek pada istrinya.


Laura yang baru masuk ke dalam rumah terlihat sangat kelelahan. Badannya sangat lemas dan terlihat berjalan seolah kehabisan tenaga.


"Aku mandi dulu Mas, gerah," ucap Laura ketika melewati suaminya.


Arsenio menghela nafasnya melihat istrinya yang seolah mengacuhkannya. Dalam hati dia berkata,


Kenapa jadi seperti ini? Kenapa hubungan kita kembali hambar? Tapi… apa benar dia tidak memiliki laki-laki lain di luar sana? Sepertinya aku juga harus waspada.


Arsenio masuk ke dalam kamarnya untuk segera beristirahat agar pikirannya tidak bertambah buruk pada istrinya.


Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Arsenio membaringkan badannya di ranjang dan memakai selimutnya. Ketika terdengar tidak ada lagi suara gemericik air, Arsenio bersiap-siap duduk dengan bersandar pada punggung ranjang sambil memainkan ponselnya.


Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Mendengar suara pintu yang terbuka, Arsenio sedikit melirik ke arah pintu kamar mandi. Dia melihat kaki istrinya yang berjalan ke arahnya.


Arsenio semakin bersikap cuek. Dia asyik dengan ponselnya.


Tiba-tiba mata Arsenio terbelalak ketika melihat istrinya sudah duduk di pangkuannya. Bagaimana tidak, kini Laura sedang tersenyum manis dengan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda suaminya. 


Lingerie yang berenda dan hanya menutupi bagian inti tubuh Laura itu membuat mata Arsenio terkunci dan enggan melihat ke arah lain.


Tangan Laura mulai menjelajah tubuh suaminya. Tangannya bergerak dari wajah suaminya hingga ke bagian lain yang membuat Arsenio kewalahan mempertahankan sikap cueknya.


Tanpa menunda-nunda lagi, Arsenio menyambut perlakuan istrinya dengan melakukan hal yang sama pada istrinya.


Malam ini mereka kembali melakukan kegiatan panas yang membuat Arsenio tersenyum puas akan perlakuan istrinya.


...----------------...


Keesokan harinya mereka kembali dengan aktifitas masing-masing. Laura merasa jika pekerjaannya akhir-akhir ini semakin melelahkannya. Apalagi dia harus menjalankan misi yang sangat menguras waktu serta tenaganya.


Tring!


Suara notifikasi pesan dari ponsel Laura membuatnya terhenyak dari lamunan sekilasnya tentang kehidupannya.


Diambilnya ponsel yang ada di sakunya dan dibacanya. Bibirnya melengkung ke atas melihat nominal angka yang masuk pada rekeningnya. Dia kembali berhasil menjalankan misinya.

__ADS_1


"Dua belas juta rupiah? Apa ini benar-benar uang yang aku dapatkan dari misi kemarin?" gumam Laura dengan mata yang berbinar.


Kini Laura memantapkan hatinya untuk lebih semangat lagi menjalankan hari-harinya yang tentunya dengan banyak misi menunggunya.


"Ayo Laura, semangat! Kamu bisa!" ucap Laura lirih sambil mengepalkan tangannya dan diletakkan di depan dadanya untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.


Dengan semangat empat limanya, Laura berjalan keluar dari ruang rias menuju studio yang menjadi tempat syuting mereka kali ini.


Setelah berjam-jam, syuting kali ini selesai. Lelah, sudah pasti dirasanya. Tapi dia harus bisa menjaga penampilan dan mood nya agar tidak terlihat lelah oleh orang lain.


"Laura, ini naskah untuk acara selanjutnya. Bintang kali ini anggota girl band, jadi kamu harus bisa dance bersama dengan mereka. Di dalam naskah itu ada daftar lagu yang akan mereka tampilkan. Kamu harus bisa mengimbanginya," tutur Anto yang memberikan naskah pada Laura.


Laura terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh sutradara tersebut padanya.


Dia tidak mengira jika dalam usianya yang sudah tiga puluh dua tahun ini, dia harus menari ala girl band dengan lagu-lagu hits mereka.


Tiba-tiba Anto kembali menghampiri Laura dan berkata,


"Sebaiknya kamu berusaha dengan baik karena kinerja kamu semakin memburuk. Kamu sering telat dan banyak alasan untuk ijin ini dan itu. Perlu kamu ingat Laura, masih banyak presenter muda yang cantik dan enerjik siap menggantikan posisimu."


Setelah mengatakan itu, Anto si sutradara itu meninggalkan Laura yang masih berada di tempatnya.


"Sepertinya aku tidak bisa beristirahat sekarang. Aku harus latihan sekarang juga," gumam Laura sambil tersenyum getir.


Kini Laura sudah berada di studio tari dengan seorang koreografer handal yang siap membantunya.


Awal latihan Laura sangat kewalahan dan ingin menyerah. Dia harus mengingat gerakan tarian itu dan harus menyesuaikan dengan temponya.


Berjam-jam dia melakukan latihan itu sehingga dia merasakan tenaganya yang semakin melemah. Hingga dia meminta waktu untuk beristirahat.


Melihat Laura yang terlihat sangat kelelahan, koreografer yang melatihnya itu pun memberikan waktu untuknya beristirahat.


Tiba-tiba saja di hadapannya kembali terlihat panel mengambang yang biasa dijumpainya.


Laura menghela nafasnya yang masih sedikit terengah-engah sambil berkata dalam hatinya,


Apa itu misi kelima?

__ADS_1


__ADS_2